NovelToon NovelToon
Takdirku Bersamamu

Takdirku Bersamamu

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Nikahkontrak / Poligami / Tamat
Popularitas:372.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Indri Hapsari

Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.

Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?

Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 : Tentang Emosi dan Pilihan Hati

Ponsel yang telah belasan kali menampilkan panggilan, terus diperhatikan. Anjani hanya melihatnya, hingga getarnya berakhir tanpa ada niatan untuk menerima. Pembuat panggilan tetap sama, yaitu suaminya. Anjani enggan menerima panggilan karena khawatir yang keluar hanya tangisan, bukan obrolan.

Tak lagi ada tanda-tanda nama Mario akan kembali tampil di layar, ponsel pun dimatikan. Anjani kembali fokus pada kesibukan buatan. Kesibukan yang sengaja dibuat demi menghadirkan setitik rasa nyaman, meskipun sebenarnya rasa nyaman itu pastilah sulit untuk dihadirkan dalam kondisi batin yang masih awut-awutan.

"Satu tugas beres. Lanjut bikin PPT sambil .... Ah, giliran ngunyah keripik tempe."

Semenjak pukul enam malam, Anjani tidak keluar kamar. Anjani menyibukkan diri demi mengurangi pikiran macam-macam. Pikiran Anjani saat ini dicukupkan hanya pada satu macam, yakni menanti Mario pulang kemudian memberi ketegasan.

Sudah sejak tadi Anjani memborong aneka macam cemilan, kue, dan minuman, lantas membawanya ke dalam kamar. Anjani terus mengunyah, meneguk minumannya, di sela merampungkan tugas kuliah.

Cetak! Cetak! Suara keyboard laptop yang ditekan dengan kuat.

"Tugas manajemen bisnis Adinda Dewi Anjani. Nomor Induk Mahasiswa 0102070123n. Sip. Lanjut!"

Anjani mencoba berkonsentrasi mengetik tugas di sela bayang-bayang wajah sang suami tampannya yang saat ini memenuhi pikiran dan hatinya.

"Ma-na-jemen bis-nis keluar-ga ..." Anjani mengeja ketikannya perlahan, tapi yang terjadi selanjutnya justru emosi Anjani semakin tersalurkan lewat keyboard laptop yang semakin ditekan-tekan.

"Manajemen! Bis-nis! Keluarga berantakan! Kecemburuan!" Ada jeda sebentar. "Olah raga siang berdua, hm? Dasaaaar! Sayang, kutunggu kau pulang!"

Braaak!

Nafas Anjani tersengal, lantaran emosi diri yang tiba-tiba keluar. Keripik tempe yang menjadi camilan bahkan sampai remuk karena gebrakan tangan.

"Astaghfirullaah." Kali ini Anjani beristighfar, matanya pun terpejam.

Usai berulang kali istighfar, Anjani menyudahi kesibukan yang sedari tadi dipaksakan. Laptop dimatikan, literatur kuliah dirapikan, sampai remahan keripik tempe pun dibersihkan.

Beres dengan itu semua, Anjani menuju dapur rumahnya. Berniat melakukan makan malam yang tadi sempat dilewatkan. Dulu saat belum menikah, jika ada masalah, Anjani akan mengabaikan pola makan. Kini, karena ada calon buah hati yang membutuhkan nutrisi, Anjani berusaha untuk tetap doyan makan.

"Mau makan malam, ya Non?" Pak Gun menyapa.

"Eh, iya nih, Pak. Mbak sama Mbok sudah istirahat, ya?" Anjani bertanya tentang dua asisten rumah tangganya.

"Sedang santai sambil nonton TV, Non. Mau saya panggilkan?"

"Tidak, Pak. Saya cuma tanya aja, kok." Anjani tersenyum ramah. Benar-benar mahir menutupi gejolak rasa di dada.

"Oh iya, Non. Tadi Tuan Mario telepon saya, nanyain non. Saya bilang mungkin sudah tidur. Begitu, Non."

Anjani langsung terdiam. Wajah Mario yang mengkhawatirkan dirinya langsung terbayang. Anjani mengira bahwa Mario menyerah usai belasan kali mencoba meneleponnya, rupanya Mario justru tetap berusaha tanya kabarnya.

"Iya, Pak. Terima kasih. Mungkin nanti suami saya telepon lagi."

"Kalau begitu saya tinggal istirahat dulu, ya Non."

