NovelToon NovelToon
Menikahi Pangeran Nakal

Menikahi Pangeran Nakal

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: micemicu

Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maafkan Aku

...⚜️⚜️⚜️...

Kereta kuda yang dinaiki oleh Nicholas dan Anastasia adalah mahakarya terbaik dari ahli pembuat kereta kepercayaan Raja Luther. Dalam waktu singkat, pesanan khusus sesuai cetak biru keinginan Nicholas berhasil disiapkan.

Nicholas sengaja meminta ruang kabin yang jauh lebih luas dan dilapisi beludru empuk, mengingat perjalanan mereka akan memakan waktu berhari-hari. Selain itu, ia juga memastikan kereta tersebut memiliki peredam guncangan ganda demi kenyamanan para kusir yang akan membawa mereka hingga ke Kastil Swindon.

Di sepanjang jalur, Anastasia memilih melemparkan pandangannya ke luar jendela kaca. Meskipun belum terlampau jauh meninggalkan ibu kota, pemukiman padat kaum moore—rakyat kalangan bawah—terlihat berderet di kanan dan kiri jalan.

Para pengawal zirah dengan sigap membuka akses jalan agar kereta kerajaan bisa melintas tanpa hambatan. Banyak dari kalangan kaum moore yang menghentikan aktivitas mereka, menonton dengan antusias, sementara anak-anak kecil dengan polosnya melompat-lompat sambil melambaikan tangan ke arah kereta.

Masyarakat tentu tahu bahwa kereta semewah itu hanya diproduksi untuk darah daging sang penguasa. Lambang Kerajaan Tharvis berupa ukiran tiga bintang emas di dinding luar kereta menegaskan identitas pemiliknya yaitu sang pangeran ketiga, putra dari Raja Luther.

Anastasia menyunggingkan senyum tipis, merenungi pemandangan sosial di hadapannya. Jauh di lubuk hatinya, ia selalu memendam impian naif untuk bisa membawa anak-anak kaum moore merasakan sensasi naik kereta kuda yang layak. Ia ingin membantu mereka yang terpinggirkan untuk sekadar bertahan hidup. Menyaksikan jurang kesenjangan yang begitu menganga di depan mata telanjang, hati Anastasia terasa miris.

Ia mendadak merasa beruntung karena hidupnya pernah diselamatkan oleh Duke Harold. Perbedaan kasta di negeri ini terasa begitu kejam, yang kaya makin menimbun harta, sementara yang miskin kian terpelosok dalam lumpur kemelaratan. Keadilan dan kemakmuran seolah-olah hanya menjadi hak eksklusif kaum bangsawan.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Nicholas, memecah kesunyian kabin.

Anastasia tidak mengalihkan pandangannya dari balik kaca. "Bukan apa-apa," jawabnya singkat dan dingin.

Nicholas menghela napas pasrah. Ia bisa gila jika selama sembilan hari ke depan mereka hanya duduk membisu dan dingin seperti patung di dalam kereta ini. Otaknya berputar keras, bingung harus melakukan apa lagi untuk mencairkan gunung es yang membekukan atmosfer di antara mereka.

Ketika rombongan mulai memasuki kawasan Hutan Tenggara yang menjadi pembatas alami wilayah Swindon, Nicholas melirik keluar jendela. Langit di atas tajuk-tajuk pohon mulai merona kemerahan menjelang sore. Sebuah ide mendadak melintas di kepalanya.

"Aku mulai pegal karena duduk berjam-jam. Bagaimana denganmu, Stasia?" tanyanya memancing obrolan.

Anastasia menyahut tanpa menoleh, "Lumayan."

"Kalau begitu, tunggu sebentar," ujar Nicholas. Ia mengetuk dinding depan kabin, memberi perintah tegas pada kusir untuk menghentikan laju kereta.

Rombongan pengawal yang berkuda di belakang langsung kelabakan menahan tali kekang mereka, terkejut dengan perintah mendadak sang pangeran. Anastasia pun ikut mengernyit heran.

