NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 persiapan besar

Hari Minggu datang dengan suasana yang jauh lebih Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu terakhir, Wulan bisa bangun tanpa memikirkan pesanan bunga yang harus dirangkai sejak pagi.

Sinar matahari sudah masuk dari sela-sela gorden kamar ketika ponselnya bergetar tanpa henti di atas nakas.

...Sawi busyuk...

Lannnn

Bangunnn

jangan tidur mulu

maen yokk

Wulan mengusap wajahnya pelan sebelum membalas dengan mata yang masih setengah terpejam.

...Sawi busyuk...

^^^ masih pagi girrr^^^

LIAT JAM SETANNN

udah jam sepuluh orang-orang loh udah pada makan siang

Wulan langsung duduk."Hah?!"

Ia buru-buru melihat jam di samping tempat tidur.

09.58.

"Astaga..."

Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi Panggilan video dari Siwi.

"Apaan wii? " gumam Wulan sambil mengangkat panggilan itu.

Baru beberapa detik tersambung, wajah Siwi langsung memenuhi layar.

"SELAMAT PAGI, PUTRI TIDUR!"

Wulan meringis.

" Kurang, cantiknya mana"

" dih ngelunjak Cepetan mandi."

"Malas."

"Nggak ada kata malas."

"Lima menit lagi."

"Kalau lima menit lagi, gue tinggal."

"Ih... jangan."

"Nah."

Wulan akhirnya mengalah.

"Iya deh. Tunggu dua puluh menit."

"Oke."

"Kalau lebih..."

"Iya, iya."

Siwi langsung menutup panggilan sambil terkekeh.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Wulan akhirnya keluar dari rumah dengan hoodie krem favoritnya dan celana jeans panjang.

Dari kejauhan, Siwi sudah berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan.

"LAMA!"

"ya sorry "

"Ngaret."

"Dikit doang gapapa lah"

"Tiga puluh menit itu dikit?"

Wulan hanya tertawa kecil. "Yaudah ayo."

"Kita makan dulu."

"Mau apa?"

"Bakso."

"Lagi?"

"Lah emang kenapa?"

"Kemarin juga bakso."

"Kan enak."

"Aneh."

"Kata siapa?"

"Kata gue."

Mereka berdua akhirnya berjalan berdampingan menuju warung bakso langganan yang tidak jauh dari rumah.

Suasana masih cukup ramai meski sudah mendekati siang Setelah memesan, mereka memilih duduk di dekat jendela.

Obrolan mereka dimulai dari hal-hal sepele, Tentang pekerjaan, Tentang pelanggan yang lucu.

Tentang video-video konyol yang sempat viral.

Sampai akhirnya Siwi menyandarkan dagunya di atas meja."Lan."

"Hm?"

"Ngaku."

Wulan langsung menghela napas.

"Lagi?"

"Iya."

"Mau ngaku apa?"

"Babang Saka."

Wulan hampir tersedak es tehnya.

"Hah?!"

"Tuh kan."

"Apa sih?"

"Dari kemarin gue nahan."

"Nahan apa?"

"Nahan nggak ngebahas dia."

Wulan langsung memalingkan wajah. "Nggak ada yang perlu dibahas."

"Oh ya?"

"Iya."

Siwi tersenyum tipis.

"Oke Oke."

Beberapa detik berlalu Sampai akhirnya "Dia orangnya emang pendiem ya?"

Siwi langsung tersenyum lebar.

"Tuh kan terus-terus!!."

Wulan mengaduk pelan kuah baksonya. "Pendiem."

"Terus?"

"Ya... gitu."

"Gitu gimana?"

Wulan terdiam beberapa saat.

"Dia tuh... aneh."

Siwi menaikkan sebelah alisnya.

"Aneh?"

"Iya, Padahal dia jarang ngomong, tapi entah kenapa..."

Wulan menghela napas pelan.

"Dia selalu muncul pas aku lagi butuh."

Siwi mulai memperhatikan wajah sahabatnya lebih serius.

"Waktu di rumahnya kemarin, Dia bukain pintu mobil, Nawarin minum, awain kardus,Terus beberapa kali nanyain aku capek apa nggak Padahal..."

Wulan tersenyum kecil.

"Aku ngerasa itu hal sederhana, Tapi kok malah keinget terus ya..."

Siwi tidak langsung menjawab, Ia hanya tersenyum tipis. "terus keluarganya juga baik banget, papanya suka bercanda, Mamanya juga ramah, Nara sama Rafi juga enak diajak ngobrol, Pokoknya..."

Wulan kembali mengaduk kuah baksonya."Nyaman."

Siwi yang sejak tadi menahan senyum akhirnya tidak kuat lagi.

"Lan."

"Hm?"

"Lu udah setengah jalan."

"Maksudnya?"

"Orang yang mulai jatuh cinta," Siwi menunjuk pelan kepala Wulan. "Awalnya selalu bilang nyaman."

Wulan langsung membelalak.

"Hah?! Nggaa! "

"Iya."

"Ngga!"

"Iya."

"Gue cuma nyaman."

"Nah, itu."

Wulan langsung memukul pelan lengan Siwi."Ih!"

Siwi tertawa sampai memegangi perutnya."Ya ampun, ekspresi lu lucu banget."

