NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Harapan Jena

Meskipun Michelle sudah keluar lift lebih dulu, suasana canggung di antara Jena dan Jovian masih terasa.

Bayangan kejadian beberapa menit lalu masih terlintas di benak Jovian. Ia beberapa kali melirik Jena yang berjalan di sampingnya dengan wajah tenang. Justru ketenangan itu yang membuatnya semakin merasa bersalah.

Begitu sampai di restoran yang berada di sebelah gedung perusahaan Ardhana Group, mereka memilih meja di sudut yang sedikit lebih sepi. Setelah memesan makanan, keheningan kembali mengisi meja mereka.

Jovian mengusap tengkuknya pelan. "Jen."

"Hm?" Jena mengangkat wajah.

"Aku masih merasa bersalah."

Jena menatap wajah kekasihnya beberapa detik sebelum tersenyum kecil. "Karena kejadian tadi?"

Jovian mengangguk. "Aku tahu itu bukan sesuatu yang bisa aku hindari. Aku refleks menolong Michelle karena dia hampir jatuh. Tapi aku juga tahu setelah kejadian pagi tadi, melihat hal seperti itu pasti membuat kamu nggak nyaman."

Mendengar itu, ekspresi Jena sedikit melunak. "Mas tahu apa yang membuat aku kecewa tadi?" tanyanya.

"Karena Michelle?"

Jena menggeleng pelan. "Bukan hanya karena Michelle. Tapi karena aku merasa posisiku tidak dianggap. Aku nggak ingin menjadi wanita yang selalu memahami tanpa pernah dipahami."

Kalimat itu membuat Jovian terdiam.

Perlahan, ia menggenggam tangan Jena yang berada di atas meja. "Mulai sekarang, aku akan belajar menjadi pasangan yang lebih baik untuk kamu."

Jena tersenyum tipis. "Jangan cuma belajar, Mas. Praktik juga."

Jovian tertawa pelan. "Siap, Bu Guru."

Akhirnya Jena ikut tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pagi, tawanya terdengar lepas. Melihat hal itu, dada Jovian terasa jauh lebih lega.

Tak lama kemudian makanan mereka datang.

Jovian bahkan dengan sengaja mengambilkan makanan ke piring Jena, mengupaskan udang kesukaan wanita itu, dan memastikan Jena makan dengan baik.

"Mas."

"Iya?"

"Kamu ini sedang menyuap rasa bersalah atau memang sayang?"

Jovian terkekeh. "Dua-duanya."

Jena menggeleng sambil tersenyum. "Dasar."

Suasana makan siang mereka pun berubah hangat. Mereka bercerita tentang masa SMA, hingga hal-hal kecil yang selama beberapa waktu terakhir jarang mereka lakukan karena kesibukan masing-masing.

Di tengah obrolan, tiba-tiba Jovian berkata, "Sayang, akhir bulan depan kamu kosong, kan?"

Jena menatapnya heran. "Kenapa?"

Jovian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil tersenyum misterius. "Aku mau ajak kamu pergi."

"Ke mana?"

"Jepang."

Sendok yang dipegang Jena berhenti di udara. "Jepang?"

Jovian mengangguk. "Sudah lama kita nggak punya waktu berdua. Selalu ada pekerjaan, meeting, dan urusan perusahaan. Jadi aku pikir ... kita perlu pergi, menghabiskan waktu hanya untuk kita."

Mata Jena membulat. "Mas serius?"

"Sangat serius."

"Ini bukan janji kosong lagi, kan?"

Pertanyaan itu membuat senyum Jovian perlahan memudar. Ia sadar, luka yang ia buat pagi tadi masih meninggalkan bekas. Jovian menggenggam tangan Jena lebih erat. "Bukan. Kali ini aku sudah belajar dari kesalahan."

Jena menatap mata pria itu cukup lama, mencoba mencari keraguan. Namun yang ia lihat hanyalah kesungguhan.

Perlahan senyum manis muncul di bibirnya. "Baiklah. Aku akan percaya sekali lagi."

Wajah Jovian langsung berbinar. "Terima kasih, Sayang."

"Tapi ingat ..." Jena menunjuk wajah Jovian dengan sendok. "Kalau sampai batal lagi ..."

Jovian langsung mengangkat kedua tangannya menyerah. "Aku siap dihukum."

Jena tertawa. "Hukumannya berat."

"Apapun demi Bu Jena."

Mereka kembali tertawa bersama.

Tidak jauh dari meja mereka, Michelle berdiri sambil menggenggam ponsel erat. Mata itu menatap Jena yang kembali tersenyum bahagia. "Senyummu manis sekali, Jena. Sayangnya senyum itu akan segera jadi tangisan kehilangan." Jari-jarinya mengepal. Lalu gadis berponi itu pun berlalu pergi dengan langkah anggun. Senyum dingin kembali muncul di wajahnya.

Michelle berjalan keluar dari restoran. Wajahnya kembali memasang ekspresi profesional, seolah tidak ada gejolak apa pun di dalam dirinya. Ia pun masuk ke dalam mobil.

