Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Siluman Rubah dan Peta yang Berubah
Suara derit pintu kayu bagian dalam gua memecah heningnya fajar. Yuki melangkah keluar dengan penampilan yang telah disesuaikan; wajah cantiknya sengaja dipucatkan dengan ramuan herbal, dan jubah sutranya sedikit diacak-acak demi menyempurnakan sandiwara yang telah ia rancang. Di matanya, skenario itu sudah berjalan sempurna di atas kertas. Ia hanya perlu melangkah ke benteng timur, menumpahkan air mata buaya, dan menyaksikan Kai yang mengamuk membakar markas Rei sampai menjadi abu.
Namun, begitu pandangannya mengarah ke sudut gua tempat jerami kering berada, senyum tipis di bibirnya mendadak membeku.
Gundokan jerami itu kosong. Tidak ada kain hitam, tidak ada pendar keemasan redup dari energi spiritual, dan yang paling utama, tidak ada Hana di sana.
"Ming Tonk?" panggil Yuki, suaranya yang mula-mula tenang perlahan meninggi dengan nada curiga yang tajam. "Ming Tonk!"
Tidak ada jawaban. Hanya gema suaranya sendiri yang memantul di dinding-dinding batu yang dingin.
Yuki melangkah cepat mendekati sudut tempat Hana sebelumnya terbaring. Ia berlutut, meletakkan jemarinya di atas tanah basah. Bekas pijakan kaki yang tergesa-gesa dan ceceran sisa-sisa bau sihir siluman milik pelayannya masih tercium pekat di udara. Tak hanya itu, bau minyak pelumas kulit yang biasa digunakan Ming Tonk menegaskan fakta pahit yang baru saja terjadi.
"Ular picik sialan!" bentak Yuki, suaranya melengking memenuhi isi gua.
Keanggunan siluman rubah yang selalu ia jaga mendadak sirnah. Matanya membelalak penuh kemurkaan, sementara kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya yang tajam menembus kulit telapak tangannya sendiri, meneteskan darah segar ke atas tanah. Energi es yang sempat ia kumpulkan bersusah payah semalaman meledak tanpa kendali, membekukan seluruh dinding gua hingga menjadi kristal-kristal es yang tajam.
Rencananya runtuh. Bidak catur paling berharga yang berhasil ia curi dari bawah hidung Kai kini dilarikan oleh pelayannya sendiri yang dibutakan oleh nafsu. Jika Hana tidak ada di tangannya, ia tidak bisa mendatangi Kai tanpa risiko dituduh sebagai dalang utama. Dan jika Kai menemukan fakta bahwa Hana diculik bukan oleh Rei melainkan oleh bangsa siluman, seluruh amarah pemuda itu akan langsung mengarah ke leher Yuki.
"Kau pikir kau bisa lari dariku, Ming Tonk?!" desis Yuki, napasnya memburu dengan hawa dingin yang menguar dari bibirnya.
Ia bangkit berdiri, mengambil topeng kitsune putihnya yang tergeletak di atas batu, lalu memasangnya kembali. Peta permainan telah berubah secara drastis. Kini, Yuki tidak hanya harus berhadapan dengan bahaya jika Kai menyadari hilangnya Hana dari benteng, tetapi ia juga harus memburu pelayannya sendiri sebelum Ming Tonk menyentuh gadis itu atau sebelum Kai menemukan jejak mereka berdua. Dengan langkah kaki yang menyebarkan hawa membeku di atas tanah, Yuki melesat keluar dari gua, menembus kabut pagi demi mengejar jejak pengkhianatannya sendiri.
✨✨✨
Langkah kaki Ming Tonk melambat saat ia berhasil menembus kerapatan Hutan Terlarang dan tiba di Lembah Tua, sebuah tempat terasing yang dikelilingi tebing-tebing batu tinggi dan ditutupi rumput liar yang lembap. Di tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan siapa pun ini, napasnya memburu kencang. Ia tak mampu lagi menahan gejolak gairah yang membakar seluruh akal sehatnya sejak semalam.
