NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 : Pertemuan

Adrian masih menatap layar ponselnya selama beberapa detik sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku jas. Tatapannya beralih ke Johan. "Siapkan mobil."

"Baik, Don."

Tak sampai lima menit kemudian, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam keluar dari gudang dengan iring-iringan tiga mobil SUV berwarna senada. Di depan dan belakang, kendaraan pengawal bergerak menjaga jarak.

Di dalam mobil, suasana begitu hening. Adrian duduk di kursi belakang sambil memandangi pemandangan Kota Zurich yang mulai diselimuti cahaya lampu malam.

"Berapa lama menuju mansion?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.

"Dua puluh menit lagi, Don."

Adrian hanya mengangguk pelan. Entah mengapa, ucapan Leonardo tadi masih terngiang di kepalanya.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Jika ayah angkatnya sampai memintanya datang langsung ke mansion, berarti persoalan itu bukan perkara sepele. Leonardo bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.

Tiba-tiba...

"Ciiittt!"

Suara rem mendadak membuat seluruh iring-iringan berhenti. Tubuh Johan yang duduk di kursi depan refleks menoleh.

"Ada apa?"

Salah satu pengawal turun dari mobil paling depan. Beberapa detik kemudian, suara seseorang terdengar samar di luar.

"Tolong... jangan! Aku benar-benar tidak punya uang!"

Adrian mengernyit.

Ia menoleh ke arah jendela. Di seberang jalan, sekitar tiga puluh meter dari mobilnya, seorang gadis berambut panjang tengah berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua pria bertubuh besar.

Pakaiannya sederhana, tas kain yang dibawanya jatuh ke trotoar hingga seluruh isinya berserakan. Beberapa orang yang melintas hanya melirik sekilas sebelum memilih pergi. Tak ada yang berani ikut campur.

Salah satu pria itu menarik rambut gadis tersebut dengan kasar. "Kau pikir bisa terus kabur, hah?"

"Aku sudah bilang... beri aku waktu beberapa hari lagi," ucap gadis itu dengan suara bergetar.

"Waktu?"

Pria itu tertawa sinis. "Bos kami sudah menunggu hampir tiga bulan!"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu hingga tubuhnya terjatuh.

Adrian yang menyaksikan dari balik kaca mobil tetap diam. Namun sorot matanya berubah sangat dingin. Ia memperhatikan wajah pria yang baru saja menampar gadis itu, ada sesuatu yang terasa tidak asing.

Pria itu... Adrian memejamkan mata sesaat, seolah mencoba mengingat. Lalu... seketika ingatan delapan tahun lalu memenuhi kepalanya.

Malam, hujan, gang sempit, suara tawa mengejek.

"Anak miskin!"

"Sampah!"

"Pukul dia!"

Mata Adrian perlahan terbuka. Kini ia benar-benar mengenali wajah itu. Meski usia pria tersebut bertambah dan tubuhnya lebih gemuk. Bekas luka panjang di pelipis kirinya masih sama. Dia adalah salah satu penagih hutang yang dulu berkali-kali memukul Adrian tanpa belas kasihan.

Jemari Adrian perlahan mengepal. "Don?"

Johan menoleh heran karena merasakan perubahan aura pemimpinnya, Adrian membuka pintu mobil.

Klik.

"Don, biarkan kami yang turun."

"Tidak." Suara Adrian terdengar datar.

"Tapi..."

"Aku bilang tidak." Ia melangkah keluar.

Sepatu kulit hitamnya menyentuh aspal dengan tenang. Langkahnya perlahan mendekati kerumunan itu. Salah satu penagih utang yang melihatnya langsung berseru kasar.

"Hei! Jangan ikut campur kalau tidak mau celaka!"

Adrian tetap berjalan, tak sedikit pun langkahnya terhenti. Sementara itu, gadis yang masih terduduk di atas aspal perlahan mengangkat wajahnya.

Pipi kirinya memerah akibat tamparan, sudut bibirnya sedikit berdarah. Air mata masih menggantung di pelupuk matanya.

Saat mata mereka bertemu... entah mengapa, untuk sesaat dunia di sekitar Adrian terasa hening. Tatapan gadis itu begitu jernih, penuh ketakutan. Namun masih menyimpan secercah harapan.

Pria bertubuh besar itu mendengus. "Aku bilang pergi!"

Tangannya terangkat hendak mendorong Adrian. Namun dalam sekejap...

Bugh!

Sebuah pukulan telak menghantam wajah pria itu hingga tubuhnya terpental beberapa meter dan menghantam kap mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dentuman keras menggema.

Semua orang membeku.

Tak ada yang sempat melihat kapan Adrian menggerakkan tangannya. Ia hanya berdiri tenang, merapikan sedikit lengan jasnya, lalu menatap pria-pria itu dengan sorot mata yang membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.

"Sudah lama..." ucap Adrian pelan. "Aku menunggu hari untuk bertemu kalian lagi."

Suasana jalan yang semula riuh mendadak berubah sunyi. Semua orang memandang pria muda berjas hitam yang berdiri dengan tenang di tengah jalan.

Pria bertubuh besar yang baru saja menerima pukulan Adrian masih tergeletak di atas kap mobil. Darah menetes dari hidungnya, sementara matanya berkunang-kunang.

"Kau...!" geramnya sambil memegangi rahangnya.

Tiga pria lainnya langsung mencabut pisau lipat dari balik jaket mereka.

Salah seorang menunjuk Adrian. "Berani sekali kau ikut campur urusan kami!"

