Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelas—Harta Ibuku, Milikku!
Kemarin, begitu terbangun setelah kematian tragisnya di malam musim dingin yang membeku, Gu Mingyue langsung bergerak cepat. Ia memerintahkan kusir dan pelayan pribadinya untuk memindahkan sebagian besar asetnya ke kediaman utama Keluarga Qi—tempat kakek dan neneknya dari mendiang ibunya tinggal sekaligus pusat pengelolaan bisnis keluarga.
Bersamaan dengan itu, Gu Mingyue mengirimkan sepucuk surat singkat:
Aku akan menikah pada hari yang sama dengan Gu Lian. Mohon bantu simpan titipan ini untuk sementara waktu.
Dan kini, persis seperti dugaannya, Selir Lin tampak bak orang gila yang sedang berburu harta karun. Benar-benar pencuri tak tahu malu yang beraksi di siang bolong!
Gu Mingyue berdecak sinis. Ia mendadak teringat bagaimana Zhao Yuchen di kehidupan lalunya kerap memuji Selir Lin sebagai wanita berbudi pekerti luhur yang pandai mendidik Gu Lian. Nyatanya, semua itu berbanding terbalik.
"Keterlaluan!" hardik Selir Lin tepat di depan wajahnya.
Wanita itu melayangkan tamparan keras, tetapi tangannya mendadak membeku di udara. Jemarinya tak mampu menyentuh pipi Gu Mingyue, seolah tertahan oleh tatapan gadis itu yang tajam, dingin, dan tak bergeming sedikit pun.
"Lagi pula, Selir Lin terlalu mengada-ada," ucap Gu Mingyue tenang.
Ia melangkah mendekat, menatap Selir Lin dari ujung kepala hingga kaki dengan sorot mata penuh dominasi yang mengintimidasi. "Bagaimana mungkin harta mendiang ibuku bisa mencapai ratusan ribu tael emas maupun puluhan juta tael perak?"
"Uang mendiang ibuku tidak sebanyak itu. Lagi pula... bukankah semuanya sudah habis dipakai membiayai keperluan rumah ini, pesta-pesta megah, serta membeli berbagai properti yang anehnya tak satu pun atas nama ibuku?" sindirnya halus, tetapi menohok telak.
Dada Selir Lin naik turun menahan murka. Wajahnya yang semula pucat perlahan memerah, sementara kedua matanya melotot tajam. "Kau... kau bukan anakku yang dulu!"
"Itu betul," sahut Gu Mingyue santai.
Selir Lin mendengus kasar, lalu membalikkan badan dengan hentakan penuh amarah. Langkahnya yang tergesa menggema di sepanjang lorong paviliun, meninggalkan Gu Mingyue sendirian. Gadis itu hanya tersenyum tipis penuh kemenangan sebelum kembali menyesap teh di cangkirnya dengan tenang.
"Nona, Selir Lin benar-benar keterlaluan hari ini!" gerutu Fan Li'er sambil membereskan kekacauan bersama para pelayan paviliun lainnya.
"Biarkan saja. Dia memang harus menunjukkan 'kelas' yang sebenarnya," sahut Gu Mingyue acuh tak acuh.
"Tapi, Nona, kelakuannya tadi sudah seperti pencuri yang menantang pemilik rumah!" Fan Li'er menunjuk ke sudut ruangan, tepat ke arah meja laci yang tampak mengenaskan. "Lihatlah, bahkan laci yang hanya berisi kertas wangi pun dirusaknya."
Gu Mingyue menoleh kepadanya. Seulas senyum misterius terbit di bibirnya. "Kalau begitu, Selir Lin harus menggantinya. Catat semua kerusakan hari ini. Semuanya, tanpa kecuali."
Tatapannya menerawang ke luar jendela saat ia bergumam lirih, "Kurasa, akan ada pertunjukan yang jauh lebih menarik malam ini."
"Baik, Nona."
Malam akhirnya turun menyelimuti Kediaman Jenderal Besar Gu. Ruangan di paviliun utama tampak terang benderang, dijaga oleh beberapa prajurit yang berdiri siaga. Sebaliknya, atmosfer di dalam ruangan justru terasa begitu dingin dan mencekam.
Jenderal Besar Gu sedang duduk di balik meja kerjanya ketika ia memanggil Selir Lin and Gu Mingyue untuk menghadap bersamaan.
Gu Mingyue melangkah masuk mengenakan hanfu tipis berbahan wol sederhana tanpa banyak ornamen. Kontras dengannya, Selir Lin datang mengenakan sutra kuning mencolok dengan deretan perhiasan emas yang berkilauan di tubuhnya.
