Seorang siswa SMA kelas 1 bernama Felix Fortune atau dikenal sebagai Shadow di dunia maya yang dijuluki Bug sekker.
Dia meninggal karena tersetrum aliran listrik dan jiwa dia dipindahkan ke alam baka oleh sang suara misterius,Felix diberi kesempatan untuk hidup lagi tapi bukan di dunia nya melainkan didunia lain yang dipenuhi sihir dan pedang.
Felix menyetujui hal itu dan berkeinginan untuk bersantai tanpa terlibat masalah besar apapun di dunia itu,namun saat jiwa Felix sudah dipindahkan tanpa dia sadari kalau dunia yang dimaksud adalah dunia game OPEN RPG sebagai karakter nya sendiri yaitu Shadow knight yang melegenda, mau tidak mau Felix harus membuat para Sloven hidup damai juga tanpa gangguan manusia.
Perjalanan panjang sang legenda yang ditakuti oleh seluruh ras telah dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon felix ehe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepanjang Jalan
"T.. Tahan! Aku bisa-"
Perkataan ku tidak keluar, tinju berat menghantam wajah ku, lagi. Yang lain mencengkeram kerah pakaian ku, menahan tubuh ku tetap berada di jangkuan tinju, setiap tinju yang dilayangkan, menghancurkan kulut ku sedikit demi sedikit
"O.. Orang ini tidak mau mendengarkan!"
Kedua tangan ku masih menarik pergelangan tangannya, mencoba untuk melepaskan kerah ku, kilauan berwarna biru berkorbar di dalam helm tersebut. Gerakannya cepat dan tanpa henti, aku tidak bisa mengejarnya, darah keluar tidak beraturan dari wajah ku, pandangan ku kabur dan dengungan kencang memenuhu isi kepala ku.
Lengan Zet ditarik jauh kebelakang, tangannya mengepal kencang. Mata ku tidak bisa tidak tertuju pada kepalan tinju tersebut, Zet tanpa pikir panjang langsung melayangkan tinju tersebut, kencang dan presisi, langsung menghantam wajahku.
Tangan Zet lepas, membiarkan tubuh ku terhuyung jauh kebelakang, Zet berdiri dan tatapannya tidak lepas saat aku membungkuk memengangi wajah ku sendiri, mengambil langkah mundur kebelakang berkali-kali. Zet mulai berjalan pelan, mengibaskan kedua tangannya sendiri dari kotoran yang menempel
Langkah Zet sedikit demi sedikit melebar, mengambil lebih banyak, dan lebih cepat. Berakhir berlari, menerjang kedepan dengan tinjunya, satu hingga tiga kali, mengenai dagu, wajah, dan dada ku. Bergerak lincah bersama zirahnya.
Tendangan berayun, menyentuh sisi tubuh ku, mendorong ku lagi. Semuanya tidak menyakitkan, tidak cukup untuk benar-benar melukai ku secara keseluruhan, namun aku tidak bisa berkordinasi dengan tubuh ku sendiri, terlalu besar dan terlalu panjang. Sulit untuk menghindar ataupun menangkis
Mata ku terbuka lebar, sekali lagi tertuju pada kepalan tangan yang lain. Membiarkan kaki ku menyentuh tanah, berdiri seimbang dan membiarkan tinju itu datang.
Hanya sebelum kepalan kembali menghantam, lengan ku menahan tinju, menerima kekuatan kasar. Aku menatap lurus kearahnya, Zet terhenti disana.
"Biarkan aku berbicara! Dasar egois." suara ku tinggi, lengan bergerak cepat, menahan tangan Zet, maju selangkah dan mengayunkan siku, tertekuk, langsung tepat mengenai helmnya langsung.
Erangan lepas, Zet mundur beberapa langkah, kepalanya digelengkan berkali-kali. Aku tidak menunggu, tanpa ragu melepas satu tinju di ujung dagu, tinju lain diwajahnya, dan satu terakhir tepat pada dadanya.
Baju zirahnya berdenting kencang, setiap pukulan yang ku lepaskan, melukai ujung kulit ku sendiri. Aku menggiring tubuh ku, mundur kebelakang, kali ini membiarkan Zet yang terhuyung, memulihkan dirinya sendiri
"Kau lumayan untuk seorang iblis" Zet mencibir, membuang ludah ke samping.
Aku hanya menggigit bibir "Ini tidak akan bisa selesai dengan baik.." batin ku, terus mundur kebelakang secara perlahan, tumit ku menabrak sesuatu, keras dan tipis. Aku melirik kebawah, menemukan katana ada disana "Apa.. Kubunuh saja?"
"Tidak, terlalu beresiko membunuh seseorang disaat aku minim informasi. Dia orang penting, hanya akan menambah masalah jika aku tidak menciptakan jalan keluar yang lebih aman."
Kepala ku terus menoleh, akhirnya tertuju pada satu hal. Borgol, borgol tergantung pada ikat pinggang Niamh, akhirnya tatapan ku kembali pada Zet. Kedua kaki terbuka lebar, satu tangan maju di depan dan satu tangan yang lain tersimpan di sisi tubuh ku, keduanya menekuk, juga mengepal dan siap menerima hantaman.
