NovelToon NovelToon
Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kecantikan / Tamat
Popularitas:192.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

Bagaimana rasanya jika seorang wanita terlahir dengan bentuk badan tambun, berwajah dan berkulit kusam? Pasti akan sangat menyedihkan bukan?

Dewi Sekar Kemuning, wanita berusia 27 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi orkes melayu, selalu saja mendapatkan perlakuan diskriminatif dari orang-orang yang berada di sekelilingnya. Meski memiliki suara yang khas namun tidak lantas membuat orang-orang di sekitarnya memuji ataupun memberikan apresiasi. Ia justru dijadikan bahan caci maki dengan fisik yang ia miliki. Ditambah lagi, di usia yang terbilang matang ia sama sekali belum pernah menjalin hubungan kasih yang membuat cemoohan demi cemoohan itu semakin datang menyerang.

Hingga pada akhirnya ia nekad pergi ke kota untuk berusaha mengubah takdir hidupnya.

"Akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi sang dewi yang bersinar yang dielu-elukan. Dan akan aku buat mulut orang-orang yang menghinaku terbungkam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Bergabung Kembali

Sepasang telapak kaki berbalut flatshoes itu berpijak di jalan setapak menuju hamparan sawah yang berada tidak jauh dari kediamannya. Ia bawa tubuhnya dengan langkah gontai sembari menundukkan wajah, menekuri jejak-jejak yang telah dilewati. Menuju tempat yang biasa ia singgahi untuk sejenak menepikan diri dari kepenatan yang ia hadapi.

Didaratkannya bokong miliknya ini di atas pematang sawah yang ditumbuhi oleh rumput-rumput teki. Ia edarkan manik matanya untuk menyapu pemandangan yang berada di sekeliling yang seketika membubuhkan rasa tenang di dalam hati. Angin kencang yang berhembus menerpa wajah, membuat kesejukan itu terasa kian mengaliri. Ia pejamkan mata sembari menghirup udara dalam-dalam lalu perlahan ia hembuskan hingga kedamaian itu bisa ia raih kembali.

Dewi merogoh saku celana yang ia kenakan. Diambilnya beberapa lembar pecahan uang seratus ribuan yang ia dapatkan dari Langit sebagai pesangon dan sebagai pengukuhan bahwa saat ini ia benar-benar telah hengkang. Hanya senyum penuh kegetiran yang dapat ia tampakkan. Mengingat nasib hidupnya terasa begitu menyedihkan dan memilukan.

"Setelah ini aku harus kemana lagi Tuhan? Dari sekian banyak pekerjaan yang pernah aku jalani, hanya menjadi penyanyi di grup Magatra lah yang memberikanku gaji yang lumayan banyak. Dan kini, aku dikeluarkan. Aku harus bagaimana Tuhan?"

Monolog lirih yang terucap dari bibir Dewi membuat hatinya seolah tergerus dan teriris. Seketika ingatannya terhenti pada saat ia bekerja di rumah makan, pabrik tempe, pabrik sarung tangan, dan beberapa tempat lain yang sama sekali tidak pernah menyisakan kesan manis. Hanya hitungan bulan saja, wanita itu bisa bertahan di tempatnya mencari nafkah karena setiap hari selalu ada yang menghina fisik yang ia miliki dan membuatnya menangis.

Hinaan dan cacian yang sering ia dapatkan di tempat kerja itulah yang menempa Dewi untuk bisa menjadi wanita tangguh. Membentengi hatinya sendiri agar tidak rapuh dan membendung air telaga beningnya agar tidak jatuh ataupun meluruh. Merajut asa di balik keputusasaan yang selalu saja bertumbuh.

Keadaanlah yang memaksanya untuk tidak meneteskan air mata, meski hal itu sungguh sangat sulit untuk ia lakukan. Hingga segala beban diri yang ia rasa, hanya terkungkung dalam jiwa dan selalu saja tertahan untuk tidak pernah ia tampakkan. Pastinya melalui tetes air mata yang jatuh perlahan.

Kepala Dewi mendongak, dilihatnya barisan awan tipis yang membentuk jaring-jaring kapas. Sedikit meredam terik sinar matahari yang terasa panas hingga membuat rasa penat dalam diri sedikit terlepas.

"Dew, sedang apa kamu di sini? Dan sejak kapan kamu berada di sini?"

Suara seorang wanita yang terdengar familiar di telinga, membuat Dewi sedikit terkesiap. Ia edarkan pandangannya ke arah sumber suara dan kini ia beserta pemilik suara itu saling menatap. Seutas senyum tipis menghiasi bibir Dewi, melihat kedatangan seorang wanita yang namanya sudah menetap dan terpatri di dalam hati.

"Dewi hanya sedang mencari angin, Bu. Pastinya sambil menikmati hamparan hijau sawah ini. Ibu sendiri mengapa berada di sini?"

Wanita dengan celana yang dipenuhi oleh lumpur itu hanya bisa tersenyum simpul. Sesekali ia usap peluh yang menetes di wajah seakan menyiratkan butiran-butiran beban hidup yang ia panggul. Meski nampak begitu lelah namun hanya dengan cara seperti inilah kepingan-kepingan rezeki itu dapat terkumpul.

