Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hardi dan keluarganya
Matahari kini sudah merangkak naik, mengusir kabut tebal yang sejak subuh menyelimuti Desa Selogiri. Udara dingin perlahan berganti menjadi hangatnya terik siang. Di area dekat gerbang desa, rombongan Sri tampak mengembuskan napas lega.
Proses syuting pembuka yang melelahkan sejak fajar tadi akhirnya dinyatakan selesai.
"Oke! Syuting hari ini selesai!" seru Sri sembari menutup draf naskah di tangannya.
"Alhamdulillah!" sahut anak-anak cast dan kru kompak.
Bagas, Bimo, dan Yuda dengan cekatan langsung memandu kru lainnya untuk merapikan peralatan.
Rombongan mahasiswa itu bersiap-siap untuk kembali ke rumah tempat mereka menginap.
Namun, di saat mereka sedang sibuk berkemas, sebuah suara raungan mesin mobil yang terdengar asing dan bertenaga besar mendadak memecah ketenangan siang itu. Suara bising tersebut kian mendekat dari arah jalan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV berwarna hitam legam mengkilap perlahan meluncur membelah jalanan setapak, melewati gerbang desa tepat di samping rombongan Sri.
Kehadiran kendaraan mahal yang tampak sangat kontras dengan latar belakang desa itu seketika mencuri perhatian semua orang. Gerakan kru yang sedang mengangkut barang pun terhenti sesaat.
Mobil itu berhenti sempurna tak jauh dari balai desa. Dari pintu penumpang, turun sepasang suami istri paruh baya.
Sementara dari pintu kemudi, muncul seorang pemuda berusia sekitar 25 tahun dengan tubuh tegap, berwajah bersih, dan mengenakan pakaian kasual bermerek khas anak muda metropolitan.
Konon, pria paruh baya tersebut telah sukses besar di kota besar, dan setelah dua puluh tahun lamanya, baru kali ini ia menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahirannya.
"Lho, itu kan... Hardi?" bisik salah seorang warga desa yang kebetulan sedang melintas.
Kabar mengenai kedatangan keluarga kaya itu seolah menyebar seperti kilat. Dalam hitungan menit, beberapa warga desa, termasuk Pak RT Mulyo yang tampaknya sudah dikabari jauh-jauh hari, berbondong-bondong datang mendekat.
Suasana di sekitar balai desa yang tadinya sepi mendadak riuh oleh bisik-bisik kagum dan sapaan hangat warga yang berebut ingin menyambut.
"Selamat datang kembali, Hardi, Waduh, setelah dua puluh tahun akhirnya jenengan sekeluarga mudik ke Selogiri," sapa Pak RT Mulyo dengan raut wajah penuh hormat sembari menjabat erat tangan pria paruh baya itu.
Pria yang dipanggil Hardi itu tersenyum lebar, menepuk pundak Pak RT dengan akrab.
"Iya, Pak RT. Syukur alhamdulillah, setelah sekian lama berjuang di kota dan usaha kami dilancarkan, akhirnya kami bisa menyempatkan diri pulang untuk menengok tanah leluhur."
Pandangan Pak RT Mulyo kemudian beralih kepada pemuda berusia 25 tahun yang berdiri di samping mobil sambil tersenyum ramah.
"Dan ini... pasti Nak Arya, ya? Ya ampun, sudah besar sekali dan tampan."
"Iya, Pak RT. Saya Arya," jawab pemuda itu sopan, menyalami Pak RT dan beberapa tetua desa dengan santun tanpa ada kesan sombong sedikit pun.
Dari kejauhan, Sri yang bersiap untuk pulang terpaku menyaksikan momen hangat namun terasa asing tersebut.
Hardi, yang memperhatikan riuhnya warga desa, mendadak mengalihkan pandangannya ke arah gerbang. Matanya tertuju pada rombongan anak muda yang sedang sibuk mengangkut peralatan kamera dan tripod mereka.
Merasa asing dengan pemandangan itu, Hardi menyenggol pelan lengan Pak RT, lalu menunjuk ke arah rombongan Sri yang bersiap-siap untuk pulang.
"Pak RT, kalau boleh tahu... rombongan anak-anak muda di dekat gerbang itu siapa, ya? Kelihatannya ramai sekali," tanya Hardi penasaran.
Pak RT menoleh ke arah yang ditunjuk Arya, lalu tersenyum lebar sembari manggut-manggut.
"Oh, itu... mereka itu anak-anak kuliahan dari kota. Sudah dari kemarin ada di sini. Katanya sedang syuting film untuk tugas kuliah mereka," jelas Pak RT.
Pak RT kemudian menunjuk ke arah salah satu gadis di rombongan itu yang sedang mengobrol dengan Sri.
"Nah, di sana juga ada anaknya seleman. Itu lho, Seleman temanmu, ikut membantu mereka juga sebagai salah satu pemainnya. Kebetulan rombongan mahasiswa itu menginapnya di rumah joglo tua." Kata Pak RT yang di balas anggukan oleh Hardi dan Arya.
