NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Reno langsung memesan minuman beralkohol. Satu gelas. Lalu gelas berikutnya. Dan berikutnya lagi. Ia menenggak semuanya tanpa banyak berpikir. "Tambahin lagi," katanya kepada pelayan. Semakin banyak alkohol yang masuk ke tubuhnya, semakin kabur pikirannya. Namun bayangan Nadia justru tidak juga hilang.

Di tengah keramaian, beberapa perempuan mencoba mengajaknya mengobrol. Reno yang sudah mulai mabuk tidak menolak. Ia tertawa, bercanda, bahkan berpindah-pindah meja, berusaha menikmati perhatian yang diberikan kepadanya. Untuk sesaat, ia merasa bisa melupakan kecemburuannya. Namun setiap kali tertawa, bayangan Nadia bersama Fahri kembali muncul di benaknya. "Aku nggak rela..." Ia menggumam pelan sambil kembali menghabiskan isi gelasnya.

Malam semakin larut. Reno terus larut dalam gemerlap dunia hiburan, berharap alkohol dan keramaian mampu menutupi rasa kehilangan yang terus menghantuinya. Tetapi semakin ia berusaha melarikan diri, semakin ia menyadari bahwa yang dikejarnya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan penyesalan atas keputusan-keputusan yang telah mengubah seluruh hidupnya.

Malam semakin larut. Jam di ruang tamu sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi Reno belum juga pulang. Karin mondar-mandir dengan gelisah sambil berkali-kali melihat layar ponselnya. Pesan yang ia kirim sejak satu jam lalu masih berstatus belum dibaca.

"Mas, kamu di mana?"

"Kok belum pulang?"

"Aku khawatir." Tak satu pun mendapat balasan.

Karin mencoba menelepon. Nada sambung terdengar beberapa kali, lalu panggilannya terputus begitu saja. Semakin lama, perasaannya semakin tidak tenang. "Apa dia masih marah karena tadi?"

Karena tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi, Karin akhirnya menghubungi ibu Reno. Beberapa saat kemudian, panggilannya diangkat. "Assalamu'alaikum, Bu."

"Wa'alaikumussalam. Ada apa malam-malam begini?"

"Bu... Reno ada di rumah Ibu?"

"Tidak."

"Dia belum pulang sampai sekarang. Saya sudah telepon berkali-kali, tapi nggak diangkat."

Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. "Lho, jadi akhirnya Reno nggak pulang juga?" Ibu mertuanya melanjutkan dengan nada dingin. "Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan sampai anakku nggak betah di rumah?"

"Bu, saya juga nggak tahu."

"Nggak tahu atau pura-pura nggak tahu?" Karin menggigit bibir. "Belakangan ini hidup Reno makin berantakan. Usahanya tutup, namanya jelek di mana-mana, sekarang malah jarang pulang."

"Bu, jangan menyalahkan saya terus."

"Lalu siapa yang harus disalahkan? Sejak kamu masuk ke kehidupan Reno, masalahnya justru semakin banyak."

Ucapan itu membuat mata Karin mulai memanas. "Saya cuma ingin mencari Reno."

"Nah, kalau begitu cari saja. Jangan telepon saya kalau cuma mau menanyakan anak saya yang bahkan lebih sering bersama kamu daripada bersama ibunya." Tanpa menunggu jawaban, sambungan telepon langsung terputus.

Karin menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Dadanya terasa sesak. Di saat ia sedang diliputi kecemasan karena suaminya belum pulang, ia justru harus menerima sindiran dari ibu mertuanya. Ia kembali mencoba menghubungi Reno. Tetap tidak ada jawaban. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Karin mulai dihantui ketakutan bahwa Reno tidak hanya sedang pergi untuk menenangkan diri, tetapi perlahan juga mulai menjauh darinya.

Dengan tangan gemetar, Karin kembali menekan tombol panggil. Kali ini, telepon Reno akhirnya tersambung. "Mas! Kamu di mana?" ucap Karin buru-buru.

Namun, suara yang menjawab bukanlah Reno.b"Halo... ini siapa ya?"

Karin langsung mengernyit. "Maaf, ini siapa? Saya istrinya Reno."

"Oh... jadi Ibu istrinya?"

"Iya. Mas Reno di mana?"

