NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 017: Pesta Pertunangan Angela

Margaret datang ke restoran dengan baju yang masih membawa bau angkot.

Vanessa juga begitu. Wajahnya pucat, matanya sembap, tetapi ia tetap ikut turun ketika Daniel membayar ongkos. Adrian menggendong Kevin yang tertidur kelelahan. Ryan berjalan sambil memegang ujung baju ayahnya.

"Mama," Oscar berbisik, "kita benar-benar langsung ke pesta?"

"Kamu mau pulang mandi dulu, lalu membiarkan A Cui masuk lubang?"

Oscar langsung menutup mulut.

Restoran Tionghoa di Jalan Gajahmada itu terang dan ramai. Di depan pintu tergantung kain merah, di meja penerima tamu ada buku tamu, kotak angpau, dan foto Angela bersama Peter Fang. Angela di foto tersenyum malu-malu. Peter berdiri di sampingnya dengan jas abu-abu yang terlalu licin, satu tangan diletakkan terlalu rendah di pinggang Angela.

Margaret hanya melihat foto itu sekilas.

Tangannya sudah gatal.

Marcus sedang berdiri di dekat meja depan. Begitu melihat mereka datang bergerombol, wajahnya berubah antara lega dan panik.

"Ci Margaret, Ko Daniel," katanya cepat. "Kalian datang juga."

Jenny yang mengenakan kebaya hijau muda segera menarik Margaret ke samping. "Cici, aku tadi mau telepon. Keluarga Png mulai aneh sejak duduk. Mereka bilang cuma bercanda, tapi aku tidak enak hati."

"Di mana Angela?"

"Di dalam. Peter menempel terus."

Margaret menepuk punggung tangan Jenny. "Jangan menangis dulu. Kalau mau menangis, tunggu setelah meja mereka bersih."

Jenny tersedak kecil, tidak tahu harus tertawa atau takut.

Di ruang utama, dua meja besar sudah dipenuhi keluarga. Di meja tengah, Angela duduk di samping Peter. Gadis itu memakai gaun merah muda dengan rambut disanggul sederhana. Wajahnya cantik, tetapi senyumnya tipis dan kaku.

Di sisi lain Peter duduk seorang perempuan berusia tiga puluhan. Rambutnya disisir rapi, bibirnya merah, bajunya hitam mengilap. Semua orang memanggilnya Cici. Ia adalah kakak ipar Peter, janda kakaknya yang sudah meninggal.

Yang membuat Margaret berhenti bukan bajunya.

Perempuan itu sedang mengambilkan udang ke piring Peter.

Peter menunduk sedikit, membiarkan perempuan itu membersihkan kulit udang di depannya seperti seorang istri melayani suami.

Angela duduk tepat di samping mereka, memegang sumpit tanpa bergerak.

Daniel melihatnya juga. Alisnya mengerut.

Jason di belakang langsung mendesis, "Ini pesta tunangan siapa?"

"Diam dulu," kata Margaret.

Mereka duduk di kursi yang tersisa. Vanessa duduk paling pinggir, masih memeluk tas kecilnya. Biasanya ia paling senang melihat keramaian dan komentar. Hari ini ia hanya menatap meja, seperti masih mendengar suara ibunya sendiri.

Oscar duduk di sebelahnya. Begitu melihat piring ayam kecap, matanya sempat menyala. Margaret menoleh. Ia langsung menunduk lagi.

Acara dimulai dengan ucapan basa-basi. Papa Peter berdiri, mengangkat gelas, lalu memuji Angela sebagai gadis yang sopan dan pintar bekerja. Mama Peter mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Kami keluarga sederhana," kata Papa Peter. "Yang penting calon menantu bisa menyatu dengan keluarga."

Margaret meminum teh, tidak bicara.

Marcus tertawa kaku. "Tentu. Keluarga kami juga berharap anak-anak saling menghormati."

Kakak ipar Peter tiba-tiba meletakkan sumpitnya.

"Kalau soal menghormati, justru harus dibicarakan dari awal," katanya manis. "Supaya setelah menikah tidak ada salah paham."

Angela menegang.

Peter berdeham. "Cici, nanti saja."