"Silakan, Pak."

Duduk di meja makan sendirian membuat Anjani merasa seperti ada yang kurang. Biasanya ada Mario yang perhatian dan Anjani yang membalasnya dengan pelayanan di meja makan. Biasanya juga Mario akan menyuguhkan senyuman di wajahnya yang tampan, kemudian membuat obrolan ringan di sela aktivitas makan. Bukan hanya mengajak ngobrol Anjani, tapi juga sang calon buah hati. Ya, biasanya seperti itu.

"Kenapa aku mudah baper, mudah cemburu, bahkan mudah sekali menebak-nebak kelakuan suamiku. Heem. Ini gara-gara kalimat Lovey." Anjani menopang dagu. "Harusnya tidak baik sih, mudah berprasangka seperti ini. Tapi mau gimana lagi. Wajar-wajar saja jika seorang istri berprasangka seperti ini karena khawatir suaminya main belakang bersama wanita sexy."

Anjani memijit kepalanya pelan. Lagi-lagi kembali meredakan emosi dengan jalan beristighfar. Anjani sadar sikapnya berlebihan, padahal belum ada kejelasan. Akan tetapi, Anjani gagal menahan prasangka yang datang.

"Aku mencintai Mario. Juga .... Dia adalah ayah dari anak yang sedang kukandung." Anjani mengusap pelan perutnya, tersenyum, kemudian mulai mengajak ngobrol calon buah hatinya.

"Sehat terus ya, Nak. Baik-baiklah di dalam perut bunda. Bunda sayang kamu. Daddy juga sayang kamu, kok. Cuma sekarang daddy lagi kerja. Ya ... semoga saat ini daddymu benar-benar kerja, bukan olah raga." Kalimat terakhir terdengar lirih, lantaran hati Anjani yang terasa letih karena berpikiran macam-macam sedari tadi.

"Astaghfirullaah. Aku buat tidur saja, biar emosiku mereda."

Anjani urung makan malam. Untung saja tadi sudah memakan cemilan dan kue dengan jumlah lumayan, sehingga perut Anjani tidak terlalu lapar. Kamar menjadi tempat tujuan Anjani selanjutnya. Anjani berwudlu, kemudian merebahkan diri, mengistirahatkan pikiran dan hati demi meredakan emosi.

Cinta adalah perjalanan yang indah, meski tak melulu tentang manisnya rasa. Terkadang asam garamnya cinta turut mewarna. Tentulah ujian cinta itu ada. Doa Anjani sebelum tidurnya, semoga dia dan calon buah hati dapat melewatinya agar manisnya cinta kembali terasa.

"Astaghfirullaah."

Anjani beristighfar usai terhitung lima belas menit semenjak dirinya merebahkan badan. Ya, Anjani gagal terlelap. Sedari tadi matanya memang terpejam, tapi tak kunjung menuju alam mimpi karena terbeban oleh pikiran dan hati.

Jam dinding menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh malam. Anjani memutuskan untuk menelepon Isabel. Sekedar sapa malam, bertanya tentang mata kuliah yang ditugaskan, dan yang utama untuk basa-basi mencari hiburan. Anjani yakin sekali jam segini Isabel belum tidur karena hampir selalu begadang.

Dering pertama, panggilan suara yang dibuat Anjani langsung diterima. Dengan segera Anjani mengucap salam lebih dulu lengkap dengan tanya kabar dan basa basinya. Dikiranya Isabel yang mengangkat teleponnya, tapi ternyata bukan dia.

"Maaf Anjani, aku Bastian."

"Kak Bas? Isabel ada, Kak?"

"Isabel lagi ngambek sama aku, nih. Ini HPnya ketinggalan di depan TV. Biasa, adik kakak kalau dekat ya ada aja yang diributin."

"Oh. Semoga lekas baikan ya, Kak. Kalau gitu aku tutup du ..."

"Kamu ada masalah, ya?"

Bastian memotong kalimat Anjani dan langsung bertanya. Bastian menebak jika sedang terjadi sesuatu pada Anjani.

"Em ... nggak kok, Kak. Cuma lagi pengen nelpon Isabel saja."

"Aku tidak percaya."

"Tapi Kak Bas harus percaya.

"Baiklah aku percaya. Bolehkah aku berbagi nasihat yang kudapat hari ini?"

