Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Kecemburuan Rian
Berita kenaikan pangkat Bagas dari petugas kebersihan menjadi Staf Ahli Khusus dengan gaji dan wewenang setingkat direksi menyebar ke seluruh penjuru Gedung Artha Mas bagai api yang menyambar tanah kering. Semua orang ternganga, berbisik-bisik tak percaya, dan bertanya-tanya kehebatan apa yang dimiliki pemuda itu hingga bisa melompat sejauh itu dalam sekejap mata. Ada yang kagum, ada yang bahagia melihat keadilan akhirnya datang, tapi tak sedikit pula yang merasa iri, tidak terima, dan merasa hal itu tidak pantas terjadi.
Dan di antara mereka yang paling terbakar rasa sakit hati dan kecemburuan adalah Rian Adhitama.
Meski sudah dipecat secara tidak hormat dan diusir dari gedung itu karena kejahatannya dulu, Rian masih memiliki telinga-telinga kecil di sana. Melalui teman-teman atau staf yang masih ia kenal, ia selalu mendapat kabar perkembangan di tempat itu. Saat mendengar berita kemenangan besar Bagas, darahnya mendidih hebat, wajahnya memerah menahan amarah, dan tinjunya menghantam meja keras.
"Bagas? Si OB itu? Menjadi staf ahli? Menjadi Mitra dekat Pak Ardiansyah?!" teriak Rian sendiri di ruang kerjanya yang kini jauh lebih kecil dan sepi. "Tidak mungkin! Itu tidak adil! Dia cuma sampah masyarakat. Kenapa nasibnya berubah jadi sebagus ini? Kenapa dia yang menang terus?!"
Bagi Rian, kemenangan Bagas adalah kekalahan terbesarnya. Ia sudah kehilangan jabatan, kehilangan nama baik, dan kehilangan kesempatan mendekati Naya. Dan sekarang, melihat sosok yang ia hina, ia tindas, dan ia anggap tidak berharga itu justru naik ke puncak kesuksesan yang dulu ia impikan, membuat harga dirinya terasa diinjak-injak berkali-kali lipat.
Rian tidak bisa menerima kenyataan bahwa Bagas benar-benar cerdas, benar-benar hebat, dan benar-benar berhak mendapatkannya. Di matanya, keberhasilan Bagas pasti ada sesuatu yang tidak beres. Pasti ada kecurangan. Pasti ada jalan pintas kotor. Dan sasaran tuduhan utamanya hanya satu: Naya.
Dengan hati yang penuh dendam dan niat jahat, Rian mulai bergerak. Ia tidak punya kuasa lagi di dalam gedung, tapi ia punya mulut dan koneksi di luar sana. Ia mulai menyebar gosip ke sana ke mari, ke mantan rekan kerjanya, ke mitra bisnis, ke lingkungan sosial, hingga perlahan kabar itu masuk kembali ke telinga orang-orang di dalam Artha Mas.
Cerita yang ia bungkus dengan kata-kata manis dan nada meragukan itu berbunyi begini:
"Ah, kalian belum paham saja. Bagas itu bukan jenius, dia cuma beruntung. Dia kebetulan dapat ide yang pas, itu saja. Kalau dibilang dia pintar melebihi sarjana, itu omong kosong. Lagian... kalian tidak lihat bagaimana dia bisa naik cepat sekali? Jelas dong. Dia dekat dengan Naya. Siapa yang tidak tahu kalau Naya sering membela dia dari dulu? Siapa yang tidak lihat kedekatan mereka? Pemuda miskin macam itu pasti punya rencana. Dia mendekati Naya, dia memanfaatkan perasaan wanita itu, supaya bisa masuk ke keluarga Ardiansyah, supaya bisa menguasai kekayaan dan perusahaan. Dia cuma penggila harta, pencari kekayaan yang pandai bersandiwara jadi orang baik dan cerdas."
Gosip itu menyebar bagai penyakit menular. Awalnya hanya bisik-bisik kecil di kantin atau di koridor sepi, tapi lama-kelamaan makin keras, makin meyakinkan, dan makin banyak yang percaya. Banyak orang yang memang tidak suka melihat orang miskin tiba-tiba jadi kaya, atau orang biasa tiba-tiba jadi pemimpin, dengan senang hati memakan berita itu. Karena itu lebih mudah diterima akal mereka daripada mengakui bahwa pemuda itu memang lebih hebat dari mereka.
"Dia cuma manfaatkan Naya saja," kata seorang staf sambil meminum kopinya. "Iya benar. Mana ada petugas kebersihan semalam jadi staf ahli kalau bukan karena ada dukungan orang dalam. Pintar saja tidak cukup, pasti ada main di belakang."