Tanpa membuang waktu, Ming Tonk meletakkan tubuh Hana yang masih terlelap di atas hamparan batu rata. Dengan jemari yang gemetar oleh nafsu liar, ia menyentak kain selimut hitam yang membungkus tubuh sang gadis suci, lalu menanggalkan sisa-sisa pakaian dalam yang menutupi tubuh Hana. Dalam sekejap, di bawah naungan langit lembah yang temaram, tubuh mulus Hana terpapar sepenuhnya tanpa sehelai benang pun yang tersisa.
Ming Tonk menelan ludah dengan berat, matanya membelalak penuh keliaran saat melangkah mendekat, hendak mencicipi kenikmatan dari wanita yang selama ini dijaga bagai pusaka di klan selatan.
Namun, hantaman udara dingin di lembah tua itu berpadu dengan terlepasnya ikatan sihir tidur pada tubuh Hana. Kelopak mata Hana tergerak pelan, dan dalam selang beberapa detik, kesadarannya ditarik paksa kembali ke dunia nyata. Saat ia membuka mata, pandangannya yang semula kabur mendadak membelalak sempurna. Rasa dingin yang langsung menyentuh seluruh permukaan kulitnya menyadarkan Hana pada kenyataan yang mengerikan: ia terbaring telanjang bulat di atas batu, sementara seorang pria asing berseringai memandangnya dari jarak yang teramat dekat.
"A-apa... tidak!" jerit Hana tersentak, refleks mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan yang gemetar hebat.
Kepanikan yang teramat sangat menjalar ke seluruh nadinya. Ketakutan, kehinaan, dan rasa terancam berkecamuk menjadi satu. Di tengah keputusasaan yang membakar jiwanya, hanya satu nama yang terlintas di dalam benak dan sanubarinya.
"KAI! KAI, TOLONG AKU!" jerit Hana melengking, suaranya menggelegar membelah keheningan Lembah Tua, memantul di antara dinding-dinding tebing batu.
Ming Tonk tertawa sinis, melangkah maju untuk menerkamnya. "Berteriaklah sesukamu, Gadis Suci! Tuan Mudamu itu tidak akan pernah menemukannya di sini!"
Namun, teriakan Hana yang sarat akan penderitaan dan ketakutan mendalam itu seolah menembus batas dimensi. Bukan langkah kaki Kai yang terdengar membalas panggilannya, melainkan gulungan awan di atas Lembah Tua yang mendadak berubah warna menjadi merah darah. Udara yang semula dingin seketika berubah menjadi sangat panas, hingga rumput-rumput liar di sekitar batu mengering dan terbakar dalam hitungan detik.
ROAAARRR!
Sebuah raungan agung yang menggetarkan bumi dan memecahkan batu-batu tebing menggema dari balik langit. Gempa kecil terjadi di Lembah Tua, membuat Ming Tonk terhuyung dan menghentikan gerakannya dengan wajah memucat pasi.
Dari balik gulungan awan membara, sesosok makhluk raksasa turun dengan kecepatan luar biasa. Sisik-sisik merah delima yang berkilauan laksana kobaran api sejati, cakar-cakar tajam yang sanggup meremukkan gunung, dan sepasang mata merah menyala yang memancarkan murka tiada tara. Naga Merah. Entitas legendaris yang beberapa hari lalu membubung meninggalkan tubuh Kai, kini hadir kembali di dunia nyata, dipanggil bukan oleh wadahnya, melainkan oleh jeritan keputusasaan wanita yang dicintai sang pemilik darah.
Naga Merah itu mendarat di Lembah Tua dengan hentakan yang meruntuhkan sebagian tebing batu, menyejajarkan kepalanya yang sebesar rumah tepat di hadapan Ming Tonk yang kini terkencing-kencing di atas tanah. Udara panas yang diembuskan dari rahang sang naga membakar pakaian siluman itu menjadi abu dalam sekejap, menyisakan tatapan kematian yang siap melahap siapa saja yang berani menyentuh sang gadis suci.