Nada bicara Bastian terdengar mantap sekali. Meski ragu, Anjani pun setuju. Toh hanya sebuah nasihat. Bisa saja nanti bermanfaat. Yang terpenting Anjani tidak bercerita apa-apa tentang permasalahannya.

"Boleh. Silakan, Kak."

"Terima kasih. Aku mau bertanya sesuatu lebih dulu padamu. Anjani, apakah kamu memiliki hati?"

Deg!

Agak terkejut Anjani mendengarkan pertanyaan Bastian. Tanpa bertanya pun harusnya Bastian sudah tahu. Namun, Anjani tetap menjawab demi menghargai pertanyaan itu.

"Iya. Aku punya hati, Kak."

"Benar. Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Anjani, kamu adalah pemilik hatimu. Yang tau bagaimana hatimu, ya kamu. Yang menentukan suasana hatimu mau seperti apa, itu ya kamu. Kamu mau sedih? Silakan pilih. Mau bahagia? Segera pilih. Ingat, hatimu milikmu. Tentukan pilihan untuk hatimu. Yang jelas, memilih untuk bahagia adalah prioritas utama."

Anjani paham betul maksud perkataan Bastian. Yang Anjani tidak paham, kenapa Bastian tiba-tiba memberinya nasihat demikian. Lagi-lagi demi menghargai nasihat Bastian, Anjani memilih untuk mengiyakan.

"Terima kasih nasihatnya, Kak. Em ... salam untuk Isabel jika Kak Bas sudah berbaikan. Aku tutup dulu ya telponnya." Anjani tidak ingin berlama-lama.

"Iya. Selamat malam. Semoga mimpi indah."

"Iya, Kak."

Terdiam. Nasihat Bastian tetiba saja dipikirkan. Meski Anjani belum tahu kenapa Bastian tiba-tiba memberi pesan, tapi nasihat yang diberikan patut dipertimbangkan.

"Hatiku milikku. Aku mau sedih, tinggal pilih. Mau bahagia, tinggal pilih juga. Tapi kalau kasusnya seperti ini wanita manapun pastilah sulit untuk bersikap baik-baik saja."

Anjani terdiam lagi. Lantaran makin bingung, akhirnya Anjani memilih untuk kembali mencoba tidur lagi.

"Ntar aja milihnya. Mau tidur saja."

Anjani merebahkan tubuhnya, dan tak lama kemudian berhasil terlelap tanpa harus menunggu bermenit-menit lamanya.

***

Kondisi Mario tak jauh beda dengan Anjani, sama-sama sedang menahan emosi karena Lovey. Duduk diam sambil meneguk minuman, Mario menunggu Lovey dan Ken kembali ke meja makan restoran.

Hampir setengah jam berlalu, Mario mulai bosan menunggu. Untuk sekedar menyusul ke ruang CCTV restoran, Mario enggan. Khawatir jika menyusul malah akan memicu pertengkaran.

"Aku harus menyelesaikannya segera. Nah, itu dia."

Lovey dan Ken terlihat berjalan mendekat ke meja. Mimik wajah yang mereka tampilkan benar-benar jauh berbeda. Lovey tampak menahan malu, sambil berulang mengucap maaf pada Ken. Sedangkan Ken tampak habis menggenggam sabuk kemenangan.

"Bro. Lovey mau menebus kesalahannya padaku. Berani bayar mahal dia." Begitu sampai di meja makan Ken langsung laporan.

"Iya. Aku yang salah. Maaf, ya Ken."

"Segera selesaikan masalah kalian." Mario menyela obrolan. "Vey, duduk di sini dulu. Dan Ken, kau boleh kembali duluan."

Lovey dan Ken langsung fokus memperhatikan mimik wajah Mario yang tampak serius.

"Loh-loh. Ada apa ini, Bro?"

"Aku ada urusan dengan Lovey." Mario masih serius.

"Berdua saja?" tanya Ken.

"Iya."

"Nggak bisa. Aku biar di sini jadi yang ketiga, daripada setan yang jadi ketiganya. Bisa-bisa kalian bikin dosa lagi kayak ta- .... ups." Ken langsung bungkam begitu mendapat lirikan dari Mario.

Mario tak ingin berlama-lama. Dia membiarkan Ken tetap di sana. Rekaman panggilan suara lekas disiapkan, kemudian memberikannya pada Lovey agar dia mendengarkan.