"Tuanku, aku ingin mengadu..." Selir Lin lebih dulu melemparkan umpan. Air mata palsu mulai menggenang di pelupuk matanya, selaras dengan ekspresi wajahnya yang mendadak melas. "Mingyue benar-benar sudah keterlaluan. Tadi siang dia menuduhku yang tidak-tidak, bahkan menghinaku di depan para pelayan paviliun. Aku hanya berniat memeriksa persiapan mas kawin untuk pernikahan adiknya, tapi dia malah menuduhku ingin merampas harta mendiang Nyonya Besar."
Jenderal Besar Gu menghentikan aktivitas menulisnya. Ia meletakkan kuas, lalu mengangkat pandangannya yang tegas. Matanya bergerak, pertama-tama menatap Selir Lin yang berbalut sutra kuning mencolok dengan perhiasan yang bergemerincing setiap kali wanita itu bergerak.
Kemudian, tatapannya beralih pada Gu Mingyue yang berdiri tegak dalam balutan hanfu wol sederhana yang bersahaja. Perbedaan penampilan fisik itu seketika memicu kerutan samar di dahi sang jenderal.
"Mingyue, apakah benar apa yang dikatakan Selir Lin?" tanya Jenderal Besar Gu dengan suara berat.
Gu Mingyue tidak langsung menjawab. Ia sengaja menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya sedikit bergetar halus seolah-olah tengah menahan tangis yang mendalam.
"Ayahanda," suara Mingyue terdengar serak dan bergetar saat ia mendongak, memperlihatkan sepasang netra yang sengaja dibuat berkaca-kaca. "Bagaimana mungkin saya berani menghina Selir Lin? Tadi siang, Selir Lin membawa belasan pelayan untuk menggeledah dan mengobrak-abrik paviliun saya. Kamar saya hancur, laci-laci dirusak, seolah-olah saya adalah seorang kriminal di rumah saya sendiri."
"Itu karena kau menyembunyikan harta ibumu!" potong Selir Lin, kehilangan kendali karena emosi.
"Cukup!" bentak Jenderal Besar Gu. Suaranya yang menggelegar membuat Selir Lin seketika terbungkam dengan wajah pucat. Jenderal Besar Gu kembali menatap putri sulungnya. "Lalu, di mana seluruh akta dan kunci gudang harta mendiang ibumu, Mingyue? Pernikahan Gu Lian membutuhkan sokongan mas kawin yang layak."
Gu Mingyue menghela napas panjang, lalu mengangkat wajahnya dengan ketenangan yang perlahan kembali. Kilat dingin di matanya kini menatap lurus sang ayah.
"Harta ibuku adalah hak mutlak milikku sebagai putri sah, Ayahanda. Dan semuanya telah berada di tempat yang paling aman," ucap Mingyue tenang. "Lagi pula... mas kawin ibuku tidak akan pernah bisa digunakan untuk pernikahan Gu Lian di Kediaman Zhao."
Selir Lin mencemooh sinis. "Kau hanya pelit dan dengki pada adikmu sendiri yang menikahi putra utama Kediaman Zhao!"
Gu Mingyue mengangkat satu sudut bibirnya, melemparkan senyuman tipis yang teramat misterius hingga membuat bulu kuduk Selir Lin mendadak meremang.
"Bukan karena aku dengki, Selir Lin. Tapi karena besok pagi... seluruh kota ini akan menyaksikan kejutan yang jauh lebih besar," bisik Mingyue penuh arti.
Belum sempat Jenderal Besar Gu mencerna kalimat itu, suara seruan lantang dari prajurit penjaga gerbang depan mendadak menggema kuat, menembus dinginnya koridor paviliun utama.
"Utusan Istana Kekaisaran tiba membawa Dekret Emas Kaisar!"
Langkah kaki yang teratur dan tegas segera memenuhi koridor utama. Pintu aula kerja itu terbuka lebar. Seorang kasim senior istana dengan pakaian resmi sutra bersulam melangkah masuk, kedua tangannya mengangkat tinggi sebuah gulungan kain sutra kuning keemasan yang dihiasi ukiran naga—Dekret Emas Kaisar. Di belakangnya, beberapa prajurit pengawal kekaisaran berdiri siaga dengan senjata tegak.
"Jenderal Besar Gu, Selir Lin, Nona Besar Gu Mingyue, terima titah kaisar!" seru kasim istana dengan suara melengking yang berwibawa.
Seketika itu juga, seluruh orang di ruangan langsung berlutut dengan khidmat menghadap ke arah dekret tersebut. Gu Mingyue berlutut dengan kepala tertunduk, menyembunyikan senyum kemenangan yang kini merekah sempurna di bibirnya.
Sementara Selir Lin berlutut di sampingnya dengan jantung yang berdebar kencang penuh ketidakpastian.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya