Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Seringai jahil nampak terlukis tipis diwajah tampan nan imut milik Sekertaris Ren, sepertinya dirinya sangat suka untuk menjahili bosnya sendiri.
Bahkan setelah mendengar percakapan itu David memberanikan diri untuk menatap Rose yang berada tepat di depannya sekarang.
Lihatlah betapa mengerikannya tatapan wanita dingin itu, seakan memiliki aura kepemimpinan saja mengalahkan David yang jelas-jelas seorang Pimpinan Perusahaan terkenal dan ternama.
"Ren, kau itu jangan mengada-ada, kapan aku pernah bilang tidak suka makan udang" David lantas langsung membawa piring yang berisikan udang tersebut ke dekat dirinya untuk memudahkannya memindahkan udang tersebut ke piring makan dirinya.
"Tidak usah dimakan jika tidak suka, aku juga tidak memaksa dirimu" ucap Rose sambil memasukkan suapan nasi kedalam mulutnya.
"Tidak, mana mungkin. Aku sangat suka udang, Ren saja yang tidak mengingat makanan kesukaan ku" sahut David cepat dan langsung saja memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya.
"Kenapa juga aku harus mengatakan aku menyukai makanan seperti ini, ah sudahlah lebih baik aku makan saja"
David memejamkan matanya ketika mengunyah udang tersebut namun setelah beberapa saat mata itu membuka lebar dan mencerna rasa makanan tersebut.
Enak sekali. Mungkin itu yang terpikir didalam kepala David. Bahkan tanpa malu-malu David dengan lahap memakan makanan tersebut tanpa memperdulikan orang sekitarnya lagi.
"Sepertinya anda sudah menemukan makanan yang sesuai dengan lidah anda selain masakan ibu anda Pak David".
Sekertaris Ren tersenyum samar melihat bosnya itu makan dengan lahap tidak terkecuali Rose yang juga sesekali melirik kearah depannya dimana David memakan masakannya dengan lahap.
Setelah selesai makan siang yang penuh drama tadi, kini semua orang menuju ruang keluarga untuk sekedar saling berbincang. Para pria tampan sudah lebih dulu meninggalkan meja makan karena para wanita menyuruh mereka untuk tidak membantu dalam membereskan sisa makan siang tadi.
Padahal David sudah menjadi orang pertama yang menyodorkan diri untuk menolong atau bisa dibilang sekalian modus.
Namun Rose dan Jessica bersikukuh untuk tidak mau dibantu karena tentu saja hal itu hanya akan memperlambat kerja mereka dikarenakan sudah pasti David tidak bisa apa-apa.
Sementara di ruang keluarga David, Sekertaris Ren dan Alex nampak berbincang serius setelah percakapan mereka tadi sempat terputus karena kedatangan Rose yang tiba-tiba saja mengagetkan mereka.
"Jadi bagaimana, apakah sudah kau suruh anak buah mu untuk melacak siapa penguntit itu??" tanya David kepada Alex.
"Menurut saya kita jangan terlalu gegabah dahulu Pak, kita lihat saja sampai dimana penguntit itu melaksanakan aksinya selama itu tidak membahayakan Nona Rose"
Sekertaris Ren menyela pembicaraan antara David dan Alex sekaligus memberi saran untuk langkah selanjutnya.
"Tapi kita tidak bisa diam begitu saja Ren" David masih tidak tenang setelah membaca surat yang baru saja mereka temukan di depan rumah tadi.
"Tapi Pak kalau kita gegabah dan membuat rencana yang salah hanya akan membuat situasi sekitar tambah panik terutama untuk Nona Rose dan Nona Jessica" Sekertaris Ren kembali memberikan sebuah saran dan bujukan kepada David agar lebih tenang dalam melewati hal ini.
"Saya tau Pak anda sangat khawatir dengan keselamatan Nona Rose"
"Saya rasa yang diucapkan oleh Sekertaris Ren ada benarnya Tuan, karena hal seperti ini tidak dapat kita anggap remeh. Terlebih lagi ini menyangkut keselamatan seseorang" Alex ikut mendukung apa yang sejak tadi diutarakan oleh Sekertaris Ren.
