Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Malu
Dengan napas tersengal dan detak jantung yang masih berpacu liar seolah hendak melompat keluar dari rongga dada, Adnan tiba-tiba tersentak tegak. Matanya terbelalak lebar, mengembara meneliti sekeliling ruangan yang kini diterangi cahaya matahari pagi yang lembut menyelinap dari celah jendela.
Suasana tenang yang damai menyambutnya, tidak ada bayangan remang bulan, tidak ada sentuhan kulit yang hangat, tidak ada bisikan lembut yang memikat. Semuanya lenyap begitu saja, seolah dihapus seketika oleh kesadaran yang perlahan kembali utuh.
Perlahan namun pasti, rasa malu yang luar biasa menyergap seluruh jiwanya. Saat ia menundukkan pandangan, wajahnya seketika membara merah padam hingga ke telinga. Bagian pribadinya masih tegang dan menegang, sementara kain celana tidur serta seprai di bawahnya terasa lembap dan basah oleh cairan yang memalukan itu. Adnan menyadari kenyataan pahit itu, semua adegan manis, intim, dan menggairahkan tadi hanyalah sebuah mimpi, mimpi basah yang begitu nyata dan hidup, seolah-olah sungguh terjadi.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar namun lemah, napasnya masih tersendat-sendat. Pasti ini akibat kejadian memalukan semalam, saat dia tanpa sengaja melihat Gladys telanjang bulat karena ketakutan pada kecoak.
Pemandangan itu sepertinya membekam kuat di dalam ingatan bawah sadarnya, lalu bermetamorfosis menjadi mimpi yang begitu dahsyat ini. Sekarang dia merasa sangat canggung, merasa bersalah, dan tak sanggup membayangkan harus berhadapan dengan Gladys pagi ini. Bagaimana caranya dia menatap mata gadis itu kembali, setelah dalam mimpi ia melakukan hal-hal yang begitu mesra dan tak senonoh bersamanya?
Dari arah luar kamar, terdengar suara lembut namun jelas dentingan piring yang saling berbentuk, suara air yang mengalir pelan, dan samar-samar aroma harum masakan yang mulai tercium menyelinap lewat celah pintu. Sudah jelas itu Gladys, yang sudah bangun lebih pagi dan kembali sibuk di dapur dengan ketulusan yang sama seperti kemarin.
Adnan menelan ludah yang terasa kering. Ia tidak bisa bersembunyi selamanya di dalam kamar, tapi rasa malu itu begitu berat menekan dadanya. Akhirnya dia terpaksa berpikir cepat, mencari cara menutupi bagian celananya yang masih terlihat basah dan memalukan itu.
Tangannya meraih selimut tebal yang tergeletak di sampingnya, lalu melilitkannya dengan cekatan namun rapi di bagian pinggang, seolah-olah ia sedang membawa selimut itu untuk dibersihkan. Dengan hati-hati, ia melangkah menuju pintu, membukanya perlahan dan mengintip keluar sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah keluar sepenuhnya.
Saat Adnan tiba di ruang tengah, Gladys yang sedang mengaduk masakan di kompor segera menoleh. Wajahnya yang segar dan bersih tersenyum ramah begitu melihat Adnan keluar. Namun kerutan bingung perlahan muncul di dahinya saat matanya menangkap sosok Adnan yang berjalan dengan langkah kaku dan membawa selimut tergulung pas di pinggangnya.
"Selamat pagi, Ad," sapa Gladys lembut, namun matanya tetap menatap bingung pada selimut yang dipakai itu. "Kau... kenapa membawa selimut begitu? Apa ada yang salah dengan tempat tidurmu?"
Jantung Adnan nyaris meledak oleh rasa gugup yang mendadak memuncak. Ia berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar biasa saja dan tenang, meski sebenarnya dirinya ingin menghilang saja dari tempat itu.
"Ah... iya, pagi, Gladys," jawabnya agak terburu-buru, matanya sengaja tidak menatap lurus ke arah gadis itu, melainkan melirik sekilas ke arah pintu kamar mandi yang sudah terlihat di ujung lorong. "Ini... kebetulan jadwalnya hari ini selimut ini dicuci. Ternyata agak bau semalam, jadi aku bawa sekalian sekarang."
Tanpa menunggu Gladys sempat bertanya lebih lanjut atau menyadari keanehan yang nyata itu, Adnan segera mempercepat langkahnya, berjalan sedikit terburu-buru namun tetap berusaha terlihat wajar hingga ia sampai di depan pintu kamar mandi. Ia segera membukanya dan melangkah masuk lalu menutupnya kembali dengan cepat namun pelan hingga terkunci rapat.
Baru setelah pintu tertutup rapat dan aman dari pandangan luar, Adnan akhirnya menghela napas panjang yang begitu lega, menyandarkan punggungnya ke balik pintu yang dingin itu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berharap rasa malu itu perlahan memudar bersama aliran air yang akan segera membasuhnya bersih.
..._____...
*Guys jangan lupa mampir ke novel baruku ya. Btw udah rilis, bisa cek ke profilku!
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru