Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Tidak ada awan mendung hari ini, tidak ada gemuruh petir dan guntur yang saling besaut-sautan tak ada hujan lebat yang dinginnya menembus ke tulang.
Malam ini Langit terbentang luas layaknya kanvas hitam raksasa yang di taburi ribuan bintang-bintang yang gemerlap.
Di ruangan luas nan mewah dengan dekorasi dominasi gelap itu seorang pria tengah melakukan one arm push-up.
Dengan satu telapak tangan menumpu kokoh di atas lantai marmer, tubuhnya turun dan naik dalam ritme yang teratur.
Otot-otot Bicepnya menegang jelas,butir-butir peluh berlomba-lomba menerobos keluar melalui Pori-porinya yang mulai basah.
Sementara tangan satunya diletakkan santai di belakang punggung.
Punggungnya yang telanjang dipenuhi garis-garis otot yang bergerak tegas mengikuti setiap tarikan napas. Setetes peluh meluncur dari tengkuk, menyusuri tulang belakang sebelum jatuh membasahi lantai.
Tidak ada ekspresi kepayahan. Seolah seratus kali push-up dengan satu tangan hanyalah rutinitas yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya.
Ia berhenti.
Pria itu bangkit dengan tenang, mengusap peluh di pelipis menggunakan handuk putih yang terlipat rapi di atas sofa.
Dadanya masih naik turun, tetapi sorot matanya tetap setenang permukaan danau.
Ia raih air mineral yang ada di atas meja lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa, setelah itu ia remukan botol itu lalu melemparnya sampai mendarat dengan sempurna pada tong sampah.
Ia raih bungkusan nikotin besertakan pematiknya.
Pria itu berjalan menuju balkon yang langsung memberinya pemandangan gemerlap lampu-lampu kota.
Pria itu memasukan kedua tanganya pada saku celananya,menatap pemandangan luar dengan lekat.
Ia tegadahkan kepalanya menatap ribuan bintang, ia membayangkan salah satu bintang yang paling terang yang ia lihat sekarang adalah gadisnya.
Udara malam itu menerpa tubuhnya dan menusuk kulitnya,dingin. Tapi segar.
Di hirupnya udara segar malam itu, lalu mengeluarkan sepucuk nikotin menghidupkannya lalu menyesapnya.
Ia sesap nikotin itu hingga sisa setengah.
di tatapnya lamat.
Pandanganya mengeras lalu berubah melunak.
Dulu ia adalah pecandu, susah untuknya lepas dari nikotin. Tapi semenjak gadis itu hadir dan selalu mengomel tentanga asap dari nikotinnya, ia mulai perlahan-lahan berhenti mengosumsi zat adiktif itu.
Menghela nafas berat, lalu menguyur rambutnya dengan tangan.
Sumpah demi apapun ia rindu.
Katakanlah dia pengecut...Memang benar.
Karena sampai saat dan detik ini dia belum berani menemui pujaaannya.
Berharap pada bungan dandelion.
Disepanjang waktu.
Berharap dan berdoa kepada tuhan.
Gadis itu akan menjadi miliknya.
Ia teringat pada beberapa tahun lalu.
Seseorang memberitahunya tentang harus berhati-hati ketika berhubungan dengan cinta, dan sudah ia lakukan.
Tapi mirisnya orang yang memberitahunya itu yang meninggalkan.
Mungkin gadis itu sudah melupakanya sedangkan dia di sini berusaha sekeras apapun tak bisa.
Dia kalah.
Dia di lupakan.
Ketahuilah dia sangat bahagia dulu saat bersama gadis itu.
Sekarang hatinya telah hancur, keping-keping kaca tak kasat mata seakan menancap dan berdarah, tapi tetap menyisihkan ruang untuk orang yang masih ia tunggu.
Ia teringat akan hal-hal kecil yang gadisnya itu lakukan.
Dan hal itu yang mengingatkannya mengapa ia jatuh cinta pada gadis itu.
Dan kini sekian lama mereka tidak bersama, dan dia merindukannya.
Ia pejamkan matanya dan yang ia lihat hanyalah bayangan bahagianya bersama gadis itu.
Pria itu merasa ia akan merindukan gadis itu selamanya.
Ia ingin lupa, tapi saat ia bertemu gadis itu tempo hari.
Gadis itu datang lagi merecoki hidupnya.
Membuatnya jatuh cinta lagi.
Teman-temanya menyuruhnya untuk menjauh, mengiklaskan.
Karena mungkin dia bukan miliknya lagi.
Tapi gadis itu miliknya.
Tak ada kata putus yang terucap dari mulut gadis itu maupun mulutnya.
Jadi hubungan mereka masih ada.
Gadis itu pergi, tanpa tahu perasaanya yang sebenarnya.
Rahasia yang ia simpan di dalam hatinya ternyata lebih sulit disembunyikan dari yang ia kira.
Dia merindukan gadis itu lebih sering dari yang orang-orang pikir.
Rindu sialan ini tak punya malu.
Datang di setiap waktu.
Dan sampai saat ini ia masih sendiri, ia membatasi diri, tidak membiarkan seorangpun wanita memasuki hidupnya dan mengenalnya seperti gadisnya.
Padahal dia ada di sekitaran gadis itu, tapi gadis itu tak mengenalinya, miris.
Secepat itu dia di lupakan.
Bahkan saat ia mencoba melepaskan, ia berada di fase tersulit.Yaitu rasa ingin tahu keadaanya.
Jika setelah perpisahan mereka tahun lalu gadis itu telah melupakanya.
Itu hal wajar.
apalagi setelah mengingat dosa-dosanya pada gadis itu.
Tapi berbeda dengannya, ia ingin mencintai gadis itu lebih lama bahkan setelah gadis itu tak bersamanya.
Ia tetap mencintainya dalam diam.
Mungkin jika mereka bertemu, gadis itu akan lari menolak berjumpa.
Tapi siapa yang perduli, akan ia kejar gadis itu bahkan ke manapun kaki gadis itu berpijak.
Bahkan jika pun gadis itu memiliki pasangan dia tak keberatan menjadi yang kedua.
Gila?.
Tentu saja, ia sudah terlampau cinta.
Siapa yang ia labelkan menjadi miliknya akan terus menjadi miliknya, dan akan ia dapatkan entah apapun rintangannya.
Malam-malamnya tak tenang.
Ia terus di hantui akan bayang-bayang gadis itu.
Doanya tak pernah berubah pada sang pemilik kehidupan.
Doanya sederhana.
Hanya berharap dia membersamai segala hal tentang gadis itu.
Orang-orang bilang sesuatu yang berlebihan itu tak baik, apa perdulinya?.
Karena dalam mencintai pujaannya ia tak mau setengah-setengah.
_______
For u🌷.
Jangan lupa, vote, like sama Coment.
Makasih banyak untuk yang udah mau baca ceritanya samapai sini.
See u next chapter.