Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Daniel menampilkan beberapa foto hasil pengintaian. "Orang kita memastikan Nona Selena berada di Swiss."
Vincent tidak langsung melihat layar itu. Ia masih menandatangani beberapa dokumen.
Daniel menggeser foto berikutnya. " Sepertinya Nona Selena terlihat bahagia."
Baru kali ini Vincent mengangkat pandangan. Sorot matanya berhenti beberapa detik pada foto Adrian yang sedang membuka pintu mobil untuk Selena.
"Perlu kami bawa pulang?" tanya Daniel.
Vincent menutup map di hadapannya. "Tidak."
Daniel mengerutkan dahi. "Tapi Bos, Adrian adalah Black Cobra."
Vincent bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap taman belakang.
"Kalau Adrian menyembunyikannya..." ucapnya tenang, "...berarti Selena masih berguna bagi mereka."
"Selama mereka masih membutuhkan Selena, dia tidak akan disentuh."
"Lalu perjanjian pernikahan?"
Vincent tetap menatap ke luar.
Di taman, Serina sedang berbincang dengan Soraya mengenai menu makan malam. Sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecil yang dibawanya.
"Pengantin yang kubutuhkan sudah ada di rumah."
Daniel mengikuti arah pandangan Vincent. "Maksud Bos... Nyonya Serina?"
Vincent tidak menjawab. Ia hanya berkata pelan,
"Selena bukan urusan yang mendesak."
Daniel memahami. Tak ada lagi pertanyaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore berganti malam.
Dapur mansion Timothy jauh lebih ramai daripada biasanya.
Chef Rudi sibuk mengawasi beberapa koki yang sedang menyiapkan hidangan.
Di salah satu sudut, Serina mengenakan celemek. Tangannya sibuk menuang saus karamel ke dalam cetakan puding.
Chef Rudi mendekat. "Nyonya."
Serina menoleh.
"Saya sudah bilang, Tuan Vincent tidak menyukai makanan penutup."
"Aku akan mengingat itu."
"Lalu kenapa tetap membuatnya?"
Serina tersenyum sambil merapikan pinggiran piring. "Belum tentu untuk beliau."
"Kalau begitu untuk Tuan Muda?"
Serina menggeleng. "Kalau tidak ada yang makan, aku sendiri yang akan menghabiskannya."
Chef Rudi menghela napas. Ia menyerah membujuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meja makan kembali dipenuhi aroma masakan.
Steak salmon diletakkan di depan Vincent. Pasta krim kesukaan Viren tersaji seperti biasa. Di tengah meja, semangkuk kecil puding karamel tampak mencolok.
Viren meliriknya. "Itu apa?"
"Puding karamel," jawab Serina.
Chef Rudi buru-buru menambahkan, "Buatan Nyonya."
Viren hanya mengangguk. Tak ada yang menyentuh puding itu. Makan malam berlangsung dalam keheningan.
Beberapa menit kemudian Vincent meletakkan serbetnya. "Aku masih ada pekerjaan." Ia berdiri dan meninggalkan ruang makan.
Viren ikut turun dari kursinya. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Ia kembali ke meja. Mengambil sendok kecil.
Semua mata mengikutinya. Viren menyendok sedikit puding. Mencicipinya. "Manis."
Chef Rudi langsung mengangguk. "Saya sudah bilang, Tuan Muda memang tidak suka..." Ucapan itu terputus.
Viren kembali menyendok puding. Lalu sekali lagi. Hingga mangkuk kecil itu kosong. Ia meletakkan sendok dengan rapi. "Bukan karena enak."
Tatapannya singkat mengarah kepada Serina.
"Hanya tidak ingin makanan terbuang." Ia berbalik dan pergi.
Chef Rudi menggeleng pelan. "Saya baru tahu alasan seperti itu bisa menghabiskan semangkuk puding."
Soraya tertawa kecil. Serina hanya mengangkat mangkuk kosong itu. "Besok aku cari alasan lain."
Chef Rudi ikut tersenyum. "Nyonya... saya rasa Tuan Muda sudah lebih dulu mencarinya."
Viren menaiki anak tangga tanpa menoleh.
Langkahnya tetap tenang, seolah semangkuk puding tadi tidak berarti apa-apa. Sesampainya di lantai dua, ia berpapasan dengan Vincent yang baru keluar dari ruang kerja.
"Kamu belum tidur?"
"Aku mau membaca."
Vincent mengangguk singkat.
Tatapannya jatuh pada bibir putranya. "Ada karamel."
Viren spontan mengusap sudut bibirnya. Tidak ada apa-apa. Ia baru menyadari ayahnya sedang menggodanya.
"Ayah."
"Hm?"
"Itu tidak lucu."
Vincent membuka pintu ruang kerjanya. "Berarti rasanya cukup enak sampai kamu tidak sadar."
Viren terdiam beberapa saat. "Aku sudah bilang. Itu hanya tidak ingin makanan terbuang."
Vincent menatap putranya beberapa detik. "Kamu tidak pernah melakukan itu sebelumnya."
Viren membetulkan tali piyamanya. "Puding itu kecil." Setelah berkata demikian, ia berjalan menuju kamarnya.
Vincent tidak memanggilnya lagi. Sudut bibir pria itu nyaris terangkat sebelum kembali datar.
Di dalam kamar.
Viren membuka tas sekolahnya untuk menyiapkan buku esok hari.
Tangannya berhenti pada kotak bekal berwarna biru yang belum ia serahkan pada pelayan.
Ia memandanginya beberapa saat. Lalu membuka laci meja. Kotak bekal itu tidak ia letakkan bersama perlengkapan sekolah.
Ia menyimpannya di laci paling atas. Rapi. Seolah benda itu tidak boleh tercampur dengan yang lain.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan. p"Tuan Muda?"
"Masuk."
Soraya muncul di balik pintu. "Nyonya Serina menitipkan susu hangat."
Viren menoleh ke nampan itu.
"Beliau bilang..." Soraya tersenyum kecil. "...kalau besok ingin mencoba membuat sarapan yang tidak manis."
Viren menghela napas pendek. "Aku tidak pernah bilang pudingnya terlalu manis."
Soraya menahan senyum. "Baik, Tuan Muda."
Setelah pintu kembali tertutup, Viren mengambil gelas susu itu. Ia menyesap sedikit. Hangat. Persis seperti suhu yang ia sukai. Ia meletakkan gelas kembali. Pelan-pelan.
"Aneh..." gumamnya lirih. "Dia bahkan tidak bertanya."
Di luar kamar, Serina yang kebetulan hendak kembali ke kamarnya berhenti sejenak ketika melihat gelas susu di tangan Soraya sudah tidak ada. Ia tidak bertanya apakah Viren meminumnya. Ia hanya melanjutkan langkahnya.
Malam kembali tenang. Namun, di mansion itu, kebiasaan-kebiasaan kecil mulai berubah sedikit demi sedikit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam di Swiss. Selena berdiri di balkon apartemen, memandang lampu-lampu kota.
Adrian keluar membawa dua cangkir kopi. "Masih memikirkan Vincent?"
"Aneh."
"Apa?"
"Dia belum mencariku."
Adrian menyerahkan secangkir kopi. "Mungkin dia sibuk."
Selena menggeleng. "Bukan Vincent kalau membiarkan orang yang mengkhianatinya."
Adrian tersenyum tipis. "Kalau begitu...mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada dirimu."
Selena terdiam. Kalimat itu terdengar ringan. Namun terus terngiang hingga malam semakin larut.