NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

          [ Nanti tunggu diparkiran! ]

Hawa mengetik cepat. Sebelum Asrina kepo.

          [ok kak]

Siang ini udara sangat panas, Hawa melipir ke taman belakang sekolah. Asrina lebih suka didalam kelas, jadi ia seorang diri. Ia duduk dibawah pohon besar. Angin bertiup lembut menggerakkan dedaunan yang bergemerisik merdu. Burung berkicauan didahan pohon dan sesekali mengepakkan sayapnya membumbung tinggi kelangit biru cerah. Sang surya bersinar dengan teriknya. Menambah indah lukisan alam semesta yang memanjakan netra.

Tak terasa matanya memejam dengan eratnya. Ia tidak mengetahui kalu sedari tadi seseorang memandanginya. Sesekali menyunggingkan senyum tipis. Dia berjalan menghampiri Hawa yang terlelap. Dia jongko didepan Hawa.

" Assamu'alaikum Hawa. Bangunlah, sebentar lagi bel masuk kelas." ucap Dika, kakak kelas yang kalem, pinter dan tampan. Salah satu murid berprestasi disekolah. Hawa merasa sayup-sayup seseorang menyebut namanya. Mengerjapkan mata sejenak. Setelah netranya terbuka lebar, ia terkesiap melihat Dika jongkok didepannya. "A,,ada apa kak?" tanyanya panik. Dika berdiri sambil tersenyum. " maaf membuatmu terkejut. Aku hanya ingin bilang kalau sebentar lagi bel masuk kelas." jelasnya" aku duluan Wa" lanjutnya beranjak pergi dari taman belakang."Iya kak, terima kasih sudah membangunkanku."Hawa berkata pelan. Segera ia beranjak menuju toilet untuk membasuh mukanya. Tanpa Hawa sadari, Hasby melihat semuanya. Sebenarnya dia akan membangunkan Hawa tapi kalah telak dari Dika.

Ada sesuatu yang salah di dirinya, entah kenapa tidak suka melihat Hawa berdekatan dengan laki-laki lain. Padahal dia belum memiliki rasa cinta padanya, tapi rasa tanggung jawab yang diembannya. Setelah akad diucapkan. Mengalihkan pikirannya berjalan masuk ke kelasnya. Mengikuti pelajaran selanjutnya.

"Hari ini rapat bentaran guys!?" seru Reno menginterupsi kegiatan Hasby dan teman-temannya. Mereka menoleh bersamaan. "bentaran doang, cepetan!" lanjutnya santai melenggang keluar kelas menuju ruang Osis. Teman-temannya mengikuti dengan malasnya. Hasby berjalan tenang dan tegas. Mengutak-atik gawainya cepat.

         [Tunggu! Aku rapat sebentar]

         [iya kak, izin makan bakso samping halte ya]

         [ok. Jangan terlalu pedas]

          [Siap kak. 👋]

Tian mengangkat alisnya sebelah, melihat Hasby yang memainkan gawainya terlalu lama ketika akan melakukan rapat Osis. "kirim pesan sama siapa dia?? Apa ada orang yang spesial?" batin Tian. Teman-teman yang lain tidak ada yang memperhatikannya. Tian memicingkan mata menyelidik. "ok. Rapat dimulai sekarang biar gak kesorean pulangnya!" ucap Hasby tenang dan datar. Teman-temannya langsung sigap dan mereka melaksanakan rapat dengan tertib.

Hawa memasuki warung bakso langganannya tersebut. Setelah memesan ia memilih duduk menghadap jalan raya. Duduk sendiri menikmati semangkuk bakso yang mengepulkan asap dicuaca yang sangat terik ini. Ia mulai meraciknya, menambahkan kecap,saos cabai dan sambel tiga sendok. Mencampur semuanya menjadi satu, menyesap sedikit kuahnya. Terasa sudah pas dengan rasa yang diinginkannya . Terlihat sangat pedas memang. Tapi menggugah seleranya. Padahal Hasby sudah mewanti-wantinya supaya jangan terlalu pedas. Tapi Hawa tidak mengindahkan larangan Hasby.

"Alhamdulillah.. Enak sekali baksonya. Jadi kangen ibu" gumamnya pelan. Matanya memanas seketika mengingat ibunya sudah meninggal. Segera ia menghapus air matanya sebelum terjatuh. menghela napas berulang kali untuk menenangkan sesak yang bersarang dihatinya. Ia berusaha melanjutkan makannya.

