NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13-Memperkenalkan Lula

Arhan bolak balik di kamarnya sudah hampir setengah jam lebih setelah selesai dari panggilan telepon dengan Lula. Hatinya begitu gelisah dan takut. Ia takut jika Lula pergi dari hidupnya dan lebih memilih cowok itu dibandingkan dirinya.

Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia harus gerak cepat dan tidak boleh lebih dulu kalah dari cowok yang katanya bernama Aska itu.

Ya, ia harus memperjuangkan cintanya. Jangan sampai Lula jatuh ke tangan pria itu. Menurutnya, cinta itu bukan tentang mengikhlaskan dan melihat dia bahagia dengan pilihannya, tapi cinta itu harus dimiliki. Karena sejatinya ia adalah seorang laki-laki yang kodratnya mengejar bukan dikejar.

Arhan duduk ditepi kasurnya. "Pokoknya lusa aku bakal nembak dia. Ya, aku harus cepat-cepat nembak dia." Angguknya dengan tekad kuat dalam benak dan pikirannya. Ia berharap rencananya akan berhasil dan Lula akan menjadi miliknya. Ia jadi tidak perlu khawatir lagi kalau tiba-tiba Aska mendekati Lula. Ia akan tenang kalau Lula sudah menjadi miliknya.

Waktu sudah mulai menunjukkan waktu fajar tetapi Arhan masih berjaga dalam pikirannya. Ia terus memikirkan Lula dan Lula tanpa ada pikiran lain lagi.

***

***

***

Lula turun dari taxi yang dipesankan oleh Arhan. Ia menatap gerbang rumah yang menjulang tinggi itu. Mulutnya menganga melihat gerbang rumah Arhan yang begitu mewah dan megah. Ia menelan ludahnya sendiri, bahkan Hana untuk memencet bel saja Lula tidak berani. Ia seperti tidak pantas menginjakkan kaki dirumah semewah ini.

Tak lama setelah taxi itu pergi, seorang satpam membuka pintu gerbang rumah Arhan dengan wajah datar. "Silahkan nona, tuan Arhan sudah menunggu didalam." Ucap satpam itu tanpa ekspresi.

Lula mengangguk cepat. Ia pun dengan penuh keberanian memasuki pekarangan rumah Arhan yang sangat luas. Satpam tersebut mengantarkan nya hingga sampai masuk kedalam rumah.

Entah kenapa memasuki rumah megah nan mewah ini membuat bulu kuduknya merinding dan dingin. Apa mungkin karena efek lantai yang dari marmer? Atau suhu AC yang ada dirumah.

"Tuan, nona Lula sudah sampai." Ucap sang satpam kepada Arhan yang sedang duduk di sofa dan fokus pada ponselnya.

Arhan mendongok, menampakkan senyuman manisnya dan bahagianya melihat Lula yang sudah datang. Cewek yang ia tunggu-tunggu kehadirannya. "Kakak udah sampai?."

Lula membalas senyuman Arhan dengan kaku. Ia melangkahkan kakinya mendekati cowok itu. "Arhan, kenapa enggak diluar aja sih? Rumah kamu kegedean tau gak, aku enggak enak masuk kesini." Bisiknya pelan pada Arhan.

Arhan menarik tangan Lula agar duduk disampingnya. "Ngapain enggak enak? Suatu saat kakak juga bakal tinggal sering datang kesini."

"Hah?" Lula bertanya memastikan. "Sering? Kok bisa?." Lanjutnya dengan wajah bingung.

Arhan menggeleng. "Enggak papa. Sengaja ajak kakak kesini biar sekalian aku kenalin ke mama. Aku mau mama kenal sama kakak." Jelasnya kemudian yang membuat Lula membeku di sofa.

"M-mama kamu? K-kenapa aku harus dikenalin?." Lula berucap dengan nada yang terbata.

Arhan tertawa melihat ekspresi Lula yang ketakutan. Ia pun merangkul cewek itu untuk menenangkannya. Sebenernya bukan lebih ke menenangkannya hati Lula sih, tapi memang Arhan ingin modus saja pada cewek itu, sengaja ingin menghilangkan bekas yang semalam ia lihat dari ponselnya, dimana Lula memeluk cowok lain selain dirinya. Demi apapun Arhan tidak rela Lula semalam memperlakukan cowok lain seperti itu.

