NovelToon NovelToon
Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Saat Aku Melupakan 10 Tahun Mencintai Kalian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dokter / Ibu Tiri
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.

Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.

Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.

Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.

Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Dua hari berlalu begitu saja. Sejak kejadian di rumah sakit, Rani pulang ketika malam sudah larut. Ia sibuk menghabiskan waktu bersama Haikal di rumah Rico. Begitu pula Roy dan ketiga anaknya yang lebih banyak berada di rumah sakit untuk menjaga Sintia.

Namun, rencana Aksan, Arlan, dan Arjun untuk membalas Rani tidak pernah surut. Apalagi sekarang mereka telah menemukan orang yang bersedia memberi pelajaran kepada wanita itu.

Setidaknya, mereka menyewa lima orang pria untuk menjalankan rencana tersebut.

"Apa itu target kita?" tanya salah satu pria bertubuh besar dengan tato memenuhi lengan hingga bahunya.

Saat itu mereka sedang memperhatikan Rani yang baru saja keluar dari sebuah supermarket.

"Iya," jawab Arlan sambil menatap ke arah Rani. "Bikin kakinya patah atau setidaknya tubuhnya penuh memar."

Arjun yang sejak tadi berdiri di samping kakak-kakaknya mulai merasa gelisah. Semakin dekat rencana itu dijalankan, semakin besar pula rasa takut yang muncul di dalam dirinya.

"Kak, ini sudah termasuk tindakan kriminal," ucapnya pelan. "Kita urungkan saja."

Arlan langsung menoleh dengan kesal. "Takut?"

"Bukan begitu, tapi kalau sampai ketahuan—"

"Kalau takut, pulang saja."

Belum sempat Arjun membalas, seorang pria berambut gondrong yang berdiri tak jauh dari mereka mendengus sinis.

"Hah, ternyata ada juga yang pengecut."

Beberapa pria lainnya ikut tertawa pelan.

Wajah Arjun memerah. Ia mengepalkan tangannya, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sementara itu, di kejauhan, Rani sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata sedang mengawasinya.

"Kalian lakukan saja. Uangnya akan kami transfer setelah semuanya beres," ujar Aksan.

Pria bertato itu mengangguk sambil menyeringai. "Tenang, Bos."

Mendengar jawaban itu, Aksan, Arlan, dan Arjun akhirnya meninggalkan tempat tersebut.

Di sepanjang perjalanan, tiga pria itu tampak tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Di benaknya sudah terbayang Rani yang terbaring di rumah sakit dengan tubuh penuh luka. Saat itu, mereka yakin wanita itu akan kembali membutuhkan mereka.

Mungkin Rani akan menangis atau mungkin saja Rani akan memohon agar mereka menemaninya. Dan saat itulah mereka berencana mengajukan syarat. Haikal harus kembali ke rumah sakit jiwa. Dengan begitu, semuanya akan kembali seperti semula. Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.

"Bukankah ini bagus, kita bisa membalas perbuatan Mama pada Tante Sintia dan juga mengembalikan keadaan," ujar Aksan yang langsung diberikan jempol oleh adik-adiknya.

***

Di sisi lain, Rani baru saja menyeberangi jalan kecil menuju area parkir sambil menenteng kantong belanjaannya.

Langkahnya terhenti begitu saja. Beberapa meter di depannya, lima orang pria berdiri menghalangi jalan. Gerak mereka tidak terburu-buru, tapi cukup untuk membuat suasana di sekitar terasa berbeda.

Rani menatap mereka satu per satu. Lalu ia menghela napas pelan, seperti sedang menilai sesuatu yang tidak penting.

"Siapa kalian, dan mau apa?" Suaranya datar hampir tanpa emosi, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

Pria bertato di paling depan menyeringai, melangkah sedikit maju. "Nggak usah banyak tanya, Bu. Serahin barang-barang lo, terus ikut kami."

