Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perahu..
Varren meminum air mineral yang dimilikinya sejak tadi, dan segera melangkah menuju jembatan dekat danau. Katanya di sini ada buaya. Itu juga yang membuat di sini menjadi sepi, padahal Varren selama di sini memang sering melihatnya sejak kecil. Sebab buaya tersebut, Varren yang melepaskannya ke sini. Varren merasa buaya itu harus bebas tidak seperti dirinya yang tersiksa dan terikat.
Dari mana Varren mendapatkannya? Maka jawabannya kandang milik Shena itu sendiri. Shena memiliki cukup banyak hewan buas dan reptil di mansion-nya.
Langkah Varren terdengar pasti di jembatan yang terbuat dari bambu itu, suasana yang gelap hanya dihiasi dengan sinar bulan yang cukup remang.
Varren menghela napas, menatap lebih tajam di mana sosok hitam yang ada di depannya.
Varren mengernyitkan dahinya dan berdehem pelan. "Di sini ada buaya. Jangan terlalu ujung." peringat Varren kepadanya.
Sosok tersebut melebarkan mata melihat ternyata yang datang adalah Varren. "Loe Varren?" tanyanya.
Varren mendengarnya menyipitkan mata menatap sosok yang memunggungi cahaya remang-remang rembulan. "Sylas? Loe mau bunuh diri?" tanyanya pelan.
"Dih, najis." gumam Sylas pelan pada Varren.
Varren mendengarnya terkekeh. "Loe sendiri ngapain di sini? Mau bunuh diri loe?" tanyanya kepada Sylas.
Varren mendengarnya malah tertawa. "Ngapain bunuh diri. Susah-susah orang mau umur panjang, gue malah mau bunuh diri. Nggak dulu deh, dosa gue masih banyak." ujar Varren pada Sylas.
Sylas mendengarnya ikut terkekeh meledek kepada Varren. "Tapi loe ada di sini buktinya." ujarnya.
"Ya kali. Loe juga di sini. Gimana kalo bundir bareng aja gitu?" tanya Varren menyahut.
Sylas terkekeh pelan mendengar jawaban Varren. Varren menduduki diri di bawah tempat biasa dirinya berdiri sejak tadi. "Ini tempat gue main. Tenang, damai.." gumam Varren pada Sylas.
Sylas mendengarnya melirik Varren. "Malam-malam?" tanyanya.
"Nggak sih. Gue di sini sukanya sore. Kadang cuma karena rindu aja ke sini." jawab Varren mendongak menatap Sylas.
Sylas berdehem menduduki diri di sebelah Varren. "Gue sih terakhir lima tahun lalu ke sini. Karena gue pindah ke Jepang, jadinya gue nggak pernah lagi main ke sini." ujar Sylas pelan.
"Loh bukannya loe ketua Phoenix???" tanya Varren heran.
"Loe tau?" tanya Sylas kaget.
Varren berdehem pelan mengakui. "Iya tau dari Alvaro. Katanya loe ketua geng itu di sini. Masa loe jadi ketuanya asal pilih? Nggak mungkin kan?" tanyanya mengejek kepada Sylas.
Sylas mendengarnya mencoba paham dan mengangguk. "Gue lima tahun terakhir bukan karena gue di Jepang, tapi memang gue nggak sempat ke sini. Dan gue di Jepang itu sejak usia gue 8 tahun lalu Ren." jelas Sylas lebih rinci.
Varren membulatkan bibirnya dengan paham karena hal tersebut. Meski agak kurang paham juga, tapi Varren tak peduli banyak.
Varren mengeluarkan HP-nya menatap ke depan. "Dulu ada perahu di sini. Di mana yah?" gumam Varren di sana.
Sylas mendengarnya mengernyitkan dahinya. "Itu." ia menunjuk perahu kecil yang berada di dekat bagian kanan di belakang mereka.
Varren segera melirik ke belakang. Varren bangkit dan segera menuju perahu tersebut. Varren menyentuhnya dan menggoyangkannya pelan.
Sylas mengikuti Varren dari belakang menatap Varren heran. "Kenapa Ren?" tanyanya.
"Buat naik lah. Ini dulu gue yang beli." ujar Varren pada Sylas.
Sylas mendengarnya mengernyitkan dahi. "Malam-malam gini? Buat apa?" tanyanya pelan.
Varren tersenyum tipis mengeluarkan benda kecil dalam sakunya. "Mancing dong. Loe mau ikut?" tanya Varren pada Sylas.
Sylas ingin bilang tidak tapi tidak enak dan penasaran. Ia mengangguk kaku membuat Varren terkekeh, segera turun pelan-pelan di perahu miliknya. "Yuk sini gue pegangin tangan loe." ujar Varren pada Sylas.
Sylas melirik Varren gugup. "Kalo jatuh gimana Ren? Di sini ada buaya kata orang." ujarnya.
"Buaya lihat orang juga kali mau dimakan. Loe kan dagingnya alot, mana paru-parunya rusak karena suka ngerokok." ujar Varren terbahak.
