NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belajar jadi orang kota

Vivian melangkah sembarang, wajahnya penuh kebingungan. Ia sama sekali tak tahu arah, hanya berjalan mengikuti siapa pun yang lewat di depannya.

Diam-diam ia memperhatikan segalanya, cara mereka menekan tombol lift, cara mereka menempelkan kartu di alat pembuka pintu, hingga gerakan tangan yang tepat.

Ia menyimak saksama, mencoba mengingat setiap langkahnya, seolah sedang belajar hal baru yang luar biasa.

Bagi Vivian yang tumbuh besar di kampung, semua kemewahan dan kecanggihan kota ini terasa asing dan menakjubkan.

Hingga akhirnya matanya menangkap deretan angka di pintu yang sama persis pada yang tertulis di kartu akses yang ia pegang erat.

Dengan hati-hati, ia menirukan gerakan yang tadi ia lihat. Menempelkan kartu di alat pembuka, menunggu sejenak...

Ting!

Pintu terbuka lebar dengan mulus.

"Waaah... ajaib sekali!" serunya berbisik, matanya berbinar takjub. Senyum lebar mengembang di bibirnya, bangga sekali karena berhasil melakukannya sendiri.

Ia tak langsung melangkah masuk, melainkan melongokkan kepala dulu, mengintip perlahan dari celah pintu yang terbuka.

Matanya berkeliling saksama, menelusuri setiap sudut ruangan yang tampak begitu luas, bersih, dan penuh kemewahan. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Benar-benar... seperti surga." bisiknya takjub, senyum bahagia merekah lebar di wajahnya.

Tanpa ragu lagi, ia berlari kecil masuk ke dalam. Matanya terus bergerak ke sana ke mari, tak puas memandangi segala keindahan di sekelilingnya.

Tangannya terasa gatal dan ingin menyentuh semuanya. Benda-benda yang baginya terasa begitu ajaib, halus, dan indah.

Ia menyentuh permukaan meja yang mengkilap, menyapu jari di atas kain tirai yang lembut, hingga mengelus selimut empuk di atas kasur besar itu. Semuanya terasa begitu istimewa.

"Pasti akan sangat nyaman sekali tinggal di kota" bisiknya lirih penuh rasa senang.

Ia menarik selimut empuk itu hingga menutup dadanya, lalu perlahan memejamkan mata. Untuk sementara, ia melupakan sakit hatinya. Rasa lelah perlahan membawanya terlelap lebih mudah.

Entah sudah berapa lama ia tertidur, Vivian terbangun ketika malam tiba. Ia mengerjap pelan, lalu meraih ponsel di samping tempat tidur.

Ada beberapa pesan masuk dari ibunya, mengingatkan agar segera bersiap untuk acara makan malam bersama.

Dengan sigap ia beranjak bangun, berjalan cepat menuju pintu dan membukanya lebar.

Namun seketika langkahnya terhenti, ia menatap pantulannya sendiri di cermin. Rambut berantakan, pakaian kusut, penampilannya sungguh tak layak.

"Ah, benar... sepertinya aku harus mandi dulu" gumamnya.

Langkahnya berbelok menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan, begitu terburu-buru hingga ia lupa menutup kembali pintu kamar depan.

Selesai dengan segala ritual mandinya, ia keluar dengan wajah segar, namun tiba-tiba kakinya terpaku di tempat.

Di ambang pintu berdiri sosok pria berwajah dingin, tatapannya tajam dan lekat menatap ke arahnya. Tak berkedip, tak bergerak, seolah sudah berdiri di sana sejak lama.

"Kyaaa..!" teriaknya kaget, kedua tangannya spontan menutupi tubuhnya.

Namun pria itu masih diam saja, tak beranjak sedikit pun dari tempatnya, hanya menatapnya dalam diam yang membuat suasana semakin mencekam.

Dalam situasi ini, bayangan pengkhianatan kekasihnya kembali berputar di kepala. Matanya memerah, ia hampir menangis. Membuat pria itu seketika tersadar dari lamunannya. Tanpa banyak bicara, ia melempar sebuah tas jinjing besar ke arah Vivian.

"Pakai" ucapnya singkat dan tegas, wajahnya langsung berpaling ke sisi lain agar tak lagi melihat ke arah gadis itu.

Tanpa menunggu lama, ia bergegas melangkah keluar dan menutup pintu rapat di belakangnya.

Di luar sana, tubuhnya tersandar lemas pada dinding dingin. Satu tangannya menekan dadanya yang berdegup jauh lebih kencang dari biasanya, berusaha menenangkan detak jantung yang tak mau tenang.

Wajah yang biasanya dingin dan datar, kini memerah samar, menyembunyikan rasa gugup yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

...****************...

Vivian menatap lekat pantulan dirinya di depan cermin. Gaun indah berwarna merah muda lembut kini membalut tubuhnya dengan pas.

Potongannya sedikit terbuka di bagian bahu dan leher, namun tetap terlihat manis dan anggun, sangat cocok sekali dengan dirinya.

Ia tersenyum kecil, membetulkan letak kainnya pelan-pelan.

"Aku hanya perlu terbiasa... begini memang gaya orang kota, kan?" bisiknya pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak merasa canggung.

Ia melangkah santai menyusuri lorong panjang itu, kakinya telanjang menyentuh lantai yang dingin dan halus. Sesampainya di depan pintu restoran mewah, ia berjongkok sebentar, lalu dengan hati-hati memakai sepatu hak tingginya kembali.

"Harus bisa... kalau mau jadi orang kota, memang harus bergaya begini," bisiknya pelan, menyemangati diri sendiri.

Ia berjalan perlahan, langkahnya sedikit goyah karena belum terbiasa, namun ia berusaha tetap tegak.

Matanya berkeliling mencari sosok ibunya, dan senyum sumringah langsung mengembang di wajahnya saat ia berhasil melihat wanita itu duduk di salah satu meja.

Namun, langkahnya seketika terhenti di tempat. Napasnya tertahan.

Tanpa sengaja, pandangannya jatuh pada sosok yang duduk di sana, seseorang yang baru-baru ini sangat ingin ia hindari.

"Bahkan bayangan itu belum sepenuhnya hilang, dan lagi-lagi dirimu datang mengacau..."

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!