Terlihat Hasby turun dari mobilnya, memasuki warung bakso tersebut. Melihat Hawa yang masih berusaha menghabiskan makanannya dengan mata memerah.

"Bang, tolong bungkus dua ya, pisah mi nya. Saya tunggu disana." kata nya tegas menunjuk tempat seorang gadis duduk memakan baksonya, setelah mendapat anggukan dari abang bakso, ia melangkahkan kaki mendekati tempat Hawa duduk. Tanpa sapaan hangat, ia duduk diam disamping Hawa. Hawa yang awalnya tidak memperhatikan kini menoleh dan terkejut melihat Hasby disampingnya.

 "kak,,," hasby memandang Hawa lalu berucap

" cepat habiskan, baru kita pulang."

"i,,iya kak, tunggu" Hawa segera menghabiskan sisa baksonya cepat. Menyedot es teh manisnya, tersisa sedikit tapi sebuah tangan mengambil alih gelas itu dan meminumnya habis. Hawa terkejut dengan tindakan suaminya itu. Ia terdiam membeku. Tidak bisa berkata-kata lagi. Hasby bangkit dari duduknya.

 " Ayo pulang!" melenggang meninggalkan Hawa yang masih bengong. Setelah membayar dan menerima baksonya. Ia segera berjalan ke mobil hitam yang diparkir dipinggir jalan raya itu. Hawa mengikutinya sambil sesekali melihat kiri kanan takut ada murid dari sekolahnya yang melihat. Sekiranya aman ia segera masuk ke bangku samping kemudi. Hasby segera melajukan mobilnya bergabung dengan kendaraan lalu lintas sore hari itu.

Tanpa mereka sadari diseberang jalan ada Tian yang lagi melayani customer dicafe yang baru buka kemarin. Kafe itu milik Tian, tapi hanya anggota Osis yang tahu. Sering kali Tian turun tangan melayani customer sendiri.

Tian melihat pemandangan yang tidak biasa itu, dahinya berkerut. "siapa gadis itu? ada hubungan apa dengannya[Hasby]? Mereka terlihat sangat dekat. urus besok sajalah" batinnya melanjutkan pekerjaannya.

Mobil berhenti pelan digarasi samping. Hawa keluar lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hasby menaikkan alisnya sebelah, mukanya tetap saja datar. Menyusul melangkahkan kaki ke dalam rumah. Diruang tv ada Mama dan Bik Im sedang menikmati rujak buatan Mama. Terlihat menggiurkan. Tapi Hasby tidak menyukainya. Hasby tidak terlalu suka makanan yang berbau pedas. Ia mendekati Mama.

"Assalamu'alaikum Mah, Bik." meraih dan mencium punggung tangan Mama, menggangguk singkat ke Bibik.

"Wa'alaikumsalam" serempak sekali Mama dan Bibik. Hehe

"Hawa kenapa By?? Tadi lari-lari langsung kekamar." tanya Mama sembari terus memakan rujaknya.

"Nggak tahu Mah. Dia nggak bilang apa-apa." jawab Hasby. "oiya mah, bik, ni ada bakso dua bungkus, dimakan saja. Aku mau kekamar." Hasby meletakkan bungkusan itu diatas meja didekat rujak. Beranjak menaiki tangga menuju lantai atas. Badannya sudah lengket dan gerah. Ingin segera mengguyur badannya dengan air dingin yang menyegarkan. Sesampai didalam kamarnya ia bergegas melepas seragamnya dan masuk kekamar mandi, melaksanakan keinginan untuk mandi.

Air dingin mengguyur badan Hasby, merasakan air dingin seperti menusuk badannya, ia mengguyur badannya dengan lebih banyak air lagi. Hasby menyelesaikan mandinya cepat. Dia membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya dia saat kepala Hawa melongok dari pintu kamarnya.pasalnya Hasby hanya memakai handuk dipinggang, sedangkan dadanya terekspos jelas. Hawa masih memakai seragam sekolahnya. Terkejut sekaligus malu melihat suaminya itu. Segera ia memalingkan wajahnya.

Hasby kembali masuk kedalam kamar mandi, kepalanya keluar untuk melihat Hawa.

"Ada apa? Kenapa begitu?" tanyanya datar.

"maaf kak, sekali lagi maaf. Tapi aku mau minta tolong. Perutku sakit kak." cicitnya pelan, menahan isak tangis karena perutnya sakit.

"Tunggu dikamarmu, aku ganti baju dulu" ucapnya sedikit lebih lembut. Hawa segera menghilang dan menutup pintu pelan. Hasby bergegas memakai kaos hitam dan celana kargo senada. Terlihat biasa tapi pesonanya masya allah sekali.