Nicholas turun terlebih dahulu, lalu berjalan cepat ke arah kapten pengawal di depan untuk memberikan instruksi singkat sebelum kembali ke pintu kereta.

"Ayo, turunlah," ujar Nicholas sambil mengulurkan telapak tangannya dengan senyum seramah mungkin.

Anastasia sempat ragu, namun Nicholas segera menambahkan, "Kita jalan-jalan sebentar di sekitar sini untuk menghirup udara segar. Aku tidak mau tubuhmu kaku dan pegal karena terus-terusan duduk di dalam, Stasia."

Tawaran itu tak pelak membuat Anastasia goyah. Nicholas benar, pinggang dan persendian kakinya sudah mulai terasa kaku meski kereta ini memiliki fasilitas terbaik. Kejenuhan perjalanan panjang memang mulai menggerogoti fisiknya.

Anastasia akhirnya bergeser turun, namun ia dengan sengaja mengabaikan uluran tangan Nicholas dan melompat turun secara mandiri.

Sang Pangeran seketika termenung dengan tangan yang masih menggantung di udara. Rasa malu dan canggung mendadak menyergapnya. Ia tahu Anastasia sengaja melakukannya untuk memberi jarak, dan Nicholas sadar ia pantas menerimanya.

Kasihan sekali nasibmu, wahai tangan, gumam Nicholas nelangsa dalam hati, sembari berpura-pura mengusap telapak tangannya sendiri untuk menutupi salah tingkahnya.

Nicholas kemudian berdeham, mencoba menguasai keadaan. "Sebelah sini," ujarnya, memimpin jalan setapak yang diikuti Anastasia dari belakang.

Namun baru beberapa langkah, suara derap bot zirah yang berat di belakang mereka membuat Nicholas menoleh masam. Tiga orang pengawal berbadan tegap tampak membuntuti mereka dengan ekspresi siaga. Nicholas langsung memasang wajah tidak suka. Diam-diam, ia membalikkan badan dan memberikan isyarat tangan berulang kali agar mereka menyingkir.

"Biarkan kami berdua saja! Pergi!" bisik Nicholas tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya dengan pelototan tajam.

Bukannya pergi, salah satu pengawal justru ikut memajukan wajahnya dan membalas dengan bisikan tanpa suara yang sama, "Maaf, Tuanku. Menurut protokol ketat kerajaan, kami dilarang keras meninggalkan Tuanku tanpa pengawasan."

Nicholas melongo. Ia mencoba membaca gerakan bibir pengawal berwajah kaku itu, namun sama sekali tidak paham apa yang diucapkan. Sialan. Mereka ini bicara apa, sih? pikirnya dongkol. Alih-alih berkomunikasi, pengawal itu justru terlihat seperti dukun yang sedang komat-kamit merapalkan mantra kutukan.

"Sana! Pergi jalur lain!" bisik Nicholas lagi, kali ini tangannya mengibas-ngibas dengan gerakan mengusir ayam yang sangat tidak elegan untuk ukuran seorang pangeran. Matanya mendelik tajam, frustrasi karena keinginannya untuk berduaan dengan sang istri terus-menerus diinterupsi oleh sekelompok pria berzirah besi.

Sadar bahwa sang majikan sudah berada di ambang batas kesabaran, ketiga pengawal itu akhirnya membungkuk hormat lalu berjalan mundur perlahan, menghilang di balik rimbunnya semak-semak hutan demi memberikan privasi.

Anastasia hanya memperhatikan kelakuan konyol Nicholas yang masih sibuk memastikan para penjaga itu benar-benar lenyap. Begitu Nicholas berbalik dan mendapati istrinya sedang menonton kelakuannya, ia langsung tersenyum canggung, mencoba mengembalikan wibawanya.

"Ada apa?" tanya Anastasia ketus.

"Ah, tidak ada apa-apa. Mari, sebelah sini," ajak Nicholas, menunjuk jalan yang lebih masuk ke dalam area hutan.