Rani menunduk sekilas ke kantong belanja di tangannya, lalu kembali mengangkat wajahnya.

"Kalau hanya mau merampas, cari orang lain. Saya tidak punya waktu."

Tanpa menunggu jawaban, Rani melangkah ke samping, berusaha melewati mereka. Namun baru satu langkah, salah satu pria bergerak cepat dan kembali menghalangi jalannya. Yang lain ikut menyebar, perlahan menutup ruang di sekelilingnya hingga jarak di antara mereka terasa semakin sempit.

Rani mengangkat pandangannya, menatap satu per satu wajah di depannya sebelum tersenyum tipis.

"Jadi kalian mau bermain keroyokan dengan ibu-ibu tua seperti saya?"

Pria di depan mendengus pelan, lalu menjawab tanpa ragu, "Apa boleh buat. Kami sudah minta baik-baik, tapi lo yang mengabaikan."

Rani tidak langsung menjawab. Matanya kembali mengamati kelima pria itu dengan tenang. Dari penampilan mereka, jelas bukan tipe orang yang sekadar mengincar barang receh seperti kantong belanja di tangannya. Ada yang tidak beres. Ini bukan perampokan biasa.

Pikirannya langsung menangkap satu kemungkinan, mereka dikirim seseorang. Ia menarik napas pelan, lalu bertanya, "Siapa yang menyuruh kalian?"

Kelima pria itu justru tertawa. Salah satu dari mereka menggeleng sambil menyeringai.

"Cukup pintar," katanya. "Tapi itu nggak penting. Tugas kami cuma satu, bikin salah satu kakimu patah."

Rani mengerjap pelan, lalu mengangguk kecil seolah baru memahami sesuatu.

"Begitu rupanya." Suaranya ringan, hampir terdengar seperti respons biasa saja.

Sikapnya yang terlalu tenang membuat kelima pria itu saling melirik. Mereka semula mengira wanita itu akan panik, memohon, atau setidaknya berusaha kabur. Tapi yang berdiri di depan mereka justru terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dikepung.

Mereka justru melihat Rani menurunkan kantong belanjaannya perlahan ke jalan aspal. Gerakannya tenang, hampir tanpa emosi, seolah apa pun yang terjadi di depannya tidak cukup penting untuk membuatnya panik.

Lalu ia melangkah.

Baru satu langkah, pria di depan sudah lebih dulu menyerang. Tangannya mengayun cepat ke arah wajah Rani.

“Pegang dia!” teriak salah satu dari mereka.

Namun tubuh Rani sudah bergeser ke samping. Ayunan itu hanya mengenai udara. Sebelum pria itu sempat menarik kembali tangannya, Rani sudah menghantam sisi tubuhnya dengan siku.

“Argh!”

Satu orang jatuh.

Belum sempat yang lain bereaksi, Rani memutar tubuhnya dan menendang lutut pria kedua.

“Dia cepat!” salah satu pria berseru, mulai terdengar ragu.

Tiga orang lainnya langsung maju bersamaan.

“Jangan kasih dia ruang!” pria bertato menggeram.

Rani tidak mundur. Ia justru masuk di antara mereka, menunduk menghindari pukulan pertama, lalu menangkap lengan yang lain dan memutarnya hingga pria itu kehilangan keseimbangan.

“Brengsek—!”

Satu pukulan mencoba menghantam dari samping.

Rani menepisnya, lalu sikunya langsung menghantam perut pria itu.

“Ukh!”

Pria itu terhuyung, menahan napas. Dalam hitungan detik, dua orang sudah jatuh, satu kesulitan berdiri, dan sisanya mulai kehilangan ritme.

Pria bertato yang sejak tadi memimpin mundur setengah langkah.

“Dia bukan orang biasa, dia bisa ilmu bela diri…” gumamnya pelan.

Rani meluruskan tubuhnya. Napasnya masih stabil. “Masih mau lanjut?” suaranya datar, hampir tanpa tekanan.