"Santai kak, mama orangnya baik kok. Sekarang masih mandi, bentar lagi kesini." Pinta Arhan yang berusaha menenangkannya cewek itu.

Lula menatap mata Arhan dengan tajam, lalu mendengus kesal. "Tenang gimana sih? Mana bisa tenang? Kalo mama kamu enggak suka aku gimana? Kalo aku diusir dari sini gimana?? Kamu enggak kasian sama aku?." Pertanyaan Lula yang begitu panik malah justru membuat Arhan semakin tertawa lebih keras.

Bugh!

Satu pukulan meluncur mengenai perut Arhan. Lula benar-benar benci dengan sifat Arhan yang seperti ini. Seperti meremehkan ketakutannya sekarang ini. "Sekali lagi ketawa aku pukul benda pusaka kamu Arhan!" Kecamnya dengan tatapan mengancam.

Arhan langsung diam dan menghentikan tawanya. "Hiss curang, kalo aku enggak bisa punya anak gimana?."

"Bodo! Urusan kamu lah."

"Hmm... Harusnya urusan kita dong, kan punya anaknya sama kamu sayang." Ucapnya dalam hati. Ya kali mau ngucapin ini dulu, bisa-bisa dibilang stres oleh Lula. Lagipula mana berani juga jika sekarang ia memanggil Lula dengan sebutan 'sayang'.

"Mana bahan-bahan buat bikin tugasnya?" Lula menengok ke sekeliling ruangan yang begitu sangat bersih dan kinclong. Ia tidak menemukan satupun bahan-bahan yang dibutuhkan untuk tugas cowok itu. "Katanya mau buat poster."

Arhan melepaskan rangkulannya. Ia menunjukkan cengiran kuda pada Lula. Pertanda bahwa ini semua hanya prank saja.

Melihat senyuman Arhan yang begitu menjengkelkan membuat Lula tau apa arti senyuman itu. Ia mendengus semakin kesal. "Ah kamu mah! Boong ya? Arhan, aku udah rela izin kerja demi temenin kamu Bingin tugas tapi kamu malah bohong. Udahlah aku pulang." Lula yang akan berdiri dari kursi sofa itu langsung ditahan oleh Arhan.

"Jangan lah, kenalan dulu sama mama, habis ini aku beliin es cream coklat deh sama crepes, janji!."

Melihat ekspresi Arhan yang sok imut membuat Lula mau tidak mau meleleh juga dan akhirnya menurut dengan kemauan cowok itu.

Arhan kegirangan seperti anak kecil. Sembari menunggu mama nya datang, Arhan mengajak Lula untuk menonton televisi nya dan memberikan semua cemilan yang ada dimeja.

"Ayo dimakan kak, pokoknya makan yang banyak." Ajak Arhan pada Lula untuk memakan semua jajanan nya. Arhan bahkan seperti ibu-ibu rempong saat lebaran datang. Semua tutup jajanan sudah dibuka oleh Arhan.

Lula sedikit membuka mulutnya tak kala melihat Arhan dengan sikapnya yang terkesan aneh. Seperti agak gila dan stres. "Kamu sehat kan?." Tanya Lula sembari memegang kening cowok itu.

Arhan yang masih membuka tutup jajanan langsung terdiam dan mengangguk pelan. "Aku sehat kak. Sekarang kita nonton ya, mau film apa? Horor? Komedi? Romantis? Broken home? Kartun? Drakor?apa mau-"

"Nonton Dora aja, mirip kamu soalnya." Ucap Lula yang memotong semua omongan Arhan yang sangat cerewet.

"Adanya Spongebob kak." Timpal Arhan kemudian saat ia mencoba mencari siaran yang ada Dora namun hasilnya nihil.

"Ya udah enggak papa, Patrick juga mirip kamu kok." Lanjut Lula kemudian.

Bukannya marah dan kesal Arhan justru biasa saja Lula mengatainya seperti itu. Ia pun mengganti chenel yang berisikan siaran kartun Spongebob Squarepants untuk ditonton.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!