Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gagal
"Kenapa, tuh? Lo bikin masalah lagi?" Tanya salah satu dari mereka.
"Enggak anjir, gue udah lama gak bikin onar"
"Terus dia siapa? Kenapa nyegat kita?"
Gavin berhenti terengah-engah di depan mereka, berdecak pinggang seraya berusaha menetralkan nafasnya.
Dia menatap satu pemuda dari atas sampai bawah.
Dan tersenyum lebar.
"Bro, Lo doin kan? Keluarga barunya si Azura" tanyanya to the point, dengan alis terangkat.
Mereka berdua saling tatap.
Lalu menggeleng. "Bukan, gue bukan doin"
Gavin agak tersentak."Lah... Angkasa bilang namanya Doin." Dia lalu melirik lagi.
"Lha. Terus siapa dong? Jelas-jelas Lo doin keluarga baru si Azura, nama ibu angkat Lo Monica kan?" Kekeh Gavin.
"Kita pernah ketemu tuh di lintasan, waktu tanding si Angkasa," tanyanya terus berusaha meyakinkan.
Namun lagi-lagi mereka saling tatap, menggeleng satu sama lain. "Bukan bang, emak gue Shafira, gue juga bukan doin"
Teman di sebelahnya mengangguk setuju. "Iya bang, Abang salah orang kali"
Gavin mengusap kepalanya, sedikit malu mengetahui dia salah sasaran.
"O-oh gitu ya? Terus nama Lo siapa?"
Mereka kembali saling tatap tak mengerti.
"Gue Steve, ini temen gue Jaya"
"Oh, gue Gavin. Sorry ya, gue pikir Lo salah satu teman sahabat gue" katanya sedikit meringis.
Mereka mengangguk "gak apa-apa bang, santai aja" ucap Steve tenang.
"Yaudah, gue duluan" Gavin pergi dengan menahan rasa malu yang begitu besar.
Sementara Steve dan Jaya, mereka terkikik melihat tingkah Gavin yang sok kenal.
"Gue pikir orang gila anjir"
Mereka tertawa sambil lanjut berjalan.
" Ya gimana ya, tu orang sok asik banget!" Celetuk Steve menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara itu, Gavin berlari melintasi jalan tanpa melihat kanan kiri. Langsung menghampiri sahabatnya dengan wajah meringis.
"Goblok, goblok, goblok!" Makinya kesal, langsung di tatap aneh oleh orang yang ada di sana.
"Apa sih anjing? Gak usah gila deh!" Celetuk Gabriel.
"Lo sih Ang! Kata Lo namanya doin, bukan anjing! Ck. Malu gue" rutuknya menatap Angkasa sengit. "Moga aja ya gue gak ketemu dia lagi, mau di taruh di mana muka ganteng gue? Anying!" Katanya, mencak-mencak.
Mereka mengangga, menatap malas pemuda itu yang kini tengah menyeruput kopi. "Sejak kapan Lo punya malu" celetuk Tristan, Gavin mendelik kesal.
"Ya Lo ngapain di samperin bodoh?" Angkasa menjitak kepala Gavin gemas.
Gavin meringis memegangi kepalanya, menatap Angkasa dengan bibir mengerucut. "Kan gue cuma pengen kenal, supaya kita punya banyak temen" katanya pelan.
Mereka bahkan menarik diri ngeri mendengar bicara Gavin yang di imut-imut kan.
"Stres!!" Sinis Gabriel.
Gavin malah semakin mengerucutkan bibirnya lebih maju, Tristan yang gemas langsung mencomotnya.
"Gak usah manyun manyun gitu! Mau gue sedot?"
"Woo... Tristan belok!" Pekik Angkasa menunjuk-nunjuk Tristan yang mengumpat kesal.
"Diem anjing!" Sentaknya malu.
Mereka tertawa ngakak menyaksikan Tristan yang lagi ternista.
Di rumah Azura.
Tiffany dan Sherina baru selesai mengerjakan tugas kelompok, mereka tengah membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas.
"Mending kalian di anter mang Rudi aja? Udah malem juga kan" kata Azura.
Tiffany menggendong tasnya, menggeleng pada Azura. "Gak usah Ra. Baru juga jam sebelas, masih pagi inimah"
Sherina sudah menguap lebar, matanya menjadi berair. "Pagi, mata Lo buta! Ngantuk gue, yuk pulang"
Tiffany mendelik kesal. "Bentar elah"
Dia lalu menatap Azura yang berdiri diam menatapi kedua temannya.
"Janji ya, minta maaf ke Leon, kasian dia. Keliatan sakit hati banget tadi" seru Tiffany.
"Iya, kalo perlu video sebagai bukti, gue gak terima ya dia nangis" sambung Sherina.
Azura berdecak jengah. "Ck, gak usah berlebihan! Entar juga gue minta maaf, gue masih punya hati kali!" Timpalnya santai.
