Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2: JEJAK KEGELAPAN DI TIMUR Bab 6: Nada yang Berlawanan
Permukaan batu di pangkal menara kanan terasa panas menyengat, seolah-olah di balik dinding itu ada api raksasa yang terus berkobar tanpa henti. Ukiran-ukiran kuno yang melingkar di sini bersinar dengan warna ungu pekat, berdenyut berirama seolah memiliki detak jantung sendiri. Setiap kali ia berdenyut, getaran itu menjalar ke seluruh tanah di sekitarnya, menghubungkan menara ini dengan pasangannya di seberang sana. Rey berdiri tepat di tengah pola itu, napasnya teratur meski tubuhnya terus ditekan oleh arus energi yang tidak ramah.
“Kau tidak bisa sekadar masuk dan mengubah apa yang sudah terikat begitu lama!” suara Voren terdengar samar namun penuh ancaman dari kejauhan. Ia masih berusaha melepaskan diri dari tekanan Sylfia dan kawan-kawan, namun perhatian utamanya kini tertuju pada Rey. “Ikatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun! Ia sudah menjadi bagian dari struktur tempat ini sendiri!”
Rey tidak menoleh, fokusnya sepenuhnya tertuju pada aliran energi yang berputar kencang di depannya. “Ikatan bisa terbentuk karena ada kesamaan nada. Dan jika ada nada yang berbeda cukup kuat… harmoni itu bisa berubah menjadi kekacauan.”
Ia perlahan mengangkat kedua tangannya, menjaga jarak aman namun cukup dekat untuk merasakan detail dari setiap garis ukiran itu. Di dalam dirinya, kelima elemen bergerak menyatu—bukan saling bertabrakan, melainkan berputar beriringan menciptakan melodi yang khas, melodi kuno yang seharusnya menjadi dasar keseimbangan tempat ini.
Saat ia mulai menyalurkan energi itu perlahan ke permukaan batu, terjadilah perubahan seketika. Di titik sentuhan itu, cahaya keemasan Rey bertabrakan dengan cahaya ungu menara. Bukannya langsung hancur atau bertahan, keduanya justru saling menolak dengan keras, menciptakan gelombang kejut yang menyebar ke segala arah hingga membuat debu-debu batu beterbangan. Ukiran itu berkedip-kedip cepat, seolah bingung menerima sinyal asing yang memiliki kekuatan sebanding namun sifatnya berlawanan.
“Lihat itu! Dia benar-benar mengacaukan ritmenya!” seru Kaelix yang mulai panik. Ia menambah kekuatan serangan ke arah Valerius, berusaha sekuat tenaga untuk memutus hadangan itu. Pedang hitamnya kini menyala lebih terang, setiap tebasannya membawa gelombang yang lebih lebar dan lebih tajam. “Minggirlah dari jalanku, manusia!”
Valerius tidak mundur selangkah pun. Keringat mulai membasahi pelipisnya, namun tatapannya tetap tenang dan tajam. “Selama aku masih berdiri… kau tidak akan melewati sini.” Di sampingnya, Kaelan dan Rina sesekali membantu dengan serangan pendukung, memastikan Kaelix tidak bisa mencari celah ke samping.
Sementara itu, Voren yang merasa kendalinya makin berkurang, mengubah strategi lagi. Ia berhenti mencoba menyerang Sylfia dan yang lainnya, malah memusatkan seluruh tenaga sihirnya ke arah menara itu. Tongkatnya bergetar hebat, dan kilatan ungu menyambar ke arah Rey—bukan serangan fisik, melainkan gelombang energi yang berusaha membalikkan pengaruh yang sedang Rey tanamkan.
“Kau tidak bisa mengubah apa yang sudah kucetak!” teriak Voren.
Rey terhuyung sedikit saat benturan itu terjadi. Tubuhnya terasa seperti dihantam benda berat, namun ia tidak melepaskan hubungannya dengan batu. Ia menyadari bahwa pertarungan ini bukan soal siapa yang lebih kuat menekan, tapi soal siapa yang lebih paham cara kerja aliran ini. Energi gelap Voren berusaha memaksakan pola lama, sementara ia hanya berusaha mengembalikan ingatan asli batu itu.
“Batu ini bukan milikmu selamanya,” bisik Rey sambil memaksakan dirinya tetap berdiri tegak. Ia memanggil elemen tanah lebih dalam lagi, menyatukan kesadarannya dengan inti bebatuan itu. “Dengarkan lagi… apa yang sebenarnya kau ingat?”
Di saat yang sama, Sylfia melihat kesempatan baru. Selama Voren membagi tenaganya ke dua arah, pertahanannya di sisi lain menjadi lebih lemah. “Kaelan, Rina! Kita serang pusat sihirnya sekarang!”