Sylas mendengus mendengar ejekan Varren. "Cepetan." tegas Varren kembali.
"Bentar Ren, sabar. Ini gelap." ujar Sylas merasa perahunya goyang.
"Ren, ini kok goyang. VARREN..!" teriak Sylas kuat saat perahu tak seimbang berakhir bergerak ke kiri dan ke kanan. Semakin ia mengeratkan pegangannya di tangan Varren dan bahu Varren.
"Varren.." teriaknya saat perahu semakin menjadi bergerak. Ia memeluk Varren erat.
Varren tertawa keras mendengar teriakan ketua geng Phoenix yang katanya mau memberantas kejahatan? Tapi apa lihatlah? Dia bahkan tidak berani naik perahu..! Bisa-bisanya dia menjadi ketua geng tersebut.
"Loe diem jangan gerak. Jangan takut." Varren memeluk erat Sylas karena Sylas yang gemetar dan tak bisa tenang.
"Diem diem... jangan bergerak, jangan panik, bisa?" tanya Varren membalas pelukan Sylas.
Sylas menelan saliva keringnya dan mengangguk kaku di pelukan Varren. Ada rasa getaran aneh dalam dirinya membuat dirinya semakin gugup. "Nah pelan-pelan loe duduk tu di ada yang tempat keringnya kan. Nah duduk di sana tenang, jangan gerak-gerak. Loe jatuh dimakan buaya, gue nggak tanggung." ujar Varren kepada Sylas.
"Varren.. loe masih aja bercanda." ujar Sylas merengek. Varren tertawa semakin kencang mendengar rengekan Sylas yang manja gemulai.
"Yaallah yaampun loe mah. Enggak, ayo ayo duduk. Nih gue juga duduk, bareng yah." ujar Varren lembut.
"Tapi gue takut Ren." ujar Sylas kepada Varren merengek.
"Terus mau gimana? Loe mau duduk dipangkuan gue?? Berdiri adik gue, entar loe mau tanggung jawab???" ujar Varren kepada Sylas menggoda.
Sylas menepuk pundak Varren kencang. "Loe bercanda terus ah." ujar Sylas kesal.
Varren terkekeh melihat Sylas yang merajuk dan kesal. "Nah kan gitu enak. Perahunya nggak goyang ngebor lagi." ujar Varren terkekeh pelan.
Tujuannya sejak tadi agar Sylas tidak takut saja.
"Tadi itu bukan goyang tapi partgoy." ujar Sylas nyeletuk.
Varren mendengarnya terbahak. "Loe bisa ngelawak juga rupanya." gumamnya Varren menepuk pundak Sylas.
Sylas menghela napas pelan-pelan duduk sembari memegang tangan Varren. "Jangan ketawa mulu Varren. Ini perahu tambah partgoy." ujar Sylas geregetan.
Varren menggeleng pelan dan menggoyangkan perahu pelan kembali secara sengaja.
"Ah VARREN..!" teriak Sylas kembali berdiri memeluk Varren.
Varren terbahak kuat melihat tingkah Sylas. Sylas menepuk pundak Varren malas. "Varren bercanda loe nggak lucu Varren." ujarnya kepada Varren kesal.
Varren terkekeh. "Loe udah takut naik perahu malah ikut. Tinggal aja kalo takut." ujar Varren menunjuk ke atas lagi.
Sylas menolak tegas. "Gue nggak takut, belum terbiasa aja sih. Ayok Ren.." ujarnya kepada Varren kembali dengan kesal.
"Iya iya. Yok duduk, duduk di pangkuan Rahmatullah tapi." ujar Varren kembali menggoyangkan perahu.
"VARREN. GUE SUMPAHIN LOE JADI CEWEK..!" teriak Sylas heboh kembali memeluk Varren lebih kuat.
Varren mendengarnya terbahak kencang di perahu, memegang perutnya yang terasa sakit akibat tertawa terus menerus. "Aduh sakit perut gue Sylas aduh hahaha..."
Varren meringis memegang perutnya yang terasa keram akibat tertawa terlalu kencang.
Sylas meringis memeluk Varren diam mendengar suara tawa Varren kesal. "Sekali lagi loe gangguin gue, gue ceburin loe ke kali ye Ren." ujar Sylas kesal kepada Varren. Tanpa melepaskan pelukannya pada Varren.
Varren menepuk pundak Sylas dan terkekeh pelan. "Yaampun soswitttttt banget sih pake pelukan. Kayak di film Titanic kita. Tinggal nyanyi aja sama rentangkan tangan sama nyanyi. When I see you, I feel you... I seeee you." ujar Varren bernyanyi menggoda Sylas.
Sylas meringis dan Varren semakin tertawa keras. Varren baru tahu Sylas takut naik perahu.
Sylas diam-diam merasakan hangat dari tubuh Varren. Memejamkan mata, rasanya nyaman.
Mengapa rasanya... aku ingin selalu di sini?
Entah perasaan siapa itu, akupun tak tahu 😚😚
Bersambung...