Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Api Tanpa Wujud
Rei menatap Kai dengan pandangan yang perlahan berubah dari terkejut menjadi penuh perhitungan. Wanita itu menurunkan busur panahnya sedikit, namun jemarinya tetap berada di dekat tali busur. "Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, Tuan Muda. Tapi lihatlah dirimu... tidak ada raungan naga semalam, tidak ada hawa membara yang menghancurkan pilar. Apakah kau sedang menahan diri karena takut melukai gadis suci kesayanganmu ini?"
Kai hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kebenaran bahwa wadah di dalam dadanya kini telah kosong. "Untuk menghadapi kalian berdua, aku tidak perlu membangunkan naga yang bisa meruntuhkan seluruh hutan ini, Rei. Sisa api di tanganku sudah lebih dari cukup."
Mai memegangi pergelangan tangannya yang memerah dan melepuh akibat cengkeraman Kai tadi. Ia memungut kembali belatinya dengan tangan kiri, matanya berkilat penuh dendam. "Banyak bicara! Kita lihat seberapa cepat tangan kosongmu itu bisa menangkis besi buatanku!"
Dengan raungan liar, Mai kembali melesat maju. Kali ini pergerakannya tidak beraturan, meliuk-liuk di antara batang bambu memanfaatkan bayang-bayang kabut untuk mengecoh pandangan Kai. Dari arah belakang, Rei mengambil kesempatan dengan cepat membidikkan anak panah beracun keduanya, melepaskannya tepat saat Mai menutup jarak dengan Kai.
Dua ancaman datang bersamaan.
"Kai, di atas!" seru Hana memperingatkan.
Kai bergerak dengan insting yang telah terasah selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan bahaya. Ia tidak mundur, melainkan melangkah maju mendekati lintasan Mai. Dengan satu gerakan memutar yang lincah, ia menghindari tebasan belati Mai, lalu menggunakan momentum itu untuk menangkap bahu Mai dan memutarnya ke arah datangnya anak panah Rei.
"Apa?!" pekik Mai terkejut.
Plak!
Mai terpaksa menggunakan belatinya dengan panik untuk menepis anak panah milik sekutunya sendiri hingga terpental ke tanah. Di saat Mai kehilangan keseimbangan, Kai menghantamkan telapak tangan kanannya ke punggung Mai. Meskipun tanpa wujud Naga Merah yang kasatmata, gelombang panas murni yang padat meledak dari telapak tangannya, melontarkan Mai hingga menabrak rumpun bambu hingga patah berserakan. Mai terkapar, terengah-engah dengan napas yang sesak akibat hantaman energi dalam tersebut.
Rei yang melihat Mai dilumpuhkan dengan begitu mudah mulai merasakan kecemasan yang nyata. Ia menyadari bahwa meskipun Kai tidak mengeluarkan wujud naga sepenuhnya, kemampuan bertarung jarak dekat pemuda itu jauh melampaui perkiraannya.
Hana tidak tinggal diam melihat Rei yang mulai goyah. Gadis suci itu melangkah maju di samping Kai, mengangkat tusuk konde emasnya yang kini memancarkan pendar keemasan yang semakin terang, menyatu dengan sisa-sisa hawa hangat dari energi Kai. "Menyerahlah, Rei. Rencanamu sudah gagal sejak awal. Hutan ini tidak akan menyembunyikan kelicikanmu lagi."
Rei menatap keduanya dengan napas yang mulai memburu. Ia melirik Mai yang masih berusaha bangkit di antara reruntuhan bambu, lalu menatap busur panahnya yang kini terasa sia-sia. Keangkuhan politikus yang selalu ia banggakan runtuh seketika di bawah kepungan sepasang kekasih yang jiwanya telah menyatu itu.
"Ini belum berakhir, Kai," desis Rei dengan suara bergetar penuh ancaman yang sia-sia. "Kau mungkin menang di hutan ini, tapi benteng timur tidak akan pernah aman selama kau menyimpan darah terkutuk itu."
Kai melangkah satu ayunan lebih dekat, membuat Rei refleks mundur selangkah. "Benteng itu akan selalu aman, Rei. Karena akulah yang akan memastikan setiap jengkal tanahnya bersih dari orang-orang sepertimu. Pergi dari sini sebelum sisa apiku benar-benar membakar habis jubah nagamu."
Rei mengepalkan tangannya, menyadari bahwa bertahan hanya akan mendatangkan kematian. Dengan sisa-sisa harga dirinya, ia berbalik dan melangkah cepat menembus kabut, sementara Mai dengan susah payah merangkak bangun dan ikut menghilang di balik kerimbunan bambu, meninggalkan hutan perbatasan yang perlahan kembali sunyi.
Suara derap langkah kaki Rei dan Mai yang tergesa-gesa perlahan lenyap, ditelan oleh keheningan hutan bambu yang kembali mencengkam. Kabut tebal yang sempat menguap akibat hawa panas Kai kini perlahan turun kembali, menyelimuti batang-batang bambu yang patah dan dedaunan yang berserakan di atas tanah.
Begitu suasana benar-benar sunyi, ketegangan di bahu Kai mendadak runtuh. Pemuda itu bertumpu pada lututnya, terengah-engah dengan napas yang memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Menggunakan sisa energi naga yang telah melebur di dalam tubuhnya tanpa adanya wadah inti ternyata menguras staminanya jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
"Kai!" Hana dengan cepat mendekat, menyangga tubuh Kai sebelum pemuda itu jatuh ke tanah basah. Wajah Hana dipenuhi guratan cemas yang mendalam, tangannya yang terbalut kain bersih dengan lembut memegangi pundak Kai. "Kau tidak apa-apa? Kau memaksakan dirimu terlalu keras tadi."
Kai mendongak, menatap wajah Hana yang berada sangat dekat dengannya. Perlahan, seulas senyum tipis muncul di bibirnya yang pucat. Ia meraih tangan Hana, menggenggamnya perlahan. "Aku tidak apa-apa... Hanya sedikit lelah. Menghadapi mereka berdua dengan sisa api ini ternyata cukup merepotkan."
Hana menatap sekeliling mereka, lalu kembali menatap mata hitam jernih Kai. "Mereka belum tahu, Kai. Rei dan Mai... mereka masih mengira Naga Merah itu ada di dalam dirimu. Itu sebabnya mereka begitu berhati-hati dan memilih mundur."
Kai mengangguk pelan, mencoba menegakkan kembali tubuhnya dengan bantuan Hana. "Ya, dan ketidaktahuan mereka adalah pelindung terbaik kita untuk saat ini. Jika mereka tahu wadah ini sudah kosong, mereka pasti akan menyerang benteng timur dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki, tanpa rasa takut sedikit pun."
Hana menunduk sejenak, menatap tusuk konde emas di tangan kirinya yang masih memancarkan pendar spiritual yang redup. "Tapi sampai kapan kita bisa menyembunyikan hal ini? Cepat atau lambat, Yuki yang sedang memulihkan tenaganya pasti akan menyadari bahwa esensi naga yang ia incar malam itu telah membubung ke langit. Dan Rei... dia terlalu cerdik untuk bisa dibohongi selamanya."
Kai menatap lurus ke depan, menembus kabut hutan bambu yang kian pekat seiring matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Di dalam dadanya, rasa hangat yang ditinggalkan oleh sang naga dan ketulusan cinta Hana seolah memberikan kekuatan baru yang merayap di sela-sela nadinya.
"Kita tidak akan bersembunyi selamanya, Hana," ucap Kai dengan nada rendah yang sarat akan tekad mutlak. Ia menoleh ke arah Hana, menatap sepasang mata bening yang semalam telah menyerahkan seluruh takdir kepadanya. "Kita akan kembali ke benteng, memperkuat pertahanan, dan mengumpulkan mereka yang masih setia. Ketika saatnya tiba dan naga itu kembali memenuhi janjinya untuk masuk ke dalam tubuhku... aku pastikan kita sudah siap untuk menyambut perang yang sesungguhnya."
Hana tersenyum, secercah rona merah kembali ke pipinya yang pucat. Ia menggenggam balik tangan Kai dengan erat, mengangguk tanpa ragu. Di tengah hutan yang sepi dan dingin itu, di bawah ancaman jaring-jaring kelicikan yang belum sepenuhnya terputus, kedua jiwa itu berjalan berdampingan kembali menuju benteng timur, siap menghadapi fajar berikutnya yang mungkin akan membawa badai yang lebih besar.