“Melukai orangku, jangan harap mati dengan tenang.”
— Zeon Ashviel Arken
“Berhentilah bicara… atau kuledakkan mulutmu itu.”
— Zyra Ashviel Arken
Dua anak kembar yang pernah hidup sebagai agen bayaran mematikan tiba-tiba kembali ke masa lalu, ke waktu di mana keluarga asli mereka masih ada.
Namun masa lalu bukan tempat yang aman. Setiap langkah mereka bisa mengubah takdir, dan setiap keputusan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang tidak seharusnya dibuka kembali.
Di antara keluarga yang dulu mereka kenal… dan kehidupan baru yang mereka jalani, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan memperbaiki masa lalu, atau menghancurkan segalanya sekali lagi?
happy reading 🐢
Don't Copy!!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maiaqua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Menjadi Bayi Itu Memalukan
Sudah tiga hari sejak demam Zeon dan Zyra turun.
Dan selama tiga hari itu...
Duo Z menyadari satu hal yang sangat mengerikan.
Menjadi bayi ternyata jauh lebih sulit daripada menjadi pembunuh profesional.
(POV Zyra)
Aku serius.
Aku pernah melompat dari gedung.
Pernah dikejar puluhan orang bersenjata.
Pernah menembak target dari jarak ratusan meter.
Tapi...
Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami ini.
"Mwaaah~"
Zelvyna mencium pipiku lagi.
Untuk kesekian kalinya hari ini.
Aku membeku.
'Mama, cukup.'
"Maauppp..gaaga..!"Yang keluar malah suara bayi.
Sial.
"Mama punya bayi paling cantik."
"Mwaah!"
Lagi.
"Mwaah!"
Lagi.
"Mwaah!"
LAGI.
Aku langsung menoleh ke arah Zeon yang sedang berada di ranjang bayi sebelah.
'Tolong aku.'
Zeon hanya menatap datar.
Lalu...
Dia memalingkan wajah.
'PENGKHIANAT.'
Aku melotot.
Sayangnya karena wajah bayi sangat imut, tatapanku sama sekali tidak menyeramkan.
Malah membuat Zelvyna tertawa gemas.
"Aduh, lihat ekspresinya!"
"Mirip kucing marah."
"Lucu sekali."
Aku menyerah.
Tidak ada harga diri yang tersisa.
Sementara itu...
Nasib Zeon ternyata tidak lebih baik.
"Pesawat datangggg~"
Sean berlari mengelilingi kursi sambil membawa sendok kecil berisi bubur bayi.
"Vroooom!"
"Vroooom!"
"Landing!"
Sendok itu berhenti tepat di depan mulut Zeon.
(POV Zeon)
Aku adalah mantan hacker kelas dunia.
Aku pernah meretas sistem keamanan internasional.
Aku pernah menembus server yang dijaga puluhan ahli keamanan.
Tapi sekarang...
Aku sedang dihadapkan pada sebuah pesawat bubur.
"Adik buka mulut."
Tidak.
"Adik ganteng."
Tidak.
"Adik keren."
Tidak.
"Adik pintar."
Tidak.
Sean mulai berpikir keras.
Lalu matanya berbinar.
"Kalau adik makan, nanti Sean kasih peluk."
...
Aku membuka mulut.
"YEAHHHH!"
Sean langsung bersorak.
Sian yang duduk di dekatnya langsung memegang dahi.
"Bodoh."
"Kau iri karena adik suka aku."
"Aku tidak iri."
"Kau iri."
"Tidak."
"Iri."
"Tidak."
Sean tertawa.
Lalu menyuapi Zeon lagi.
Tanpa sadar Zeon mulai terbiasa.
Dan itulah yang membuatnya semakin khawatir.
Kenapa dia mulai menikmati ini?
Di sisi lain...
Raven baru saja pulang dari sekolah.
Begitu masuk ke rumah, dia langsung menuju ruang keluarga.
Lalu berhenti.
Di sana Sean sedang bermain dengan Zyra.
Sian sedang duduk membaca buku.
Dan Zeon sedang berada di pangkuan Zelvyna.
Raven memperhatikan beberapa detik.