"Apa maksudmu bicara seperti itu pada istriku, Vey?" bidik Mario, ketika melihat Lovey selesai mendengarkan rekaman."

"A-aku bisa jelaskan."

"Jelaskan sekarang!" tegas Mario.

"Hei! Ada apa sih ini?" Ken menyela karena menjadi satu-satunya pihak yang tidak tahu apa-apa.

Mario meminta ponselnya kembali, kemudian memberikannya pada Ken agar turut mendengarkan rekaman obrolan Lovey dan Anjani.

"Whaaat?! Olahraga? Mandi?" Ken terkejut mendengar alasan yang dibuat Lovey pada Anjani.

"Hei cewek gilla? Kau mau cari masalah, ha?" Ken ikut menyalahkan, padahal baru saja berbaikan dengan Lovey.

"Mario, Ken, aku bisa jelaskan." Lovey meyakinkan.

"Jelaskan sekarang!" Mario mendesak. Sama sekali tak ada canda di wajahnya.

Lovey lebih dulu meredakan debar di jantungnya. Menarik nafas dalam-dalam. Lovey tahu bahwa alasan yang dibuatnya telah menciptakan keambiguan.

"Niatku cuma satu. Aku tidak ingin Anjani tahu kalau Mario pingsan karena high heels yang kulempar. Waktu aku lihat Anjani menelpon, sebenarnya aku ragu untuk mengangkatnya. Tapi aku khawatir Anjani jadi kepikiran karena telponnya tidak segera diterima oleh Mario. Jadi aku putuskan untuk menerima panggilan Anjani. Aku bingung cari alasan. Dan ... dan ...." Lovey menarik nafas dalam-dalam sekali lagi. "Maaf, aku sadar alasan yang kubuat sungguh ambigu." Lovey menunduk.

Brak! Ken yang menggebrak meja, membuat Lovey yang tertunduk jadi mengangkat wajahnya.

"Ken, tahan dirimu!" Mario masih sempat memberi nasihat. Memang, harusnya Mariolah yang lebih berhak untuk marah atas sikap Lovey.

"Mario, tolong maafkan aku."

"Jangan dimaafkan, Bro!" Ken benar-benar jadi setannya sekarang.

Lovey hanya melihat Ken sekilas, kemudian kembali fokus pada Mario untuk meminta maaf.

Mario terdiam. Tidak menyahuti yang Lovey katakan. Sebenarnya Mario hanya sedang menahan agar tidak emosi berlebihan. Mario sadar posisinya sedang berada di restoran dan sedang banyak orang.

"Kirim pesan permintaan maafmu pada istriku beserta alasannya. Mulai sekarang dan seterusnya, urusan bisnis yang melibatkanmu akan kuserahkan pada Ken." Mario berdiri. "Aku permisi."

Lovey tertegun mendengar keputusan Mario. Namun, Lovey tetap harus menerima keputusan itu. Dilihatnya Mario pergi, disusul dengan Ken yang berlarian mengejar Mario setelah kembali memaki.

"Bro, tunggu! Kau mau kemana?" Ken mengejar hingga ke area parkiran.

"Mau pulang. Aku harus menjelaskan pada Anjani."

"Harus sekarangkah? Ini sudah malam."

"Ken, saat pasangan berjauhan, yang perlu dijaga adalah komunikasi yang lancar. Saat ini Anjani sedang salah paham. Jangankan komunikasi, teleponku saja tidak diterima sama sekali."

Mario mengambil sisi kanan, kemudian kembali berjalan. Namun, Ken yang khawatir pun kembali mencegah dan memberinya alasan beserta masukan.

"Oke aku paham. Kesalahpahaman harus segera diluruskan. Tapi ingat lagi, kau saat ini sedang emosi. Anjani di sana mungkin juga sedang emosi. Bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi jika dua orang saling emosi, ha?"

"Aku tetap mau pulang sekarang, Ken."

"Tidak akan kubiarkan karena ini sudah malam. Keselamatan di jalan juga perlu dipertimbangkan. Besok pagi saja kau pulang!"

"Ken, aku ini bosmu!"

"Dan aku ini sahabatmu, Mario! Dengarkan kata-kataku. Redakan emosimu lebih dulu!"

Mario terdiam. Kata-kata Ken mulai merasuk perlahan.

