[ Gendre: Fantasy, Petualang, Sci Fi, Petualang, Romance, Slide Life, Mafia, Militery, Fanfic dan Isekai.]
[ #Arc 1: Crazy Deluxe Hotel Dungeon.
Bab 01 - Bab 33.
# Arc 2: Dungeon Master jadi petualang.
Bab 34 - Bab 53.
**
Dungeon adalah penjara bawah tanah yang sangat gelap dan menakutkan juga berbagai monster – monster kuat yang didalamnya.
Tapi, tidak dengan Bagas Wijaya, dia pada awalnya hanyalah seorang pekerja kantoran biasa namun, dia mengalami kecelakan dan jiwa dipanggil oleh seorang Dewi Keharmonisan, Arathena.
Pada saat Bagas bertemu dengan Arathena dirinya di tawarkan untuk bekerja di dunia lain dan Bagas memilih untuk perkerjaan yang santai dan tenang yaitu Dungeon Master.
Tidak hanya itu, Bagas pun mendapatkan bonus poin yang berlimpah hingga dia menciptakan Dungeonnya menjadi sebuah tempat yang nyaman dan mewah dengan berbagai fasilitas didalamnya.
Akan tetapi, permasalahan dan peperangan terus terjadi di dunia tempat yang dihuninya tersebut.
Bagaimanakah cara Bagas untuk mempertahankan hidup mewah dan santainya?
Selamat membaca, guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Kisah Odin dan Freya.
Arathena sempat menghentikan ceritanya dan Bagas yang melihat itu maka dia pun meminta Lucy untuk mengambil teh terenak dengan beberapa kue terbaiknya.
Lucy pun menuruti perintah itu dan tidak lama kemudian, dia membawa teh dan beberapa kue terbaiknya itu.
“Bagaimana rasanya, Dewi?” Tanya Bagas saat melihat Arathena yang sedang meminum dan memakan beberapa kuenya.
“Hmm … enak sekali ini! Kamu memang mempunyai selera yang bagus,” ucap pujian Arathena.
“Terima kasih, Dewi,” ucap Bagas.
“Baiklah, aku akan melanjutkan ceritaku,” ucap Arathena.
“Silahkan, Dewi!” ucap Bagas.
Arathena pun melanjutkan ceritanya tentang pertarungan Odin dan Chaosa di Trial Tower dan dunia pun bisa dipulihkan oleh para Dewa dan Dewi.
“Odinnnnn!” teriak Chaosa yang memegang pedang besar melesatkan serangan kepada Odin.
Tang!
Serangan itu pun bisa ditangkis oleh Odin.
“Chaosa, aku tidak akan membiarkan Sembilan dunia ada di tanganmu!” teriak Odin.
“Diammmm!” balas teriak Chaosa.
Tang! Tang! Tang!
Suara adu pedang dari Chaosa dan Odin.
Tidak lama kemudian, Chaosa mundur beberapa langkah dan merapalkan sihirnya.
“Tebasan Naga Api Hitam!” rapal Chaosa yang mengayunkan pedangnya.
Dan karena rapalan itu ayunan pedang dari Chaosa berubah menjadi naga api hitam yang melesat menyerang kearah Odin.
Odin pun tidak membiarkan serangan itu maka dia pun menangkis serangan itu dengan perisainya disertai rapalan.
“Pertahanan tak tertembus!” rapal Odin yang mengunakan perisainya.
Bang!
Ledakan besar api hitam di perisai Odin.
“Hiyyaaaa!” teriak Odin yang memperkuat pertahanan perisainya.
Odin yang sedang menahan sekuat tenaga serangan Chaosa, dia memaksakan diri untuk memutarkan pedang lalu menancapkannya ke tanah.
“Salib Terbesar!” rapal Odin.
Rapal yang keluarkan Odin memunculkan sebuah salib besar di bawah kakinya hingga kepada Chaosa.
“AAAAAAA!!” teriak Chaosa.
Setelah Chaosa menenerima serangan itu, dia melompat mundur lalu, melancarkan mantra selanjutnya.
“Inferno!” rapal Chaosa yang meluruskan tangannya keatas serta memunculkan bola api magma yang sangat besar dan selanjutnya dilemparkan kepada Odin.
Odin pun tidak tinggal diam, dia melompat lalu memutarkan pedangnya menebas bola besar itu. Namun, Chaosa meluruskan tangannya kedepan saat Odin berada di dekat Chaosa yang terbang.
“Apa?!” kaget Odin saat melihat kuda-kuda Chaosa.
“Matilah!” ucap Chaosa yang tersenyum lebar.
“Api Neraka Abadi!” sambung rapal Chaosa.
Serangan itu pun mengenai Odin dan membuat dirinya terjatuh.
“AAAAAAAAA!!!!!” teriak Odin yang terbakar oleh api hitam.
Chaosa yang terbang di atas Odin tersenyum lebar dan dia pun terbang kencang dengan mengayunkan pedangnya.
“Hiyaaaaatttttt!” teriak Chaosa.
Odin yang terkapar ditanah, dia sudah pasrah dan siap menerima kekalahannya.
“Tidak akan aku biarkan!” teriak wanita diatas langit Dungeon.
“Rantai keabadian!” sambung suara wanita.
Rantai cahaya putih pun mengelilit Chaosa.
“Apa ini?!” teriak Chaosa dan dirinya terkejut saat melihat seorang wanita cantik dengan mengunakan sayap terbang diatasnya, “Freya!” ucap Chaosa.
Odin pun yang penasaran dengan serangan itu, dia pun melihat keatas.
“Freya, terima kasih!” ucap Odin.