"Kenapa nanti? Ini urusan rumah tangga. Lebih baik jelas sebelum bertunangan." Perempuan itu tersenyum ke arah Jenny. "A Cui kan sekarang kerja di toko kain sepupunya, ya? Gajinya berapa sebulan?"

Ruang itu mendadak menipis suaranya.

Jenny memegang gelas erat-erat. "Tidak besar. Anak muda baru belajar."

"Tidak apa-apa. Besar kecil tetap uang keluarga." Kakak ipar Peter menoleh pada Angela. "Nanti setelah menikah, gaji kamu sebaiknya diserahkan ke Mama. Biar Mama yang atur. Di rumah Png, uang tidak boleh tercecer."

Angela mengangkat wajah. "Semua gaji?"

"Ya semua. Untuk apa perempuan pegang uang sendiri? Makan sudah di rumah, tidur sudah di rumah. Kalau butuh bedak atau pembalut, tinggal minta."

Victor, adik Angela, hampir berdiri. Marcus menahan bahunya.

Margaret tetap diam.

Ia ingin semua orang mendengar sampai tuntas.

Mama Peter ikut berkata, "Bukan kami pelit. Tapi anak kami kerja keras. Kalau istrinya pegang uang sendiri, nanti lupa keluarga suami."

Papa Peter menyambung, "Lagi pula, uang lamaran nanti juga sebaiknya kami pegang dulu. Untuk biaya pesta, untuk perabot, untuk kebutuhan rumah. Jangan sampai keluarga perempuan terlalu banyak ikut campur."

Jenny tidak tahan. "Uang lamaran itu untuk anak perempuan kami."

Kakak ipar Peter tertawa kecil. "Ci Jenny, zaman sekarang jangan terlalu kuno. Kalau A Cui sudah masuk rumah Png, berarti dia orang Png. Apa yang dia bawa, ya masuk rumah Png."

Angela menunduk. Matanya mulai merah.

Peter tidak membela. Ia malah mengambil teh dari tangan kakak iparnya dan meminumnya.

Gerakan kecil itu seperti jarum yang menusuk diam-diam.

Margaret meletakkan cangkir.

"Menarik," katanya.

Semua orang menoleh.

Kakak ipar Peter tersenyum. "Ci ini siapa?"

"Bibi besar Angela."

"Oh. Kalau begitu bagus. Orang tua bisa jadi saksi. Di keluarga Png, sejak kakak Peter meninggal, aku yang bantu Mama mengatur rumah. Aku tahu betul apa yang terbaik untuk Peter."

"Kelihatannya memang tahu sekali."

Nada Margaret pelan. Justru karena pelan, Daniel langsung menegakkan punggung.

Kakak ipar Peter belum sadar. Ia mengangkat dagu. "Tentu. Peter dari kecil dekat denganku. Kalau bukan aku yang mengurus makan, baju, dan uangnya, dia mana bisa seperti sekarang?"

"Sampai udang pun harus Cici kupaskan."

Meja itu sunyi.

Peter membeku.

Kakak iparnya tertawa paksa. "Ci, jangan bicara sembarangan. Aku ini kakak iparnya."

"Aku tahu. Karena tahu, aku tanya." Margaret menatap piring Peter. "Calon istrinya duduk di samping, tapi yang mengambilkan lauk, mengupas udang, mengatur gaji, mengatur uang lamaran, semua Cici. Nanti setelah menikah, Angela jadi istri atau jadi pembantu yang menyerahkan gaji?"

Papa Peter membanting gelas ke meja. Teh muncrat ke taplak.

"Mulutmu dijaga!"

Jason langsung berdiri. Kursinya berdecit keras.

Daniel mengangkat tangan sedikit. Jason berhenti, tetapi napasnya sudah berat.

Kakak ipar Peter wajahnya berubah merah. "Aku janda. Aku menjaga keluarga suamiku. Apa salahnya?"

"Tidak salah," kata Margaret. "Yang salah kalau seorang janda lebih sibuk menjaga adik ipar daripada menjaga batas."

Suara tamu di meja lain mulai berbisik.

Peter berdiri. "Cukup!"

Angela ikut berdiri, tetapi tubuhnya gemetar.

"Peter," katanya pelan, "apa benar setelah menikah gajiku harus diserahkan semua?"