Adrian hanya memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tetap datar. "Urusan kalian?" Ia melirik sekilas ke arah gadis yang masih terduduk di atas aspal. "Lima orang pria dewasa mengeroyok seorang wanita. Kalian menyebut itu urusan?"

"Dia punya hutang! Kalau tidak bisa bayar, kami berhak membawanya!"

Adrian tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Aku tidak peduli."

Ucapan singkat itu justru membuat mereka semakin marah.

"Sialan! Habisi dia!"

Empat pria itu berlari bersamaan. Pria pertama menusukkan pisaunya lurus ke arah perut Adrian. Namun... bukannya menghindar dengan panik, Adrian hanya menggeser tubuhnya setengah langkah.

Sreet!

Ujung pisau meleset beberapa sentimeter dari tubuhnya. Dalam waktu yang sama...

Brak!

Lutut Adrian menghantam perut lawannya. Pria itu langsung memuntahkan darah sebelum tubuhnya terangkat dan terpental ke belakang. Belum sempat dua pria lainnya bereaksi...

Bugh!

Sebuah tendangan berputar menghantam kepala salah satu dari mereka hingga tubuhnya jatuh berguling di atas jalan. Pria terakhir mencoba menyerang dari belakang. Namun Adrian seolah memiliki mata di belakang kepalanya. Tangannya menangkap pergelangan tangan lawan.

Krek!

Suara patahan tulang membuat beberapa pejalan kaki spontan menutup mulut.

"Aaaaaargh!"

Pisau itu terjatuh. Adrian menendangnya hingga meluncur jauh ke bawah sebuah mobil. Kemudian...

Bugh!

Satu pukulan terakhir mendarat tepat di wajah pria tersebut. Tubuhnya ambruk tanpa mampu bangkit lagi. Hanya dalam hitungan kurang dari satu menit...

Empat pria itu telah terkapar, mereka bahkan tidak sempat menyentuh Adrian. Keheningan menyelimuti jalan, beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam.

Namun sebelum sempat menekan tombol kamera. Puluhan pria berjas hitam turun dari SUV yang sejak tadi berhenti di belakang Rolls-Royce. Mereka berdiri membentuk barisan, salah seorang mengangkat tangan.

"Dilarang merekam." Suaranya tenang.

Tetapi cukup membuat semua orang mengurungkan niat.

Sementara itu...

Pria yang sejak awal memimpin penagihan utang berusaha berdiri. Saat menatap wajah Adrian lebih lama... matanya perlahan membesar.

"Tidak... mungkin...."

Adrian berjalan mendekatinya. Setiap langkahnya terdengar jelas.

"Kau..." Pria itu menelan ludah. "Ka-kau Adrian?"

Adrian berhenti tepat di depannya. "Masih ingat rupanya."

Wajah pria itu berubah pucat pasi. Delapan tahun lalu... ia memang sering memukul seorang anak jalanan bernama Adrian. Namun siapa sangka... anak lemah yang dulu mereka hina kini berdiri di hadapannya dengan aura yang membuat lututnya gemetar.

"Mustahil.... kau seharusnya sudah mati!"

Adrian menatapnya tanpa ekspresi. "Sayangnya aku masih hidup."

Pria itu mundur beberapa langkah. "Kami hanya menjalankan perintah! Sama seperti dulu."

Adrian mengingat setiap pukulan yang pernah diterimanya. Setiap hinaan, tawa, namun anehnya ia tidak lagi merasakan kebencian sebesar dulu. Yang tersisa hanyalah rasa hampa.

"Johan."

"Ya, Don."

"Bawa mereka."

"Ke mana, Don?"

Adrian memandang pria-pria itu beberapa saat. "Ke gudang."

Mendengar satu kata itu, wajah mereka langsung kehilangan warna. Semua orang di dunia bawah tahu, tidak ada pengkhianat atau penjahat yang dibawa ke gudang keluarga Moretti tanpa alasan.

"To-tolong ampuni kami! Kami tidak akan mengulanginya lagi!"

Adrian membalikkan badan. "Kesempatan kedua hanya diberikan kepada orang yang tahu cara menghargai kesempatan pertama. Sedangkan kalian... tidak pernah memberikannya kepadaku."

Anak buah Adrian segera menyeret mereka masuk ke dalam mobil. Tangisan dan teriakan memohon ampun memenuhi jalan. Namun Adrian sama sekali tidak menoleh, perhatiannya kini tertuju pada gadis yang masih terduduk diam. Ia berjalan perlahan, gadis itu tampak ketakutan. Refleks ia sedikit menggeser tubuhnya ke belakang.

Adrian berhenti sekitar satu meter di depannya. "Kau terluka?"

Gadis itu menggigit bibirnya. "A-aku... tidak apa-apa."

Adrian menghela napas pelan. "Kalau tidak apa-apa, kau tidak akan gemetar seperti itu."

Tanpa meminta izin, ia membungkukkan badan lalu mengambil tas kain milik gadis itu. Buku-buku, dompet kecil, dan beberapa lembar dokumen yang berserakan ia kumpulkan satu per satu. Setelah semuanya rapi, Adrian menyerahkan tas itu.

"Periksa."

Gadis tersebut menerima tasnya dengan kedua tangan. Tak ada satu pun barang yang hilang. Ia menatap pria di hadapannya dengan bingung. Pria ini... berpenampilan seperti orang yang sangat berbahaya. Tetapi justru memperlakukannya dengan sopan.

"Terima kasih...."

Kini Adrian melihat senyum kecil di wajah gadis tersebut. Entah mengapa... dadanya yang selama ini begitu tenang terasa sedikit berbeda. Perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai muncul.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!