Ia mengetuk pintu Hawa, terdengar suara samar dari dalam kamar menyuruhnya masuk. Hasby membuka pintu perlahan. melangkahkan kaki lebih dalam masuk kekamar. Mendekati seorang gadis yang meringkuk diatas ranjang. Memegangi perutnya, terdengar suara rintihan pelan.

"Wa,, sakit karena apa?" tanyanya tenang. Tangannya terulur ingin memegang pundak Hawa tapi ia urungkan lagi.

"kak, perutku sakit, sepertinya gara-gara kebanyakan sambal" jawabnya pelan menahan sakit. Hasby menghela napas dengan tidak sabar. "masih kuat jalan tidak? Kita pergi periksa saja." jelas Hasby, walaupun wajahnya datar tapi terlihat jelas kekhawatirannya.

"Sakit kak, lemes rasanya..." gumam Hawa pelan. Hasby merundukkan badannya dan tangan Hasby menyusup kebawah leher dan lutut. Menggendong Hawa yang terasa panas ala bridal style. Hawa terkejut tapi tak lama karena merasakan sakit yang tak kunjung hilang. Hasby menuruni tangga dengan hati-hati. Mama dan Bibik langsung berlari menghampiri mereka.

"Ada apa By?" tanya Mama panik. Bibik juga ikutan panik.

"Hawa sakit perut Mah, ini mau periksa dulu." jawabnya bergegas cepat. " Bik tolong bilang Kang Udin siapin mobil saya, sekarang!" tegasnya. Bibik langsung menghubungi kang Udin dan memberi tahukan perintah tuan mudanya itu. "Mama ikut ya nak." mama melesat kekamar mengambil tas dan gawainya. Sambil menghubungi Papa. Karena sebentar lagi waktu pulang kantor. Mobil telah siap. Mama duduk di bangku belakang bersama Hawa. Hasby, tentu saja menyetir. Mobil melaju dengan cepat. Hawa meringis menahan sakitnya. Keringat dingin keluar membasahi keningnya. Sesekali ia memejamkan mata. Hasby selali memantau dari spion tengahnya. Tak lama mobil berbelok memasuki kawasan Rumah Sakit yang besar. Mobil berhenti dan Hasby turun dengan cepat. Menggendong Hawa dengan cekatan. Mama mengikutinya dari belakang. Hasby menghampiri resepsionis. Petugas yang bertugas langsung menghampirinya.

"Selamat sore tuan Hasby, ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas laki-laki dengan ramah.

"tolong obati ...." Hasby menggantung ucapannya. Bingung, mau bilang apa. "adik saya." putusnya. Hawa menganggukkan kepala pelan. Tanda mengiyakan. Hawa dibaringkan diatas bed rumah sakit.

Mama hanya diam saja. Tapi wajahnya masih terlihat panik.

"tolong anak saya, katanya tadi sakit perut." jelas Mama.

"baik. Biar dokter memeriksanya terlebih dahulu."

"Harus dokter perempuan!" titah Hasby dengan tegas, melihat petugas laki-laki tersebut.

"iya tuan, ada dokter Sita yang akan memeriksa adik anda." jelasnya memandang Hasby. Dia tahu Hasby adalah salah satu pemegang saham ter besar di rumah sakit ini. Dia mendorong Hasby mengangguk dan mengikuti dari belakang.

Ketika sampai ruangan periksa Dokter Sita, mereka masuk , Dokter Sita heran, karena yang datang adalah pemegang saham terbesar disini. Dengan sigap dan cekatannya Dokter Sita memeriksa Hawa. Lalu memberinya resep obat. tak perlu waktu lama. Hawa terlihat membaik.

"kak, aku mau pulang aja." ucapnya pelan, membenarkan kerudungnya yang agak berantakan. Mama dan Hasby saling pandang lalu menganggukkan kepala.

" Ok. Tapi janji nggak usah makan terlalu pedas lagi!" sahutnya tenang dan datar.

Mereka semua berjalan keluar ruang periksa. Melewati banyak ruangan, tanpa diduga dan tak disangka-sangka. Mereka berpapasan dengan Tian.

Deg...

Mereka sama-sama terpaku membeku ditempatnya. Wajah Hawa tambah pucat saja. Memalingkan wajahnya cepat takut karena ketahuan. Seperti pencuri yang ketangkap saja. Jemarinya mendadak dingin membeku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!