Michelle melajukan mobilnya meninggalkan area restoran itu, kembali ke kantor MS Fashion.

Tak lama kemudian, Michelle tiba di gedung megah perusahaan fashion milik keluarganya. Begitu memasuki lobi, para karyawan langsung menunduk hormat.

"Selamat siang, Bu Michelle."

Michelle mengangguk singkat. "Selamat siang." Ia kembali menjadi sosok calon penerus MS Fashion yang elegan dan berwibawa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum tenangnya, ada rencana yang mulai tersusun di kepalanya.

Sesampainya di ruang kerja, Michelle meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di kursi kebesaran miliknya. Ia membuka laptop dan menatap jadwal pekerjaannya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan pelan. "Jovian Ardhana dan Jena. Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama sembilan tahun. Lama banget iyuhh!" Ia tertawa kecil. "Udah kayak nyicil rumah aja." Dari tawa kecil, berubah menjadi tawa keras yang lepas. Lalu perlahan, tawanya berhenti. "Jovian terlalu mewah untukmu, Jena. Kamu tak pantas bersanding dengannya." Jari-jemari Michelle mulai mengepal sampai buku-bukunya memutih. Matanya menajam, giginya begemeletak erat. Detik selanjutnya, Michelle memukul meja. "Sial!" makinya dengan napas memburu. "Aku harus segera bicara dengan Papi." Ia pun akhirnya beranjak dari kursinya, keluar dari ruangannya menuju ruangan sang ayah.

***

Setelah keluar dari lift, Jena dan Jovian kembali ke ruangan masing-masing.

"Dah, Sayang. Semangat kerjanya ya. Kalau bosmu nyebelin ... cubit aja ya?" goda Jovian sambil tertawa.

"Iya, nanti aku bakal cubit dia sampai melilit-lit-lit!" balas Jena memukul pelan perut Jovian.

"Udah sana masuk!" Jovian melambaikan tangan.

"Iya." Senyum kecil masih terukir di wajah Jena saat ia membuka pintu ruangannya.

Rasa kesal dan kecewa yang sejak pagi menggerogoti hatinya perlahan menghilang setelah makan siang bersama Jovian. Pria itu memang sering membuatnya marah, tetapi ia juga tahu bagaimana Jovian selalu berusaha memperbaiki kesalahannya.

Jena duduk di kursinya. Pandangannya tidak langsung tertuju pada tumpukan dokumen di atas meja, melainkan menerawang jauh. "Liburan ke Jepang." Ajakan itu terus berputar di kepalanya.

Sudah sembilan tahun ia dan Jovian bersama. Sembilan tahun melewati berbagai fase kehidupan. Jauh di dalam hatinya, ada harapan yang selama ini ia simpan. Harapan untuk menikah dengan Jovian. Menjadi istri lelaki yang ia cintai. Punya anak banyak dan hidup bahagia sampai akhir hayat.

Perlahan, jemari Jena menyentuh jari manis tangan kirinya yang masih kosong. "Mudah-mudahan ..." bisiknya pelan. Senyum kecil menghiasi wajah cantiknya. "Di Jepang nanti, Jovian menyematkan cincin di jari manisku."

Pipi Jena sedikit memerah membayangkan momen itu. Ia membayangkan suasana romantis di bawah gemerlap lampu kota Tokyo atau mungkin saat melihat bunga sakura bermekaran bersama pria yang telah ia cintai hampir separuh hidupnya.

Namun sedetik kemudian, Jena menggeleng kecil dan tertawa pada dirinya sendiri. "Jangan terlalu berharap, Jena. Nanti kalau Jovian tidak melamar, kamu yang kecewa." Meski berusaha menenangkan diri, hatinya tetap tidak bisa menahan rasa bahagia dan harapan yang tumbuh. "Ya Tuhan ... semoga Jovian secepatnya melamarku," doanya dengan tulus. Setelah itu, ia mengusap wajah pelan. "Fokus, Jena. Sekarang waktunya kerja!"

1
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
falea sezi
kuat Jena lupain laki bego bekasss itu mas toto siap menanti🤣
Ama Apr: iya hihi
total 1 replies
Nining Sariningsih
betul,,,banget jena lupakan orang2 serakah itu,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
semangat Jena 💪💪
Ama Apr: siappp
total 1 replies
aku
ngiris bawang 😭😭😭😭
Ama Apr: huhuhuhu
total 1 replies
Dartihuti
Ma sya'allah Tabarakallah Jenna...
q gk sekuat itu...sempat terpuruk,masih ada cinta didasar hati tp udah iklas...mesti rmh tgg mereka hancur datang ingin kembali,bagi q cukup kita bkn barang dibuang lalu mo dipungut mending sendiri menikmati sendiriqn...aaa jd ingat deh
😥🤭 moga ttp pd pendirian menjauh💪Authour...Alhamdulillah panjang banget salam sehat🙏
Ama Apr: 🫰🫰🫰🥰🥰🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!