[DILARANG PLAGIAT⚠️]
[⚠️CERITA MENGANDUNG BAWANG, BAGI KALIAN YANG GAK SUKA CERITA SAD, TIDAK DISARANKAN MEMBACA CERITA INI⚠️]
UPDATE SUKA² AUTHOR
Albizar Rolanzi adalah seorang cowok Badboy yang memiliki paras tampan, dan pastinya dia langganan keluar masuk ruang BK, dia memiliki sifat yang humoris, tapi siapa sangka dibalik sifat humoris nya itu, dia menyimpan begitu banyak luka, tidak pernah disayangi oleh kedua orang tuanya sendiri dan selalu dibandingkan dengan kakaknya Albar Rolanzi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apriani Ait, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siuman
...🍃 SELAMAT MEMBACA 🍃...
Dua Minggu sudah Bizar dirawat di rumah sakit dan sampai sekarang-pun dia masih belum siuman.
Sama seperti hari-hari biasanya, Riska dan yang lainnya rutin mengunjungi Bizar, hanya untuk sekedar melihat dan berbicara sebentar dengan Bizar.
Disekolah terlihat Damar, Aldi dan Jordan yang sedang duduk berdampingan di kantin.
Mereka terlihat seperti tidak bersemangat sama sekali, mereka hanya makan tanpa ditemani canda tawa, tidak seperti saat Bizar ada.
"Jor"panggil Aldi
"Hmmm"Jordan hanya membalasnya dengan deheman.
"Bizar pasti bangunkan?"
"Udah dua Minggu lamanya dia tidur, apa dia gak capek tidur terus, apa dia gak kangen sama kita bertiga, Albar, Riska, Lura, orang tuanya, om Wira, Tante Nina, kedua orang tuanya Riska, Rizki"lanjut Aldi, Jordan hanya diam tidak bisa menjawab pertanyaan Aldi.
Jordan juga tidak tahu kapan pastinya Bizar akan membuka matanya kembali, dan berkumpul kembali dengan mereka.
"Lura"panggil Damar yang melihat Lura berjalan sendirian untuk memesan makanan.
"Lo sendirian? Riska mana?"tanya Damar, Lura langsung menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
"Dia ada dikelas, gue ajakin ke kantin gak mau, jadi gue mau pesen makanan buat gue sama Riska"jelasnya, Damar hanya manggut-manggut tanda mengerti.
Didalam kelas terlihat Riska yang menelungkupkan wajahnya di atas meja, rasanya dia tidak ***** makan akhir-akhir ini, yang dia rasakan, dia hanya merindukan Bizar, yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
"Ris"panggil Lura yang baru saja tiba di kelas dengan membawa dua porsi nasi goreng dan es teh manis.
"Nih lo makan dulu yah"titahnya Lura
"Gue gak ***** makan Ra"
"Ris, lo dengerin gue, kita semua disini sama sedihnya kayak lo, tapi gue mohon lo jangan kayak gini yah, lo harus makan, lo harus tetap sehat, kalau nanti Bizar siuman terus dia liat lo dengan keadaan kurus, karena gak mau makan, gimana? Bizar pasti ngomel, dia pasti gak suka, apalagi liat lo sakit"tuturnya, Riska hanya menundukkan kepalanya.
"Makan yah"lanjutnya Lura lagi, Riska hanya menganggukkan kepalanya dan langsung melahap nasi gorengnya dengan pelan.
Dirumah sakit terlihat Nina, Risti dan Seli yang sedang menjada Bizar, sedangkan para suami mereka masih bekerja dan anak-anak mereka sedang bersekolah.
"Mbak Nina?"panggil Risti, Nina langsung mengalihkan pandangannya kearah Risti.
"Apa Bizar masih bisa memaafkan saya dan juga suami saya"Risti berucap sambil menatap Bizar dengan mata berkaca-kaca, mengingat perlakuannya yang begitu kejam pada Bizar.
Nina menatap Seli begitupun dengan Seli yang menatap Nina. Nina menggenggam tangan Risti.
"Saya yakin Bizar pasti bisa memaafkan kalian, dia anak yang baik"ucap Nina mencoba memberi ketenangan untuk Risti.
Sejatinya manusia tetaplah manusia yang bisa berbuat salah, begitupun Risti dan Sandi yang telah berlaku tidak baik pada darah dagingnya sendiri, sekarang mereka akan mencoba memperbaiki segala, mereka akan mencoba memulainya dari awal.