"Kasihan Naya ya," timpal yang lain. "Dia kan baik hati dan polos, mudah percaya orang. Dia pasti tidak sadar kalau dia cuma jadi sasaran empuk orang miskin yang haus harta."
Kabar buruk dan fitnah kejam itu akhirnya sampai juga ke telinga Pak Ardiansyah.
Awalnya Pak Ardiansyah mengabaikan. Ia tahu kemampuan Bagas. Ia sudah melihat sendiri bukti kerja keras dan kecerdasannya. Tapi semakin hari, semakin banyak orang yang bertanya, semakin banyak mitra bisnis yang berbisik ragu, dan semakin banyak kerabat yang mengingatkan. Rasa was-was itu perlahan tumbuh merayap di hatinya.
Sebagai orang tua dan pemilik kekayaan besar, ketakutan terbesarnya adalah ada orang yang mendekati anaknya bukan karena cinta, tapi karena harta. Ketakutan itu wajar, dan gosip jahat Rian berhasil memukul tepat di titik lemah itu.
Siang itu, Pak Ardiansyah memanggil Naya dan Bagas masuk ke ruangannya. Suasananya tidak lagi hangat dan bangga seperti saat pengangkatan Bagas dulu. Ada ketegangan, ada keraguan, dan ada dingin yang terasa menusuk.
Bagas masuk dengan penampilan rapi, memakai kemeja kerja resmi yang baru, wajahnya bersih dan berwibawa. Ia sudah terlihat jauh berbeda, sudah layak duduk di ruangan itu. Naya berjalan di sampingnya, tampak cemas dan bingung dengan panggilan mendadak ini.
"Duduklah," ucap Pak Ardiansyah singkat, wajahnya serius sekali.
Keduanya duduk saling berhadapan dengan Pak Ardiansyah di seberang meja besar itu. Pak Ardiansyah menatap tajam ke wajah Bagas, lalu beralih ke wajah anak gadisnya.
"Bagas... Naya..." mulai Pak Ardiansyah perlahan, suaranya berat. "Aku panggil kalian kemari bukan untuk membahas urusan bisnis, tapi urusan yang lebih pribadi dan menyangkut nama baik perusahaan ini. Belakangan ini aku mendengar banyak sekali pembicaraan, baik dari dalam maupun luar. Pembicaraan yang... cukup mengganggu."
Bagas diam, menatap Pak Ardiansyah dengan tenang, sementara Naya sudah mulai gelisah di kursinya.
"Orang-orang bilang..." lanjut Pak Ardiansyah, matanya mengerut menahan perasaan, "Bahwa kenaikan pangkatmu yang sangat cepat ini, Bagas, bukan semata-mata karena kecerdasan atau jasamu pada perusahaan. Mereka bilang... kamu punya cara lain. Kamu mendekati Naya, kamu mengambil hati anakku, kamu memanfaatkan perasaannya, supaya kamu bisa naik kelas, supaya kamu bisa menguasai kekayaan keluarga kami. Mereka bilang kamu bukan pemuda yang tulus, tapi pemuda yang licik, yang menjadikan kedekatan dengan Naya sebagai tangga untuk meraih harta dan kekuasaan."
Kalimat itu meluncur keluar, tajam dan menyakitkan. Wajah Bagas yang tenang sedikit berubah. Ada luka yang tergambar di sana. Ia tidak kaget kalau dituduh mencuri, dituduh bodoh, atau dituduh malas. Tapi dituduh mendekati Naya demi harta... itu adalah tuduhan paling kejam dan paling menyakitkan baginya. Karena ia tahu betul, ia berjuang mati-matian, ia mengasah otaknya, ia bekerja siang malam, semuanya demi satu alasan: supaya pantas mencintai Naya. Supaya bisa mendekati Naya bukan karena mengemis, tapi karena setara.
Dan di sampingnya, Naya langsung berdiri marah, matanya berkaca-kaca menahan amarah.
"Ayah! Itu tidak benar! Itu fitnah jahat! Siapa yang bilang begitu? Bagas tidak pernah seperti itu! Bagas orang paling tulus, paling jujur yang pernah aku kenal! Dia sudah membuktikan berkali-kali dia hebat tanpa aku minta tolong sedikit pun! Dia sudah menyelamatkan perusahaan kita berkali-kali sebelum aku dekat sama dia!" bentak Naya, suaranya bergetar karena marah dan sedih.
Pak Ardiansyah mengangkat tangan menenangkan anaknya. "Aku tahu, Nak. Aku percaya penilaianku sendiri soal kemampuannya. Tapi aku ayahmu. Aku punya kewajiban melindungimu, melindungi nama baik keluarga, dan melindungi harta yang sudah aku bangun seumur hidup. Dunia ini jahat, Naya. Banyak orang pandai bersandiwara. Dan gosip ini makin keras karena memang terlihat ada kedekatan khusus di antara kalian berdua."
