Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Damar
Damar berjalan dengan tenang di kantor calon kakak iparnya Ganendra, kedatangannya kali ini menyangkut kerjasama yang akan mereka kerjakan bersama dengan perusahaan Bryan.
Setelah bertemu dengan calonnya kemarin Damar sudah mengambil keputusan, baginya tidak ada yang boleh menyakiti calon istrinya tersebut.
Damar tidak akan peduli dengan Bryan atau pun Kayla yang sudah menandatangani kontrak kerjasama.
Damar sudah berada di rumahan Ganendra.
"Apakah kita ada meeting hari ini?" tanya Ganendra ke Damar yang sudah duduk di sofa berwarna gelap di ruangannya.
Damar menegakkan tubuhnya dan menatap Ganendra dengan serius.
"Ada apa? Apa ada hal serius yang terjadi?" tanya Ganendra lagi.
"Ya," jawab Damar singkat.
"Tentang?" Ganendra juga menegakkan punggungnya dan menatap serius ke sahabatnya ini.
"Aku tidak mau lagi bekerjasama dengan perusahaan Bryan,"
Ganendra mengerutkan alisnya. Dirinya paham ini pasti gara-gara masalah kemarin.
"Lu yakin dengan keputusan ini?"
"Yakin 1000 persen, aku akan menggantikan dengan perusahaan lain yang lebih berkompeten selama ini dan sudah lama bekerjasama dengan perusahaan keluargaku,"
"Baiklah jika itu memang keputusan dirimu, Aku akan meminta Bram menghubungi pihak Bryan," Ganendra juga tidak mau permasalahan ini semakin berlanjut jika mereka masih bekerjasama dengan Bryan.
Damar dan Ganendra masih melanjutkan pembahasan lainnya. Ganendra sudah meminta Bram menghubungi Bryan untuk memutuskan kerjasama di antara mereka.
Di tempat lain Bryan yang sedang bersama Kayla di ruangannya sedang menjelaskan ke Kayla tentang klien-klien mereka.
Terdengar nada dering ponselnya berbunyi Bryan melirik sekilas nama Bram asisten Ganendra terpampang di layar ponsel pintarnya.
Bryan meraih ponselnya menggeser tombol hijau.
"Hallo, ada apa Bram?"
"..... " Bram menjelaskan secara singkat dan padat tanpa basa basi.
"Apa!" Bryan tampak terkejut.
Kayla menatap wajah Bryan yang tampaka tegang.
"Tidak bisa! Kita sudah sepakat kenapa tiba-tiba dibatalkan?! Aku akan menemui Damar dan Ganendra, tidak begini caranya!"
Bryan langsung mematikan ponselnya wajahnya tampak memerah, rahangnya mengeras.
"Ada apa Bry? Apa ada masalah?"
Bryan menatap tajam ke Kayla.
"Ini semua gara-gara Kamu,"
"Apa?! Kenapa Aku?!" Kayla berdiri dirinya tidak terima dengan perkataan Byan.
"Aku menyesal menerima dirimu menjadi sekretarisku, gara-gara Kamu semua jadi berantakan," Bryan menahan emosinya.
"Aku tak tau apa maksudmu Bryan, tolong jelaskan ada apa!" Kayla tidak mau kalah dirinya juga berteriak di depan Bryan.
Bryan yang lagi emosi memilih berjalan keluar dari ruangannya.
Sebelum keluar tanpa menoleh ke belakang ke arah Kayla kata-katanya membuat Kayla terdiam.
"Aku akan berbicara ke Om, aku tidak ingin kamu menjadi sekretarisku mulai hari ini,"
"Apa!" teriak Kayla.
Bryan tidak memperdulikan teriakan Kayla. Bryan melangkah keluar ruangan menutup pintu dengan keras.
Kayla yang tidak paham dengan kemarahan Bryan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya.
Kayla menyusul Bryan keluar dari ruangan sambil membawa berkasnya yang tadi dibawanya.
***
Di tempat kerjanya Diandra bekerja seperti biasa bersama Gea mereka menemui klien yang memesan mobil limited edition.
Diandra sudah tampak baik baik saja. Gea melihat atasannya tersebut sudah tidak melamun dan diam saja.
"Gea apa sudah kamu hubungi Pak Rayhan yang kemarin mau datang mengambil mobilnya?"
"Sudah Nona, beliau akan datang bersama istrinya setelah makan siang,"
"Baiklah,"
Diandra dan Gea sedang bersiap untuk pergi makan siang, tetapi seseorang yang Diandra kenal datang yang baru kemarin datang ke apartemennya sekarang tampak sudah berada di depan ruangannya.
Dengan senyum tipisnya Damar menatap calon istrinya tanpa berkedip.
Gea segera menjauh dari pasangan yang sepertinya sedang masa pendekatan itu.
"Ge, mau kemana?" tanya Diandra.
