NovelToon NovelToon
Raya Gadis Desa Terhina, Dinikahi CEO Tampan

Raya Gadis Desa Terhina, Dinikahi CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.

Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.

Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.

Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejahilan yang Dapat diterima

Cuaca mendung hari ini sangat kontras dengan keadaan hati Raya yang cerah, Setelah pelukan hangat malam dan tidur dalam dekapan Juan, masih menyisakan semburat merah diwajah cantik Raya yang sudah terpoles oleh make up tipis.

Perutnya terasa penuh oleh kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitikinya. Pagi ini Raya terbangun dalam keadaan hati yang berbunga-bunga, pelukan hangat itu tuntas menemani tidur Raya sampai terbangun dengan keadaan tangan Juan yang masih melingkar diperutnya.

Angin sepoi-sepoi pagi menyapu lembut wajah Raya yang sedang sibuk memakaikan dasi dikerah kemeja Juan, dengan Juan yang sibuk memanaskan mobilnya. Mereka bangun kesiangan, tidur nyenyak karena terbuai dalam hangatnya pelukan. untung mbok Uti dateng pagi dan langsung memasak sarapan untuk Juan.

"Bang satu suap lagi, sayang nasinya nanti nangis." akhirnya Juan kembali membuka mulutnya, yang kemudian disuapi nasi goreng oleh Raya. Juan yang sedang memakai kaos kaki dan sepatu dengan terburu-buru. Sudah pukul tujuh tigapuluh biasanya jam segini Juan udah sampai dikantornya.

Sementara Raya cepat meraih segelas air dan menyerahkannya pada Juan.

"Udah bang, rapi. Apalagi yang kurang?" tanya Raya, sambil menyaksikan Juan yang sudah berdiri sambil merapikan beberapa bagian kemejanya.

Juan menggeleng, pelan. "Gak ada. yaudah aku berangkat."

Raya mengangguk seraya tangannya meraih tangan Juan dan menciumnya pelan. kehangatan dari punggung tangan Juan cepat merayap melalu setiap syarafnya membuat Juan semakin semangat untuk pergi bekerja.

"Eh, bentar." tangan Juan menarik pelan kepala Raya.

Sontak Raya memejamkan matanya, bersiap untuk menerima kecupan hangat pagi ini. jantungnya makin berdebar seiring dengan senyum yang terukir pada wajahnya.

Juan melihat Raya dengan tatapan bingung, kemudian senyum tipis terukir diwajahnya, yang tak lain sebuah senyum jahil.

"Kamu kenapa tutup mata? ambilin tas itu diatas kursi, aku sudah pake sepatu." ucapan Juan sontak membuat Raya membuka mata selebar-lebarnya. Harapan kecupan hangat itu sirna sudah, berubah dengan rasa malu. kelihatan banget mengharapnya.

Raya mendelik pelan ke arah suaminya, hal itu sontak membuat Juan mengulum senyum.

"Kirain..." ucap Raya seraya berjalan mengambil tas kerja milik Juan. Bibirnya mengerucut, pertanda sebal karena lagi-lagi ia dijahili oleh suaminya.

"Nih, yaudah berangkat sana bang." Raya masih memasang wajah cemberut.

"Yaudah, makasih udah diambilin." Juan menarik pintu mobilnya kemudian memasukan tubuhnya kedalam mobil. Raya masih berdiri disana, ia tidak akan beranjak sebelum mobil Juan pergi dan tidak terlihat lagi dari pandangannya.

"Ray, itu apa sepertinya ada ulat di rambut." Juan dengan tampang yang sangat serius, membuat Raya membelalakan matanya, tapi tetap berusaha setenang mungkin.

"Mana bang? tolong ambilin" Raya membungkukkan tubuhnya kearah Juan.

Juan meraih kepala Raya pelan. "Sini, lebih Deket!"

Cup.

Kecupan nyata mendarat di kening Raya, ulat itu hanyalah akal-akalan Juan saja. Sebagai alasan, agar Juan bisa mendaratkan kecupan pada kening Raya. Pengganti kecupan yang tadi Raya harapkan.

Kecupan hangat itu membuat Raya membeku ditempat, senyum terukir diwajahnya. walaupun diawali dengan kejahilan, tapi menurut Raya ini sangat lucu. Membuat dadanya terasa penuh oleh rasa bahagia.

Juan melepaskan kecupannya, semburat senyum tipis juga menghiasi wajah tampannya. Tangannya kini sudah memutar kunci mobil kemudian menyalakan staternya.

Raya sudah menarik dirinya, spontan menutup keningnya dengan kedua telapak tangan. Wajahnya memerah hingga ke telinga. Baru beberapa detik yang lalu ia dibuat malu karena ketahuan mengharapkan kecupan, kini justru benar-benar mendapatkannya.

"Berangkat, udah telat." Juan melirik sekilas pada Raya yang masih membeku ditempatnya berdiri.

Juan menekan pedal gas perlahan sementara matanya tertuju pada kaca spion samping, semburat senyum tipis menghiasi wajah tampannya, melihat wajah Raya yang tersenyum dengan pipi yang bersemu merah.

Tit.

Raya sedikit tersentak kemudian melambaikan tangannya pada Juan yang sudah melajukan mobilnya dengan perlahan.

"Hati-hati..." dengan suara pelan. Raya tetap mematung sampai dengan mobil Juan hilang dari pandangannya.

