NovelToon NovelToon
MENIKAHI ANAK BOS ANEH

MENIKAHI ANAK BOS ANEH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri 2001

Rara, gadis berusia 20 tahun dengan hati polos dan penuh kesederhanaan, baru saja diterima bekerja di PT Nganjuk Sejahtera Group. Di sana ia bertemu dengan Pak Samingan, pemilik perusahaan yang dikenal sangat disiplin, tegas, dan memiliki sifat yang unik di mata orang lain.

Suatu hari, tanpa diduga, Rara diminta tinggal sementara di rumah bosnya untuk mengurus putra semata wayangnya, Arifbol. Di balik parasnya yang tampan, Arifbol memiliki kondisi khusus — ia menderita epilepsi, sehingga tingkah lakunya sering kali terlihat seperti anak kecil.

Namun seiring waktu, Rara menemukan sisi lain dari Arifbol: ia sangat taat beragama, lembut hatinya, dan penuh perhatian pada hal-hal kecil. Di tengah kebersamaan yang tak terduga itu, benih-benih perasaan perlahan tumbuh — membuat Rara jatuh cinta pada sosok yang di luar dugaan banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri 2001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan Ajaib dan Doa yang Terkabul

Jam tujuh pagi, aroma sambal terasi yang khas sudah tercium sampai ke halaman depan rumah besar itu. Seolah ingin menyapa siapa saja yang lewat.

Aku baru saja selesai menyapu teras, ketika Mbok Jum menyenggol bahuku pelan sambil tersenyum misterius.

“Rara, ayo cepat ke meja makan. Mas Arifbol sudah menyiapkan acara khusus, katanya.”

Aku mengernyit bingung. “Acara apa lagi ini, Mbok? Rasanya belum ada hari raya atau syukuran apa pun.”

Mbok Jum hanya terkikik. “Namanya dia sendiri: Sarapan Istimewa Bersama Mbak Rara. Sudah dari subuh dia sibuk mondar-mandir di dapur, sampai aku dilarang masuk katanya takut merusak rencananya.”

Aku berjalan cepat menuju ruang makan, dan begitu sampai di depan meja, mataku langsung terbelalak bingung sekaligus geli.

Piring-piring tersusun rapi, tapi isinya terasa sangat kreatif: nasi goreng, roti sobek, pisang goreng, disiram sedikit susu cokelat, dan di sampingnya tetap ada sambal terasi yang harum.

Di ujung meja berdiri Arifbol dengan dada membusung bangga, mengenakan celemek bertuliskan “Master Chef Nganjuk” yang terlihat agak kebesaran di badannya.

“Mbak Raraaa! Silakan duduk! Ini aku masak sendiri lho, nggak minta bantuan siapa pun!” serunya penuh semangat.

Aku menahan tawa sampai perut terasa nyeri. “Wah, Mas, ini makanan atau percobaan kimia yang belum dibaca buku panduannya?”

Pak Samingan yang sudah duduk lebih dulu hanya mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala. “Nak, Bapak sudah ingatkan berkali-kali, jangan campur semuanya. Tapi kamu bilang rasanya harus ‘rame seperti hidup yang berwarna’. Ya sudah, biarlah jadi pengalaman.”

Bu Wiji hanya tersenyum sabar. “Yang penting niatnya tulus, Pak. Niat baik pasti dibalas kebaikan juga.”

Aku duduk pelan, lalu melihat Arifbol dengan antusias menyendokkan nasi goreng yang sudah bercampur roti itu ke piringku.

“Coba dulu, Mbak. Rasanya pasti enak, aku yakin!”

Aku meliriknya ragu. “Mas yakin ini aman dimakan oleh manusia biasa?”

“Tenang saja! Sebelum masak tadi aku sudah baca doa khusus,” jawabnya meyakinkan.

“Doa apa itu?” tanyaku penasaran.

Arifbol langsung menutup mata, mengangkat kedua tangannya perlahan, lalu berdoa dengan suara lantang dan sungguh-sungguh:

“Ya Allah, semoga nasi goreng ini bikin Mbak Rara kenyang, sehat, dan tidak menyesal lahir ke dunia ini!”

Seketika itu juga, satu meja penuh ketawa. Pak Samingan sampai mengusap air matanya karena tertawa terlalu keras.

“Nak, kelakuanmu ini memang alami sekali, tidak ada yang bisa meniru,” katanya sambil masih tergelak.

Bu Wiji mendekat, mengusap kepala Arifbol lembut. “Sudah cukup, Nak. Yang penting hatimu tulus, itu sudah lebih dari cukup.”

Setelah melewati momen lucu itu dan ternyata perutku tetap aman serta kenyang, aku membantu Bu Wiji membereskan piring di dapur.

“Rara, kamu memang luar biasa sabar menghadapi dia,” kata Bu Wiji sambil mencuci peralatan.

Aku hanya tersenyum. “Sudah terbiasa, Bu. Kelakuannya memang unik, tapi justru bikin hari-hari jadi tidak membosankan. Rasanya seperti terapi ketawa setiap hari.”

Bu Wiji menoleh, menatapku dalam dengan pandangan yang lembut dan penuh makna. “Iya, dia memang berbeda. Tapi hatinya sebersih kertas putih. Kalau dia sudah suka pada seseorang, rasanya tulus sekali, tidak ada kepura-puraan sedikit pun.”

Aku terdiam mendengar kalimat itu. Kata-kata itu terasa menempel erat di pikiranku sepanjang pagi.

Siang harinya, saat aku sedang menyusun berkas di ruang kerja kecil, tiba-tiba Arifbol muncul lagi dengan membawa piring kecil berisi puding cokelat yang terlihat rapi dan menggugah selera.

“Mbak Rara, ini aku buka lagi. Kali ini aku janji, tidak dicampur sambal apa pun!” katanya dengan ekspresi sungguh-sungguh.

Aku tertawa senang. “Wah, ini kemajuan besar, Mas! Bagus sekali hasilnya.”

Dia tersenyum lebar, tapi tiba-tiba tatapannya berubah menjadi serius dan sedikit bingung.

“Mbak, boleh aku tanya sesuatu?”

“Boleh saja, Mas. Mau tanya apa?”

“Kenapa ya, setiap kali aku melihat wajahmu, dadaku terasa berdebar kencang, tapi di saat yang sama rasanya juga ingin tertawa senang? Apa itu tanda aku sakit lagi?”

Aku langsung membeku di tempat, jantungku seolah ikut berhenti berdetak sesaat.

“Lho… Mas Arifbol, kok tanya hal itu?” tanyaku mencoba menenangkan diri.

“Tadi aku sedang berdoa, tapi yang terbayang terus bukan surga atau malaikat, melainkan wajahmu. Aku jadi takut, jangan-jangan aku salah berdoa dan pikiranku jadi kacau.”

Aku menunduk, menahan senyum yang hampir meledak. Perlahan aku menjelaskan dengan nada lembut.

“Mas, itu bukan salah berdoa. Itu tandanya kamu sedang merasa sangat senang dan nyaman saja. Tidak ada yang salah kok.”

“Benarkah? Kalau begitu aman saja?”

“Benar, aman. Tapi jangan terlalu senang sampai lupa kalau pudingnya bisa dingin dan encer,” candaku mengalihkan suasana.

Dia tertawa keras mendengarnya. “Hahaha, puding itu tidak bisa gosong apalagi encer kalau sudah jadi!”

“Tapi perasaan hati bisa ‘meleleh’ kalau sudah terasa sangat hangat,” jawabku setengah bercanda, tapi hatiku sendiri berdebar mendengarnya.

Sejak saat itu, suasana di antara kami terasa berbeda. Tidak lagi sekadar pekerja dan majikan, tapi ada rasa hangat yang tumbuh perlahan, halus, namun sangat nyata.

Sore hari, sebelum aku bersiap pulang, Arifbol berlari keluar rumah membawa sebatang sapu lidi kecil.

“Mbak Rara! Tunggu dulu! Ini ada hadiah lagi!” serunya semangat.

Aku mengernyit heran. “Sapu lidi? Buat apa ini, Mas?”

“Ini sapu sakti! Katanya kalau kamu pakai untuk menyapu halaman, sekaligus bisa menyapu pergi semua kesedihan dan rasa lelahmu. Dan Bapak bilang, kalau kamu terus tersenyum, aku bisa terhindar dari serangan sakit selama sebulan penuh!”

