NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Ko Rey dan Ko Steve

"Perempuan itu lebih sulit daripada yang kupikirkan."

Kalau Veronica tahu, kalimat itu akan membuatku tidur nyenyak.

Sayangnya, aku tidak tahu.

Keesokan paginya, PIK villa terasa berbeda. Dapur lebih tenang. Staf berjalan lebih hati-hati, tapi bukan lagi hati-hati karena takut pada Bibi Yanti. Mereka hati-hati karena sedang menilai Nyonya Muda baru yang ternyata bisa tersenyum sambil memotong rantai korupsi.

Aku duduk di ruang keluarga dengan laptop terbuka, pura-pura mempelajari daftar belanja baru.

Sebenarnya aku sedang memandangi panel Si Kepo.

[Status rumah: stabil sementara.]

[Ancaman tersisa: banyak.]

Terima kasih atas optimisme yang sangat membantu.

Reynard berada di ruang kerja sejak pagi. Seperti biasa, pintunya tertutup. Seperti biasa juga, seluruh rumah bergerak seolah napasnya menunggu perintah dari balik pintu itu.

Jam sepuluh, suara mobil berhenti di halaman.

Sari masuk dengan langkah cepat. "Nyonya Muda, Ko Steve datang."

Ko Steve?

Belum sempat aku bertanya, seorang pria masuk dari pintu utama seperti badai yang memakai sneakers mahal.

Tinggi, kulit bersih, rambut sedikit berantakan dengan cara yang pasti sengaja, senyum lebar, dan energi yang langsung membuat ruang keluarga terasa kurang formal.

"Ci Kei?" Ia berhenti begitu melihatku, lalu matanya melebar. "Wah. Jadi rumor keluarga Liem benar-benar ngawur."

Aku berkedip.

"Saya Steven Koh." Ia mengulurkan tangan. "Teman Reynard. Orang paling sabar yang masih mau berteman dengan kulkas berjalan itu."

Aku hampir tertawa.

Kulkas berjalan.

Akhirnya ada orang lain yang melihatnya juga.

"Keira," kataku, menjabat tangannya. "Tapi sepertinya kamu sudah tahu."

"Semua orang sekarang tahu." Steven mencondongkan tubuh, berbisik dramatis. "Kemarin satu PIK bicara soal Nyonya Muda baru yang memecat orang lama sebelum genap tiga hari. Respect."

Aku tersenyum tipis. "Aku hanya membereskan dapur."

"Dapur keluarga Wijaya tidak pernah cuma dapur, Ci."

Kalimat itu membuat senyumku turun sedikit.

Sebelum aku sempat bertanya, pintu ruang kerja terbuka.

Reynard muncul.

Steven langsung berjalan ke arahnya. "Ko Rey!"

Lalu, tanpa takut mati, ia merangkul bahu Reynard.

Merangkul.

Bahu.

Reynard Wijaya, pria yang bahkan disentuh angin saja terlihat tersinggung, membiarkan Steven Koh merangkulnya.

Lebih parah lagi, Steven menepuk dada Reynard dua kali.

"Kau makin kurus. Aku bilang juga apa, jangan hidup cuma dari kopi hitam dan dendam keluarga."

Reynard hanya menatapnya datar. "Lepaskan."

"Kangen bilang kangen."

"Steve."

Nada itu dingin.

Tapi bukan dingin yang mengusir. Lebih seperti orang yang sudah terlalu terbiasa diganggu.

Aku duduk membeku.

Oh.

Oh.

Jadi begini.

Ko Rey dan Ko Steve.

Teman dekat. Terlalu dekat. Rangkul bahu, tepuk dada, saling mengomel seperti pasangan lama yang ribut soal tagihan listrik.

Si Kepo berkedip.

[Analisis ekspresi Host: curiga.]

Jangan mulai.

[Pertanyaan: apakah Host sedang mempertimbangkan kemungkinan target menyukai pria?]

Aku menatap panel itu dengan horor.

Jangan tulis keras-keras!

Reynard tiba-tiba batuk.

Bukan batuk sakit.

Batuk orang yang hampir tersedak sesuatu.

Steven menoleh. "Kau sakit?"

"Tidak."

Matanya melirik ke arahku. Cepat. Tajam. Lalu kembali dingin.

Aku langsung menunduk pura-pura membaca laporan belanja.

Tapi otakku sudah berlarian.