Suasana Hutan Tenggara begitu meneduhkan, memeluk tubuh Anastasia dengan hawa sejuk yang menyegarkan indra. Udara bersih membelai kulitnya, berpadu dengan aroma tanah basah dan wangi dedaunan liar. Keduanya berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi lumut hijau.

Keheningan hutan hanya dipecahkan oleh suara serangga malam yang mulai bersahutan. Nicholas diam-diam melirik wajah Anastasia. Begitu melihat seulas senyum tulus terbit di bibir wanita itu saat mengagumi sekuntum bunga liar, dada Nicholas berdesir hebat.

Senyuman itu... senyuman yang teramat ia rindukan. Walau ia tahu senyum itu hadir karena keindahan alam dan bukan karena dirinya, Nicholas merasa usahanya mengajak Anastasia turun tidak sia-sia. Tanpa sadar, sudut bibir Nicholas ikut terangkat, menikmati momen damai di tengah hutan yang sunyi ini.

"Di balik barisan pohon sebelah sana ada danau alami. Kau mau lihat?" tanya Nicholas, menunjuk ke arah kanan.

Anastasia mengangguk pelan.

Nicholas menuntun jalan. Meski langkah kaki mereka bergerak beriringan, Nicholas bisa merasakan ada benteng tak kasatmata yang membentang lebar di antara mereka. Namun ia tidak akan menyerah, ia akan melakukan apa pun demi menebus kesalahan lalunya dan mengembalikan kepercayaan Anastasia.

"Hati-hati, tanah di depan sedikit licin dan berlumpur." Nicholas secara refleks menyambar pergelangan tangan Anastasia saat mereka melewati undakan tanah yang basah.

Begitu telapak tangan mereka bertautan, Nicholas sengaja menggenggamnya erat-erat, menolak untuk melepaskannya lagi demi mencuri kesempatan bergandengan tangan lebih lama. Anastasia sempat mencoba menarik jemarinya, namun Nicholas bertahan dengan keras kepala yang kikuk.

"Indah, kan?" bisik Nicholas saat mereka tiba di tepi danau yang luas. Permukaan airnya yang biru jernih memantulkan bayangan megah lereng gunung yang menjulang tinggi di latar belakang.

"Iya... indah sekali," sahut Anastasia terpesona. Sepasang matanya melebar penuh kekaguman.

Sungguh sebuah mahakarya Sang Pencipta yang menakjubkan. Bagaimana bisa tempat sesunyi ini mampu mengalirkan ketenangan yang begitu masif ke dalam dadanya yang sesak? Tanpa sadar, Anastasia membatin betapa bahagianya jika ia memiliki sebuah rumah kayu sederhana di tepi danau ini, jauh dari intrik politik istana dan kepalsuan kaum bangsawan.

Nicholas bernapas lega melihat binar di mata istrinya. Dengan lembut yang diusahakan sealami mungkin, ia mengelus punggung tangan Anastasia dengan ibu jarinya, lalu menyibak alang-alang yang menghalangi jalan menuju sebuah batu besar di pinggir danau.

"Duduklah di sini," ajak Nicholas. Ia buru-buru menyapu permukaan batu datar itu menggunakan telapak tangannya sendiri agar gaun Anastasia tidak kotor terkena debu.

Anastasia mengambil posisi duduk di samping Nicholas dengan sisa senyum yang masih mengembang. Tanpa ragu, ia mencelupkan jemarinya ke dalam air danau yang sedingin es, membiarkan riak-riak kecil membasuh telapak tangannya.

Sementara itu, Nicholas sama sekali tidak tertarik pada pemandangan danau. Matanya terkunci sepenuhnya pada profil samping wajah Anastasia. Setiap kali lengkungan senyum itu tercetak di bibir istrinya, jantung Nicholas berdegup dua kali lebih cepat. Iseng, ia memetik sebatang bunga liar berwarna kuning di dekat kakinya, lalu dengan gerakan tiba-tiba yang agak canggung, ia menyelipkan tangkai bunga itu di sela daun telinga Anastasia.