"Ibu baru saja selesai menyiangi rumput di sawah milik pak Bakir, Dew. Beliau memberikan pekerjaan Ibu untuk menyiangi rumput-rumput liar yang menghambat pertumbuhan tanaman padi yang beliau tanam. Dan upah yang diberikan lumayan banyak, bisa untuk menopang kebutuhan kita selama dua minggu ke depan."

"Ibu sedang tidak bercanda? Menopang kebutuhan kita selama dua minggu ke depan bukankah itu jumlah yang banyak? Ibu harus mengerjakan berapa petak sawah untuk bisa mendapatkan upah sebanyak itu?"

Rasa ingin tahu tiba-tiba saja mengungkung isi kepala Dewi. Mengerjakan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh sang ibu biasanya mendapatkan gaji lima puluh ribu untuk satu petak sawah. Lalu, harus berapa petakkah yang harus dikerjakan oleh sang ibu sehingga bisa menopang kehidupan selama dua minggu yang akan datang? Sungguh hal itu yang membuat Dewi semakin iba atas pengorbanan yang telah dilakukan oleh ibunya ini.

Lagi, Ambarwati hanya mengulas seutas senyum di bibir. Wanita itu berupaya untuk tersenyum manis meski tidak dapat dipungkiri jika senyum itu nampak getir. Salah satu pengorbanan sang ibu di mana ia akan tetap bertahan untuk memberikan penghidupan yang layak bagi anak-anaknya hingga denyut nadi dan napasnya berakhir.

"Sudahlah Dew, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Doakan saja Ibu selalu sehat sehingga bisa senantiasa berada di sisimu untuk melihatmu meraih kesuksesanmu."

Dewi menatap sendu wanita yang mana garis-garis keriput itu mulai bermunculan membingkai wajah. Hatinya serasa berdenyut nyeri kala mengetahui sebuah kenyataan bahwa mimpi dan angan sang ibu benar-benar telah patah. Asa, cita yang dulu senantiasa merekah, kini telah hilang dan musnah. Ketika pekerjaan itu terlepas dari genggaman hingga membuat langkah kakinya terhenti dan kehilangan arah.

"Dewi harus bagaimana jika saat ini Dewi tidak lagi menjadi penyanyi di grup Magatra, Bu? Bagaimana mungkin Dewi bisa mewujudkan mimpi dan angan ibu itu?"

Ambarwati sedikit tersentak. Meski kabar yang dibawa oleh Dewi turut membuat kesedihan dalam hati menyeruak, namun sebisa mungkin ia tersenyum tegar untuk ikut menguatkan sang anak.

"Itu artinya bukan Magatra yang menjadi jalanmu untuk meraih kesuksesan itu, Dew. Percayalah bahwa masih ada jalan lain untukmu bisa meraih mimpi dan anganmu."

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup maka seribu pintu kebahagiaan lain akan terbuka, itulah yang senantiasa Ambarwati tanamkan. Sebuah ungkapan hidup yang akan menjadi titik balik di kala ia mengalami keputusasaan.

Diusapnya pundak Dewi dengan perlahan. Mentransfer energi positif agar sang anak tetap bertahan dan tidak kalah oleh keadaan. Meski itu semua terasa memilukan namun kepercayaan akan kasih sayang Tuhan lah yang semakin menguatkan.

"Ibu ...."

Suara Dewi tercekat di dalam tenggorokan. Untuk mengucap sepatah katapun tidak lagi mampu untuk ia lakukan. Tetes embun dari bingkai wajah Dewi mulai menetes satu persatu. Layaknya embun duka yang menggambarkan suasana hatinya yang sedang pilu. Lambat laun, tetes embun itu melebat dan kini wanita itupun tergugu.

"Sudah, jangan menangis lagi. Percayalah, semua akan baik-baik saja."

Usapan lembut jemari Ambarwati di wajah Dewi memangkas segala kegundahan hati. Sosok malaikat tak bersayap yang selalu bisa membuatnya tegar dan bersemangat lagi.

"Mari kita pulang! Setelah ini akan ibu masakkan ikan asin dan sayur bayam."

***

"Bang Langit, Amara, Adelia. Mengapa kalian semua datang ke rumahku? Ada keperluan apa hingga membuat kalian semua datang kemari?"

Langkah kaki Dewi dan Ambarwati tiba-tiba terhenti kala di halaman rumah berdiri tiga orang yang begitu familiar di indera penglihatannya. Ibu dan anak itu sedikit terkejut dengan kedatangan Langit, Amara dan Adelia, mengingat baru kali ini mereka menginjakkan kaki di kediamannya. Tanpa ada pesan terlebih dahulu ketiga orang itu tiba-tiba datang yang Dewi yakini tengah membawa sebuah berita.

"Apakah seperti ini caramu dalam memperlakukan tamu? Tidakkah engkau mempersilakan kami masuk ataupun duduk terlebih dahulu?"

