NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:69.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Maafin Alin, Nek

Langkah kaki Alin terasa jauh lebih ringan saat taksi yang membawanya berhenti tepat di depan gerbang kayu jati setinggi dua meter. Rumah bergaya kolonial yang megah itu berdiri kokoh di salah satu kawasan elite Jakarta, memancarkan aura wibawa yang kental. Ini adalah kediaman Nenek Aisyah, tempat yang satu bulan lalu sering Alin kunjungi bersama ibunya untuk membicarakan rencana perjodohan konyol itu. Alin menarik napas dalam-dalam, meremas sejenak handle koper kain hitam di tangan kanannya, lalu melangkah masuk melintasi halaman rumput yang tertata rapi.

Sebelum Alin sempat mengetuk pintu utama yang terbuat dari kayu jati solid, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu. Mbok Darmi, salah satu Asisten Rumah Tangga senior yang sudah bekerja puluhan tahun di sana, muncul dengan senyum hangat yang langsung merekah di wajah sepuhnya. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Begitu sepasang mata Mbok Darmi turun dan menangkap sosok koper besar yang berdiri tegak di samping kaki Alin, wanita paruh baya itu tersentak kaku.

"E-eh, Non Alin? Sendirian saja? Mas Elang ke mana, Non?" tanya Mbok Darmi, suaranya sarat akan nada kecemasan yang tertahan. Matanya mengedar ke arah halaman, mencari keberadaan mobil mewah sang majikan muda yang biasanya terparkir gagah di sana.

Alin hanya melempar senyum tipis yang tampak begitu tenang. Ia menyisipkan beberapa helai rambut panjangnya yang terurai ke belakang pundak dengan gerakan yang teratur. "Mas Elang sedang sibuk di rumah baru, Mbok. Nenek ada di dalam?"

"Ada, Non ... ada. Silakan masuk dulu, Non," jawab Mbok Darmi tergagap, buru-buru membukakan pintu lebar-lebar dan berniat meraih gagang koper Alin, tetapi Alin menolak dengan halus. Ia memilih membawa barang-barangnya sendiri, melangkah masuk menuju ruang utama yang berplafon tinggi.

Di sudut ruangan, Nenek Aisyah dengan wajahnya yang pucat sedang duduk di atas kursi goyang kayunya, mengenakan setelan kebaya harian yang bersahaja namun tetap memancarkan garis keanggunan seorang ningrat. Begitu mendengar suara roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer, wanita sepuh berusia tujuh puluh lima tahun itu mendongak. Detik itu juga, gerakan kursi goyangnya berhenti total.

Sepasang mata senja Nenek Aisyah melebar sempurna, menatap nanar ke arah cucu menantu pilihan hatinya yang kini berdiri mandiri dengan koper di tangan, tanpa didampingi oleh Elang. Gurat kejut dan ketakutan yang nyata tercetak di wajahnya yang mulai berkeriput.

Sebelum wanita sepuh itu sempat melontarkan rentetan pertanyaan yang sudah memenuhi rongga dadanya, Alin melangkah maju dengan anggun. Ia meletakkan kopernya perlahan, lalu berlutut di depan Nenek Aisyah, meraih tangan kanan yang mulai keriput itu dengan kedua tangannya, lalu mengecupnya dengan takzim dan penuh rasa hormat.

"Kamu diusir sama Elang, Lin?!" tuding Nenek Aisyah seketika, suaranya meninggi dengan nada gemetar hebat akibat amarah yang mendadak meletup. Kedua tangannya berganti mencengkeram bahu Alin dengan erat, memaksa gadis berambut panjang itu untuk menatapnya. "Katakan pada Nenek, Nduk! Apa si bodoh Elang itu berani mengusirmu dari rumah baru kalian?!"

Alin menggelengkan kepalanya perlahan, tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar dan tenang. "Tidak, Nek. Mas Elang tidak mengusir Alin."

Nenek Aisyah tidak langsung mempercayai ucapan itu. Ia menarik napasnya dengan pendek dan berat, dadanya kembang kempis menahan sesak. "Lalu kenapa kamu membawa koper siang-siang begini? Apa ... apa wanita ular itu masih ada di rumah baru kalian? Apa perempuan bernama Cindy itu belum juga angkat kaki?!"

Alin perlahan menegakkan tubuhnya, lalu mendudukkan diri di atas sofa beludru hijau tua yang berada tepat di samping kursi goyang Nenek Aisyah. Ia menatap wanita tua yang sudah sangat banyak berjasa bagi kehidupan ibunya yang selama ini berjuang sendirian sebagai 'single parent'. Hati Alin berdenyut perih karena harus membawa berita buruk ini, namun ia menolak untuk terus hidup dalam kepalsuan yang menyiksa batinnya.

Alin melemparkan senyum kecut, menatap lurus ke dalam manik mata Nenek Aisyah yang mulai berkaca-kaca. "Alin tidak diusir oleh Mas Elang, Nek. Lebih tepatnya ... Alin sendiri yang memilih untuk melangkah keluar dari rumah itu. Alin ... ingin membatalkan pernikahan ini, Nek. Alin mau mengurus pembatalannya secepat mungkin di KUA mumpung lembaran negaranya belum diproses terlalu jauh."

'Deg.'

