NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 - Mencari Cara

Kantor sipir yang roboh masih diselimuti debu ketika seluruh penghuni lembaga pemasyarakatan mulai kembali beraktivitas. Untungnya, tidak ada korban jiwa. Beberapa petugas hanya mengalami luka ringan akibat tertimpa pecahan genting dan kayu. Meski begitu, kerusakan bangunan cukup parah. Bagian depan kantor runtuh hampir seluruhnya, sementara beberapa dinding penyangga dipenuhi retakan besar yang membuat bangunan itu tidak lagi layak digunakan.

Sejak pagi, area tersebut dipasangi garis pembatas. Para tahanan dilarang mendekat, sedangkan para sipir sibuk memindahkan berkas-berkas penting yang masih bisa diselamatkan. Pak Adi ikut membantu mengangkat beberapa lemari arsip bersama petugas lain. Sesekali pandangannya mengarah kepada Faris yang berdiri cukup jauh sambil memperhatikan bangunan itu tanpa berkedip.

Berbeda dengan tahanan lain yang hanya melihat tumpukan puing, Faris justru memperhatikan setiap retakan, posisi tiang yang patah, hingga arah runtuhnya atap. Kebiasaan menganalisis yang selama ini dia latih diam-diam kembali muncul dengan sendirinya.

Di dalam kepalanya, suara sistem terdengar pelan.

Ding!

[Misi Insinyur Darurat masih aktif.]

[Silakan mencari penyebab utama kegagalan struktur.]

Faris mengembuskan napas. "Aku juga tahu misinya masih aktif."

[Sistem hanya mengingatkan.]

"Masalahnya aku bahkan tidak boleh mendekati bangunannya."

[Benar.]

"Terima kasih sudah mengingatkanku kalau hidupku menyedihkan."

[Sama-sama.]

Sudut mata Faris langsung berkedut. "Kamu sengaja, ya?"

[Sistem tidak memahami emosi tersebut.]

"Dasar."

Belum sempat Faris melanjutkan protesnya, suara mesin mobil terdengar dari arah gerbang lapas. Sebuah mobil pikap putih memasuki halaman, diikuti kendaraan bak terbuka yang membawa berbagai material bangunan. Beberapa pria turun sambil mengenakan helm proyek berwarna putih dan rompi keselamatan.

Salah seorang di antaranya langsung menarik perhatian semua orang. Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi dengan kulit agak gelap akibat sering bekerja di lapangan. Kumis tipis menghiasi wajahnya, sementara sorot matanya tajam dan terkesan selalu memandang rendah orang lain. Di bagian dada rompinya tertera sebuah nama, BANDI.

Kepala lapas segera menghampiri.

"Selamat pagi, Pak Bandi."

"Pagi."

"Kami sudah menunggu."

Pak Bandi mengangguk singkat, lalu langsung berjalan menuju bangunan yang roboh tanpa banyak basa-basi.

"Ayo, kita lihat."

Beberapa teknisi mengikuti di belakangnya sambil membawa meteran, kamera, dan alat ukur sederhana.

Faris tanpa sadar ikut melangkah mendekat. Meskipun tidak diizinkan masuk ke area pemeriksaan, dia ingin mendengar pembahasan mereka.

Pak Bandi mulai memeriksa retakan pada pondasi.

"Hm."

Ia berjongkok sebentar, lalu berdiri lagi.

"Gempa."

Salah satu teknisi mengangguk.

"Sepertinya begitu, Pak."

"Ya."

Pak Bandi menunjuk pilar yang patah. "Bongkar saja seluruh bagian depan."

Faris yang mendengar pembicaraan itu langsung mengernyit. "Gempa?"

"Bukan..."

Menurut pengamatannya semalam, kerusakan memang dipicu gempa. Namun penyebab utamanya bukan itu. Pondasi bangunan terlihat mengalami penurunan di salah satu sisi. Selain itu, distribusi beban antar pilar juga tidak merata. Gempa hanya menjadi pemicu terakhir.

Faris terus memperhatikan sambil menggigit bibir bawahnya. Akhirnya ia memberanikan diri mendekat beberapa langkah.

"Maaf, Pak."

Pak Bandi menoleh sekilas. "Ada apa?"

"Saya... boleh melihat gambar bangunannya?"

Semua orang langsung memandang Faris.

Seorang sipir segera berkata, "Dia narapidana yang membantu workshop."

Pak Bandi menaikkan sebelah alis. "Narapidana?"

"Iya."

Pak Bandi memandang Faris dari ujung kepala sampai kaki. "Kamu tukang bangunan?"

"Bukan."

"Insinyur?"

"Bukan juga..."

"Lalu?"

"Saya cuma..."

Faris menarik napas. "...suka mempelajari struktur bangunan."

Pak Bandi langsung tertawa pendek. "Lucu."

Beberapa teknisi ikut tersenyum kecil.

Pak Bandi menggeleng pelan. "Anak muda. Ini pekerjaan insinyur. Bukan tempat semua orang ikut berpendapat."

Kalimat itu menusuk hati Faris. Namun ia tetap berusaha tenang. "Saya hanya ingin membantu."

Pak Bandi melipat kedua tangannya. "Membantu?"

"Iya."

"Kalau begitu bantu sapu puing."

"Tapi saya..."

"Saya tidak butuh teori dari narapidana."

Suasana mendadak sunyi. Pak Adi yang berdiri tidak jauh dari sana tampak kurang nyaman mendengar ucapan itu. Namun dia juga tidak bisa langsung membantah. Bagaimanapun juga, Pak Bandi memang insinyur yang ditunjuk pemerintah untuk menangani proyek tersebut.