Lalu berjalan mendekat.
"Selamat pulang, sayang."
sapa Zelvyna.
"Hm."
Raven mengangguk pelan.
Kemudian...
Dia mengulurkan satu jari ke arah Zeon.
Zeon langsung menggenggamnya.
Raven membeku.
Sean langsung menunjuk.
"KAKAK SENANG!"
"Tidak."
"Kakak senang!"
"Tidak!"
"Kalau tidak senang kenapa ke sini dulu sebelum ganti baju?"
...
Raven terdiam.
Sian langsung menoleh.
Sean juga.
Zelvyna mulai menahan tawa.
Bahkan Alfa yang baru turun dari lantai atas ikut melihat.
Raven perlahan memalingkan wajah.
Ujung telinganya merah.
"Papa."
"Hm?"
"Sean berisik."
"Itu memang bakatnya."
"PA?!"
Semua langsung tertawa.
Sean terlihat sangat terluka.
"Aku sendirian..."
"Tidak ada yang membelaku..."
"Hiks..."
Zyra langsung tertawa melihat drama kakaknya.
"Hehehe!"
Sean langsung menoleh.
"Adik ketawa!"
"Adik ketawa ke Sean!"
Dia langsung sembuh.
Benar-benar sembuh.
Dalam hitungan detik.
(POV Zyra)
...
Kak Sean lucu.
Sangat lucu.
Aku mulai paham kenapa semua orang memanjakannya.
Dia seperti anak anjing.
Yang selalu bahagia.
Dan selalu ingin membuat orang lain bahagia.
Aku tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya...
Aku merasa tidak keberatan diperlakukan seperti bayi.
Karena rasanya...
Hangat.
Sangat hangat.
Dan tanpa sadar...
Aku mulai menunggu hari esok.
Hari ketika mama akan menggendongku.
Hari ketika papa akan menggenggam tanganku.
Hari ketika Sean dan Sian akan bertengkar lagi.
Hari ketika Raven diam-diam datang memeriksa kami.
Mungkin...
Menjadi bayi tidak seburuk itu.
Namun jauh di luar mansion Arken...
Seorang pria berpakaian hitam berdiri di bawah hujan.
Di tangannya terdapat sebuah foto.
Foto dua bayi.
Zeon.
Dan Zyra.
Pria itu tersenyum tipis.
"Lindungi mereka baik-baik..."
gumamnya.
"Karena sebentar lagi..."
Tatapannya berubah dingin.
"Seseorang akan mulai bergerak."
...----------------...
Malam perlahan turun.
Mansion Arkenza yang sejak siang dipenuhi suara anak-anak kini mulai tenang.
Sean sudah tertidur lebih dulu setelah seharian berlari ke sana kemari.
Sian juga sudah masuk ke kamarnya.
Raven sedang belajar.
Hans pulang sejak sore.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, suasana rumah menjadi benar-benar sunyi.
Di kamar bayi.
Lampu utama sudah dimatikan.
Hanya lampu tidur kecil yang menyala redup di sudut ruangan.
Zeon dan Zyra berbaring di ranjang bayi masing-masing.
Namun...
Mereka sama sekali belum tidur.
(POV Zyra)
"Ze."
"Hm."
"Kau belum tidur?"
"Belum."
"Aku juga."
Hening beberapa saat.
Suara hujan terdengar pelan dari luar jendela.
Entah kenapa suasananya terasa nyaman.
Jauh berbeda dari kehidupan kami sebelumnya.
Dulu malam selalu berarti pekerjaan.
Misi.
Pelarian.
Atau persiapan membunuh seseorang.
Sekarang...
Aku hanya perlu memikirkan kapan harus tidur.
Lucu juga.
"Ze."
"Hm."
"Kau masih memikirkan simbol itu?"
Kali ini Zeon tidak langsung menjawab.
Aku sudah menduganya.
Karena sejak siang dia terlihat lebih diam dari biasanya.
"Sedikit."
Sedikit?
Bohong.
Kalau Zeon bilang sedikit, berarti dia memikirkannya sepanjang hari.
Aku mengenalnya terlalu baik.
"Tidak usah terlalu dipikirkan."
"Aku harus memikirkannya."
"Tapi sekarang kita bayi."
"Itu tidak mengubah fakta."
Aku menghela napas dalam hati.
Memang sulit berbicara dengan orang logis.
Tiba-tiba...
Kreeekk...
Pintu kamar terbuka perlahan.
Aku dan Zeon langsung menoleh.
Seorang anak kecil mengintip dari celah pintu.
Rambut silver gelap.
Mata emerald.
Sian.
Dia masuk dengan langkah pelan.
Sangat pelan.
Seolah tidak ingin ketahuan.
...
(POV Zeon)
Apa yang dia lakukan?
Sian berjalan mendekati ranjang bayi.
Lalu berhenti.
Dia melihat ke arah pintu terlebih dahulu.
Kemudian ke arah kanan.
Kemudian kiri.
Seolah memastikan tidak ada orang.
Lalu...
Dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
Boneka kecil.
...
Boneka kelinci.
Aku berkedip.
Zyra juga berkedip bingung.
Sian menatap boneka itu beberapa detik.
Kemudian menaruhnya di antara ranjang kami.
Gerakannya canggung.
Sangat canggung.
Seperti seseorang yang tidak terbiasa melakukan hal manis.
"Ini..."
gumamnya pelan.
"Agar kalian tidak bosan."
Wajahnya langsung memerah.
"Jangan salah paham."
Katanya cepat.
"Aku hanya kebetulan menemukannya di jalan."
Aku menatapnya.
Zyra menatapnya.
Sian makin gugup.
"Aku pergi."
Dia langsung berbalik.
Namun sebelum sempat melangkah jauh—
"Hee ga..gaa!"
Zyra mengulurkan tangannya.
Sian berhenti.
Perlahan dia menoleh.
Zyra sedang tersenyum ke arahnya.
Senyum bayi yang sangat cerah.
Yang membuat siapa pun sulit menolak.
Wajah Sian makin merah.
"J-jangan tersenyum begitu."
gumamnya.
"Memalukan."
Tapi dia tetap kembali mendekat.
Lalu menyentuh kepala Zyra pelan.
Sangat pelan.
Seolah takut melukainya.
Setelah itu dia menoleh ke arah Zeon.
"..."
"..."
Mereka saling menatap.
Lalu Sian mengulurkan satu jari.
Zeon menggenggamnya.
Sian membeku.
Beberapa detik berlalu.
Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.
Sangat sedikit.
Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup membuat Zeon mengerti.
Anak ini ternyata lebih lembut daripada yang terlihat.
"Aku kakak kalian."
ucap Sian pelan.
"Kalau Sean membuat masalah..."
"Aku akan menghentikannya."
"Kalau ada yang mengganggu kalian..."
"Aku juga akan menghentikannya."
Dia terdiam sebentar.
Lalu menambahkan dengan suara lebih kecil.
"Jadi cepat besar."
Setelah mengatakan itu dia langsung pergi.
Benar-benar pergi.
Cepat sekali.
Seolah malu karena sudah mengatakan terlalu banyak.
Begitu pintu tertutup—
Zyra langsung tertawa.
"Hehehe..."
'Dia lucu.'
'Setuju.'
'Tsundere.'
'Sangat.'
Kami berdua menatap boneka kelinci yang ditinggalkannya.
Entah kenapa...
Dada kami terasa hangat.
Satu per satu anggota keluarga ini mulai masuk ke hati kami.
Dan itu membuatku takut.
Karena semakin aku menyayangi mereka...
Semakin aku takut kehilangan mereka.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar.
Zeon langsung menoleh ke arah pintu.
Langkah itu berat.
Tenang.
Dan sangat familiar.
Alfa.
Namun...
Ada suara lain.
Suara seseorang yang tidak dikenalnya.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Suara pria asing.
"Dua anak itu sudah bangun."
Tubuh Zeon langsung menegang.
Zyra juga.
Mereka saling menatap.
Jantung mereka berdetak lebih cepat.
Karena mereka tahu.
Pria itu...
Sedang membicarakan mereka.
......🐣🐣🐣......
...****************...
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh singgah profile.. terima kasih 🤭