Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG : TAKHTA DI ATAS DARAH
Ruang pertemuan di kediaman Ouroboros biasanya adalah tempat di mana nyawa seseorang diputuskan.
Malam ini, suasananya lebih kacau karena adanya pengkhianatan di dalam organisasi. Suara benturan gelas dan makian kasar memenuhi udara, bercampur dengan bau cerutu yang menyesakkan.
Dante berdiri di sudut ruangan, tangannya terlipat di depan dada. Matanya tajam, mengawasi setiap pergerakan.
Tiba-tiba, suara denting sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai terdengar. Iramanya lambat, tenang, tapi langsung memotong keributan.
Semua orang terdiam. Para algojo yang tadinya saling todong senjata perlahan menurunkan pistol mereka.
Elara turun dari tangga dengan gaun emerald yang mencolok. Rambutnya tergerai, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia berjalan lurus seolah ruangan besar itu kosong.
"Dante," panggil Elara datar. "Kamu menghalangi jalan."
Dante—pria yang paling ditakuti di sana—langsung menunduk dan mundur selangkah, memberi jalan.
Elara terus berjalan ke meja tengah, tanpa memperdulikan kekacauan di sana. Ia mengambil bukunya yang tertinggal di meja, lalu menoleh sedikit ke arah Dante.
"Ruangan ini berisik, Dante. Bersihkan dalam lima menit. Aku mau tidur."
Tanpa menunggu jawaban, Elara berbalik dan naik kembali ke lantai atas.
Dante menghela napas, menatap punggung Elara sampai hilang di tikungan tangga. Begitu ia berbalik menghadap orang-orang di ruangan, tatapannya berubah jadi seringai tipis.
"Kalian dengar Nona Elara, kan?" suara Dante berat dan mengancam. "Waktu kalian lima menit."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..