Peter tidak melihatnya. "Itu aturan rumah. Kamu harus belajar."

"Uang lamaran juga keluarga kalian pegang?"

"Cici lebih tahu urusan rumah kami."

Angela menatap kakak ipar itu.

Perempuan itu tersenyum menang. "A Cui, jangan sensitif. Kalau mau jadi istri Peter, kamu harus dengar aku. Aku ini seperti setengah mamanya."

Oscar yang sedang minum teh hampir tersedak.

Jason tertawa dingin. "Setengah mama? Posisinya banyak sekali."

Kakak ipar Peter mendadak berdiri dan menunjuk Jason. "Kalian keluarga Lim memang kasar! Pantas anak perempuannya tidak tahu aturan!"

Lalu, entah karena panik atau sengaja ingin membalikkan keadaan, ia tiba-tiba berlari ke arah Oscar yang duduk paling dekat. Tubuhnya condong, tangannya terulur seperti hendak jatuh ke dada Oscar.

"Aduh, aku pusing!"

Oscar melihat perempuan itu datang seperti panci panas tumpah ke arahnya.

Ia langsung mengangkat dua tangan dengan jari-jari kaku, mundur tiga langkah sampai menabrak kursi.

"Jangan pegang saya! Hati saya hanya untuk dapur, keluarga, dan rakyat lapar!"

Satu detik semua orang diam.

Lalu Jason tertawa paling keras.

Tawa itu pecah seperti petasan. Beberapa tamu menutup mulut. Jenny yang tadi hampir menangis malah tertawa sambil terisak. Bahkan Vanessa, dengan mata masih merah, mengeluarkan suara tertahan dari hidung.

Oscar sadar semua orang menatapnya. Wajahnya merah sampai telinga.

"Aku serius," katanya panik. "Aku cuma mau jadi koki baik-baik!"

Tawa makin pecah.

Kakak ipar Peter berdiri kaku di tengah ruang, akting pusingnya gagal total.

Angela menarik cincin kecil dari jarinya. Gerakannya pelan, tetapi semua orang melihat.

Ia meletakkan cincin itu di meja.

"Aku tidak jadi bertunangan."

Peter menatapnya seolah baru sadar ia ada. "Angela!"

"Kalau sebelum menikah saja aku tidak punya suara, setelah menikah aku jadi apa?" Angela menelan air mata. "Aku memang tidak sepintar Cici. Tapi aku masih tahu malu."

Kakak ipar Peter menjerit, "Kamu menghina aku?"

"Tidak," kata Angela. "Aku menyelamatkan diriku."

Jenny menangis saat itu juga. Marcus menutup wajah sebentar, lalu berdiri di samping putrinya.

"Pertunangan ini batal," katanya, suara bergetar tetapi jelas.

Papa Peter menggebrak meja. "Tidak bisa! Kalian mempermalukan keluarga Png di depan umum!"

Jason kehilangan sabar.

Ia menarik meja kecil di samping, yang hanya berisi piring kosong dan kulit udang, lalu membaliknya ke lantai. Bunyi piring pecah membuat seluruh restoran menjerit.

"Malu?" Jason meraung. "Kalian mau mengambil gaji sepupuku, mengambil uang lamaran, lalu membiarkan janda ini duduk seperti nyonya rumah di antara calon pengantin. Masih bicara malu?"

Daniel akhirnya berdiri.

Ia tidak berteriak. Justru suaranya datar membuat orang lebih diam.

"Kami datang sebagai keluarga perempuan. Kami tidak mencari ribut. Tapi kalau anak kami diperlakukan seperti barang, kami tidak akan diam."

Papa Peter mengambil gelas teh lain dan melemparkannya ke lantai. Pecahan memantul, air teh menciprat ke ujung baju Margaret.

"Kalau keluarga Lim tidak memberi kami penjelasan, saya lapor ke kelurahan! Kalian menghina nama baik kami!"

Margaret melihat noda teh di bajunya.

Ia mengambil tisu, mengusapnya pelan, lalu tersenyum.

"Bagus," katanya. "Aku juga punya beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan kelurahan."

Papa Peter terengah.

Margaret mengangkat mata, menatap Peter, lalu kakak iparnya.

"Tentang putramu dan menantu perempuanmu yang terlalu dekat itu."

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!