Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Insident Tak terduga
Setelah kepergian Reyhan dan Avina, mereka mulai melanjutkan obrolan mereka. Bahkan Evan membawa beberapa wanita untuk menemaninya, sedangkan Ethan dan Nares sibuk bermesraan.
Aruna sendiri sibuk meneguk minumannya, dia ingin melupakan penatnya. Gavin yang dari tadi duduk di sebelah Aruna, hanya memperhatikan Aruna dan sesekali mengajaknya mengobrol.
Satu hal yang Gavin tau, Aruna ingin melepaskan penat karena desakan orang tuanya yang menyuruhnya menikah. Gavin juga mengetahui bahwa perbedaan umur mereka adalah enam tahun dengan Runa yang kini berusia dua puluh lima tahun dan Gavin sembilan belas tahun.
Gavin sempat tak percaya dengan ucapan Runa yang bilang usinya dua puluh lima tahun, karena dari segi muka maupun fisik, dia seperti mahasiswa. Berbeda dengan Nares yang memang terlihat dewasa, karena nares sendiri memang lebih tuh dari aruna.
" jadi umur lo berapa?" tanya aruna yang sudah mulai mabuk
" sembilan belas tahun"
" lo seumuran adek gw, ko lo gak ikut pulang?" tanya aruna
" gpp, keluarga gw bebas gak ada aturan" jawab gavin.
Oh shitt bibirnya sexy banget
Aruna melihat jam nya, waktu sudah menunjukan pukul dua pagi, dia melihat nares yang sudah terlelap di dekapan ethan.
" res, pulang gak?" tanya aruna
" hmm" hanya dehemen dari nares.
" ya udah pulang hayu" ajak ethan
" van, lo gimana?" tanya ethan
" duluan" ucap evan yang masih sibuk bercumbu dengan teman tidurnya
" lo berdua ke apartemen kan?" tanya ethan dan aruna hanya menganggukan kepala.
" gw anter than, kayanya lo gak akan bisa ngurusin dua orang sekaligus" ucap gavin
" thank you, tolong bantu aruna kalau gitu "
Dengan senang hati
Ethan menggendong nares ala bridal dengan hati hati, begitupun dengan Gavin.
Walaupun usianya yang baru sembilan belas tahun, Ia memiliki struktur wajah berbentuk heart-shaped menuju oval dengan garis rahang yang sangat tegas, tajam, dan terpahat kuat. Bentuk matanya cenderung phoenix eyes, ujung luar mata sedikit terangkat ke atas dengan tatapan yang intens dan tajam. Ini memberikan kesan dominan dan sedikit misterius. Alisnya tebal, gelap, dan memiliki sudut menanjak, memperkuat ekspresi maskulin dan pemberontak.Bibirnya tipis dengan sudut yang sering kali melengkung ke atas secara alami. Membuat senyum miring asimetris yang memancarkan kesan tengil dan percaya diri.
Rambut aslinya tebal dan berwarna hitam legam.
Gavin memiliki tipe tubuh lean Ramping atletis dan berotot pas. Badannya tidak terlalu kekar besar, melainkan proporsional dengan otot otot di tubuhnya. Bahunya lebar berbentuk huruf "V", menciptakan postur tegap yang membuatnya terlihat sangat gagah saat mengenakan pakaian apa pun.Memiliki kaki yang sangat panjang dan jenjang karena memiliki tinggi badan 187 cm.
Dengan tinggi dan tubuhnya yang ramping, serta paras yang memukau, membuatnya selalu tampak mencolok dan mendominasi dimanapun dan kapanpun.
****
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mereka telah sampai disebuah apartemen mewah dipusat kota.
" Vin, kunci aksesnya coba liat di tas nya" ucap ethan yang menyuruh gavin mencari kunci akses apartemen aruna. Sedangkan aruna sendiri masih dalam pelukan gavin, tertidur pulas.
Setelah menemukan kunci akses, gavin segera membuka kamar tersebut, dan langsung menutupnya. Gavin cukup yakin bahwa kamar yang Ia masuki adalah kamar utama. Gavin membaringkan aruna di kasur dan menyelimuti Aruna.
Gavin menunduk sedikit lebih dekat, mengamati aruna dengan seksama. Jari jari gavin menyapu pipi aruna. Gavin semakin menunduk dan mencium bibir aruna tak lama ia melepaskannya.
" manis" mendadak aruna menggeliat kecil, matanya belum terbuka tapi bibirnya bergerak pelan. Gavin menempelkan kembali bibirnya, dan dia semakin tidak tahan untuk mencicipi lebih dari kecupan.