David menghela nafasnya, sesuatu yang sangat berat seperti sedang menimpa kepalanya.
"Baiklah aku akan mengikuti saran kalian berdua dan aku harap kalian dapat menemukan pelakunya secepat mungkin" tegas David.
Sekertaris Ren dan Alex dengan segera menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti akan perintah atasannya tadi.
Sunyi senyap menghampiri ketiga pria tampan itu hingga sebuah suara membuat mengalihkan suasana tadi.
"Makanan penutupnya sudah siap" ucap Jessica dengan membawa sebuah mangkuk besar yang berisi salad buah dengan diikuti Rose dibelakangnya.
Siang-siang panas seperti ini memang paling pada makan salad buah untuk mencairkan suasana. Dingin, segar, rasa manis asamnya sangat dapat membuat seseorang menghilangkan badmood nya.
"Wah sepertinya kelihatan enak sekali" sahut Alex begitu salad tersebut sudah ada diatas meja yang berada didepan mereka.
"Ini" Rose memberikan kepada mereka masing-masing satu sendok yang akan digunakan untuk menikmati salad buah tersebut.
David menautkan alisnya dan merasa heran mengapa mereka diberi masing-masing satu buah sendok, lalu mana tempat lainnya.
Ketika Alex sudah hendak menyendok salad buah tersebut, aksinya itu lantas dengan segera dihentikan oleh David.
"Tunggu dulu, apa maksudnya kau hanya memberi kami masing-masing sendok saja" tanya David.
Semua mata memandang kearah dirinya. Mereka yang bodoh atau David yang aneh.
"Memangnya kenapa, ada yang salah??" tanya Rose balik.
Lagi-lagi tatapan perempuan itu kembali tajam dan menakutkan.
"Tentu saja, bagaimana mungkin kau hanya memberiku sendok tanpa sebuah tempat kecil atau semacamnya" David juga tidak mau kalah, dirinya juga melayangkan tatapan tajam kearah Rose.
Hahahaha semua orang yang berada disana tertawa melihat aksi bodoh David.
"Hei kenapa kalian malah tertawa, tidak ada yang lucu disini" sahut David kesal.
"Kau itu kenapa, memang seperti itu cara kami ketika memakan salad buah dengan satu wadah dimakan bersama. Hal itu akan semakin membuat suasana menjadi lebih akrab" Rose menjelaskan kepada David dengan pandangan mata yang tidak lagi tajam seperti tadi.
David melongo, bagaimana bisa perempuan dan laki-laki makan bersama dalam satu tempat. Bukankah itu seperti berciuman secara tidak langsung atau bahkan lebih karena mereka berbagi air liur bersama.
David tidak dapat membayangkan hal tersebut.
"Tidak, tidak mungkin. Kita ini laki-laki dan perempuan bagaimana mungkin berbagi makanan yang sama apalagi dalam tempat yang sama secara terus-menerus. Tidak, aku tidak mau".
David melepaskan sendok yang sempat ia pegang sedari tadi diatas meja. Sementara yang lain hanya bisa menyaksikan perdebatan tersebut.
"Baiklah jika kamu tidak mau, kami saja yang memakannya" Rose kemudian menjadi orang pertama yang memakan salad buah tersebut sembari memperlihatkan kepada David jika salad buah itu sangat enak.
"Ayo kalian makan juga, ini sangat enak apalagi dalam cuaca panas seperti ini" Rose lagi-lagi membuat David meneguk air liurnya sepertinya dirinya juga ingin mencicipi salad buah tersebut.
Kemudian yang lain pun ikut memakan salad buah tersebut sesuai perintah dari Rose.
"Wah benar apa yang dikatakan Nona Rose tadi, salad buah ini sangat enak". Alex menjadi orang pertama yang berkomentar setelah salad buah yang sudah ia masukkan ke dalam mulutnya terlebih dahulu.
Sekertaris Ren juga mengiyakan atas komentar dari Alex tersebut karena memang benar salad buah ini sangat enak tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi salah satu orang yang berada disekitar mereka saat ini.
...****************...
Nelan air liur aja dah si bang David, lagian songong banget mau makan salad buah aja ribet banget dah 😭
tp itu siapa yg kirim surat nya?