The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tertinggal di Kirren
Marlow masuk ke dalam gudang beberapa saat setelahku. Langkahnya terdengar lebih berat daripada sebelumnya, dan satu tangannya masih menekan luka di sisi tubuh ketika ia melewati mayat tentara yang terbaring dekat pintu. Matanya singgah pada Ishar, pada pisau berlumuran darah di tangannya, lalu pada tiga perempuan yang meringkuk di belakang tumpukan karung.
Ia tidak langsung memeriksa tubuh tentara itu. Tidak pula bertanya bagaimana orang tersebut berhasil masuk ke dapur. Marlow menyarungkan pedangnya, meskipun darah masih menempel pada bilah, kemudian berjongkok di hadapan wanita pemilik penginapan dan kedua pelayannya.
“Kalian baik-baik saja?”
Ketiga perempuan itu hanya menatapnya. Salah seorang pelayan memeluk lengannya sendiri, sementara pelayan yang lain terus menekan telapak tangan ke mulut. Mata mereka bergerak dari pakaian Marlow yang penuh darah menuju tubuh tentara di lantai, seolah belum memahami bahwa suara pedang dari ruang depan telah berhenti.
“Apa ada yang terluka?” lanjut Marlow.
Aku hampir tidak percaya melihatnya.
Beberapa saat sebelumnya ia menggorok leher seorang tentara, menusukkan pedang ke tubuh pria yang terbakar, lalu menegurku seolah kami masih berada di halaman latihan. Sekarang ia merendahkan tubuh agar tidak menjulang di hadapan tiga perempuan ketakutan dan berbicara dengan suara yang lebih tenang daripada yang biasa digunakannya kepadaku.
Mungkin aku memang tidak mengenalnya sebaik yang selama ini kukira. Atau mungkin Marlow hanya menunjukkan bagian-bagian tertentu dari dirinya ketika keadaan menuntutnya, lalu menutupnya kembali sebelum siapa pun sempat melihat terlalu lama.
Aku tidak memikirkan hal itu lebih jauh. Perhatianku kembali kepada Ishar.
Ia masih berdiri di tempat yang sama. Kedua tangannya menggenggam pisau dapur begitu erat sampai darah pada gagang merembes ke sela-sela jemarinya. Bilahnya mengarah ke bawah, tetapi ujungnya terus bergetar seirama dengan tubuhnya.
Aku mendekat perlahan agar ia dapat melihat setiap langkahku. Tatapannya sempat berpindah ke wajahku, lalu kembali jatuh pada mayat di lantai. Tentara itu tidak bergerak lagi. Darah yang mengalir dari bawah dadanya telah mencapai ujung sepatu Ishar.
Aku berhenti tepat di hadapannya dan mengulurkan tangan ke arah pisau.
“Tidak apa-apa.”
Aku menyentuh pergelangan tangannya terlebih dahulu. Kulitnya dingin, jauh lebih dingin daripada udara di dalam gudang. Ishar tidak menolak, tetapi jemarinya tetap terkunci pada gagang ketika aku mencoba mengambil senjata itu.
Aku menunggu.
“Lepaskan,” kataku pelan.
Jari telunjuknya terbuka lebih dahulu. Jari-jari lain menyusul satu per satu, kaku seperti harus diperintah secara terpisah. Ketika pisau akhirnya berpindah ke tanganku, kedua lengannya jatuh di sisi tubuh. Darah menutupi telapak dan kukunya. Beberapa tetes jatuh dari ujung jari ke lantai.
Aku meletakkan pisau di atas peti terdekat, jauh dari jangkauannya.
“Aku…” Suaranya pecah sebelum kata berikutnya dapat keluar. Ia menarik napas, tetapi udara itu tersangkut di tenggorokan. “Aku membunuh lagi.”
Ishar mengangkat wajah kepadaku. Kulitnya seputih kertas. Bibirnya kehilangan warna, sementara air mata menggenang pada kedua mata dan membuat cahaya lampu tampak bergetar di sana.
Di Arlenville, ia membunuh karena seorang tentara menahannya, merobek pakaiannya, dan mencoba mengambil tubuhnya. Amarah membuatnya terus menusuk bahkan setelah pria itu tidak lagi mampu melawan. Saat itu ia nyaris tidak melihat siapa pun di sekelilingnya.
Malam ini berbeda. Tidak ada amarah yang melindunginya dari apa yang telah dilakukan. Tidak ada kebencian yang dapat dipakai untuk menutup suara tulang, darah pada tangan, atau tarikan terakhir napas orang yang mati di hadapannya.