Gavin mulai melumatnya, ciuman yang begitu lembut dan entah sejak kapan, aruna mulai membalas ciuman itu. Entah sadar atau karena pengaruh alkohol aruna memberikan akses kepada gavin, mereka mulai melucuti pakaianya masing masing, yang tersisa hanya suara suara erotis yang terdengar di dalam kamar apartemen ini.
***
Aruna membeku dengan satu sepatu hak tinggi yang baru setengah terpasang di kaki kanannya. Suara berat khas orang bangun tidur itu terdengar begitu dekat, merayap di tengkuknya seperti sengatan listrik.
“Mau kabur ke mana, ka Aruna?”
Aruna menelan ludah dengan susah payah. Ia memutar tubuhnya lambat-lambat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri sebagai wanita karier papan atas yang semalam runtuh total.
Di atas ranjang, pria itu Gavin sedang bersandar pada tumpukan bantal. Selimut abu-abu melorot hingga sebatas pinggang, memamerkan dada bidangnya yang terekspos bebas. Senyum miring tersungging di bibirnya, tampak sangat menyebalkan sekaligus mengintimidasi.
" Kamu tahu saya..?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya, suara Aruna bergetar, sedikit serak karena alkohol semalam.
Gavin terkekeh pelan. Ia mengacak rambutnya yang berantakan, malah membuatnya terlihat seperti model majalah remaja.
"Siapa yang nggak tahu ka Aruna? lagian kita semalam bukanya sudah berkenalan di club? Lagian ethan, evan bahkan reyhan sering pamer punya sepupu manajer medusa yang cantiknya mirip dewi. Tapi, saya nggak nyangka kalau selera humor mereka seakurat itu." ucap gavin
Darah Aruna mendadak berdesir hebat. Kepalanya yang pening kini berputar dua kali lebih cepat. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Tiba tiba semua berputar seperti sebuah film dari awal kedatangnya ke club, hingga berkenalan dengan pria ini. Ingin rasanya dia menguburkan diri pada dunia atau tenggelam di kolan kuda nil saat mengingat umur gavin
" sembilan belas tahun?! Kamu temen sekokahnya reyhan?!"
"Sahabat karibnya, lebih tepatnya," koreksi gavin santai. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki yang masih belum beralas sepatu dengan sempurna.
" aku bahkan sering bermain bersama dengan evan, rey dan avina tentu saja. Tapi Kak Aruna selalu terlalu sibuk kerja untuk sekadar nengok ke arah kami"
Dunia Aruna rasanya runtuh saat itu juga. Ia baru saja meniduri sahabat dari sepupunya sendiri. Skenario terburuk macam apa ini?
"Oke, denger ya..." Aruna menegakkan punggungnya, mencoba memasang wajah bos yang biasa ia gunakan untuk mengomeli anak magang di kantor.
"Malam.. semalam... itu adalah kesalahan. Kita berdua mabuk. Saya stres, kamu mungkin juga sedang... tidak sadar. Jadi, mari kita sepakat untuk melupakan ini. Kamu nggak tahu saya, saya nggak tahu kamu. Anggap ini nggak pernah terjadi."
Gavin menaikkan sebelah alisnya. Ia turun dari ranjang tanpa canggung, berjalan mendekati Aruna hanya dengan celana jin hitam yang kusut. Jarak mereka mengikis, membuat Aruna terpaksa mendongak. Di bawah cahaya pagi, Aruna baru menyadari satu fakta fatal lainnya, kulit pria ini terlalu mulus, dan tatapannya terlalu polos untuk ukuran pria dewasa.
"Melupakan?" gavin mengulang kata itu dengan nada geli.
"Kak, saya belum se pikun itu untuk melupakan malam luar biasa semalam. Saat kaka memanggil saya dengan merdu terlebih desahan kaka yang begitu sexy"
"Jangan panggil saya 'Kak' dengan nada seperti itu!" potong Aruna ketus, wajahnya memanas karena malu.
Gavin tersenyum penuh arti, sengaja mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat ke telinga Aruna.
"Kenapa, Kak? Merasa berdosa ya, udah khilaf sama berondong?"
Wajah Aruna seketika merah padam sampai ke telinga. Perdebatan ini benar-benar tidak sehat untuk kesehatan jantungnya. Aruna rasanya ingin tenggelam ke dalam lantai apartemen saat itu juga.
