Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Berkat efek parfum tersebut, setiap kata yang keluar dari mulut Budi terdengar seperti melodi yang memberikan rasa aman bagi Maya.
"Jadi selama ini Mbak Maya kerja keras demi masa depan adiknya di kampung."
"Mbak Maya benar benar perempuan yang sangat hebat dan tangguh."
Mata Maya sedikit berkaca kaca mendengar pujian tulus dari Budi.
"Terima kasih Mas Budi, jarang sekali ada orang yang mau mendengarkan keluh kesah saya seperti ini."
"Rasanya mengobrol dengan Mas Budi itu sangat nyaman, beban pikiran saya seperti hilang semua."
Budi tersenyum dan menyodorkan tisu bersih ke arah Maya.
"Mbak Maya bisa cerita apa saja pada saya kapan pun Mbak mau."
"Saya pasti akan selalu mendengarkan."
Kencan pertama itu berjalan jauh melampaui ekspektasi Budi.
Tidak ada kecanggungan yang berarti dan mereka berdua tertawa lepas membicarakan banyak hal lucu di pekerjaan masing masing.
Waktu berlalu tanpa terasa hingga jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Kedai mulai terlihat agak sepi karena gelombang pelanggan makan malam sudah mulai berkurang.
"Wah tidak terasa sudah hampir satu jam kita mengobrol Mas Budi."
Maya melihat layar ponselnya dan sedikit terkejut.
"Iya Mbak, waktu memang selalu terasa cepat kalau kita sedang menikmati suasana."
Budi memanggil pelayan untuk meminta tagihan makanan mereka.
"Semuanya jadi gratis Mas Budi, tadi Pak bos sudah berpesan kalau meja ini tidak perlu ditagih."
Pelayan itu menjawab dengan senyum sopan.
Budi menganggukkan kepalanya paham bahwa ini adalah hadiah ekstra dari Pak Mamat untuknya.
"Sampaikan ucapan terima kasih saya pada Pak Mamat ya mbak."
Budi dan Maya berjalan keluar dari kedai berdampingan dengan jarak yang cukup dekat.
Angin malam Jakarta langsung menerpa wajah mereka begitu keluar dari pintu kaca.
"Mbak Maya jalan kaki pulang ke kosannya."
"Iya Mas Budi, kosan saya letaknya ada di gang belakang minimarket kok jadi cukup dekat."
"Kalau begitu biar saya antar sampai depan gang kosan ya, bahaya perempuan jalan sendirian malam malam."
Maya tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya pelan mengiyakan tawaran tersebut.
Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar jalan raya dengan langkah santai.
Sesekali bahu mereka bersentuhan karena jalanan yang sedikit tidak rata.
Setiap kali bersentuhan, Maya selalu menundukkan kepalanya menyembunyikan senyum bahagianya.
Sesampainya di depan gang yang cukup terang, Maya menghentikan langkahnya.
"Kosan saya tinggal lurus sedikit lagi di dalam sana Mas Budi."
"Terima kasih banyak ya untuk traktiran makan malam dan obrolannya yang menyenangkan."
"Sama sama Mbak Maya, saya juga sangat senang bisa menghabiskan malam ini berdua."
Budi menatap kedua mata Maya dengan sangat lembut di bawah cahaya lampu jalan.
"Mas Budi hati hati pulangnya ya, besok kita ketemu lagi di minimarket kan."
Maya bertanya dengan nada penuh harap yang tidak bisa disembunyikannya lagi.
"Pasti Mbak, besok saya mampir beli minum seperti biasa sepulang kerja."
"Selamat malam dan selamat istirahat Mbak Maya."
"Selamat malam juga Mas Budi."
Maya membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam gang kosannya.
Dia sempat menoleh sekali ke belakang dan melambaikan tangannya sebelum benar benar hilang di balik tikungan.
Budi membalas lambaian itu dengan senyuman yang sangat lebar dan memuaskan.
Kencan pertamanya sukses besar dan dia bisa merasakan ikatan perasaannya dengan Maya semakin kuat.
Langkah Budi terasa seringan kapas saat dia berjalan pulang menuju kamar kosnya sendiri.
