Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Terakhir di Puncak Menara
Hanya ada satu nama yang terlintas di benaknya: Ibu Kalinda. Mantan istri Hisoka. Wanita yang sama-sama membenci Hisoka, dan yang pernah menjadi sekutunya dalam menjatuhkan Ardika. Indri tahu, Kalinda adalah seorang yang ambisius dan haus kekuasaan, tetapi mereka memiliki musuh yang sama.
Indri mengirimkan pesan rahasia kepada Kalinda, meminta pertemuan darurat. Ia menggunakan saluran komunikasi yang terenkripsi, warisan dari Hisoka yang ia pelajari. Kalinda membalas dengan cepat, menyetujui pertemuan di sebuah gudang tua milik keluarga Adicambra yang sudah tidak terpakai, di daerah pelabuhan. Tempat yang ironis, pikir Indri, namun juga strategis.
Beberapa hari kemudian, Indri tiba di gudang itu di tengah malam. Udara asin dari laut bercampur dengan bau karat dan debu. Cahaya bulan purnama menembus atap yang bolong, menciptakan bayangan-bayangan aneh di antara tumpukan peti kemas usang. Indri berjalan dengan hati-hati, pisau kecilnya berada di genggaman, siap sedia.
Kalinda sudah menunggunya, berdiri di tengah ruangan, mengenakan mantel bulu mahal yang kontras dengan suasana kumuh di sekitarnya. Di sampingnya, berdiri dua pengawal kekar yang selalu menyertainya. Wajah Kalinda tampak tegang, namun matanya memancarkan kegelisahan yang aneh, yang membuat Indri curiga.
"Nona Izanami," sapa Kalinda, suaranya terdengar terlalu ramah. "Aku tidak menyangka kau akan kembali kepadaku. Setelah semua kekacauan yang kau buat."
Indri tidak terpancing. "Aku datang karena Ren. Dia memburuku. Dan kupikir, dia juga akan memburumu. Dia ingin mengambil alih semuanya, termasuk warisan Hisoka yang seharusnya jadi milikmu." Indri menatap Kalinda lekat, mencari kebenaran di balik topeng ramah itu. "Kita punya musuh yang sama, Kalinda. Aku punya lebih banyak bukti tentang sindikat ini, yang mengarah langsung ke Ren. Kita bisa bekerja sama untuk menjatuhkannya."
Kalinda tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tentu saja. Ren memang tikus licik. Dia pantas mati." Dia melangkah mendekat, perlahan. "Tapi aku ingin tahu lebih banyak, Indri. Bukti apa lagi yang kau punya? Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?"
"Aku tidak bisa mempercayai siapa pun," jawab Indri, suaranya tetap datar. "Termasuk dirimu."
"Ah, itu sangat bijak," Kalinda terkekeh, namun tawa itu terdengar serak, tidak alami. Ia kini berdiri tepat di depan Indri, tatapannya menembus. "Tapi kau harusnya lebih bijak lagi, Indri."
Tiba-tiba, pengawal Kalinda bergerak cepat. Satu pria menahan tangan Indri di belakang, sementara pria lainnya menodongkan pistol ke pelipis Indri. Indri terkesiap. Pengkhianatan. Darahnya mendidih.
Kalinda tersenyum lebar, senyum yang kini sepenuhnya menampilkan sisi kejamnya. "Ren tidak akan memburuku, Nona Izanami. Karena aku adalah bagian dari permainannya."
Dunia Indri terasa runtuh. Bagian dari permainannya? Rasa dikhianati yang pahit memenuhi hatinya. Kalinda. Sekutunya. Rupanya dia adalah bagian dari sindikat itu sejak awal.
"Kau..." Indri mendesis, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pengawal.
"Aku selalu tahu siapa dirimu, Indri," Kalinda berkata, suaranya penuh kepuasan. "Wanita bodoh yang berpikir bisa mengendalikan semua orang. Tapi kau lupa satu hal. Di Jakarta ini, permainan sudah diatur sejak lama. Hisoka hanyalah salah satu pionku, sama sepertimu."
Pionnya?Indri tidak bisa bernapas. Semua yang ia lakukan, setiap langkah, setiap pertarungan, semuanya hanya untuk melayani agenda yang lebih besar, agenda yang diatur oleh Kalinda dan Ren.
"Ren adalah otak di balik sindikat ini," Kalinda melanjutkan, "dan aku adalah tangan kanannya. Hisoka? Dia memang harus mati. Terlalu banyak mencampuri urusanku. Ardika? Dia berguna, sampai Ren memutuskan bahwa dia terlalu berisik. Dan sekarang, kau, Indri. Kau terlalu banyak tahu."
"Kau akan membunuhku?" tanya Indri, suaranya nyaris seperti bisikan, berusaha mengulur waktu.