*

Raya duduk di meja makan, ditangannya sudah terdapat buku tulis dan balpoin. Siang ini ia akan mencatat semua menu sarapan, makan siang, dan makan malam. Tentunya semua menu yang ia catat harus di diskusikan terlebih dahulu dengan mbok Uti.

Raya menuliskan satu per satu menu yang disarankan Mbok Uti di buku kecilnya. Sesekali ia mengangguk sambil memberi tanda bintang pada beberapa menu favorit Juan.

"Den Juan paling suka ayam bakar madu, Nduk. Kalau ada sop jagung sama kentang goreng, biasanya makannya nambah," ujar Mbok Uti sambil tersenyum.

Raya tersenyum tipis. Tanpa sadar ia memberi lingkaran kecil pada tulisan ayam bakar madu. Entah mengapa, mengetahui makanan kesukaan Juan membuat hatinya terasa hangat. Mungkin beginilah rasanya mulai belajar memperhatikan seseorang.

"Kemarin juga bang Ju lahap banget makan sama ayam bakar mentega," timpal Raya, tangannya sibuk membuat garis penanda pada setiap masakan yang Juan suka.

"Den Juan memang lebih suka makan rumahan non, daripada makanan siap saji. Katanya kalau sekali saja makan sembarangan tubuhnya akan sakit-sakit."

Raya sedikit terkekeh dengan penjelasan mbok Uti. Jadi membayangkan wajah Juan yang manja kala sakit.

"Non Raya.."

"Iya mbok..?" Raya melirik ramah pada mbok Uti yang masih berkutat beberes didapur.

"Mbok seneng banget liat den Juan yang akhir-akhir ini sering tersenyum, semenjak menikah sama non Raya."

Raya tersenyum hangat, matanya menatap halus mbok Uti yang tersenyum ramah ke arahnya. "Emang sebelum nikah bang Ju jarang benget senyum?"

Mbok Uti mengangguk, dengan cekatan tangannya mengelap kompor yang bernoda bekas tadi pagi memasak. "Bahkan den Juan jarang banget pulang kesini. Saking sibuknya dikantor den Juan lebih memilih tinggal di apart yang lokasinya dekat dengan kantor."

"Apart? Raya baru tau kalau bang Ju punya apart."

"Den Juan belum cerita ya sama non."

Raya menutup bukunya catatannya, satu tangannya menjadi penopang dagunya. Sebersit pertanyaan kini muncul dalam benaknya.

"Mbok Uti, Raya mau nanya, apa bang Ju pernah nakal?"

Mbok Uti menghentikan sejenak kegiatannya, dahinya berkerut tanda sedang berfikir. "yang mbok tau si gak pernah non, den Juan sibuk sekali sama kerjaannya. Dia usia yang masih muda ia mampu mendirikan kantor yang sedang dirintisnya sekarang, pokoknya dalam otaknya ya kerja, kerja dan kerja."

Raya tampak mengangguk paham, ada kebahagiaan yang menelusup didalam dadanya. Suaminya yang berwajah seperti pria nakal itu ternyata tidak senakal yang ia bayangkan.

"Kalau gosip yang memfitnah Juan itu, mbok juga denger non." tambah mbok Uti.

"Tapi bang Juan tidak seperti itu pada kenyataannya mbok, bang Ju normal seperti pria pada umumnya." jawaban Raya sontak membuat mbok Uti tersenyum menggoda.

"Pasti udah ya." goda mbok Uti.

Bersambung.

1
Datu Zahra
drama, bertele². Disaat emosi itu justru butuh penjelasan, bukan diem. Apa lagi cewek, fakta 80% semua butuh saat itu juga dijelasin. basi narasi begini mah
roses: itu ide, kalau kritik pada tokoh bisa saya terima dengan baik. tapi itu adalah narasi saya.
total 4 replies
Datu Zahra
ibu sama abang matre malah dikasih mahar gede, jadi benalu terus lah.
Datu Zahra
orangtua begitu kok dibelain, tinggal merantau, putus hubungan. Bukan salah anak jadi durhaka kalo modelan ortu macam ini mah
Rian Moontero
mampiir👍
roses: makasih kak
total 1 replies
ceuceu
Lah kok raya ga pake hijab keluar rumah di bab ini?
di bawa awal" raya pakai hijab sehari".
jadi raya ini berhijab ga thor?
roses: insyaAllah sebentar lagi Istiqomah, jadi istri shalehahnya CEO
total 3 replies
ceuceu
tumben bu maimun inget raya,biasanya raya ga makan aj ga peduli
roses: bu Maimun udah mulai sadar sepertinya kak, mulai gak terima jika anaknya disakiti oleh orang lain
total 1 replies
Lisa
Wah Bu Shinta mengira udh terjadi sesuatu dgn mereka berdua 😊
Lisa
Bagus banget Raya kejarlah impianmu di kota..puji Tuhan Raya bertemu dgn Pak Bram & Bu Shinta.
Lisa
Tinggalin aj Ibu kamu Raya..toh di g menghargai kamu..udh pindah aj dr desa itu dan kerja di kota.
Lisa
Aku mampir Kak
falea sezi
bloon pergi dr situ ngapain mau maunya hasil. krja diambil semua
roses: kak makasih ya, kamu rajin banget baca semua karya author
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!