Sembilan belas tahun? Mahasiswa tingkat awal seperti adiknya? Otak Aruna yang biasanya encer mendadak macet total. Umur mereka terpaut enam tahun. Di saat Aruna sudah sibuk memikirkan dana dan target investasi, pria di hadapannya ini mungkin masih sibuk mencari fotokopi untuk masa orientasi mahasiswa. Disaat Aruna sudah bisa jajan di Kantin sekolah, Pria ini baru ooeekk.. Oeekk dari perut ibunya!
"sembilan belas tahun.." Aruna membeo, suaranya naik satu oktav. Ia melangkah mundur satu tapak, berusaha menjauh dari aroma tubuh gavin yang sialnya sangat memabukkan.
Aruna menunjuk Gavin dengan jari yang sedikit gemetar.
"Kamu seumuran sama Stella, adikku! Kamu harusnya lagi sibuk kuliah, bukan kelayapan di kelab malam sampai jam dua pagi!"
Gavin tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah maju, mengikis kembali jarak yang baru saja dibuat Aruna. Senyum miring asimetrisnya kembali terukir, memancarkan aura tengil khas anak muda yang sangat percaya diri, namun entah bagaimana terasa begitu mendominasi karena tinggi badannya yang mencapai 187 cm.
"Anak kecil?" Gavin mengulang kata itu dengan nada rendah, sengaja membuat suaranya terdengar se-maskulin mungkin. Tatapan phoenix eyes-nya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata almond milik Aruna.
"Kak Aruna, anak kecil mana yang semalam bisa bikin seorang manajer sukses Mahesa Grup nangis saking nggak kuatnya, hm?" bisik Gavin tepat di depan wajah Aruna.
Wajah Aruna yang sudah merah padam kini terasa seperti mau meledak. Ia refleks mengangkat tangannya untuk mendorong dada bidang Gavin, namun telapak tangannya justru menyentuh otot dada pria itu yang padat dan hangat. Sentuhan itu malah melempar kembali ingatan liar semalam ke dalam otaknya. Sial, ingatan itu berputar begitu jelas!
", stop!" bentak Aruna, menahan napasnya agar tidak terbuai oleh aroma maskulin Gavin yang memabukkan di pagi hari. "Saya serius. Ini salah. Kalau sampai Ethan, Evan, atau Narendra tahu tentang hal ini..." Aruna menjeda kalimatnya, membayangkan wajah mengintimidasi Narendra Mahesa selaku bosnya, serta tatapan protektif si kembar Erros. "...kita berdua bisa habis."
Gavin terkekeh pelan. Ia sama sekali tidak terlihat takut dengan ancaman tersebut. Sebagai bagian dari keluarga Sterling yang menguasai jaringan digital dan dunia bawah, kata 'takut' sudah lama dihapus dari kamusnya. Lagipula, Ethan dan Narendra adalah sahabat kakaknya, Dom.
"Mereka nggak akan tahu, Kak. Kecuali kalau Kakak sendiri yang cerita," jawab Gavin santai. Ia meraih tangan Aruna yang masih menempel di dadanya, lalu menggenggamnya dengan lembut namun erat.
"Lagian, kenapa harus panik? Aku menyukaimu sejak pertama kali kamu masuk ke ruangan itu semalam. Dan apa yang terjadi di kamar ini..." Gavin menunduk sedikit, menyamakan tingginya dengan Aruna yang hanya 160 cm, lalu mengecup sekilas ujung hidung Aruna yang mancung tegas.
"...bukan kesalahan buatku. Itu awal yang bagus."
Aruna menarik tangannya dengan sentakan kuat. Kepalanya yang pening akibat sisa alkohol kini ditambah pening akibat kelakuan berondong keras kepala di hadapannya ini. Aruna segera membenarkan letak tas kerjanya dan memakai sepatu hak tingginya yang sempat tertunda dengan terburu-buru.
"Saya mau pergi. Jangan pernah hubungi saya lagi. Anggap kita nggak pernah saling kenal!" ancam Aruna dengan tatapan mata judes dan dingin andalannya, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai wanita karier usia 25 tahun.
Sebelum Gavin sempat membalas, Aruna sudah berbalik dan melangkah cepat menuju pintu apartemen, melarikan diri dari jeratan pesona sang berondong Sterling yang baru saja menjungkirbalikkan dunianya dalam satu malam.
Di belakangnya, Gavin hanya berdiri diam sambil bersedekap dada. Ia menatap punggung mungil Aruna yang menjauh dengan senyum miring yang semakin melebar. Mata phoenix-nya berkilat penuh tekad.
"Silakan lari, Kak," gumam Gavin lirih pada ruangan yang kini sepi. "Tapi kamu lupa kalau aku ini seorang Sterling. Dan nggak ada satu pun data atau orang yang bisa sembunyi dari jaringanku."
***