"Tentu saja," Kalinda menyeringai. "Tapi tidak semudah itu. Ren ingin kau menderita. Perlahan-lahan. Dan aku akan pastikan itu terjadi."
Pengawal itu mengikat tangan Indri dengan erat, menyeretnya ke belakang salah satu peti kemas. Indri berjuang, mencoba menendang, menggigit, apa pun. Namun, mereka terlalu kuat. Luka di bahunya kembali terasa nyeri.
"Aku akan memberimu hadiah terakhir," kata Kalinda, mendekat. Tangannya yang dingin meraih wajah Indri. "Sebelum kau pergi ke neraka, aku akan memberitahumu satu hal lagi. Ayahmu... dia sangat bodoh. Dia pikir dia bisa melarikan diri dari Ren. Dia pikir dia bisa membongkar kami. Tapi kami selalu satu langkah di depannya. Aku... aku bahkan yang memasukkan racun ke minuman ibumu."
Darah Indri membeku. Mata Indri membelalak. Ibu? Racun? Kepalanya berdengung. Ini bukan hanya sabotase mobil. Ini adalah pembunuhan terencana yang lebih kejam, lebih pribadi. Kalinda. Wanita ini.
"Kau akan membayar ini, Kalinda!" teriak Indri, amarah murni meledak dalam dirinya, mengalahkan rasa sakit dan ketakutan.
Kalinda hanya tertawa. "Tidak, Indri. Kau yang akan membayar." Ia memberi isyarat kepada pengawalnya. "Bawa dia. Dan pastikan tidak ada jejak yang tertinggal."
Indri tahu ini adalah akhirnya jika ia tidak bertindak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menghentakkan kakinya ke tanah, menarik pengawal yang memegang pistol ke arahnya, lalu membenturkan kepalanya ke sisi peti kemas. Pistol itu terlepas dari genggamannya. Indri berguling, meraih pistol itu dengan cepat.
"Berhenti!" teriak Kalinda, wajahnya berubah panik.
Indri tidak berhenti. Ia membidik ke arah Kalinda, namun mengarahkan tembakan ke tangki minyak di belakang pengawal. Sebuah ledakan kecil memecah kesunyian gudang. Api menjilat, asap hitam mulai mengepul. Alarm kebakaran meraung keras.
Kekacauan pecah. Pengawal Kalinda panik, berlari ke sana kemari. Indri menggunakan kesempatan itu. Ia berlari keluar dari gudang yang kini dipenuhi api dan asap, meninggalkan Kalinda yang berteriak-teriak di antara pengawalnya.
Sirene polisi mulai meraung di kejauhan. Ledakan kecil itu pasti menarik perhatian. Indri berlari tanpa henti, meninggalkan gudang itu di belakangnya, merasakan bahunya berdenyut, namun hati kecilnya berteriak kemenangan. Aku lolos.
Beberapa menit kemudian, ia melihat di kejauhan, lampu strobo polisi menyinari gudang yang terbakar. Mobil polisi dan pemadam kebakaran berdatangan. Indri bersembunyi di balik semak-semak, menyaksikan. Ia melihat polisi membawa beberapa orang keluar dari gudang itu, tangan mereka diborgol. Salah satunya adalah Kalinda, wajahnya hitam jelaga, gaun bulunya robek, tatapannya menyiratkan kemarahan dan kekalahan. Dia tertangkap.
Indri menghela napas, sebuah beban terangkat dari pundaknya. Namun, ia tahu, ini belum selesai. Ren masih buron. Dia masih di luar sana, merencanakan penderitaannya.
Ia menatap langit malam Jakarta yang diwarnai asap merah dari gudang yang terbakar. Aku harus menghadapinya. Ia tidak bisa lari lagi. Ia harus mengakhiri ini. Sendirian. Tekad itu mengalir dalam darahnya, membakar habis sisa-sisa ketakutan. Ren, dalang di balik semua penderitaan ini, harus jatuh. Dan tempat yang paling pantas untuk kehancurannya adalah tempat di mana semua bermula: Adicambra Tower.
Dengan hati-hati, Indri menyusun rencana. Ia menggunakan saluran komunikasi terenkripsi lama Hisoka, mengirimkan sebuah pesan kepada Ren. Isinya sederhana, namun mematikan: "Aku punya data terakhir. Yang bisa menghancurkan sisa-sisa sindikatmu. Temui aku di ruang kerja Hisoka, Adicambra Tower. Tengah malam. Sendirian. Atau semua akan terbongkar." Indri tahu, Ren adalah pria yang haus kekuasaan dan akan melakukan apa saja untuk melindungi kerajaannya. Data itu adalah umpan yang sempurna.
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.