Zet tidak berbicara, tetap diam, sebelum akhirnya langsung berlari maju. Aku diam, terus diam mempertahankan posisi. Jarak kian mendekat, semakin cepat, dan agresif, aku bisa mendengar raungan dari dalam helm, kepalan tangannya nampak lebih padat dan berat.
Tubuh ku turun kebawah, cukup rendah hingga aku dapat mengapai katana, menggenggam dan aku berlari.
Tidak.
Aku berlari tidak menuju Zet. Tentu saja aku tidak akan menerima itu! Tidak peduli seberapa tebal tubuh ku saat ini.
Tapi berlari menuju Niamh yang ada di sisi lain. Ia masih mencoba untuk membawa Rose, Zet tersentak melihat perubahan arah gerak ku sendiri "NIAMH!" suara Zet meninggi, menghancurkan fokus Niamh.
Niamh menoleh kearah suara, ia terkejut dan bingung melihat ku berlari kearahnya, ingin bergerak tapi terlambat. Aku sudah dekat dengannya, dengan katana tersimpan disarung. Aku tidak mencengkeram hulu, tapi ujung bawah sarung tersebut
Katana meluncur kedepan, ujung hulu menggapai sela pada borgol "Maafkan aku Nona, tapi aku membutuhkan ini!" aku langsung mengayunkan katana, borgol lepas pada tali ikat pinggang dan borgol terlempar ke langit.
Tanpa pikir panjang aku membuang katana, menangkap borgol sebelum menyentuh tanah. Tergesa-gesa mengenakan borgol pada kedua tangan ku sendiri, aku langsung menoleh dalam diam pada Niamh dan menunjukkan borgol tersebut, sudah menahan kedua tangan ku
"H.. Huh?" Niamh. Dia hanya melongo, dan berdiri disana dengan mulut ternganga.
Tidak ada reaksi lain, selain pukulan Zet akhirnya mengenai wajah ku "Kau pengecut sampah!!" suaranya kasar, pukulannya agresif dan tidak terkendali. Berkali-kali menghantam wajah ku, entah berapa kali aku mencoba menunjukkan borgol padanya
"Zet tunggu!" bongkahan tanah meraup setengah dari tubuh Zet, menahan pergerakannya.
Lengan Zet terhenti di udara, pandangannya tertuju pada bongkahan tanah "A.. Apa-apaan ini! Niamh?!"
Tangan Niamh dengan lembut menurunkan lengan Zet, ia berjalan hingga berdiri dibelakang ku dan menarik tubuhku kebelakang, menempel dengan badannya. Tangan Niamh menunjukkan kedua tangan ku yang diborgol "Tahan Zet, orang ini, dia sudah ku tahan."
"Kau tahan? Bagaimana itu mungkin! Dia hanya mengambil borgol itu darimu!"
"Bajingan ini!" jarinya menunjuk tepat pada wajahku.
"Zet." suara Niamh pelan, memotong perkataan Zet "Tolong bersikap profesional, kita tidak diizinkan untuk menyakiti tahanan. Terutama tahanan yang telah menyerahkan dirinya, kau tidak ingin melanggar itu bukan?"
Aku tidak tahu seperti apa wajah Niamh saat ini, yang pasti, ucapan itu seperti memberikan hantaman kencang secara batin. Zet hanya terengah-engah dan diam, aku bisa melihatnya dengan jelas, kepalan tangan yang begitu erat tapi perlahan lepas.
"Aku akan membawa putri." ucapan Zet lemah, dia langsung berjalan menghancurkan bongkahan tanah seolah-olah itu bukan hal yang serius, berjalan melewati ku dan Niamh tanpa menoleh sedikitpun.
"Oke. Dan kau.." Niamh melepaskan tubuh ku, menghadap langsung kearahku, raut wajahnya kesal "Lain kali jangan berbuat seperti itu, seolah-olah Zet adalah orang yang tidak punya pikiran. Kalau kau menyatakan menyerah, dia pasti mendengarkan"
"Aku sudah mencobanya Nona. Lagipula mercenary dibangun berbeda" kedua bahu ku terangkat, aku tersenyum padanya, mencoba mencair situasi.. Tapi nampaknya gagal, Niamh menatapku jijik dan gelisah.
Niamh tidak berkomentar mengenai diriku, langsung berbalik dan berjalan menuju gerbang "Sudahlah, ayo ikut dengan ku."
Tatapan ku sempat terhenti pada katana yang tertinggal di tanah, ingin kuambil benda tersebut. Aku melirik kedua tangan ku sejenak dan menghela nafas, memutuskan berjalan mengikuti Niamh dan meninggalkan katana itu
(Pemberitahuan. Novel ini sedang mengalami improvisasi pada bab awal, cerita, pembawaan karakter, hingga plot setelahnya mungkin tidak sesuai dengan bab saat ini, maka dari itu, pembaca mohon bersabar"
Bersambung
saran thoor pakai bahasa baku, dirampok kek