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar tanpa sadar.

“Kalau begitu, aku janji akan selalu tersenyum untukmu, Mas. Biar kamu tetap sehat dan kuat.”

Dia mengangguk cepat, lalu melontarkan kalimat yang begitu polos tapi menusuk langsung ke hatiku.

“Kalau begitu, mulai besok aku akan berdoa setiap pagi. Semoga senyummu itu tidak pernah libur, ya.”

Aku tertawa mendengarnya, tapi di saat yang sama mataku terasa mulai basah. Ada sesuatu di dalam hatiku yang bergetar — lembut, perlahan, tapi semakin terasa nyata.

Setelah kejadian itu, tugas baruku datang dari Bu Wiji.

“Rara, tolong bantu Arifbol membereskan perpustakaan kecil di belakang ruang tamu ya. Sudah lama tidak dibersihkan, debunya pasti tebal. Sekalian dia bisa belajar merapikan barang-barang.”

“Baik, Bu! Saya siap bantu, sekalian temani dia biar tidak bosan.”

Bu Wiji tersenyum mengerti. “Baguslah. Tapi ingat, jangan terlalu banyak mengobrol sampai lupa kerja, nanti bukunya malah ditumpuk jadi menara seperti yang biasa dia lakukan.”

Aku hanya bisa mengangguk sambil tertawa.

Perpustakaan itu ternyata tidak besar, tapi terasa nyaman dan tenang. Rak kayu tua yang berderet, bau kertas dan buku lama yang khas, serta jendela besar yang menghadap langsung ke taman bunga.

Aku mulai menyapu debu di rak paling bawah, sementara Arifbol duduk bersila di lantai sambil memegang satu buku bergambar dinosaurus.

“Mbak Rara, tahu tidak? Ini buku kesayanganku waktu masih kecil,” katanya sambil mengelus sampul bukunya.

“Wah, kamu suka dinosaurus ya?”

“Suka sekali! Dulu aku sempat berpikir, nanti kalau sudah besar, aku akan tumbuh menjadi seekor T-Rex yang kuat dan bisa melindungi Ibu serta Bapak.”

Aku tertawa mendengar ceritanya. “Wah, kalau jadi T-Rex nanti siapa yang mau diajak ngobrol? Suaranya kan keras sekali.”

Tanpa ragu, Arifbol langsung berdiri dan menirukan suara raksasa itu. “GRAAARR!”

Aku tertawa terbahak-bahak sampai bersandar di rak buku. “Ya Allah, Mas! Jangan teriak keras-keras, nanti bukunya jatuh semua!”

Beberapa saat kemudian, saat aku sedang merapikan tumpukan buku tua, tanganku menyentuh sebuah album foto yang sampulnya sudah agak kusam dan pudar warnanya. Aku membukanya perlahan.

Di halaman-halamannya tersimpan kenangan masa kecil Arifbol: ada foto dia sedang bermain bola, foto saat lomba menghafal Al-Qur’an, sampai satu foto yang membuat tanganku berhenti bergerak.

Di situ terlihat Arifbol yang masih berusia sekitar delapan tahun, duduk di tempat tidur rumah sakit, wajahnya pucat tapi tetap tersenyum lebar sambil memeluk erat boneka sapi kesayangannya.

Aku menoleh padanya dengan nada lembut. “Mas, ini foto kapan ya?”

Arifbol melirik, lalu tatapannya berubah menjadi lebih tenang dan dalam.

“Itu waktu aku baru pulang dari rumah sakit. Saat itu aku pertama kali mengalami kejang. Ibu sampai menangis setiap malam, sedangkan aku malah senang saja, mengira aku hanya tidur terlalu lama dan bermimpi aneh.”

Suasana seketika hening. Aku hanya bisa mendengarkan dengan hati yang terasa perih.

“Sejak hari itu, aku tidak bisa bersekolah seperti anak lain. Tapi Bapak dan Ibu tidak pernah menyerah. Mereka mengajari aku di rumah, membawaku ke mana saja demi pengobatan. Jadi kalau sekarang aku bisa membaca dan menghafal ayat Al-Qur’an, itu semua berkat mereka.”