Wulan hanya bisa mengembuskan napas panjang."Jangan ngasal deh."

"Gue serius."

"Nggak."

"Gini deh." Siwi mencondongkan badannya."Kalau besok Kak Saka tiba-tiba pindah ke luar negeri,"

Belum selesai.

"JANGAN!"

Jawaban Wulan keluar begitu cepat, Mereka berdua sama-sama terdiam.

Siwi perlahan tersenyum penuh arti. "Nah..."

Wulan baru sadar apa yang baru saja ia ucapkan, Wajahnya langsung memerah. " ngga bukan gitu maksud gie"

Siwi tertawa kecil sambil menggeleng."Gue nggak bilang apa-apa lagi, Tapi jawaban lu tadi"

"Cukup." Wulan menutup wajahnya sendiri. "Ya ampun..."

Ia sendiri tidak mengerti kenapa jawabannya bisa secepat itu, Dan untuk pertama kalinya, Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Benarkah semua ini,Hanya rasa nyaman?.

---

Keesokan paginya, suasana Ibusya Flower Studio kembali dipenuhi kesibukan.

Bel pintu berbunyi silih berganti sejak toko baru dibuka. Beberapa pelanggan datang untuk mengambil pesanan, sementara yang lain sibuk memilih rangkaian bunga yang dipajang di area display.

Di balik meja kerja, Wulan sedang merangkai buket berisi mawar putih dan baby's breath. Tangannya bergerak lincah membentuk rangkaian bunga, sesekali merapikan pita agar terlihat lebih rapi.

"Lan, buket yang itu nanti selesaiin dulu ya. Kurirnya bentar lagi datang," ujar Sarah dari ruang kerjanya.

"Siap, Kak."

Tak lama kemudian, Sarah keluar sambil membawa tablet di tangannya."Wulan."

"Iya, Kak?"

"Ke sini bentar."

Wulan segera meletakkan gunting bunga yang sedang dipegangnya lalu menghampiri Sarah.

Di layar tablet tampak denah ballroom beserta beberapa foto venue yang dikirim oleh Nara semalam. "Nah, ini venue pernikahan Nara sama Rafi."

Wulan memperhatikan satu per satu foto yang ditampilkan.

Ballroom-nya terlihat luas dengan langit-langit yang tinggi, Di bagian depan juga terdapat taman kecil yang bisa dimanfaatkan sebagai area penyambutan tamu.

"Wah... tempatnya bagus ya, Kak."

Sarah mengangguk. "Iya. Makanya besok kita survei langsung ke sana."

"Besok?"

"Iya. Biar kita bisa lihat kondisi aslinya. Kadang foto sama keadaan di lapangan beda."

Wulan mengangguk pelan. "Jam berapa kita berangkat, Kak?"

"Jam sembilan pagi." Sarah kembali menggeser beberapa foto di tabletnya.

"Nanti kita lihat posisi pelaminan, area penerima tamu, photobooth, sama jalur masuk tamunya. Sekalian kita foto beberapa sudut venue buat bahan revisi konsep dekorasi."

"Okey, Kak."

"Kalau ada ide baru pas di lokasi, langsung kita diskusi aja."

"Siap."

Sarah lalu membuka pesan terbaru dari Nara. "Yang datang besok dari pihak sana ada Nara, Rafi..."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"...sama Saka."

Mendengar nama itu, Wulan refleks mengangkat kepala. "Oke," jawab Wulan singkat.

Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Di dalam hati, pikirannya justru mulai berisik. Ucapan Siwi tadi pagi kembali terngiang-ngiang. Jangan-jangan... apa yang dikatakan sahabatnya memang benar?

Sarah yang masih fokus membaca pesan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Wulan. "Jadi besok kita ketemu langsung di venue. Kamu berangkat bareng aku aja seperti biasa."

"Iya, Kak."

"Nanti jangan lupa bawa kamera toko ya. Kita butuh dokumentasi buat bahan diskusi setelah survei."

"Siap." Setelah semua selesai dibahas, Wulan kembali ke meja kerjanya.

Ia melanjutkan buket yang sempat tertunda, Satu per satu tangkai bunga kembali disusunnya dengan hati-hati.

Namun, pikirannya sesekali kembali pada satu nama yang baru saja disebut Sarah.

Saka.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

"Wulan." Suara Sarah membuatnya langsung tersadar.

"Hah?"

"Buketnya udah selesai?"

Wulan buru-buru melihat rangkaian bunga di hadapannya.

"Oh... hampir, Kak."

Sarah terkekeh pelan."Pelan-pelan aja. Yang penting hasilnya tetap rapi."

Wulan mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya, Kak."

Menjelang sore, seluruh pesanan hari itu akhirnya selesai dikirim, Suasana toko pun mulai sedikit lengang.

Sebelum pulang, Wulan membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa disana sudah tertulis jadwal untuk esok hari.

Survei Venue Pernikahan Nara & Rafi 09.00 WIB

Wulan menatap tulisan itu beberapa saat.

Entah kenapa Biasanya ia selalu menantikan hari libur, Namun kali ini berbeda.

Untuk pertama kalinya, ia berharap pagi datang lebih cepat. Bukan karena pekerjaan yang menunggu, melainkan karena seseorang yang diam-diam ingin ia temui lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!