"Nghhmm"terdengar Bizar melenguh, dan jari tangannya bergerak-gerak, Nina, Risti dan Seli langsung bergegas menghampiri Bizar.
"Bizar, nak ini mama nak hiks"ucap Risti dengan air mata yang mulai berderai.
Perlahan Bizar mulai membuka matanya, Seli segera memencet tombol di samping brankar rumah sakit untuk memanggil dokter.
"Ma..ma"ucap Bizar dengan suara parau nya, tubuhnya masih terasa sangat lemas untuk berbicara-pun sangat susah.
"Iya sayang, ini mama nak hiks, maafin Mama nak"ucap Risti sambil mengusap surai milik Bizar.
Terlihat dokter yang baru saja masuk kedalam ruangan Bizar, dan langsung memeriksa Bizar.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?"tanya Risti.
"Alhamdulillah, keadaannya sudah mulai membaik, dan syukurlah juga dia sudah siuman, tapi dia masih harus dirawat dirumah sakit untuk beberapa hari kedepan"jelas sang dokter.
"Alhamdulillah"
"Bagaimana dengan jantung nya dok?"tanya Nina, dokter langsung tersenyum.
"Jantungnya sudah membaik, saya dan pak Wira sempat berbincang masalah jantung Bizar, dan pak Wira menginginkan Bizar untuk transplantasi jantung segera, dan saat kemarin saat Bizar mengalami kecelakaan, kami langsung melakukan operasi transplantasi jantung, karena kebetulan pendonornya sudah ada, dan cocok"jelasnya sang dokter.
"Alhamdulillah kalau gitu, terimakasih dokter"ucap Nina.
"Sama-sama, kalau gitu saya permisi"dokter pun langsung pergi meninggalkan ruang rawat Bizar.
"Maafin Mama sayang, maaf hiks, jangan tinggalin mama"ucap Risti sambil menciumi wajah Bizar dan menyalurkan rasa rindunya.
Bizar menatap Nina, seakan menyuruh Nina untuk mendekati dirinya, Nina yang mengerti langsung mendekati Bizar.
"Jangan kayak gitu lagi yah"ucap Nina.
"Mama, mama Nina maafin Bizar"ucapnya lirih tapi masih bisa didengar oleh ketiga wanita paruh baya yang sedang berdiri didekatnya.
"Iya sayang, tapi mama mohon, kamu jangan kayak gitu lagi yah"ucap Risti.
"Minum"ucap Bizar pelan, dengan cekatan Seli langsung mengambil gelas yang berisi air dan memberikannya pada Nina untuk membatu Bizar minum.
"Mbak Nina?"panggil Seli, Nina lebih tua dua tahun dari Seli, maka dari itu dia memanggil Nina dengan embel-embel mbak.
"Iya?"
"Mbak gak ngabarin dulu pak Wira, sama anak-anak kalau Bizar udah siuman, aku tadi baru aja kabarin mas Robi, katanya sebentar lagi dia akan kesini"ucapnya
"Astaghfirullah, hampir lupa, kalau gak diingetin"Nina menepuk jidatnya.
"Bentar yah, aku mau ngabarin mas Wira dulu kalau Bizar udah siuman, kamu juga Risti, kabarin Albar sama pak Sandi"ucapnya
"Oh iya, bentar, Bizar mama kabarin papa dulu yah"saat Risti hendak menelpon Sandi, Bizar menahan tangan Risti.
"Kenapa sayang?"tanya Risti
"Aku takut"Risti langsung tersenyum, dan mengelus pipi sang putra.
"Kamu jangan takut yah, kan ada mama, papa gak bakalan marah lagi kok"akhirnya mau tak mau Bizar-pun hanya bisa menurut.
Setelah mereka menghubungi para suami dan para anak mereka bahwa Bizar sudah sadarkan diri, tidak lama kemudian Wira dan Robi datang, sedangkan Sandi masih dalam perjalanan, karena tadi dia ada meeting penting dan sekarang jalanan agak macet.
Sedangkan para anak-anak mereka masih disekolah, karena jam sekolah masih berlanjut.
Riska langsung merasa bahagia saat mendengar keadaan Bizar yang sudah siuman, begitupun dengan yang lainnya, mereka tidak sabar menunggu bel pulang sekolah.
Terimakasih ya, yang udah mau mampir ke karya aku😊 semoga kalian suka sama ceritanya 🌹😊Jangan lupa like and vote nya.
Maaf kalau ada typo yah.
Mohon bijak dalam berkomentar.