Sesampainya di kamar, Budi melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
Waktu untuk putaran dadu malam harinya sudah lewat sedikit namun sistem tetap akan memberikanya.
Budi langsung duduk bersila di atas karpet tipisnya dan memanggil sistem.
Ting.
Layar hologram biru bercahaya terang langsung membelah kegelapan kamar.
Papan Monopoli futuristik itu kembali menampilkan avatar chibi Budi yang sedang menunggu perintah.
Kotak dialog harian langsung muncul membawa pesan rutinitas.
Pengguna mendapatkan satu kali lemparan dadu gratis hari ini.
Silakan sentuh dadu virtual untuk mulai mengundi takdir anda.
Dua buah dadu virtual putih salju melayang layang di udara dengan anggun.
Budi melihat Saldo Sistemnya yang masih kokoh di angka empat juta dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.
Malam ini hatinya sedang sangat bahagia jadi dia tidak terlalu menuntut hal yang muluk muluk dari lemparan ini.
"Sistem, berikan aku apa saja yang sekiranya bisa membantu masa depanku."
Budi menggenggam dadu itu dan melemparkannya ke atas papan dengan sangat santai.
Klak klak klak.
Dadu itu memantul di atas papan hologram dengan efek cahaya biru yang indah.
Dadu pertama berhenti dan menunjukkan angka empat.
Dadu kedua berguling lebih lama dan akhirnya berhenti di angka tiga.
"Tujuh langkah, angka favorit sejuta umat."
Avatar Budi melompat lincah dari petak merah muda sebelumnya dan mulai berjalan.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.
Karakter kecil itu mendarat di sebuah petak berwarna hijau zamrud yang sangat familiar bagi Budi.
Di tengah petak itu terdapat gambar sebuah keranjang baju dan mesin cuci.
Tulisan di bawahnya berbunyi Petak Properti Binatu Wangi Sekali.
Mata Budi langsung melebar melihat gambar tersebut.
Sebuah kotak notifikasi emas muncul menutupi sebagian layar sistem.
Selamat, pengguna kembali menginjak Petak Properti.
Sistem telah mengakuisisi lima persen kepemilikan saham dari usaha kecil Binatu Wangi Sekali.
Pengguna kini berhak menerima keuntungan pasif dari setiap pakaian yang dicuci di dunia nyata.
Budi langsung berteriak kegirangan dan mengepalkan tangannya kuat kuat.
"Luar biasa, aku dapat properti ketigaku hari ini."
Budi sangat mengenal tempat binatu tersebut karena lokasinya tepat berada di gang depan kosannya.
Binatu Wangi Sekali adalah tempat di mana seluruh mahasiswa dan karyawan kosan mencucikan bajunya setiap hari.
Usaha itu mungkin tidak seramai kedai kopi atau kedai nasi goreng viral.
Tapi putaran uangnya sangat konsisten karena mencuci baju adalah kebutuhan pokok anak kos setiap minggu.
Ting.
Layar notifikasi baru muncul memberikan estimasi pendapatan dari properti barunya itu.
Estimasi keuntungan pasif dari Binatu Wangi Sekali adalah sekitar delapan puluh ribu rupiah setiap harinya.
Keuntungan akan langsung ditambahkan ke dalam Saldo Sistem pada waktu perhitungan pagi hari.
"Delapan puluh ribu sehari kalau dikalikan tiga puluh hari berarti dua juta empat ratus ribu."
"Ini sudah seperti punya gaji kantoran kedua tanpa perlu berangkat kerja."
Budi tertawa sangat puas memandangi layar hologram di depannya.
Tiga properti pasif kini telah masuk ke dalam kantong kekayaannya dalam waktu kurang dari sebulan.
Jaring kekayaannya semakin luas dan fondasi keuangannya semakin kokoh tak tergoyahkan.
Budi mematikan layar sistemnya dengan perasaan yang sangat damai.
Malam ini adalah malam yang paling sempurna sejak sistem ajaib itu hadir mengubah seluruh hidupnya.
Dan besok pagi perang sesungguhnya di kantor dengan Pak Anton akan resmi dimulai.