Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35: Tidak Ada Rencana
"Ko Yan itu aneh. Tadi dia pegang tanganku lama sekali, padahal bukan Imlek."
Yu seharusnya punya ruang kosong di kepala untuk membahas itu.
Dalam keadaan normal, ia pasti sudah menarik Lily ke sofa, menyusun kronologi dari cara Yan menekan tombol lift sampai berapa detik tangan mereka bersentuhan. Lily biasanya ahli menguliti perasaan orang lain, tetapi kali ini wajahnya sendiri yang tampak seperti baru membaca soal ujian tanpa belajar.
Sayangnya, kepala Yu tidak sedang normal.
Di balik kebingungan Lily tentang Ko Yan, masih ada Zhen di dapur. Masih ada jarak beberapa sentimeter yang gagal menjadi ciuman. Masih ada kalimat Zhen yang terdengar terlalu jujur.
Bukan karena aku tidak mau.
Yu menggenggam bantal sofa dan memaksa diri menatap Lily. "Kamu merasa gimana waktu dia pegang tanganmu?"
Lily langsung menegakkan punggung. "Kita sedang membahas Ko Yan, bukan aku."
"Itu sama saja."
"Tidak sama. Dia memang suka aneh."
"Kamu juga aneh kalau dekat dia."
Lily membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Wajahnya sedikit merah. "Aku pulang."
"Kamu baru datang lagi."
"Aku tiba-tiba ingat ada urusan keluarga."
"Dengan Tante Wen?"
"Dengan siapa saja yang tidak memegang tanganku seperti adegan drama."
Yu hampir tertawa, tetapi tawa itu tersangkut karena ia sendiri baru saja hampir masuk adegan drama.
Lily menunjuknya sebelum pergi. "Kita belum selesai soal Zhen."
"Kita juga belum selesai soal Ko Yan."
"Aku chat nanti."
Lily benar-benar pergi. Setelah pintu tertutup, apartemen menjadi terlalu tenang.
Zhen membuat kopi seperti katanya. Dua gelas. Satu diletakkan di meja makan dekat Yu, satu ia bawa ke ruang kerja. Ia tidak membahas kejadian di dapur. Tidak membahas Yan. Tidak membahas kalimat yang hampir membawa mereka melewati batas.
Justru karena tidak dibahas, Yu memikirkannya sampai malam.
Selama dua hari berikutnya, mereka hidup seperti orang yang terlalu sopan di rumah sendiri.
Zhen tetap mengantar Yu ke kampus. Tetap menaruh air di cup holder. Tetap bertanya apakah tangan Yu masih sakit. Namun setiap kali jari mereka hampir bersentuhan, Yu menarik diri sedikit lebih cepat. Bukan karena tidak mau.
Karena mau.
Keinginan itu membuatnya takut.
Di kelas, Yu menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca kode. Di grup chat, Lily mengirim tiga puluh dua pesan tentang "Ko Yan bukan kakak tapi juga bukan bukan-kakak" yang seharusnya lucu. Yu menjawab seadanya.
Ia lebih sering membuka kamera depan ponsel, melihat wajahnya sendiri, lalu cepat-cepat menutupnya.
Kamu cantik. Dulu, sekarang, dan nanti.
Kalimat Zhen bukan obat. Obat bekerja sekali lalu selesai. Kalimat itu malah membuka tempat lama yang belum sembuh. Tempat yang berbisik bahwa cantik bukan milik Yu, bahwa disukai pria seperti Zhen terdengar seperti salah alamat.
Zhen adalah Sim Zhenyu.
Pangeran Sim di Fasilkom.
Anak keluarga besar yang kalau diam saja terlihat mahal.
Racer dengan nama yang dibicarakan orang di Sentul.
Pria yang bisa membuat satu ruangan berhenti bergerak hanya dengan menatap.
Dan Yu?
Yu adalah perempuan yang baru diselingkuhi, punya tubuh yang kadang salah membaca dunia sebagai ancaman, menulis cerita diam-diam di NovelMe, dan masih panik jika harus mengakui ia ingin dicium.
Perbandingan itu tidak adil.
Tetap saja, kepala Yu melakukannya.
Sore ketiga setelah kejadian near-kiss, Yan muncul lagi di apartemen. Kali ini ia benar-benar membawa alasan, satu flashdisk kecil yang katanya berisi file yang dibutuhkan Zhen untuk proyek lama.
Zhen sedang menerima telepon di balkon kamar, suara rendahnya terdengar samar. Yu yang membuka pintu.
Yan mengangkat flashdisk. "Kali ini gue tidak bawa martabak, jadi aman."
"Aman dari pembunuhan?"
"Dari komentar Zhen."
Yu mempersilakannya masuk. Yan duduk di kursi meja makan, tetapi matanya langsung membaca wajah Yu seperti biasa.
"Lu kelihatan kayak orang salah kirim chat ke dosen."
"Aku baik."
"Kalimat itu biasanya berarti tidak."
Yu menuang air untuknya. "Kamu terlalu banyak bicara."
"Bakat." Yan mengambil gelas. "Zhen mana?"
"Telepon."
"Bagus. Jadi gue bisa tanya tanpa dilempar keluar."
Yu mulai curiga. "Tanya apa?"
Yan menaruh gelas, wajahnya masih santai, tetapi matanya lebih serius. "Lu dan Zhen mau gimana?"
Yu terdiam.
"Gue tidak buta," lanjut Yan. "Kemarin itu bukan adegan orang salah ambil tisu."
Panas naik ke wajah Yu. "Itu bukan urusanmu."
"Memang bukan. Tapi Zhen teman gue. Lu juga sudah masuk kategori orang yang kalau kenapa-kenapa bikin dia berubah jadi freezer berjalan."
"Freezer?"
"Dingin, mahal, dan semua orang takut buka pintunya."
Yu hampir tersenyum. Hampir.
Yan mengetukkan jari ke meja. "Dia nggak main-main kalau soal batas. Jadi kalau lu tidak mau, bilang. Kalau lu mau tapi takut, itu masalah lain."
Kalimat itu terlalu tepat.
Yu menggenggam pinggir meja. "Aku tidak tahu cara berdiri di samping orang seperti dia."
Yan mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Dia terlalu..." Yu mencari kata yang tidak membuatnya terdengar menyedihkan. Gagal. "Terlalu jauh."
"Zhen? Jauh? Anak itu tiap hari ada di dapur lo."
"Bukan jarak itu."
Yan diam.
Yu menunduk, suaranya mengecil. "Aku tidak mau salah paham. Aku tidak mau mengira dia suka padaku hanya karena dia kasihan. Aku tidak mau nanti dia sadar semua ini cuma karena aku punya masalah dan dia terlalu baik untuk menolak."
"Lu pikir Zhen tipe orang terlalu baik untuk menolak?"
Yu tidak menjawab.
Zhen memang bukan begitu.
Namun ketakutan tidak selalu membutuhkan logika untuk hidup.
Yan menghela napas. "Yu."
"Aku serius." Yu memaksa dirinya tersenyum, walau terasa kaku. "Aku nggak ada rencana pacaran sama Zhen."