Aku mengangguk pelan. “Kamu sangat beruntung punya orang tua yang begitu menyayangimu, Mas.”

Dia tersenyum tipis, lalu menatapku lurus ke mata. “Iya, aku sangat beruntung. Tapi rasanya sekarang keberuntunganku bertambah lagi karena ada Mbak Rara di sini.”

Aku langsung memalingkan wajah, berpura-pura sibuk menyapu debu agar pipiku yang terasa panas tidak terlihat.

“Lho, Mas, ngomong apa sih. Aku kan cuma karyawan yang ditugaskan bekerja di sini saja.”

“Tapi kehadiranmu membuat hari-hariku terasa jauh lebih bahagia daripada sebelumnya,” jawabnya jujur tanpa ragu.

Belum sempat aku menjawab, Arifbol menemukan selembar kertas kecil yang terselip di sela-sela buku. Kertas itu sudah agak kuning dimakan usia, tapi tulisannya masih terbaca jelas.

“Lihat ini, Mbak. Apa ini ya?”

Aku membacanya perlahan:

“Ya Allah, semoga kelak Arifbol punya teman yang sabar mendengarkan semua ceritaku, yang tidak menganggapku aneh, dan yang mau menemaniku bermain sampai aku lupa sedih.”

Aku menoleh padanya. “Mas, ini tulisanmu?”

“Iya, ini doaku yang aku tulis waktu masih kecil. Aku sering membacanya kalau sedang merasa kesepian.”

Aku tersenyum haru, mataku terasa sedikit berkabut. “Kalau begitu, berarti doamu itu sudah dikabulkan sekarang.”

Arifbol mengernyit bingung. “Dikabulkan? Maksudnya bagaimana?”

Aku menatap matanya dalam-dalam, berkata dengan suara lembut namun mantap.

“Karena sekarang kamu sudah punya aku. Aku akan selalu mendengarkan semua ceritamu, tidak akan menganggapmu aneh, dan akan menemanimu selama kamu mau.”

Wajah Arifbol bersinar terang seolah baru saja diberi hadiah terindah. Senyumnya melebar sampai ke telinga.

“Wah, berarti Allah menyayangiku dua kali lipat!”

“Dua kali lipat?” tanyaku penasaran.

“Iya! Pertama, karena dikaruniai Ibu dan Bapak yang sangat baik. Kedua, karena dikaruniai Mbak Rara yang datang ke hidupku.”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa lagi selain tersenyum malu, berusaha menyembunyikan wajah yang sudah memerah semerah tomat matang.

Arifbol malah melanjutkan dengan semangat, “Kalau begitu, mulai besok aku akan menulis doa baru lagi!”

“Doa apa lagi kali ini, Mas?”

“Supaya Allah tidak terlalu cepat memanggil Mbak Rara pulang ke rumahnya sendiri. Biar kamu bisa lebih lama di sini.”

Aku hanya bisa tertawa sambil menahan rasa haru yang meluap-luap.

Ya Allah, bagaimana menghadapi anak bos satu ini? Setiap ucapannya terdengar konyol, tapi justru itulah yang membuat hatiku meleleh perlahan-lahan.

Sore harinya, saat aku berpamitan untuk pulang, Arifbol melambaikan tangan dari jendela sambil berteriak riang.

“Besok kita lanjutkan merapikan rak buku ya, Mbak! Tapi jangan yang banyak debunya, aku takut mengingat kenangan yang sedih!”

Aku tertawa keras sambil melambaikan tangan balas. “Siap, Mas! Besok kita kerjakan rak yang hanya berisi kenangan manis saja!”

Di perjalanan pulang menaiki ojek, hujan rintik-rintik mulai turun membasahi jalanan. Aku memandangi gelang warna-warni pemberiannya yang melingkar rapi di pergelangan tanganku.

Warnanya memang terlihat mencolok, tapi rasanya terasa sangat hangat. Bukan karena bahannya, tapi karena terbuat dari ketulusan hati seseorang.

Dan di dalam hatiku, aku menyadari satu hal yang tidak bisa dipungkiri lagi:

Aku mulai tidak sabar menunggu esok hari tiba, hanya untuk bisa bertemu lagi dengan Arifbol.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!