Tidak ada jawaban. Yang ada hanya keraguan yang perlahan muncul di wajah mereka.

Kesempatan itu dimanfaatkan kelima pria tersebut untuk melarikan diri.

"Hei! Kabur!" teriak salah satu dari mereka.

Namun baru beberapa langkah, Rani berhasil menangkap kerah baju pria yang paling dekat dengannya. Dengan satu gerakan cepat, ia memelintir lengan pria itu ke belakang hingga tubuhnya terpaksa berlutut.

"Aargh!"

Pria itu mengaduh kesakitan. Sementara empat rekannya yang lain memilih terus berlari tanpa menoleh sedikit pun.

Rani sama sekali tidak berniat mengejar mereka. Tatapannya tetap tertuju pada pria yang kini berada dalam genggamannya.

"Jadi?" tanyanya dingin. "Mau kasih tahu siapa yang menyuruhmu, atau aku patahkan tanganmu?"

Pria itu mengatupkan rahangnya rapat. "Aku nggak tahu apa-apa."

"Begitu?"

Rani menambah tekanan pada jemarinya. Pria itu langsung menjerit saat salah satu jarinya tertekuk ke arah yang tidak semestinya.

"Aaaagh! Berhenti! Berhenti!"

"Aku tidak suka mengulang pertanyaan."

Pria itu terengah-engah sambil menahan nyeri. "Kami... kami cuma dibayar!"

"Siapa?"

"Tiga kakak beradik!"

Rani menyipitkan mata. Ia tidak perlu berpikir lama untuk menebak siapa dalang di balik semua ini. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam senyum itu.

"Aku bahkan belum mulai bertindak," ucapnya pelan. "Tapi kalian sudah memilih untuk bermain lebih dulu."

Tatapannya berubah dingin. "Kalau begitu, jangan salahkan aku atas apa yang terjadi nanti."

1
this that PINK VENOM
.
this that PINK VENOM
😍
Lee Mba Young
Lemah tu Rani. ya sdh nikmati saja wanita lemah.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: authornya liyer ngurus pendaftaran sekolah anak 🤭
total 1 replies
partini
aihhh bikin esmosi dah ,,Rani masih PA ternyata ga guna
partini
Ko bisa Rani ga tau ehhhh ayo Yo macam mana pula kau ran 10 ran 10 ran aihhhh ga guna 🤦
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: reinkarnasi kak, bukan ini dia amnesia, yakin amnesia bukan reinkarnasi🙏
total 3 replies
partini
OMG ku kira tidak ternyata iya
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
partini: betul itu fakta di lapangan ortu nya membela kelakuan buruk anaknya si anak makin nglunjak Thor
ada di tempat ku Kya gitu tapi ujungya ortunya juga yg kelimpungan
total 2 replies
Atik@07
cetitanya seru banget, gak sabar up nya thor
partini: bisa bela diri kejutan apa lagi yg bisa
total 1 replies
partini
gila jahat bnggt,jadi ibu tiri yg super kejam dong selangkah di depan dari mereka percuma dong flashback kalau masih OON
partini
good
partini
OMG dua bab still the same penasaran ini Thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: ditunggu kelanjutannya kak
total 1 replies
partini
ku kira like boom ternyata masih omong" doang 🤦 ayo lah ran
nunggu dua hari lagi
partini
Rani gebrakan kurang jos Thor ,,
partini
Yo di servis yg bagus plus desahan yg manjahhjhh biar tu Kunti bogel meradang dengarnyan,ran ayo lah be smart bertahun tahun loh
partini
amnesia?
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
Wawan
Salam kenal untuk Rani ✍️
partini
gas lah lebih smart dong
partini
ulah si Kunti kayanya deh,,ayo ran be smart don't be stupid dong aihhhh gumussss dah
partini
lanjut Thor ,,keren biar pun sudah methong balik tapi pengang kendali
suami bego
srijati umijati
lho🥺
lanjutkan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!