"Em.. anu Nona, Saya mau ke cafe sebelah kantor saja makan siang," Gea tersenyum.
Damar mendekati calon istrinya tersebut.
"Aku mengajakmu makan siang bareng, Andra,"
Diandra memandang sekilas ke calon suaminya.
"Padahal Aku sudah janji dengan Gea mau makan bareng,"
"Jangan menolak tawaran calon suamimu, Andra, ayo," Damar meraih tangan Diandra mengajaknya berjalan menuju lift.
"Ini di kantor, Kak, gak enak di lihat sama yang lain," Diandra mencoba melepaskan tangannya dari Damar. Damar semakin mengencangkan genggamannya.
"Jangan pedulikan apa yang mereka lihat, Kamu calon istri Aku, dimana salahnya?" Damar terus berjalan tanpa mengurangi genggaman jemari tangannya di jemari Diandra.
Diandra hanya menarik napas. Lelaki yang belum dikenalnya ini memang selalu saja seenaknya, tapi kenapa Diandra tidak pernah bisa menolak dengan yang dilakukan oleh calon suaminya tersebut.
Keduanya sudah memasuki lift turun ke lantai bawah.
"Waktu pernikahan kita semakin dekat, Andra, Mama meminta kita untuk pergi ke butik langganan Mama untuk fitting baju," Damar bicara di dalam lift.
"Besok hari Sabtu Aku akan menjemput Kamu jam 11 siang, kita akan pergi mencari cincin nikah dan ke butik langganan Mama,"
Diandra hanya melirik ke lelaki yang selalu membuatnya merasa tidak berkutik. Diandra seperti lembu dicucuk hidungnya, manut dengan perkataan Damar.
"Kenapa diam saja? Kamu lagi sakit gigi?" lift terbuka Diandra segera keluar lift di ikuti oleh Damar.
Keduanya berjalan bersisian. Di lantai satu tampak beberapa orang yang sedang melihat-lihat mobil edisi terbaru di pajang di display.
Para staf yang ada di lantai satu menundukkan kepala memberi hormat kepada Diandra dan Damar.
Tangan Diandra masih digenggam Damar menuju ke mobil miliknya. Mobil limited edition yang di pesannya di tempat Diandra bekerja.
Damar melepaskan genggaman tangannya membuka pintu mobil untuk calon istrinya ini.
Diandra masuk ke mobil, Damar berjalan memutari kap mobil depan dan masuk ke pintu sebelah dan duduk di kursi kemudi.
Diandra duduk belum memasang seatbelt -nya.
Damar segera mendekat ke arah Diandra.
"Ma..mau apa Kak?" tanya Diandra gugup.
Damar semakin mendekat, Diandra semakin tegang, Diandra menutup kedua matanya, napasnya tertahan saat Damar sudah berada di depan wajahnya.
Klik..
Tiba-tiba saja terasa tali seatbelt sudah terpasang di depan tubuhnya.
Damar mencium aroma harum dari tubuh calon istrinya. Damar belum beranjak dari posisinya saat Diandra membuka matanya.
Tatapan mereka bertemu. Wajah Diandra tampak memerah, posisi mereka sangat dekat. Diandra menahan napasnya. Damar tersenyum tipis. Damar ingin sekali mengecup bibir merah calon istrinya yang tampak menggoda.
Wajahnya semakin mendekat.
Bip.. bip.. terdengar bunyi ponsel Diandra dalam tasnya. Diandra kaget. Tangannya reflek menjauhkan wajah Damar dari depan wajahnya.
Damar hanya tersenyum tipis kemudian kembali duduk tenang di posisinya. Diandra membuka tasnya, dilihatnya mami memanggil.
Damar mulai menjalankan mobilnya dengan tenang. Hati Damar merasa sangat tenang hari ini, berada di samping wanita pujaannya membuat Damar sudah tidak sabar ingin segera memiliki dan selalu ada di dekat wanita yang sekarang ada di sampingnya.
Diandra sudah selesai menerima telepon dari maminya.
"Mami Mikha menelpon?" tanya Damar sambil menoleh ke samping.
"Iya," jawab Diandra singkat.
Di dalam mobil mahal milik Damar, Diandra merasa perjalanan ke restoran tempat makan terasa sangat lama.
Damar menoleh ke samping, wanita pujaannya hatinya ini memang sangat pendiam, bukan wanita yang cerewet dan selalu banyak bertanya.
Damar baru kali ini mendapatkan wanita yang tidak mengejar dirinya. Tidak seperti wanita kebanyakan yang sangat percaya diri ingin dekat dengan dirinya.
Akhirnya mereka sampai di restoran yang di tuju. Damar sudah meminta Vano asistennya untuk mereservasi sebelum dirinya datang ke kantor Diandra. Tempat private hanya mereka berdua di dalamnya. Damar akan terus mendekati calon istrinya yang hanya hitungan bulan saja akan sah menjadi miliknya.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