Freya tidak menjawab apapun dan dia hanya menganggukan kepalanya. Setelah itu Freya menatap tajam Chaosa.
“Penjara Kristal keabadian!” rapal Freya.
Serangan itu memunculkan Kristal es yang menjalar kearah Chaosa dan membuat dirinya berlahan menjadi Kristal dari kaki hingga kepalanya membeku tapi sebelum Kristal itu sampai pada mulutnya dia berkata;
“Freya, semua yang aku lakukan ini hanya untukmu,” ucap pelan Chaosa dan tidak lama mulutnya pun menjadi Kristal.
Peperangan pun usai dan Odin hidup bahagia bersama Freya di Asgard lalu, melahirkan dua putra, Thor dan Loki.
“Begitulah kisahnya,” ucap Arathena yang mengakhiri ceritanya dengan meminum teh.
“Aku mengerti. Selama ini aku tidak pernah tahu cerita Odin dan Freya,” ucap Bagas yang menganggukan kepalanya.
Arathena tersenyum dan menaruh kembali cangkir teh di pisin nya.
“Kamu tahu kenapa aku menceritakan ini semua?” Tanya Arathena.
“Aku tidak tahu,” jawab Bagas.
“Aku ingin kamu pergi ke dunia Midgard!” seru Arathena.
“Eh … memang sebenarnya saat ini aku berada dimana?” Tanya Bagas.
“Seperti yang kamu ketahui Bagas, aku telah mengirim mu ke dunia Helheim, dunia dimana teknologi maju dibuat,” jawab Arathena.
“EHHH!! Serius!” ucap Bagas.
“Iya, benaran,” jawab Arathena.
“Dengan misi apa?” Tanya Bagas.
“Sebelum aku membicarakan misi, ada beberapa resiko yang akan kamu hadapi,” ucap Arathena.
“Apa saja?” Tanya Bagas.
“Pertama, setelah aku mengirimkan ke Midgard ada kemungkinan kamu tidak bisa kembali ke dungeon dan menjadi manusia biasa tentu aku akan mengaruniaimu,” ucap Arathena.
“Eh?!” kaget Bagas yang mengelus-ngelus dahinya.
“Kedua, kamu tidak lagi menjadi ras abadi melainkan manusia yang akan mati suatu saat nanti dan yang terakhir, misi ini sangatlah berat kapanpun kamu akan mati,” ucap Arathena.
“Aku mengerti semua tapi, berikan aku waktu untuk mengatasi resiko-resiko itu dan seperti yang Dewi ketahui bahwa aku tidak akan bisa meninggalkan dungeon dan unit-unitku,” ucap Bagas.
“Begitukah! Baiklah, aku menunggu sebulan, selama aku liburan di dungeon ini,” ucap Arathena.
“Baik, Dewi. Salam sebulan aku akan mencari solusi untuk menjalankan misi ini,” jawab Bagas.
Arathena menjawab dengan senyuman lebar kepada Bagas lalu menghabiskan teh nya.
“Oke, sekarang aku ingin menjalankan liburanku,” ucap Dewi Arathena.
“Silahkan, Dewi! Anggap saja rumah sendiri dan kami telah memberikan fasilitas baru yaitu KTV(tempat Karaoke), pijat refleksi, golf, tennis dan lapangan indoor serba guna,” ucap Bagas yang memperkenalkan fasilitasnya.
“Benarkah! Aku jadi ingin mencobanya,” ucap Arathena.
Setelah itu, Arathena meninggalkan lantai 40 bersama dua Lucy yang mengikutinya. Sedangkan, Bagas terdiam duduk serta memikirkan cara untuk keluar dari dungeon tanpa harus mengambil resiko dari Dewi Arathena.
“Alice, panggil semua unit Master di ruang pertemuan penthouse!” seru batin Bagas.
“Baik, Master!” jawab batin Alice.
Bagas pun berdiri dan pergi menuju ruang pertemuan di penthouse.
Diruang pertemuan, Bagas dan para Unit Masternya pun berkumpul.
“Ada apa, Master? Sampai mempertemukan kita disini,” ucap Reiz.
Semua unit Master pun menganggukan kepalanya karena rasa penasaran mereka.
“Baiklah, aku akan memberitahu kalian,” ucap Bagas yang memulai ceritanya.
Bagas pun memulai ceritanya tentang dirinya yang diberikan misi oleh Dewi Arathena untuk pergi Midgard dengan resiko yang berat.
“Apa-apaan itu?!” kesal Reiz.
“Benar, resiko yang tidak masuk akal,” ucap Ailin.
“Midgard?!” kaget Lily.
“Lebih baik tolak saja, master!” ucap Colt.
“Iya, bukankah master menginginkan hidup yang santai dan damai!” ucap Helena.
“Huufuu … maka dari itu, aku mengumpulkan kalian untuk mencari solusi untuk permasalahan ini,” ucap Bagas yang mengarukan kepalanya.
Lily yang mendengar kata Midgard membuatnya menundukan kepala dan bermuka muram. Tidak lama kemudian, Lily menegakan kepalanya dan membulatkan tekadnya.
“Master, izinkan saya pergi kesana!” seru Lily sampai berdiri dan memegang dadanya.
“Lily, apa alasanmu?” Tanya Bagas.
“Eh … itu …,” ucap ragu Lily yang terduduk kembali dan menatap Bagas, “Karena Syelle Dungeon berada disana,” ucap Lily.
“Ehh … benar-benar. Merepotkan!” seru Bagas dengan menghela nafas panjang.
jawab nya 👎
malah jadi ngawur thor ceritanya