Mereka bertiga bergerak serentak. Sylfia meluncurkan panah yang tidak lagi terbuat sekadar energi, tapi juga diselimuti angin yang membelah udara. Kaelan berlari lurus ke depan, membiarkan perisainya berfungsi sebagai pelindung sekaligus pendorong, sementara Rina melemparkan bola api yang meledak di udara sebelum menyebar menjadi hujan percikan panas.
Voren terkejut karena serangan itu datang lebih cepat dari perhitungannya. Ia terpaksa menarik kembali sebagian tenaga yang dikirim ke menara untuk membentuk perisai tambahan di depannya. Gerakan itu, meski kecil, cukup membuat tekanan terhadap Rey berkurang seketika.
Inilah momen yang ditunggu Rey.
Dengan napas yang sedikit memburu namun tekad yang semakin bulat, ia menggabungkan elemen air dan cahaya di ujung jari-jarinya. Gabungan ini menghasilkan energi yang sangat halus namun sangat menembus—sesuatu yang bisa masuk ke celah-celah kecil di antara ikatan energi yang kaku. Ia menyalurkan energi itu langsung ke dalam garis utama ukiran di depannya.
“Sekarang… berubah!”
Cahaya keemasan meledak keluar dari titik sentuhan itu, menyebar dengan cepat mengikuti alur ukiran yang melingkar. Warnanya perlahan berubah dari ungu menjadi perak, lalu menjadi keemasan yang hangat. Getaran menara yang tadinya tidak beraturan kini mulai melambat, lalu menjadi tenang dan stabil. Ikatan yang menghubungkan menara ini dengan menara kembarnya di seberang sana terasa menipis, seutas tali yang baru saja terpotong sebagian.
Efeknya langsung terasa di seluruh halaman. Aura yang melingkupi Voren dan Kaelix tiba-tiba meredup, kekuatan mereka terasa berkurang drastis seketika. Kaelix yang sedang mengayunkan pedang hampir kehilangan keseimbangan karena tumpukan tenaga yang tiba-tiba hilang. Voren tersentak hebat, seolah ada bagian dari dirinya yang ikut terluka.
“Apa yang telah kau lakukan…?” desis Voren, matanya membelalak tak percaya. “Bagaimana mungkin… kau bisa memutus ikatan itu?”
“Karena aku tidak memaksanya,” jawab Rey pelan namun jelas, sambil perlahan melangkah mundur menjauh dari pangkal menara. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, tapi ia tahu ia belum selesai sepenuhnya. “Aku hanya mengingatkannya pada apa yang seharusnya ia miliki.”
Namun kemenangan itu belum sempat terasa sepenuhnya. Tepat saat ikatan itu terganggu, tanah di tengah halaman—di antara kedua menara—mulai bergetar jauh lebih hebat daripada sebelumnya. Retakan besar terbentuk, memanjang ke segala arah, dan dari celah itu naiklah asap hitam yang lebih pekat dari apa pun yang mereka lihat sejauh ini. Suara tawa yang berbeda, lebih berat dan lebih dalam, bergema mengisi seluruh ruang terbuka itu.
“Bagus… sangat bagus. Kau benar-benar berhasil membuatku tertarik, anak muda.”
Semua orang menoleh serentak ke arah sumber suara itu. Dari dalam retakan tanah itu, perlahan muncul sosok yang jauh lebih besar dan lebih mengintimidasi daripada Voren maupun Kaelix. Tubuhnya menjulang tinggi, diselimuti zirah gelap yang berukir pola tulang, dengan wajah yang tertutup topeng berparuh panjang. Di punggungnya tergantung sepasang sayap yang terbuat dari kabut padat.
Voren dan Kaelix langsung menundukkan kepala dalam sikap hormat yang tak terelakkan. “Tuan kami…”
Sosok itu tidak menatap mereka, melainkan matanya yang terlihat melalui celah topeng tertuju lurus pada Rey. “Kau yang memulihkan satu pilar sebelumnya… dan sekarang kau berani mengacaukan yang di sini. Kau benar-benar benih masalah yang menarik.”
Valerius segera mengumpulkan kembali timnya, mundur perlahan mendekati Rey dan Sylfia. Daren dan Lyra yang sempat terpisah juga segera bergabung, meski napas mereka masih belum stabil. Situasi yang tadinya berubah menjadi keuntungan kecil kini berbalik lagi—mereka baru saja memanggil keluar sang pemilik tempat ini.
“Jadi inilah yang sebenarnya mengatur segalanya,” gumam Sylfia sambil memegang busurnya lebih erat.
Rey menatap sosok baru itu, merasakan tekanan energi yang jauh lebih besar dan lebih tua dari apa pun yang ia hadapi. Di dalam hatinya, ia tahu satu hal pasti: pertarungan melawan Penjaga Ganda hanyalah ujian kecil. Dan ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai.