NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan yang Mematikan

Dua minggu berlalu seperti hukuman yang tak berujung. Suasana kediaman utama Wiragata terasa lebih dingin daripada gudang es. Setiap pagi dan malam, Halra menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan presisi yang menakutkan. Ia duduk di seberang Sano saat sarapan dan makan malam, menyantap makanannya dengan tenang, tanpa satu kata pun yang terucap. Tatapan matanya datar, seolah Sano hanyalah sebuah furnitur di ruangan itu.

Sano, yang terbiasa dengan Halra yang selalu menantang atau setidaknya berdebat dengannya, merasa hancur. Keheningan itu jauh lebih menyiksa daripada teriakan. Ia berkali-kali mencoba memancing pembicaraan, namun Halra hanya merespons dengan anggukan atau gelengan kepala yang singkat.

Di belakang Halra, Tazam selalu berdiri layaknya bayangan yang tak terpisahkan. Ia menjadi saksi bisu dari setiap detik penyiksaan psikologis yang terjadi di meja makan tersebut.

Hari itu, suasana mencapai titik didih. Saat sarapan selesai, Halra bangkit untuk kembali ke paviliun. Namun, nasib buruk menimpanya; ujung kakinya tersangkut pada kaki meja kayu jati yang berat. Halra kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng, dan ia jatuh menghantam lantai marmer dengan suara yang cukup keras.

"Halra!"

Spontan, Sano melompat dari kursinya. Ia berlari secepat kilat ke arah Halra yang sedang meringis memegangi pergelangan kakinya yang kini mulai membiru. Tanpa pikir panjang, Sano menjatuhkan diri di samping istrinya dan hendak merengkuh tubuh Halra ke dalam pelukannya.

Namun, reaksi Halra melampaui dugaan. Begitu tangan Sano menyentuh bahunya, Halra menepisnya dengan tenaga penuh—sebuah gerakan penuh penolakan yang sangat kasar dan penuh kebencian.

"Jangan sentuh aku," desis Halra, suaranya dingin dan tajam.

Sano tertegun, tangannya menggantung di udara. Luka di hatinya menganga lebar. "Halra, kakimu cedera, biarkan aku—"

"Tazam," panggil Halra tanpa memedulikan keberadaan Sano.

Tazam bergerak dalam hitungan detik. Tanpa meminta izin pada Sano, Tazam menggendong tubuh Halra dengan sangat hati-hati, memposisikan wanita itu dalam dekapannya dengan penuh perlindungan. Halra menyandarkan kepalanya di bahu Tazam, menutup mata, mengabaikan Sano sepenuhnya.

Sano berdiri mematung di tengah ruangan, melihat punggung Halra yang menjauh. Dari jendela bangunan utama, ia melihat Tazam berlutut di paviliun, memijat lembut kaki putih mulus Halra dengan penuh kehati-hatian. Pemandangan itu bagaikan belati yang menghujam jantungnya. Sano mencengkeram bingkai jendela hingga kayu itu retak.

Rasa sakit, cemburu, dan amarah bercampur aduk menjadi gumpalan emosi yang tak tertahankan. Namun, alih-alih meledak dalam amukan yang merusak, Sano justru terdiam. Ia menyadari bahwa kekuatannya—kekuasaan, intimidasi, dan ancaman—tidak lagi berpengaruh pada Halra.

Ia menoleh ke arah Abinawa yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat.

"Abinawa," suara Sano terdengar parau namun tegas. "Siapkan mobil."

"Baik, Tuan. Apakah saya harus ikut menyiapkan pengawal untuk keamanan Anda?" tanya Abinawa.

Sano menatap asistennya dengan sorot mata dingin yang membuat Abinawa langsung menunduk. "Tidak. Biarkan mobilnya di depan. Aku akan menyetir sendiri. Tidak ada yang boleh mengikutiku. Jika ada yang berani membuntuti, aku akan memastikannya tidak akan pernah bekerja lagi untuk keluarga ini."

Sano tidak membutuhkan pendamping, dan dia pasti tidak ingin ada saksi atas kerapuhannya malam ini. Ia melangkah keluar dengan langkah lebar, wajahnya tampak seperti topeng marmer yang tak tersentuh.

Sano masuk ke dalam mobilnya sendiri, mengabaikan sopir yang biasanya melayani. Mesin mobil menderu keras saat ia memacu kendaraannya meninggalkan gerbang kediaman Wiragata. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, namun ia tahu bahwa ia butuh kesendirian. Di sepanjang jalanan yang sunyi, Sano hanya bisa mencengkeram setir dengan jemari yang memutih.