Sesampainya di pekarangan rumah tua peninggalan orang tua Hardi, sunyi langsung menyambut mereka.
Rumah berbentuk joglo itu tampak kusam, dengan kayu-kayu yang mulai melapuk di beberapa bagian dan halaman yang dipenuhi ilalang liar.
Dua puluh tahun ditinggalkan, rumah ini seolah menjadi saksi bisu masa muda Hardi sebelum ia mengadu nasib ke kota.
Setelah menurunkan beberapa koper dari bagasi SUV hitam mereka, Hardi, istrinya, dan Arya berkumpul di ruang tengah yang berdebu. Wajah istri Hardi yang tadinya tersenyum ramah di depan warga desa, kini berubah tegang dan dipenuhi kecemasan setelah mereka hanya tinggal bertiga.
"Pak... apa kamu benar-benar yakin?" bisik istrinya setengah berdesis, matanya melirik waspada ke arah pintu depan.
"Apa rentenir-rentenir itu tidak akan bisa menemukan kita di desa terpencil ini?"
Hardi mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi jati tua yang berderit parah.
"Tenanglah, Bu. Rentenir-rentenir kota itu tidak akan pernah tahu kalau kita lari ke desa ini. Lagipula, orang-orang kota itu mana ada yang tahu kalau asalku dari Selogiri? Di kota, mereka tidak tahu masa lalu kita di sini."
"Tapi bagaimana dengan mobil kita, Pak? Bagaimana kalau ada yang melacak?" kejar istrinya lagi, jemarinya bertautan saking cemasnya.
Arya yang sejak tadi menyimak pembicaraan orang tuanya langsung ikut angkat bicara untuk menenangkan sang ibu.
"Ibu tidak perlu khawatir, rentenir itu tidak akan tahu kalau kita di desa," sahut Arya mantap.
"Pelat nomor mobil kita kan sudah Arya ganti sebelum kita berangkat kemarin. Jadi tidak akan ada yang tahu atau bisa melacak kendaraan ini."
Mendengar penuturan dari suami dan anak laki-lakinya, sang istri akhirnya bisa menarik napas sedikit lebih dalam, mencoba mengusir rasa takut yang terus membayangi hatinya sejak mereka melarikan diri dari kota.
Ternyata, kembalinya Hardi setelah dua puluh tahun ke Desa Selogiri bukanlah sebuah kunjungan mudik yang penuh kejayaan seperti yang dikira oleh Pak RT Mulyo dan warga desa.
Di balik senyum lebar, dan SUV mewah yang mereka kendarai, tersimpan sebuah pelarian yang penuh dengan kepanikan.
Keluarga kecil itu sedang berada di ujung tanduk. Di kota, Hardi dan Arya telah terlilit utang yang sangat besar, tidak hanya kepada rekan-rekan bisnis dan kenalan mereka, tetapi juga kepada jaringan rentenir yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk menagih.
Situasi diperparah oleh tindakan nekat sang istri. Demi menutupi gaya hidup dan kepanikan karena utang suaminya yang menumpuk, ia nekat membawa kabur seluruh uang arisan dari lingkaran teman-teman sosialitanya di kota, sebuah nominal fantastis yang bukan lagi sekadar belasan juta, melainkan ratusan juta rupiah.
Ketika ancaman penjara dan kejaran para penagih utang sudah mengetuk pintu rumah mereka setiap hari, Hardi tidak punya pilihan lain.
Selogiri, desa terpencil yang telah lama ia lupakan dan hampir tidak pernah ia ceritakan kepada rekan-rekan kotanya, menjadi satu-satunya tempat persembunyian terbaik yang ada di dalam kepalanya.
Di ruang tengah rumah tua yang berdebu itu, Hardi kembali menatap istri dan anaknya.
"Intinya, di sini kita aman," bisik Hardi dengan nada menekan, memastikan tidak ada suara yang lolos keluar rumah.
"Uang arisan itu bisa kita pakai dulu untuk bertahan hidup di sini sampai situasi tenang. Warga desa tahunya kita sukses, jadi mereka tidak akan menaruh curiga. Ingat, jangan sampai ada yang kelepasan bicara tentang masalah kita di kota."
Arya dan ibunya terdiam, mengangguk perlahan.
"Sore nanti, kita harus mulai berbaur lagi dengan warga. Kita datang, sumbang sedikit uang untuk kas desa atau masjid. Cara seperti itu selalu berhasil membuat orang-orang desa patuh."
Hardi kemudian berjalan menuju jendela kayu yang berderit, mendorongnya membuka agar sirkulasi udara siang yang panas bisa masuk dan mengusir bau apak di dalam rumah.
Namun, begitu matanya menatap keluar ke arah pekarangan samping yang dipenuhi semak belukar, dahinya tiba-tiba mengernyit.
Di jalanan depan, Hardi melihat sekilas beberapa anak muda yang tadi disebut oleh Pak RT, rombongan mahasiswa yang sedang syuting film.
Mereka tampak berjalan beriringan membawa beberapa tas dan peralatan mereka.
Entah mengapa, melihat rombongan Sri itu membuat perasaan Hardi sedikit terusik.