Pak Ardiansyah kembali menatap Bagas, tatapannya penuh penyelidikan.
"Bagas... aku angkat kamu karena aku kagum otakmu. Aku angkat kamu karena aku butuh orang pintar dan jujur di sisiku. Tapi kalau ternyata di balik itu semua ada niat lain... kalau ternyata kamu mendekati anakku demi kekayaan... ingat satu hal, aku bisa mengangkatmu setinggi langit, dan aku bisa menjatuhkanmu kembali ke tanah paling dalam dalam sekejap mata. Ke mana asalmu, ke sanalah kamu akan kembali, bahkan lebih buruk lagi."
Ancaman itu jelas dan keras. Hening menyelimuti ruangan. Bagas menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak marah. Ia paham dari mana ketakutan itu datang. Ia sadar posisinya. Ia miskin, Naya kaya. Dalam logika dunia, memang sangat wajar kalau orang berpikir ia mengejar harta. Rian berhasil memutarbalikkan fakta: ia yang berjuang mati-matian supaya pantas, kini dituduh berjuang demi mendapatkan harta.
Bagas mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Pak Ardiansyah, lalu melirik sekilas ke arah Naya yang menatapnya penuh kekhawatiran dan permohonan.
"Tuan Ardiansyah..." jawab Bagas pelan namun tegas, suaranya tenang namun bergetar menahan rasa sakit. "Saya tidak bisa mengontrol apa yang orang lain katakan. Mulut mereka bebas bicara, dan saya mengerti kekhawatiran Bapak. Bapak ayah yang bijak dan bertanggung jawab. Tapi ada satu hal yang saya sumpah demi Tuhan dan demi harga diri saya, Saya tidak pernah mendekati Naya demi harta, jabatan, atau kekayaan."
Bagas berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca.
"Saya berjuang sekeras ini, saya belajar mati-matian, saya memeras otak dan tenaga saya... semuanya karena saya sadar saya miskin, saya rendah, saya tidak punya apa-apa. Saya takut orang bilang saya penggila harta. Makanya saya buktikan saya bisa berdiri sendiri.
Penjelasan itu begitu jujur, begitu dalam, dan begitu menyentuh hati. Pak Ardiansyah terdiam. Ada kebenaran yang terpancar jelas dari mata pemuda itu. Tapi rasa khawatir dan gosip yang beredar belum hilang begitu saja.
"Kata-kata indah saja tidak cukup membungkam mulut orang, Bagas," jawab Pak Ardiansyah akhirnya. "Untuk saat ini, demi kebaikan bersama, demi nama baikmu, dan demi ketenangan hati semua orang... aku minta satu hal. Kamu tetap bekerja, tetap menjadi staf ahiku, aku tetap butuh kamu. Tapi... kurangi kedekatan pribadi dengan Naya. Jangan sering berdua-duaan. Jangan ada hal yang memicu pembicaraan orang lagi. Biar semua orang tahu, kamu ada di sini karena kerja dan kemampuan, bukan karena anakku."
Perintah itu seperti pisau yang menusuk dada kedua orang itu. Naya menatap ayahnya tak percaya, matanya penuh air mata. Bagas menundukkan wajahnya, rasa sakit terasa di dada. Ini adalah hukuman paling berat baginya. Baru saja ia naik pangkat, baru saja ia sejajar, baru saja gengsi itu mulai runtuh... sekarang ia harus menjauh. Ia harus menjaga jarak lagi, bukan lagi karena status sosial, tapi karena fitnah jahat Rian.
"Saya mengerti, Tuan," jawab Bagas pelan, suaranya patah-patah namun tetap sopan. "Saya akan patuh. Saya akan buktikan lewat kerja saya, bukan lewat kata-kata saya. Waktu yang akan menjawab siapa yang benar dan siapa yang salah."
Bagas bangkit berdiri, membungkuk hormat, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah berat. Naya ingin sekali mengejarnya, ingin sekali memeluknya dan bilang dia percaya sepenuhnya, tapi ia tertahan oleh tatapan tegas ayahnya.
Di koridor sepi, Bagas berjalan sendirian.
Namun, di dalam hati Bagas, rasa sakit itu justru berubah menjadi api yang makin panas. Bagas geram, matanya kembali berkilat.
''Aku akan bekerja lebih hebat lagi. Aku akan membuat hasil kerjaku makin gemilang sampai mulut orang-orang yang berbicara buruk itu terkunci rapat oleh bukti nyata. Dan saat nanti kebenaran terbuka lebar... saat nanti semua orang tahu betapa murni niatku... saat itulah aku akan mengambil Naya sepenuhnya, bukan lagi sebagai pemuda miskin, tapi sebagai pemenang sejati yang pantas mendapatkan segalanya."