Masuk akal. Sangat masuk akal. Dia menikah karena keluarga. Dia tidak menyentuhku. Dia tidur di ruang kerja. Dia membiarkan Ko Steve merangkulnya. Ya Tuhan, Si Kepo, jangan-jangan targetku gay.

Reynard menutup mata sebentar.

Steven mengangkat alis. "Ko Rey, wajahmu kenapa?"

"Masuk ruang kerja," kata Reynard.

"Galak banget. Biasanya setelah menikah orang jadi lebih lembut."

"Steve."

"Iya, iya."

Steven berjalan lebih dulu, masih santai. Reynard berhenti sejenak di dekatku.

"Keira."

Aku mengangkat kepala terlalu cepat. "Ya?"

"Jangan percaya semua yang kau pikirkan."

Jantungku berhenti.

Apa maksudnya?

Ia sudah berbalik sebelum aku bisa bertanya.

Pintu ruang kerja tertutup.

Aku menatap pintu itu.

Dia tahu? Tidak mungkin. Itu cuma kalimat umum. Mungkin dia memang tipe orang yang hobi berbicara seperti dukun saham.

[Kemungkinan Host sedang denial: 87%.]

Diam, Kepo.

Aku tidak berniat menguping.

Sungguh.

Tapi ketika Si Kepo tiba-tiba menampilkan gelombang suara dari ruang kerja, aku merasa alam semesta jelas mendukung perilaku tidak sopan ini.

[Mode pendengaran pasif aktif.]

Suara Steven terdengar lebih rendah sekarang, tidak lagi bercanda.

"Ong Corporation mulai bergerak. Mereka beli dua supplier logistik kita lewat perusahaan cangkang di Singapura."

Ong Corporation.

Nama itu muncul di panel.

[Entitas: Ong Corporation.]

[Status: konglomerat Singapura. Riwayat konflik dagang dengan Wijaya Group.]

[Catatan: tingkat bahaya tinggi.]

Aku duduk lebih tegak.

Di dalam ruang kerja, Reynard bertanya, "Seberapa cepat?"

"Cepat sekali. Mereka tidak cuma incar kontrak. Mereka incar jalur distribusi. Kalau dibiarkan, Surabaya dan Makassar bisa kena."

"Siapa orang dalamnya?"

"Belum pasti." Steven berhenti sebentar. "Tapi ada nama yang muncul dari cabang Surabaya. Faisal."

Panel Si Kepo berkedip.

[Nama ditandai untuk investigasi mendatang.]

Jadi bukan cuma keluarga. Bisnisnya juga sedang digerogoti.

Aku memandang pintu ruang kerja dengan perasaan aneh. Reynard bukan sekadar pria dingin bertopeng yang harus kubuat jatuh cinta. Dia seseorang yang dikelilingi racun di rumah, musuh di keluarga, dan predator bisnis di luar.

Untuk pertama kalinya, tugas tiga tahun itu terasa kurang seperti misi konyol dan lebih seperti... mungkin aku memang harus membantunya bertahan.

Lalu Steven tertawa lagi di dalam.

"Ngomong-ngomong, istrimu lucu."

Reynard diam.

"Dia tadi menatap kita seperti baru menemukan skandal besar."

Aku membeku.

Reynard menjawab datar, "Jangan ganggu dia."

"Wah. Baru tiga hari sudah protektif."

"Steve."

"Iya, iya. Aku diam."

Tapi tentu saja dia tidak diam. "Cuma satu hal. Kalau dia sampai mengira kita pasangan, aku tidak tanggung jawab."

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Ketahuan.

Di dalam ruang kerja, ada bunyi cangkir diletakkan terlalu keras.

Reynard pasti mendengar suara batinku yang sedang berteriak.

Konfirmasi. Ko Rey dan Ko Steve terlalu manis. Kalau Reynard benar-benar gay, bagaimana misi ini selesai? Apa aku harus berubah jadi cowok dulu?

Pintu ruang kerja terbuka mendadak.

Reynard berdiri di ambang pintu, wajahnya tetap dingin.

Tapi sudut bibirnya jelas retak.

Steven muncul di belakangnya, bingung. "Kenapa?"

Reynard menatapku.

Aku menatap balik dengan wajah paling polos sedunia.

[Misi utama: buat target mencintaimu.]

[Status sementara: Host mulai salah paham secara kreatif.]

Reynard menarik napas pelan.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ekspresi pria itu hampir pecah total.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!