Perempuan itu menoleh ke arah seseorang, lalu menjawab dengan nada datar. "Suami Ibu lagi mabuk berat. Dia sudah nggak bisa diajak bicara."

Jantung Karin langsung berdegup kencang. "Mabuk?"

"Iya. Dari tadi minum terus."

Karin berdiri dari kursinya. "Kasih teleponnya ke dia!"

"Nggak bisa, Bu. Beliau bahkan susah berdiri."

Karin semakin panik. "Lalu sekarang dia di mana?"

Perempuan itu menyebutkan nama tempat hiburan malam tempat Reno berada. Belum selesai rasa terkejut Karin, perempuan itu kembali berkata, "Maaf, Bu... sebenarnya saya angkat telepon karena kami kesulitan. Tagihan minuman dan layanan yang beliau pesan belum dibayar, sementara kondisi beliau sudah benar-benar mabuk."

Wajah Karin seketika pucat. "Baik... saya ke sana sekarang." Tanpa berpikir panjang, Karin segera mengambil tas dan melajukan mobil menuju lokasi. Beberapa puluh menit kemudian, Karin tiba di tempat hiburan tersebut. Dentuman musik terdengar keras begitu ia memasuki ruangan.

Matanya menyapu setiap sudut hingga akhirnya menemukan Reno. Pria itu terduduk di sofa dengan kepala tertunduk. Di sekelilingnya tampak beberapa perempuan yang sejak tadi menemaninya, sementara meja di depannya dipenuhi gelas-gelas kosong. "Mas Reno!" Suara Karin membuat beberapa orang menoleh.

Reno mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya sudah tidak fokus. "...Karin?"

Karin menghampiri dengan langkah cepat. "Jadi ini alasan kamu nggak pulang?"

Reno hanya tertawa kecil dalam pengaruh alkohol. "Kamu... ngapain ke sini..."

Karin menatap perempuan-perempuan yang berada di dekat Reno, lalu kembali menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku mencarimu ke mana-mana. Aku telepon berkali-kali. Aku sampai dimarahi ibumu karena mengira aku yang membuatmu pergi." Reno tidak menjawab. "Kamu malah ada di sini... mabuk..."

Suasana di sekitar mereka mendadak canggung.bKarin menggeleng pelan, antara marah dan kecewa. "Mas, ayo pulang."

Reno masih terduduk tanpa banyak bereaksi.

Dengan napas berat, Karin menyelesaikan urusan pembayaran yang diperlukan agar Reno bisa dibawa pulang. Setelah itu, ia membantu suaminya berdiri dan menuntunnya keluar dari tempat hiburan. Di sepanjang perjalanan menuju mobil, tidak ada lagi kata-kata. Yang terdengar hanya langkah kaki Reno yang gontai, sementara Karin mulai menyadari bahwa rumah tangga yang selama ini mati-matian ia pertahankan sedang berada di titik paling rapuh.

***

Malam itu menjadi malam yang paling panjang bagi Karin. Setelah berhasil membawa Reno pulang dalam keadaan mabuk, ia membantu suaminya masuk ke kamar. Reno langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa menit kemudian, suara dengkur pelan mulai terdengar, seolah semua kekacauan malam itu tidak pernah terjadi.

Berbeda dengan Reno, Karin sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah suaminya yang tertidur lelap. Perasaannya bercampur aduk. Marah. Kecewa. Sedih. Dan cemburu.

Air matanya menetes tanpa terasa. "Kenapa, Mas?" bisiknya lirih. "Apa aku sudah nggak cukup buat kamu?"

Bayangan Reno yang tertawa bersama perempuan-perempuan di tempat hiburan terus terulang di kepalanya. Setiap kali mengingatnya, dadanya terasa sesak. Padahal selama ini ia mati-matian berusaha mempertahankan rumah tangga mereka. Ia rela dihujat di media sosial, rela mengeluarkan banyak uang demi membangun citra mereka, berharap suatu hari kehidupan mereka kembali membaik. Namun balasan yang ia terima justru membuat hatinya hancur.

Karin berdiri, lalu berjalan ke arah jendela. Di luar, langit masih gelap. Ia memeluk kedua lengannya sendiri, berusaha mengusir dingin yang terasa hingga ke dalam dada.

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!