Aku ingin mengatakan bahwa tentara itu akan membunuhnya bila ia tidak bergerak lebih dahulu. Aku ingin mengingatkan bahwa pemilik penginapan dan kedua pelayan mungkin masih hidup karena dirinya. Semua itu mungkin benar, tetapi kebenaran semacam itu tidak akan menghapus darah dari tangannya.
Aku hanya berdiri cukup dekat agar ia dapat melihat bahwa dirinya tidak sendirian.
Suara wanita pemilik penginapan terdengar dari belakang.
“Apa yang mereka lakukan di sini?”
Ia tidak berbicara kepada siapa pun secara khusus. Suaranya lirih dan serak, seperti pertanyaan yang tidak benar-benar mengharapkan jawaban. Tatapannya berpindah dari tubuh tentara kepada Marlow, kemudian kepadaku.
Tidak seorang pun menjawab.
Kami tahu apa yang dilakukan para tentara itu di Kirren. Mereka datang untuk menangkapku, dan orang-orang penginapan ini hampir mati hanya karena kami memilih tidur di bawah atap mereka. Namun mengucapkan kenyataan itu tidak akan membantu. Itu hanya akan memberi bentuk pada ketakutan yang sudah mereka rasakan.
Marlow merogoh kantung uang di balik mantelnya. Bunyi keping perak saling beradu membuat wanita tua itu tersentak. Ia mengeluarkan beberapa keping, lalu menahannya di atas telapak.
“Ambillah ini.”
Wanita tersebut tidak segera bergerak. Ia memandang uang itu tanpa menunjukkan minat, seolah benda tersebut tidak memiliki arti di dalam ruangan yang dipenuhi darah.
Marlow kemudian melihat kepadaku.
Tatapan itu berlangsung singkat, tetapi maksudnya jelas. Uang yang berada di tangannya berasal dari koin Dad. Sebelumnya ia menjualnya tanpa meminta persetujuanku. Kini, sebelum memberikan sebagian kepada orang lain, ia menunggu keputusan dariku.
Aku menatap keping-keping perak tersebut. Uang itu tidak akan menghidupkan kembali tentara yang mati atau membersihkan penginapan dari darah. Namun meja patah, pintu rusak, kamar yang ditinggalkan, dan malam-malam tanpa tamu setelah kabar mengenai pembantaian ini menyebar akan tetap memiliki harga.
Aku mengangguk.
Marlow menyerahkan koin-koin itu kepada wanita tua. Ia menerimanya dengan kedua tangan, lalu menggenggamnya tanpa menghitung.
“Apa kau memiliki kendaraan yang bisa kami gunakan?” tanyaku. “Kami akan membelinya.”
Wanita itu menatapku cukup lama sebelum memahami pertanyaan. Bibirnya bergerak tanpa suara, kemudian ia mengangguk cepat.
“Ya. Ya, aku punya gerobak.” Ia menelan ludah dan melirik ke arah pintu dapur. “Dua ekor keledai. Biasanya dipakai untuk mengambil tepung dari gudang utara.”
Aku melihat Marlow.
Ia membuka kembali kantung uang, memasukkan tangan lebih dalam, lalu mengeluarkan sebagian besar keping yang masih tersisa. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang tadi diberikan sebagai ganti kerusakan. Ia menyisakan sedikit di dalam kantung, kemudian meletakkan sisanya pada telapak wanita tersebut.
“Gerobaknya cukup kuat?” tanyanya.
“Masih kuat.” Wanita itu menatap uang yang kini memenuhi tangannya. “Terlalu banyak.”
“Kami membutuhkannya sekarang.”
Ia mengangguk lagi. “Ada di belakang penginapan, dekat kandang. Pintunya menghadap gang kecil.”
Marlow berdiri. Gerakan itu membuat wajahnya mengeras sesaat. Tangan kirinya kembali menekan luka di pinggang, tetapi ia tidak mengeluarkan suara.
“Terima kasih,” katanya. “Kalian cari tempat berlindung sampai para tentara meninggalkan bagian kota ini. Jangan tetap berada di penginapan.”
Seorang pelayan yang sejak tadi menutupi mulut akhirnya menurunkan tangan. Wajahnya basah oleh air mata.
“Bagaimana dengan mayat-mayat mereka?”
Aku melihat tentara yang dibunuh Ishar, lalu membayangkan tubuh-tubuh lain di ruang utama. Mereka akan segera ditemukan. Darah pada lantai, pakaian biru, dan lambang elang emas akan menarik setiap prajurit yang berada di jalan.
