NovelToon NovelToon
Jeritan Hati Arumi

Jeritan Hati Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“ Hidup itu harus di jalani saja ”


Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas


Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.



Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.





— Jeritan Hati Arumi —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Merantau

𝘾𝙄𝙏𝙏𝙏𝙏

Decitan terdengar nyaring di setiap sudut rumah dengan penerangan lampu minyak. Wangi minyak tanah menguar dari dalam rumah tersebut

Dengan langkah di penuhin kekosongan, Arumi melangkah ia menatap kosong rumah yang agak basah itu. Genangan air hujan masih tersisa di lantai yang beralas semen itu ia menjatuhkan diri nya ke lantai basah itu lalu terisak

" Nenek, aku sendiri nenek Arumi ngga kuat Rumi ngga bisa hidup tanpa nenek! " Isak gadis itu penuh luka tangannya melingkar di kaki ringkih nya.

Masih jelas diingatan Arumi kemarin sang nenek masih hidup dan duduk di bangku plastik. Neneknya selalu menunggu dirinya yang memasak kue-kue untuk ia jual dengan sabar neneknya menunggu walaupun rasa kantuk selalu menyerang wanita tua tersebut,

Namun kini yang menemaninya hanyalah kesendirian yang membelenggu nya, selepas mengadakan tahlilan di rumah Arini ia kembali dan ini yang ia dapati kekosongan jangan tanyakan mengapa tahlilan nya diadakan di rumah Arini. Karena rumah nya sangat kacau sekali

Arumi menarik-narik rambutnya yang panjang, sebuah ingatan tentang sang nenek menari lembut di pelupuk matanya.

" Buat apa aku hidup?!, kalau orang yang aku sayang pergi tinggal kan aku? " Tanya Arumi namun hanya kekosongan yang ia dapati

Ia menatap kosong rumah tersebut yang semakin malam semakin gelap, dengan langkah gontai ia menyalakan satu lampu minyak tanah lagi agar menerangi malamnya yang akan dingin dan kekosongan.

" Nenek! " Gumam gadis itu saat ia mendapati kain batik yang selalu neneknya pakai kain batik hasil ia berjualan di desa sebelah. Ia tidak kuasa menahan tangisnya

Hanya ada suara tangisan di rumah terpencil tersebut , suara gemuruh hujan menjadi penambah di malam yang dingin itu tidak ada pelukan tidak ada tawa tidak ada nasihat yang selalu mengiringi nya di setiap langkahnya.

" Nek Aku menyerah! " Gumam Arumi

****

Matahari terbit dari beberapa jam yang lalu, namun rumah yang sangat terpencil dari para penduduk desa nampaknya tidak lagi hidup tidak akan suara sang nenek yang lembut memanggil cucunya dan dentuman alat masak yang menggeluarkan aroma harum.

Arumi menghela napas panjang tangannya menggenggam cincin peninggalan sang almarhum ibu nya, " Nek aku pergi terimakasih untuk segalanya " Kata Arumi dengan nada berat dadanya terasa sesak sekali

𝙆𝙧𝙚𝙠𝙠!

Ia membuka pintu rumah tersebut yang nampak sudah hampir copot, tetiba matanya membulat saat melihat seorang gadis di kuncir kuda yang duduk di bale-bale gadis itu menatapnya.

" Jadi kau merantau? " Tanya Arini matanya nampak memerah

Arumi meletakkan Bobotnya di bangku bale-bale itu " Ya, doa kan ku ya dan terimakasih banyak atas kebaikan keluarga mu " Sahut Arumi matanya berkaca-kaca

Arini membawa nya ke dalam pelukan, lalu keduanya terisak " Kalau kamu ngga kuat di Jakarta, ingat di desa ini ada aku dan kedua orang tua ku yang selalu menanti mu "

" Terimakasih "

" Kau itu seperti saudara ku, jadi kau tidak perlu berterimakasih! "

" Arini aku sangat sayang padamu! "

" Aku pun, hati-hati ya di Jakarta kalau kamu sudah punya kekasih tolong undang aku ke pernikahan mu! " Goda Arini membuat Arumi masam namun ia terkekeh " Mana mungkin aku melupakan sahabat sekaligus saudara ku. Ngga akan pernah! " Sahut Arumi

" Hati-hati! "

" Kau pun "

Keduanya pelukan kembali untuk menguatkan satu sama lain. Arumi melambai kan tangannya saat sebuah mobil bak pengangkut tomat terhenti di depan nya,

" Aku pergi dulu salam ke bibi dan paman! " Kata Arumi sembari naik ke mobil hasil panen tersebut

" Ya hati-hati Arumi! " Pekik Arini saat mobil muatan hasil panen itu menjauh membawa pergi sang sahabat yang melambai, Arumi menghela napas panjang

" Nek selamat tinggal! " Gumam nya sembari mengeratkan pelukannya kepada ranselnya yang berat namun bebannya lebih berat,

1
Emily
lanjut thour
Emily
curiga samudra itu arwah
bidadari: 🙂🙂 baca terus ya ka
total 1 replies
Emily
laila pemuja syaiton
Emily
wah udah murtadkah keluarga adrian
Emily
Innalillahi wainnailaihi rojiun ya thour
Emily
kenapa obatnya gak disimpan di saku malah di tenteng tenteng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!