"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035: Peluncuran Perdana
Surabaya Convention Center sudah ramai sejak pagi.
Di pintu utama, banner besar bertuliskan SuryaWMS: Gudang Cerdas untuk Indonesia menyambut para tamu. Meja registrasi penuh. Kamera media berdiri di sisi kanan. Beberapa pemilik perusahaan logistik saling menyapa dengan suara pelan, mata mereka berkali-kali melihat ke panggung.
Di atas panggung, mini warehouse berdiri rapi.
Rak besi kecil.
Kotak kardus berlabel.
Barcode scanner.
Layar besar.
Router cadangan.
Semuanya sudah dicek Bayu Setiawan tiga kali.
"Scanner satu?"
"Aman."
"Scanner dua?"
"Aman."
"Router?"
"Aman."
"Laptop demo?"
Rizky Hakim mengangkat ibu jari tanpa menoleh dari layar.
"Aman. Server demo terisolasi. Honeypot aktif. Kalau ada yang iseng, kita lihat."
Dimas Saputra berdiri di belakang tirai dengan headset kecil. Wajahnya tegang, tetapi mulutnya tetap sibuk.
"Bro, kalau ini sukses, aku traktir semua orang bakso."
Bayu menatapnya.
"Kamu bilang nasi padang kemarin."
"Itu untuk lamaran masuk. Ini untuk peluncuran."
"Catat."
"Kamu menagih seperti bagian finance."
Di kursi depan, Kirana Putri Ayu duduk dengan gaun longgar warna krem muda dan selendang tipis. Perutnya yang sudah memasuki bulan kelima tampak jelas. Mega Permata memastikan bantal kecil ada di belakang punggungnya, air mineral di sisi kanan, dan jalur keluar tetap kosong.
Arya menghampiri sebelum acara dimulai.
"Nyaman?"
Kirana tersenyum.
"Nyaman. Kamu?"
"Cukup."
"Mas gugup."
"Sedikit."
Kirana menggenggam tangannya.
"Aku dan anak-anak duduk di sini. Lihat kami kalau panggung terasa terlalu besar."
Arya menatap matanya.
"Terima kasih."
Tepat pukul sepuluh, lampu aula meredup.
Dimas naik panggung.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Hari ini, PT Surya Teknologi ingin menunjukkan sesuatu yang sederhana: gudang Indonesia bisa bekerja lebih cepat, lebih rapi, dan lebih cerdas."
Tepuk tangan pembuka terdengar.
Dimas menjaga ritme acara dengan bagus. Ia bercanda secukupnya, memanggil tamu penting, lalu mengarahkan perhatian ke layar. Video pendek menampilkan gudang tradisional: catatan manual, stok hilang, pengiriman telat, pegawai mencari barang di lorong sempit.
Lalu layar berubah.
SuryaWMS muncul.
Arya naik ke panggung dengan jas biru gelap. Aula langsung lebih tenang.
Panel sistem menyala.
【Public Speaking Lv.4 aktif】
【Aura Pesona Lv.3 aktif】
【Konteks: Peluncuran produk pertama】
【Efek: Fokus audiens +30% | Kepercayaan investor dan klien +25%】
Arya berdiri di tengah panggung.
"Bapak dan Ibu, setiap hari ada ribuan gudang di Indonesia yang bergerak sebelum matahari naik. Barang masuk, barang keluar, supir menunggu, staf mencari stok, pemilik usaha menunggu laporan."
Ia menekan remote.
Foto gudang kecil di Sidoarjo muncul.
"Masalahnya sering sederhana. Barang ada, tetapi sulit dicari. Stok habis, tetapi terlambat diketahui. Laporan selesai, tetapi keputusan sudah telat."
Beberapa tamu mengangguk.
"SuryaWMS dibuat untuk masalah itu. Kami membangun sistem yang bisa dipakai gudang besar, distributor lokal, sampai usaha yang sedang naik kelas."
Ia berhenti sejenak.
"Teknologi kelas dunia harus bisa dipakai oleh pekerja gudang Indonesia, dengan bahasa yang mereka pahami, alur yang mereka jalani, dan harga yang masuk akal."
Tepuk tangan mulai terdengar lebih kuat.
Di baris depan, Kirana menatapnya tanpa berkedip.
Dimas memberi kode dari samping panggung.
Waktunya demo.
Bayu naik dengan rompi operator gudang. Ia membawa scanner dan berdiri di depan rak.
"Skenario pertama," kata Arya. "Barang masuk."
Bayu mengambil kotak berlabel Kopi Arabika 1 kg. Ia memindai barcode.
Bip.
Layar besar menampilkan data barang.
Bayu memasukkan jumlah.
Stok bertambah dalam satu detik.
"Skenario kedua. Stok kritis."
Rizky menjalankan simulasi penjualan di laptop. Angka stok turun cepat. Kotak merah menyala di layar.
PERINGATAN: Stok Kopi Arabika tersisa 12 unit.
Beberapa tamu langsung saling berbisik.
Arya melanjutkan.
"Sistem memberi tahu sebelum gudang panik."
Bayu menekan tombol mikrofon.
"Cari barang tepung premium."
Satu detik.
Barang ditemukan: Tepung Premium 25 kg. Rak B-07. Stok 84.
Aula meledak oleh suara kagum.
Seorang pemilik gudang di baris kedua berdiri setengah badan.
"Itu pakai bahasa Indonesia?"
Arya tersenyum.
"Ya, Pak. Bahasa Indonesia. Setelah rilis ini, kami akan menyiapkan dukungan bahasa daerah sesuai kebutuhan klien."