“Para tentara akan membawanya,” kataku.
Pelayan itu mengangguk, meskipun jawaban tersebut tampaknya tidak menenangkan apa pun. Mereka masih harus melewati tubuh-tubuh itu untuk meninggalkan bangunan. Mereka akan mengingat bau darah dan suara jeritan lama setelah papan lantainya dibersihkan.
Marlow bergerak menuju pintu belakang gudang. Aku kembali menghadap Ishar dan meraih tangannya.
Jemarinya masih dingin dan licin oleh darah. Untuk sesaat ia hanya memandang tangan kami, lalu membiarkanku menariknya menjauh dari mayat. Langkah pertamanya kaku. Kakinya hampir menyentuh genangan merah, sehingga aku menggeser tubuh dan membimbingnya melewati sisi yang lebih bersih.
Kami melintasi dapur yang berantakan. Pecahan mangkuk dan piring berderak di bawah sepatu. Sebuah panci terbalik masih meneteskan kuah ke lantai, sementara api kecil pada tungku dibiarkan menyala tanpa ada yang menjaganya. Bau bawang, lemak, dan asap bercampur dengan darah yang menempel pada pakaian kami.
Sebelum keluar, aku menoleh sekali.
Wanita pemilik penginapan dan kedua pelayannya masih berada di dalam gudang. Marlow telah menyuruh mereka pergi, tetapi tubuh mereka belum sanggup bergerak. Aku tidak tahu apakah mereka akan mengikuti nasihatnya sebelum tentara berikutnya tiba.
Tak ada waktu untuk memastikan.
Pintu belakang membawa kami ke halaman sempit yang dikelilingi pagar kayu. Udara malam terasa dingin setelah pengapnya ruangan. Sebuah kandang berdiri di sisi kanan, atapnya rendah dan ditopang balok-balok kasar. Bau jerami, kotoran, dan bulu hewan memenuhi udara.
Gerobak yang dimaksud berada dekat pagar. Tubuhnya terbuat dari kayu tua dengan sisi-sisi setinggi pinggang. Salah satu rodanya telah diperkuat dengan pita besi baru, sedangkan bagian lain menunjukkan goresan dan bekas lumpur yang mengering. Tidak ada penutup untuk melindungi penumpang dari hujan, hanya beberapa lembar kain kasar yang dilipat di bagian belakang.
Dua ekor keledai berdiri di depannya dalam keadaan tertambat. Kepala mereka terkulai, mata tertutup, dan telinga panjang bergerak kecil setiap kali suara dari jalan mencapai halaman. Salah satunya terbangun ketika Marlow mendekat, mengembuskan napas melalui hidung dan menghentakkan kaki pada tanah.
Marlow memeriksa tali kekang, roda, dan sambungan kayu dengan gerakan cepat. Ia menarik salah satu tali, membungkuk untuk melihat bagian bawah gerobak, lalu naik ke kursi kemudi tanpa meminta bantuan.
Aku membantu Ishar masuk ke bagian belakang. Ia menaiki roda sebagai pijakan, tetapi lututnya kehilangan kekuatan ketika tubuhnya hampir mencapai sisi gerobak. Aku menangkap lengannya dan menariknya sampai ia dapat duduk di atas papan.
Aku naik setelahnya dan meletakkan tas di dekat kaki.
Marlow mengangkat tali kekang. Kedua keledai mula-mula hanya menggerakkan telinga. Ia menjentikkan tali sekali, lalu memberi perintah pendek. Hewan-hewan itu menarik tubuh ke depan dengan enggan. Roda gerobak berderit ketika mulai berputar, meninggalkan halaman melalui pintu belakang yang sempit.
Kami memasuki gang tanpa cahaya. Dinding penginapan dan bangunan di sebelahnya hanya menyisakan ruang sedikit lebih lebar daripada gerobak. Roda sesekali menghantam batu, membuat tubuh kami terangkat dari papan. Dari jalan utama terdengar teriakan para tentara, tetapi bangunan-bangunan tinggi memantulkannya sampai aku tidak dapat menentukan jarak mereka.
Ishar duduk di sebelahku dengan kedua tangan di pangkuan. Darah pada kulitnya mulai mengering dan berubah gelap. Ia menatap lurus ke depan, tetapi aku tidak yakin benar-benar melihat punggung Marlow atau gang yang kami lewati.