Ia meninggalkan Halra, meninggalkan Tazam, dan meninggalkan keheningan yang menyesakkan itu di belakang. Malam ini, Sano Joharo akan menempuh perjalanan seorang diri, mencari jawaban atau mungkin mencari cara untuk merelakan sesuatu yang terasa sudah lama hancur di tangannya.

Sano telah pergi, membawa serta deru mesin mobil yang perlahan menghilang di balik gerbang kediaman Wiragata. Di paviliun, suasana jauh lebih hangat dibandingkan gedung utama yang kini sunyi. Tazam baru saja selesai membalut pergelangan kaki Halra dengan teknik yang presisi. Halra menarik napas lega saat rasa nyeri yang tadi menusuk kini perlahan mereda.

"Terima kasih, Tazam," ucap Halra tulus. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang penuh rasa percaya—sesuatu yang tak pernah ia berikan pada Sano selama dua minggu terakhir. "Jika bukan karena kau, aku pasti masih tergeletak di lantai marmer yang dingin itu, sementara Sano hanya berdiri terpaku dengan wajah sok khawatirnya."

Tazam hanya menunduk hormat, namun ada kilatan intens di matanya. "Sudah kewajiban saya, Nyonya. Dan saya akan selalu memastikan Anda tidak perlu lagi bergantung pada pria itu."

Halra menyandarkan punggungnya di sofa, matanya kini berkilat penuh tekad yang dingin. Ia tidak ingin lagi menjadi istri yang terdiam dan pasif. Jika Sano ingin bermain api dengan menyimpan rahasia tentang Nenek Daisa dan bersikap seolah-olah dia memiliki segalanya, maka Halra akan menyerang titik paling lemah pria itu: kesombongan dan hartanya.

"Tazam," panggil Halra dengan nada yang tiba-tiba berubah tegas.

"Ya, Nyonya?"

"Hubungi langganan perhiasan berlian keluarga Wiragata. Katakan padanya untuk membawa koleksi paling eksklusif dan mahal yang mereka miliki ke paviliun ini besok pagi. Setelah itu, hubungi desainer pakaian kelas atas, serta pemasok perlengkapan kecantikan dan perawatan tubuh paling mewah yang bisa kau temukan di kota ini. Aku ingin mereka semua datang ke sini."

Tazam terdiam sejenak, memahami arah pemikiran Halra. "Nyonya, itu akan memakan biaya yang sangat besar. Tuan Sano pasti akan mendapatkan notifikasi transaksi di setiap kartu utamanya."

Halra tersenyum miring, senyum yang tidak memiliki kehangatan, hanya sebuah tantangan. "Justru itu tujuannya, Tazam. Aku ingin menghabiskan uangnya sampai dia merasa sesak. Aku ingin dia melihat tagihan-tagihan itu menumpuk di mejanya dan merasa bahwa aku bukan lagi pion yang bisa ia atur. Aku ingin dia marah, aku ingin dia merasa terhina dengan gaya hidupku yang gila-gilaan ini."

Halra bangkit berdiri dengan tertatih, menahan sakit di kakinya, namun matanya tetap tajam. "Jika dia cukup berani untuk menyembunyikan rahasia besar tentang Nenek Daisa dan bermain drama dengan Savhelicha, maka dia harus cukup berani untuk menghadapi istri yang tidak lagi menghormati isi dompetnya. Aku ingin dia menceraikanku, Tazam. Dan aku akan memaksanya melakukan itu dengan menghancurkan finansial yang paling dia banggakan."

Tazam mengangguk mantap. Ia tidak memberikan nasihat, ia hanya menjalankan tugas. "Akan segera saya laksanakan, Nyonya. Saya akan pastikan pesanan Anda adalah yang paling mahal di katalog mereka, tanpa ada batasan harga."

Malam itu, paviliun berubah menjadi markas perlawanan. Halra tidak lagi peduli dengan reputasi atau batasan. Ia mulai menyusun rencana untuk menguras kekayaan Sano sebagai senjata untuk memaksanya melepaskan ikatan pernikahan ini. Ia tahu, ketika Sano kembali nanti, notifikasi di ponselnya akan menjadi pembuka dari perang yang sesungguhnya.

Halra Wiragata telah memutuskan: jika Sano ingin terus menyembunyikan rahasia, maka Halra akan memastikan Sano membayarnya dengan harga yang sangat mahal—baik secara emosional maupun finansial.

"Kau ingin aku menjadi istrimu untuk misi itu, Sano?" gumam Halra pada bayangan di cermin. "Maka bersiaplah, karena aku akan menjadi kehancuran paling mahal yang pernah kau beli."

Sano yang masih berada di luar sana belum mengetahui badai finansial yang menantinya. Apa yang menurutmu akan terjadi ketika notifikasi transaksi pertama masuk ke ponsel Sano di tengah perjalanannya nanti?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!