Nenek Aisyah terdiam membisu, tubuhnya mendadak kaku seolah baru saja disengat aliran listrik yang melumpuhkan syarafnya. Ia menatap cucu menantunya dengan pandangan tidak percaya.

"Maafin Alin ya, Nenek," sambung Alin lirih, suaranya bergetar kecil namun sarat akan ketegasan yang mutlak dari seorang perempuan merdeka yang memegang teguh harga dirinya. "Mau bagaimanapun, Alin ini perempuan normal, Nek. Alin tidak suka, dan tidak akan pernah sudi jika ada wanita lain yang berbagi atap dan perhatian di dalam rumah tangga Alin. Alin lebih memilih untuk mundur sekarang, detik ini juga, ketimbang ke depannya pun hubungan pernikahan ini tetap akan berjalan hancur berantakan."

Nenek Aisyah menatap Alin dengan pandangan mata yang sarat akan duka dan penolakan yang teramat besar. Ia meremas jemari Alin yang terasa dingin, menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Nenek tidak menyetujuinya, Alin! Nenek tidak akan pernah mengizinkan pernikahan ini batal atau berakhir begitu saja!"

"Tapi, Nek—"

"Kali ini saja, Nenek meminta tolong padamu, Nduk. Tolong dengarkan permintaan wanita tua yang rapuh ini," potong Nenek Aisyah dengan suara yang parau, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang keriput. Ia menatap Alin dengan binar mata memohon yang teramat sangat, sesuatu yang belum pernah Alin lihat dari sosok wanita sekuat Nenek Aisyah. "Bertahanlah dulu di samping Elang ... setidaknya selama tiga bulan ke depan, Alin. Berjuanglah untuk merebut hati Elang kembali. Jangan sampai Elang kembali jatuh ke dalam pelukan wanita itu!"

Nenek Aisyah mengeraskan rahangnya, gurat kebencian yang mendalam terpancar jelas di wajahnya saat mengingat sosok Cindy. "Nenek tidak rela, dunia akhirat Nenek tidak akan pernah rela kalau Elang kembali menjalin hubungan dengan mantannya itu! Sejak dulu, sejak enam tahun lalu saat ia pertama kali dibawa ke rumah ini, Nenek sudah tidak menyetujuinya! Perempuan itu tidak tulus, ia hanya menginginkan harta Elang!"

Alin menghela napas panjang, mendesah pelan merasakan beban berat yang mendadak diletakkan di atas kedua bahunya yang rapuh. Rambut panjangnya yang terikat ekor kuda bergoyang mengikuti gerakan kepalanya yang tertunduk lesu.

"Nek, kenapa Nenek tidak mencoba untuk merestui mereka saja sekarang?" desak Alin lembut, mencoba memberikan sudut pandang logis yang selama ini diabaikan oleh sang nenek karena kabut kebencian masa lalu. "Apalagi sekarang sudah ada Ega di antara mereka. Sudah ada anak kecil berusia empat tahun yang tidak berdosa. Kasihan anak itu, Nek ... dia pasti sangat membutuhkan kehadiran sosok ayahnya secara utuh untuk tumbuh dewasa."

Bersambung ...

1
vania larasati
lanjut
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
😂😂😂😂
merry yuliana
suruh ganti nama jadi burung perkutut aja kak
Naufal Affiq
kalau masih bodoh lagi kau elang,oma sudah mengasih jalan biar kau menjadi pintar,maka jalan kan apa yang harus kamu kerja kan
olyv
elang oon dikasih berlian kayk alin malah milih jalang kayak cindy siap² gigit jari kalo tetap keras kepala
Yul Kin
lanjut kak
Ayudya
nah apa yg di bilang nenek itu bener elang apa ada bukti kalau si Ega itu anak kandung kamu.seorang CEO kok bodoh banget🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
nah pilih yang mana lang
yuni ati
Elang galauu🤣
Teh Euis Tea
nah loh pilih elang km berani ga pilih cindi dan di miskinkan nenekmu atau km pilih alin tg tulus sayang sm nenekmu
Sugiharti Rusli
mungkin karena hubungan yang terjalin selama ini dengan Alin dan keluarganya, membuat nenek Aisyah lebih memilih dirinya jadi cucu menantunya sih,,,
Sugiharti Rusli
kira" nenek Aisyah tuh tahu pasti yah kalo watak Alin juga tegas seperti dirinya, tapi dia bisa menempatkan kapan waktunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kalo perusahaannya baru berkembang pesat tapi juga ada di bawah induk perusahaan keluarganya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang perusahaan yang di bawah kendali si Elang itu bukannya start up yah, kira" apa hubungannya sama harta milik sang nenek, apa investornya kah,,,
Mommy Ghina: perusahaan start up, tapi masih berinduk dengan perusahaan almarhum suami Nenek Aisyah
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata nenek Aisyah meski sudah uzur, tapi wibawanya tetap terlihat yah saat berkata tegas kepada si Elang cucunya
Wiek Soen
setuju dg nenek, CEO kok goblok
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
😬😬, ga bisa berkutik kan bapak elang yg terhormat, berpikir lah secara benaar jangan cuma bulol yg tdk pada tempatnya daaah... hadeeeh.. 😏😏
Nasya
bagus nek tak setuju bgt biar kapok elang
Nasya
hedehh CEO oon
Halimatus Syadiah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!