Faris menundukkan kepala. "Baik."

Ia pun mundur perlahan. Di dalam hatinya muncul rasa kecewa yang sangat besar. Bukan karena dihina. Melainkan karena kesempatan yang baru saja muncul langsung tertutup begitu saja.

Saat berjalan kembali menuju workshop, suara sistem kembali terdengar.

Ding!

[Pengguna mengalami penolakan.]

"Ya."

[Analisis emosi: kecewa.]

"Ya."

[Sistem turut prihatin.]

Faris berhenti berjalan. "Hah? Kamu bisa prihatin?"

[Kalimat standar.]

"Kirain akhirnya kamu punya hati."

[Sistem tidak memiliki organ hati.]

Faris memijat dahinya. "Sudahlah."

Beberapa menit kemudian dia duduk sendirian di sudut workshop sambil memandangi kantor sipir dari kejauhan. Semakin dipikirkan, semakin tidak rela dirinya.

Kalau perbaikannya salah, bangunan itu bisa mengalami masalah yang sama beberapa tahun lagi. Ia mengepalkan tangan.

"Sistem..."

[Ya.]

"Aku harus ikut proyek itu."

[Tidak bisa.]

Jawabannya datang begitu cepat. Faris langsung mendengus. "Jangan langsung ditolak."

[Keputusan berada di tangan manusia.]

[Sistem tidak memiliki wewenang mengendalikan manusia.]

"Aku tahu."

"Tapi pasti ada cara."

[Tidak ditemukan.]

"Apa gunanya sistem hebat kalau begini?"

[Sistem membantu pengguna menjadi insinyur.]

"Bukan menjadi pesulap." Faris menghela napas panjang. "Tolonglah, pasti ada sesuatu."

[Permintaan ditolak.]

"Ayolah."

[Tetap ditolak.]

"Sedikit saja."

[Tidak.]

"Kamu pelit."

[Sistem bukan warung.]

Faris hampir tertawa sekaligus kesal. "Kenapa setiap jawabanmu bikin darah tinggi?"

[Kemungkinan karena tekanan psikologis pengguna.]

"Aku serius!"

[Sistem juga.]

Faris kembali memandang kantor yang roboh. "Aku yakin...pasti ada celah. Aku hanya belum menemukannya."

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu untuk pertama kalinya sejak mereka berdebat, sistem tidak langsung menjawab. Tulisan di layar justru berubah.

[Memindai kemungkinan...]

[Menganalisis aturan sistem...]

[Mencari alternatif...]

Faris langsung duduk tegak. "Kamu sedang apa?"

Tidak ada jawaban. Hanya deretan angka dan simbol yang terus bergerak di layar biru.

Beberapa saat kemudian...

Ding!

[Kemungkinan solusi ditemukan.]

Mata Faris langsung berbinar. "Apa?"

[Peluang keberhasilan: 17%.]

"Sedikit sekali."

[Lebih baik daripada 0%.]

Faris tidak bisa membantah. "Lalu?"

Layar kembali berkedip.

[Sistem tidak dapat membuat pengguna diterima sebagai anggota proyek.]

[Namun sistem dapat membantu pengguna menjadi seseorang yang... dibutuhkan dalam proyek.]

Faris membeku. "Dibutuhkan?"

[Benar.]

"Bagaimana caranya?"

Beberapa detik berlalu. Lalu senyum tipis perlahan muncul di wajah Faris. Ia merasa sistem benar-benar sedang merencanakan sesuatu.

1
Ambu Rinddiany Thea
ikut bahagia ya ris ..
Ita Xiaomi
Faris, jaga dan rawat ibu dgn baik.
Rommy Wasini Khumaidi
alhamdulillah,bu Siti sembuh,Faris punya banyak poin
Sri Supriatin
semangat thor n lanjuut 🙏🙏
Ita Xiaomi
Alhamdulillah Bu Siti udah sehat walafiat.
Ita Xiaomi
Perjuangan seorang anak utk ibu tercinta.
Rommy Wasini Khumaidi
masih penasaran dengan hasilnya,sayangnya selesai babnya😭😭
Rommy Wasini Khumaidi
semangat Faris,kamu pasti bisa
Ita Xiaomi
Semangat Faris.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.
Ita Xiaomi
Anak yg berbakti 👍
Ambu Rinddiany Thea
semangat faris demi ibu mu . semoga misinya lancar ya is .. doa para pembaca selalu bersamamu 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
ayok Ris kamu bisa,nanti author yang kasih tau caranya🤣
Rommy Wasini Khumaidi
kalau didunia nyata ada pil semacam ini pasti laris bgt,berapapun akan dibayar bagi mereka yang kaya raya
Ambu Rinddiany Thea
sistem nya ga bisa bantu gt , malah ngajak debat mulu .. ga tau gt yg baca udh mulai nyesek 😭😭😭
Rommy Wasini Khumaidi
😭😭ikut sedih aku Ris,gimana rasanya ketika kita dapat kerjaan ingin membahagiakan orang tua malah orang tua tidak bisa ikut menikmati
Ita Xiaomi
Mewek bacanya. Sedih banget😭😭😭
Ita Xiaomi
😭😭😭
Ita Xiaomi
Semangat bekerja Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
lah,murah amat 100rb thor?dapat hp apa tambah tunai 61rb
Desau: maaf typo kak. harusnya sejuta 🤭
total 1 replies
Ita Xiaomi
Berharap pd selamat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!