Anastasia terperanjat, menoleh lambat dengan tatapan mata yang langsung berubah serius.

"Anastasia Rosalie... kau benar-benar cantik," tutur Nicholas lirih, mendadak terkesiap sendiri oleh keberanian kata-katanya.

Sayangnya, mantra rayuan itu tidak lagi sakti. Anastasia terdiam sejenak, lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah riak air dengan sorot mata yang mendingin. Seharusnya, ini menjadi momentum romantis yang sempurna di bawah sapuan langit senja yang merambat turun.

Anastasia tidak menampik bahwa ia merindukan afeksi itu, namun memori tentang pengkhianatan Nicholas malam itu masih terlalu basah dan menyakitkan untuk diabaikan begitu saja.

"Stasia... Apa kau masih marah padaku? Sejak kita naik ke kereta tadi pagi, kau terus-terusan mengabaikanku," tanya Nicholas akhirnya, suaranya melembut, menyiratkan rasa bersalahnya yang kentara.

Anastasia mengalihkan tatapannya, menatap Nicholas dengan mata yang berkaca-kaca menahan emosi. "Lalu menurutmu aku harus bersikap bagaimana, Nicholas? Apa aku harus berpura-pura tertawa lebar setelah mendengar semua fakta mengerikan tentang dirimu kemarin malam? Atau aku harus memelukmu erat hanya demi membuat perasaanku terlihat baik-baik saja, sementara dadaku hancur lebur? Aku ini hanya manusia biasa, Nich. Aku butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa mencerna dan menerima semuanya," ujarnya dengan getaran parau yang meminta pengertian.

Nicholas tertunduk dalam, menatap jemarinya sendiri. "Maafkan aku..." hanya frasa itu yang mampu keluar dari tenggorokannya yang mendadak tercekat.

"Biarkan semuanya berjalan apa adanya untuk saat ini. Kalau sikap diamku membuatmu merasa tidak nyaman, aku minta maaf. Tapi aku juga punya batas kapasitas untuk menenangkan diriku sendiri."

"Aku paham, Stasia. Lakukan apa pun yang membuat hatimu merasa lebih baik. Aku... aku hanya belum terbiasa dengan keheninganmu yang seperti ini. Tapi aku mengerti sekarang. Maafkan aku," pungkas Nicholas pelan, suaranya terdengar tulus tanpa kepura-puraan.

Anastasia mengembuskan napas panjang untuk melegakan paru-parunya. Ia meraup sedikit air danau yang dingin dengan kedua tangannya, lalu membasuh wajahnya yang terasa panas akibat menahan tangis.

Langit di atas Bukit Tenggara kini telah bertukar warna menjadi gelap gulita. Mereka sadar, sudah saatnya mereka menyusuri jalan setapak kembali menuju rombongan pengawal yang telah menunggu di jalur utama.

1
Red Blossom
Thor biar Anastasia pergi dulu untuk menenangkan diri dan Nicholas menyadari kesalahannya yg fatal dan berjuang untuk mendapatkan maaf dari Anastasia
micemicu: bagus jg idenya wkwk
total 1 replies
noni hayati
ayo stasia..tinggalin..mengungsi..biarkan nicholas dgn kebodohannya
micemicu: wkwk ide yg baguss
total 1 replies
noni hayati
hbs nyakitin trus bersenang senang dgn org lain
micemicu: huhuhu iya nih parah nicholas
total 1 replies
Mymy Zizan
q nunggu Anastasya tau kelakuan nik
micemicu: wait and see kak😍
total 1 replies
Red Blossom
Thor Anastasia biar sama Lord Alfred aja.
micemicu: 🤭 nanti ceritanya jadi kisah cinta yg berbeda dong kak.. tp entar dipikirkan yaa
total 1 replies
paijo londo
kyaknya yg bakalan jadi budak cinta nih pangeran Nicholas deh sekarang kelihatan yg posesif sama Anastasia istri polosnya🤭🤭🤭
micemicu: iyaa nih, mulai rada rada diaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!