Gerobak berbelok ke jalan yang lebih lebar. Beberapa orang berlari menuju rumah masing-masing ketika melihat cahaya obor di kejauhan. Daun-daun jendela ditutup, pintu dikunci, dan suara langkah kami menjadi salah satu dari sedikit bunyi yang masih bergerak di bagian kota itu.
Marlow tidak menoleh. Ia menjaga kedua keledai pada kecepatan yang cukup cepat tanpa membuat mereka berlari dan menarik perhatian. Darah pada sisi tubuhnya membasahi kemeja baru sampai warnanya berubah hampir hitam.
Kami telah melewati beberapa bangunan ketika Ishar tiba-tiba mengangkat kepala.
“Mantel…”
Suaranya pelan, tetapi kepanikan di dalamnya membuatku langsung menoleh.
“Mantel kakekku.” Ia melihat tas yang berada dekat kakiku, lalu sekeliling gerobak seakan benda itu mungkin terselip di bawah kain. “Aku meninggalkannya di kamar.”
Aku terdiam.
Mantel Rosh sebelumnya berada di dalam tasku, tetapi Ishar telah mengambilnya ketika kami tiba di penginapan. Ia membawanya ke kamar sendiri, mungkin karena tidak ingin benda terakhir milik kakeknya tidur jauh darinya. Dalam kepanikan, aku hanya mengambil barang-barang dari kamarku dan tidak pernah memikirkan kamar Ishar.
Ia mulai bangkit.
“Kita harus kembali.”
Aku menangkap bahunya sebelum ia sempat berdiri penuh. Gerobak berguncang saat roda masuk ke dalam lubang, membuat Ishar hampir terjatuh ke sisi luar.
Aku menggeleng.
Matanya melebar. Ia melihat ke belakang, ke arah jalan-jalan Kirren yang mulai tertutup cahaya obor, lalu kembali menatapku. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Aku mempertahankan tangan pada bahunya.
Tak ada cara untuk kembali. Penginapan itu akan dipenuhi tentara dalam beberapa menit, bila mereka belum masuk sekarang. Mantel tersebut berada di lantai atas, melewati ruang yang berisi mayat-mayat orang mereka. Mengambilnya berarti menyerahkan diri atau memaksa Marlow kembali bertarung sementara tubuhnya sudah terluka.
Ishar mengetahui semuanya.
Itulah yang akhirnya menghancurkan pertahanan terakhirnya.
Wajahnya mengerut, lalu napas pertama keluar sebagai isakan tajam. Kedua tangannya menutup mulut, tetapi suara berikutnya tetap lolos di antara jemari. Bahunya mulai berguncang begitu keras sampai seluruh tubuhnya terlipat.
Mantel itu mungkin hanya kain bagi orang lain. Bagi Ishar, benda tersebut masih menyimpan bentuk tubuh Rosh, bau rumah mereka, asap perapian, rempah, dan seluruh kehidupan yang ditinggalkannya dalam satu hari. Sekarang benda itu tertinggal di kamar penginapan yang sebentar lagi akan digeledah tentara.
Aku menariknya ke dalam pelukan.
Ishar tidak menolak. Tubuhnya menghantam dadaku, kedua tangannya mencengkeram bagian depan kemeja, dan tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar tanpa kendali. Wajahnya menekan bahuku. Air mata membasahi kain, bercampur dengan noda darah yang berpindah dari jemarinya.
Aku melingkarkan satu tangan pada punggungnya dan menggunakan tangan lain untuk membelai rambutnya. Gerakanku lambat, terus berulang dari puncak kepala menuju tengkuk. Aku tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Rumahnya telah hilang, kakeknya mati, dan kini bahkan mantel yang dibawanya dari Arlenville ikut tertinggal. Kata-kata semacam itu hanya akan menjadi kebohongan lain.
Aku membiarkannya menangis.
Marlow duduk di depan kami dengan tubuh sedikit membungkuk, satu tangan memegang tali kekang dan tangan lain sesekali menekan lukanya. Ia tidak menoleh ke belakang. Gerobak terus bergerak melewati jalan-jalan gelap Kirren, menjauh dari penginapan, mayat-mayat, dan suara pasukan yang sedang memburu kami.
Lentera kota perlahan berkurang. Bangunan menjadi lebih renggang, udara dari Blue Lake melemah, dan jalan di bawah roda berubah dari batu menjadi tanah yang keras. Di belakang kami, cahaya obor masih bergerak di antara atap-atap Kirren seperti bara yang tertiup angin.
Ishar tetap menangis di dadaku ketika gerobak membawa kami menuju barat.