"Pulanglah besok pagi. Rencanakan sesuatu juga untuk Anjani. Kejutan, hadiah, dan jangan lupa beri penjelasan yang masuk akal."

Kali ini Ken benar-benar memainkan perannya sebagai seorang sahabat, bukan seorang yang somplak. Kata-kata Ken sungguh bijak.

"Baiklah." Akhirnya Mario bersedia.

"Yeaaaah!" Ken bersorak.

"Tapi, kau urus pertemuan dengan relasi dua hari ke depan. Bisnis yang melibatkan Vey dan perusahaan, mulai sekarang kaulah yang mengurusnya."

"Em ... baiklah. Dengan setengah hati akan kuterima."

"Keeeen!"

"Iya-iya. Dengan sepenuh hati. Ah!"

Mario tersenyum puas, lantas meninggalkan Ken yang masih ngomel-ngomel tak jelas.

Dan .... hari pun berganti. Mario berangkat pagi-pagi buta dan tepat pukul enam pagi sudah memarkirkan mobil di garasi rumahnya. Kata penjelasan, buket bunga mawar, bahkan bingkisan buah tangan sudah disiapkan. Langkah Mario mantap menemui Anjani yang menurut Pak Gun ada di dalam kamar.

"Sayang." Mario mengetuk pintu kamar perlahan. Hal yang tidak biasanya dia lakukan.

Anjani membuka pintu kamar, mengucap salam, kemudian meraih punggung tangan Mario untuk bersalaman. Tidak hanya itu. Anjani menambahi dengan kecupan di pipi kanan, pipi kiri, juga dahi. Selesai dengan semua, Anjani pun menampilkan senyuman termanisnya. Senyum manis yang tak pernah Mario lihat sebelumnya. Senyum yang benar-benar berbeda, dan membuat jantung Mario berdebar-debar khawatir karenanya.

"Selamat datang kembali, SUAMIKU!"

Deg!

Jantung Mario semakin berdebar. Bukan debar merdu, tapi debar khawatir karena Anjani menekan kata suamiku.

Bersambung ....

Mohon maaf agak telat up, karena ada kegiatan yang harus author hadiri. Semoga masih suka dengan jalan ceritanya. 😊

Terima kasih sudah mampir dan membaca.

Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Hayuuk. Kenal juga novel-novel kece karya my best partner. Novel Menanti Mentari karya Cahyanti dan Novel Cinta yang Terpendam karya Dian Safitri. Dukung kami.

NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario.

***

1
Surya Hermawan
2021 dah lama banget ya, baru gabung thor baru unduh novel toon
eti rohaeti
Luar biasa
Medy Jmb
Mario gak jelas
Mimin Mintarsih
Alhamdulillah, semua bahagia
Mimin Mintarsih
Semoga jd berempat bersahabat
Mimin Mintarsih
Semoga mereka menjadi sahabat sejati
Adiba Shakila Atmarini
ending yg bhagia.sukss sllu dngn krya brikutx
Mimin Mintarsih
Aduh kenapa lagi bahagia ada ada saja
Mimin Mintarsih
Marisa naksir Riko tp tak terbalaskan
Mimin Mintarsih
Marisa nekad dan bakal kena batunya.
Adiba Shakila Atmarini
wah.laki2 sma aja sintingx..dh pnya bini hmil tua .msih mau nikah lgi..
Adiba Shakila Atmarini
jngn sampai anjani dan babyx knpa2 thor..
Adiba Shakila Atmarini
ada bau2 g sedap ni dri ayu.
Mimin Mintarsih
Semoga Anjani nyaman di kampus baru
Ai Hodijah
awalnya teman terus teman curhat lama-lama teman hidup,lupa deh sama yang di rumah
Ai Hodijah
kalau menurutku si mario dan anjani tidak tegas terhadap lawan jenis, berteman akrab boleh tapi harus ada jarak,awalnya hanya dekat lama-lama pegang yang lain kan tetep aja selingkuh
Ai Hodijah
ini si mario mikir gak sih,kan di rumah sakit pasti ada perawat,ini malah mau gendong lagi,menolong boleh tapi gak harus gitu juga di depan istri lagi bikin panas haredang aja
Ai Hodijah
sotoy kamu riko
Lina Handayani
Assalamualaikum, aku mampir, Kak. Awal yang menarik 😍😘.
Nurliana Saragih
Yang lucunya, kenapa Ayah Mario yang selalu berperan?!
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!