Pertanyaan sarkas yang terlontar dari mulut Langit sedikit menampar hati Dewi. Wanita itu sadar jika apa yang ia lakukan merupakan salah satu bentuk ketidaksopanan yang seharusnya ia hindari. Sadar akan hal itu, Dewi bergegas mempersilakan tiga orang ini untuk masuk ke beranda rumah dan mempersilakan mereka untuk duduk di atas lincak yang sudah tersedia.

"Aku mengajakmu untuk kembali bergabung dengan Magatra. Apakah kamu bersedia?"

Perkataan Langit yang to the point itu sukses membuat Dewi terhenyak. Pasalnya baru beberapa jam yang lalu Langit memutuskan untuk mengeluarkannya, dan kini lelaki memintanya untuk bergabung kembali? Sungguh, hanya membuat Dewi semakin tidak bisa memahami.

"Mengapa bang Langit tiba-tiba memintaku untuk bergabung kembali? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

"Sudah, jangan banyak bertanya. Saat ini yang ingin aku tahu, apakah kamu bersedia untuk kembali bergabung dengan Magatra? Jika memang iya, besok datanglah ke tempat biasa, karena kita akan tampil di salah satu acara."

Sepercik keraguan nampak terlintas dalam hati. Namun kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan kembali, membuat Dewi yakin untuk menerima tawaran Langit ini. Sekilas, Dewi melirik ke arah sang ibu dan wanita paruh baya itu hanya mengangguk lirih sebagai isyarat bahwa ia turut menyetujui sang putri untuk bergabung kembali.

"Baiklah Bang, aku bersedia untuk bergabung kembali."

"Bagus, besok datanglah ke tempat biasa kita berkumpul karena sudah ada satu pekerjaan yang menunggumu."

1
Sri Wahyuni
kisah yang mengharukan, namun akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang hakiki, adalah dikehidupan nyata akhir yg seperti itu... 🤔🤔🤔😘😘😘🌹🌹🌹👍👍👍💪💪🖕
Sri Wahyuni
hanya satu kata terucap, bahagia...
Naraa 🌻
idih najis gatau malu
Naraa 🌻
Dasar iblis EMG si Wenda, bisa jamin dah pasti dia terlibat dalam kecelakaan mamanya Bhumi, bego nya bapaknya mungut dan nikahin dia, mana udh di kasih clue nenek ga paham juga, parah bgt
Naraa 🌻
Jahat licik bgt para benalu
Wanda Pratiwi
good
Tina
Biasalah....iya kan thoorrrr , namanya jga kumpulan ibu2 julid hihihihihihi apalagi kerjaannya coba , kalau nggak menggosip & menjulid 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tina
Akhirnya.... mudah2an cita2mu segera tercapai ya Wi....💪💪💪💪 Wi.
Tina
Terima kasih ya thor, banyak pesan moral & kehidupan yg disampaikan disini, tp ceritanya tetap menarik 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰. ❤️ U thor 🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗👍👍👍👍👍👍👍
Tina
Bener jga kata Radit Ga , perlu dipertimbangkan, walau bentuk fisik bukan yg utama ,tapi kesehatan jga penting Ga.
Tina
Wuaaahhhh selamat ya Wi ,udah mau buat pertunjukan di TMII, akhirnya buah kebaikan, pengorbanan & kesabaranmu membuahkan hasil, & jgn lupa jga memberi khabar ibu & adikmu ya Wi. Dan teruntuk author moga lekas sembuh & bisa lekas menyapa penggemarmu lgi ya.....sehat selalu thor
Tina
Maaf thor,🙏🙏🙏🙏🙏🙏sekali, nggak sengaja thor...padahal aq bukannya mau kasih 1 bintang lho, tp pas mau tekan bintang berikutnya, padahal udah tak tekan2 masih nggak bisa, eee tau2nya muncul notif penilaian berhasil,akhirnya ini deh hasilnya...sekali lgi maaf ya thor, nggak sengaja 🤗🤗🤗🤗 padahal ceritanya lumayan lho, typo jga nggak terlalu tu.... cuma aq nya aja yg buru2 nekan itu bintang, sekali lgi maaaaaffff ya thor,mungkin author akan kecewa , tp tolong jgn marah ya....🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tina
Yang sabar ya Dewi , semoga buah cinta & kesabaranmu membuahkan hasil .
Yora Fitriani86
hahahahahh
Sriza Juniarti
ternyata bhumi adalah arga...keren oi..🥰💕
Sriza Juniarti
bagus...tapi likenya kok sediikit ya
semangat kk💕🥰🥰
Sriza Juniarti
jahatnya.. balas thor...😤😤🤲
Maliqa Effendy
ga heran daerah Kampung Rambutan dan sekitarnya...harus extra hati2. kalo ga penting bngt jngn keluarin HP atau dompet.siapin uang secukupnya dikantong celana ..
Maliqa Effendy
lagian Dewi gampang banget sih percaya.kan jatohnya jadi gini...
Maliqa Effendy
Covernya bagus banget,Thor...semoga ceritanya jg bagus..baru mau baca ini....
Rasti Yulia: alhamdulillah... makasih kak.. tapi ini termasuk novel yang sedikit gagal karena pop nya gak naik-naik dan sepi pembaca 😂😂😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!