Tepuk tangan pecah lebih besar.
Dimas di belakang panggung menutup mulut agar tidak berteriak.
Rizky tetap menatap layar monitor. Matanya menangkap satu notifikasi kecil.
Honeypot touched.
Seseorang mencoba masuk ke folder umpan.
Rizky tidak panik. Ia menekan tombol rekam log tambahan.
Di panggung, demo tetap berjalan mulus.
Waktu simulasi selesai.
30 detik.
Layar menampilkan perbandingan.
Metode manual: 15 menit.
SuryaWMS: 30 detik.
Efisiensi naik: 47%.
Tepuk tangan berubah menjadi riuh.
Arya kembali ke tengah panggung.
"Kami percaya digitalisasi Indonesia dimulai dari tempat kerja nyata. Dari gudang. Dari toko. Dari pabrik. Dari orang-orang yang selama ini jarang muncul di panggung teknologi."
Ia menatap seluruh ruangan.
"Bersama membangun Indonesia digital."
Para tamu berdiri.
Kamera media menyorot panggung. Kilatan lampu muncul berulang. Kirana ikut berdiri perlahan, satu tangan memegang perut, mata berkaca-kaca.
Arya melihatnya.
Ia tahu musuh mungkin sedang menonton.
Ia juga tahu hari itu, mereka gagal membuatnya jatuh.
Setelah acara resmi selesai, meja penandatanganan langsung penuh.
Mega Permata bergerak seperti mesin yang elegan. Ia mengatur antrean calon klien, memeriksa nama perusahaan, menyerahkan dokumen, lalu memberi tanda pada Pak Budi.
Satu kontrak.
Dua.
Lima.
Delapan.
Dua belas surat minat kerja sama ditandatangani sebelum makan siang selesai.
Total estimasi nilai: lebih dari Rp 8.000.000.000.
Dimas masuk ruang belakang dan melompat kecil.
"Bro! Kita meledak!"
Bayu mengangkat tangan.
"Bakso."
"Iya, iya. Bakso satu kantor."
Rizky masuk dengan laptop.
"Ada yang menyentuh honeypot saat demo."
Senyum Arya mengecil.
"Sumber?"
"Masih dilacak. Tapi pola akses mirip semalam."
Pak Budi berdiri di sisi meja.
"Berarti mereka hadir atau memantau jaringan venue."
Arya melihat ke aula melalui celah tirai.
Di pojok kanan, tiga orang dengan badge PT Permata Digital memotret area demo. Mereka berpakaian rapi, dengan gaya analis bisnis. Salah satu dari mereka sedang berbicara lewat earphone.
"Mega."
"Ya, Pak."
"Catat nama semua tamu dari PT Permata Digital."
"Sudah, Pak. Ada empat orang terdaftar."
"Perusahaan apa itu?"
"Penyedia solusi ERP. Skala menengah-besar. CEO-nya Ratu Maharani."
Nama itu baru bagi Arya.
Panel sistem menyala.
【Milestone Selesai: Produk Pertama Berhasil Diluncurkan】
【SuryaWMS mendapat validasi pasar awal】
【Kontrak minat terdeteksi: 12】
【Estimasi nilai: Rp 8.000.000.000+】
【Hadiah: Rp 2.000.000.000】
【Reputasi Bisnis +500】
【Gelar Dibuka: Pelopor Industri】
【Peringatan: Kompetitor baru terdeteksi】
Sebelum Arya sempat membaca detail, suara sepatu hak mendekat dari belakang.
Aroma parfum mahal, dingin dan tajam, menyentuh udara.
Seorang perempuan berdiri di hadapannya.
Gaun merahnya sederhana dalam potongan, tetapi mahal dalam cara jatuhnya. Rambut hitamnya tertata rapi. Senyumnya tenang. Matanya memeriksa Arya seperti membaca laporan keuangan.
Ia mengulurkan kartu nama.
"Selamat, Pak Arya."
Arya menerimanya.
Ratu Maharani.
CEO, PT Permata Digital.
"Terima kasih," jawab Arya.
Ratu melirik panggung mini warehouse.
"Demo yang berani. Banyak perusahaan memilih aman pada peluncuran pertama."
"Pasar butuh melihat produk bekerja."
"Saya setuju." Ratu tersenyum lebih dalam. "Karena itu saya datang sendiri."
Kirana dari kejauhan melihat percakapan itu. Ia tetap duduk, wajahnya tenang, tetapi tangannya mengusap perut pelan.
Ratu menatap Arya lagi.
"Kita perlu bicara. Industri ini akan menjadi ramai."
Arya menyimpan kartu nama itu.
"Saya terbuka untuk percakapan bisnis."
"Bagus. Saya suka pria yang langsung ke inti."
Dimas di belakang hampir tersedak minum.
Arya tetap tenang.
Ratu menoleh pergi. Sebelum mencapai pintu, ia berhenti sebentar.
"Oh ya, Pak Arya. Selamat datang di permainan yang lebih besar."
Ia pergi bersama stafnya.
Arya membalik kartu nama di tangannya.
Di bagian belakang, tercetak huruf emas kecil.
The queen always wins.
Arya menatap tulisan itu.
Lalu ia melihat Kirana di baris depan.
Kirana tersenyum kecil, seolah berkata pulanglah setelah selesai.
Arya memasukkan kartu itu ke saku jas.
Hari peluncuran SuryaWMS sukses besar.
Dan papan catur baru saja menerima satu ratu.