"Masa? Emang hati Lo masih hidup?" Celetuk Tiffany.
"Hidup lah! Buktinya gue mencintai Rafael SE ugal-ugalan ini"
Mereka memutar mata jengah. "Iya deh, dah ya kita pulang dulu" pamit Sherina berjalan ke luar lebih dulu, di ikuti Tiffany.
" Hati-hati"
" Dadah Ara!" Tiffany melambai pada Azura yang melotot.
Membuat gadis itu terkikik dan langsung kabur ke luar.
" Ara-Ara, nama itu terlalu manis buat gue yang Badas ini" cibi Azura mengibaskan rambutnya dan berjalan ke kamarnya.
Di kediaman Shafira.
Wanita itu tengah duduk bersila dengan menutup mata di sebuah kamar yang terang benderang, tangannya menyatu di depan dada.
Di depannya terdapat berbagai macam buku dengan bahasa kuno, di pinggir pintu terdapat banyak sekali rak-rak buku juga foto dirinya saat muda.
Mulutnya berkomat-kamit entah mengatakan apa.
Tiba-tiba, di dalam kamar itu berhembus angin pelan yang entah dari mana, yang semula hanya hembusan, kini menjadi seperti angin beliung yang memutari kamar, rak buku bergetar, Buku-buku di rak beterbangan satu per satu, berputar mengelilingi tubuh Shafira seperti terseret pusaran angin yang tak terlihat.
Rambutnya yang hitam berkibar kencang menerpa wajahnya, namun wanita itu tetap memejamkan matanya.
Cahaya emas mengelilingi seluruh badannya.
Wanita itu sedikit menahan nafas ketika merasakan dadanya Seperti ditekan keras, tubuhnya bergetar hebat, keringat sebesar biji jagung membanjiri pelipisnya.
Perlahan wanita itu membuka matanya, mata oranye miliknya menyala, menatap buku tua tebal berwarna coklat di depannya hampir saja terbuka.
bibirnya menyeringai puas, matanya semakin melebar.
'*ayo sedikit lagi*!'
Batinnya seraya menatapi buku itu.
Tok
Tok
Tok
Brak. Brughh.
Seketika semua barang yang berterbangan berjatuhan begitu saja, bahkan ada beberapa buku yang jatuh mengenai kepalanya.
Shafira mengumpat kesal, fokusnya buyar ketika seseorang mengetuk pintu.
Membuat misi yang harusnya mudah selalu gagal berkali-kali hanya karna suara ketukan pintu.
Tok
Tok
Tok
Shafira memejamkan matanya erat, membuang nafas kasar, berdiri dan berbalik menatap pintu dengan tajam yang terus di ketok dari luar.
Sesekali mengusap kepalanya yang nyeri akibat kejatuhan buku.
Berjalan cepat dan membuka pintu kasar.
Ceklek.
"Mak, aku punya berita bagus!" Kata Steve tiba-tiba ketika kepala Shafira Beru saja terlihat.
Namun pemuda langsung tersentak ketika mendapati mata Shafira menyala tajam.
Menatap Steve. "Apa kau tidak bisa baca? Kau tidak melihat tulisan di pintu ini, sudah aku peringatkan. Jangan ganggu aku ketika aku berada di dalam sini, apa kau tuli? Apa kau tidak bisa membaca tulisan ini? Lalu apa gunanya kau sekolah? Jika baca ini saja tidak bisa!" Kata Shafira cepat dengan marah.
Steve menggaruk kepalanya bingung, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan amarah Shafira yang meledak-ledak.
Dan hal itu membuat Shafira kesal juga menyesal karna telah merawat anak di depannya, tapi demi sesuatu yang dia inginkan. Dia harus membesarkannya dan juga berusaha tetap waras ketika menghadapi sifat keras dan tidak peduli pemuda itu.
"Maaf Mak, tapi serius, aku ada berita bagus"
Shafira masih terlihat marah, dia bahkan membuang muka judes, membuat Steve mengumpat pelan.
" Yaudah, maaf ya Kaka cantik, aku khilaf. Janji deh gak gitu lagi" Steve mengangkat dua jarinya dengan wajah sedikit memelas.
Dan itu selalu berhasil membuat amarah Shafira sedikit mereda, bahakan kini wanita itu tersenyum simpul dengan sedikit menunduk.
Steve hanya mendecih pelan.
"Haus validasi banget," gumamnya lirih.
Shafira langsung melotot.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Steve buru-buru menggeleng.
"Enggak, Kak cantik."
**Bersambung**...
main2 ke krya lu juga ya kalen🙏
klo nnti smpai rmh joddy mnta ajarin pke hp buat komunikasi, ajarin google map juga sama belajar mengenal dunia modern biar cpt adaptasi , untung leon bsa beladiri