NovelToon NovelToon
Kepentok Perawat Magang

Kepentok Perawat Magang

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.

Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.

Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.

"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Maling Teriak Maling

Sebelum Tante Nani sempat membuka mulut untuk memfitnahnya, Aira langsung memutar badan dan ikut berteriak.

"MALIIING ... MALIIING ... MALIIIING ...."

'Manusia-manusia jahat itu sungguh terlalu,' rutuknya dalam hati. Ia pun berlari ke arah warga yang sedang berkerumun.

"Eh ... Ada Pak RT, malingnya tadi ... tadi ...," ucap Aira pura-pura takut.

"Malingnya lari ke sana!" Aira menunjuk ke arah yang asal.

"Kayaknya mereka mengira rumah ini punya banyak uang yang mau dicuri, jadi mereka nyasar masuk ke halaman rumah ini," decak Aira melirik Nani dan Reta.

"Oooh, lari ke sana. Ayo Bapak-Bapak, kita cari malingnya. Kayaknya dia udah lari keluar saat tau warga udah mengepung rumah ini," perintah Pak RT memimpin warga.

Aira mengangguk cepat dan menunjuk ke arah luar pagar. "Iya, Pak. Kayaknya emang udah keluar manjat pagar belakang."

Warga pun berbondong-bondong keluar lewat pagar kembali. Aira menatap Nani dan Reta memasang wajah penuh kemenangan. Tangannya terlipat di dada.

"Tante, udah lihat sendiri kan malingnya? Nggak bisa ditangkap dengan mudah, tah?" Aira tak menunggu tanggapan ibu dan anak itu, berjalan melenggang masuk lewat pintu utama.

Namun, Nani dengan wajah datar menahan lengan Aira. "Sekarang, siapa lagi yang kau bawa ke sini, Gadis Kampung?"

Tangan Tante Nani yang mencengkeram lengan Aira. Cengkeramannya begitu kuat hingga kuku-kuku jemari yang dihiasi kuteks merah menyala terasa ikut menusuk kulit gadis itu. Tatapan matanya tajam membidik wajah Aira, jelas tampak penuh kebencian yang mendalam. Apalagi setelah rencana fitnahnya baru saja gagal begitu saja oleh sandiwara "maling teriak maling" keponakan suaminya itu.

Aira menahan ringisan di lengannya. Rasa perih di fisiknya tak sebanding dengan rasa muak yang menggelora di dadanya.

"Apa maksud, Tante? Emang, siapa yang aku bawa?" Aira mencoba menarik lengannya memasang wajah lugu. Namun, Nani justru mempererat cengkeramannya.

Reta melangkah maju, berdiri di samping ibunya sambil melipat tangan di dada dengan senyum yang teramat culas.

"Nggak usah sok polos, Aira. Tadi kami lihat sendiri dari jendela atas. Kamu turun dari mobil sedan mewah hitam itu, kan? Jangan bilang itu taksi online ya. Kami bukan orang bodoh yang bisa kamu tipu!"

Nani mendengus sinis, wajah datarnya kini berganti menjadi tatapan remeh pada gadis itu.

"Benar kata Reta. Sadar diri, Aira! Orang tuamu di kampung itu cuma buruh petani sawit yang bajunya bau minyak mentah tiap hari. Uang kiriman mereka saja pas-pasan buat biaya kuliahmu di kota ini. Jangan coba-coba bergaya hidup hedonis, apalagi sampai menjadi simpanan om-om kaya demi bisa pamer ke kampus!"

'Buruh petani sawit ...'

Kata-kata itu kembali terucap dari bibir tantenya seperti sebuah kutukan. Aira memejamkan mata sesaat, dadanya berdenyut nyeri.

Mereka selalu mengira ayahnya hanyalah buruh miskin yang memungut brondolan sawit di tanah milik orang lain, padahal truk-truk pengangkut hasil panen sawit yang sering berlalu lalang di kampung halaman Aira adalah milik keluarganya sendiri. Ayahnya sengaja menyuruh Aira hidup sederhana di kota agar fokus kuliah. Hal ini diharapkan agar tak menjadi sasaran empuk keserakahan kerabatnya ini.

"Dia bukan om-om simpananku, Tante," jawab Aira, suaranya dibuat semakin imut seperti anak kecil.

Dia masih menggunakan suara cempreng yang biasa dia gunakan untuk mengoceh. Sepasang mata bulatnya kini menatap lurus ke dalam manik mata Nani.

"Bagaimana kalau dia itu, pacarku? Tante percaya nggak?"

Reta langsung tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat nyaring dan terasa sekali hawa menghinanya.

"Pacar? Kamu mimpi, Aira? Pria yang punya mobil semahal itu tidak akan sudi melirik gadis kampung ceroboh yang aroma tubuhnya saja masih bau orang gila di RSJ! Paling kamu hanya jadi mainan beberapa minggu, lalu setelah bosan, kamu dibuang ke tempat sampah!"

"Reta, cukup," potong Nani, meski matanya tetap menatap Aira dengan kilat kepuasan karena dipojokkan oleh putrinya.

Nani perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan Aira, lalu mengibaskan tangannya seolah habis menyentuh barang kotor.

"Tante tidak peduli siapa pria itu. Tapi ingat satu hal, Gadis Kampung. Rumah ini adalah rumah terhormat. Jangan pernah bawa pria manapun meskipun duitnya berlimpah, ke sini lagi. Kalau sampai tetangga bergunjing tentang kelakuan murahanmu di luar sana, Tante tidak akan segan-segan melempar senua barang-barangmu dan silakan kembali ke kampung halamanmu!"

Setelah menumpahkan semua yang ada di dalam pikirannya, Nani berbalik masuk dan berjalan anggun menaiki tangga menuju lantai dua, diikuti oleh Reta yang sempat menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Aira.

Aira berdiri mematung di tengah lobi rumah yang luas namun terasa begitu asing dan dingin. Dia menggenggam tangan dengan amat kuat.

"Tenang Aira ... Tenang ... Belum saatnya," gumam gadis itu menenangkan diri sendiri. Ia pun mengambil napas dalam-dalam. Sengaja ditahan beberapa detik, baru dilepaskan secara perlahan.

Setelah itu, ia menuju kamarnya yang berada di belakang. Aira sengaja ditempatkan di kamar yang harusnya menjadi milik ART di rumah itu. Namun, seperti apa yang selalu dihembuskan oleh orang tuanya, Aira memilih mengalah dan bersembunyi di balik topeng kesederhanaan.

.

.

.

Keesokan pagi, sebuha pesan singkat masuk ke dalam ponsel Aira.

[ Bocah, katamu hari ini harus datang pagi kan? Sebentar lagi saya jemput. ]

Aira yang baru menyelesaikan solat subuhnya, mengerjapkan mata beberapa kali.

"Jemput?" Aira mengernyitkan kening? "Lah? Udah mau berangkat aja?"

Aira segera melepas mukena dan berhamburan masuk ke dalam kamar mandi dengan mandi secara asal, lalu bergegas mengenakan seragamnya sebagai mahasiswa keperawatan.

Tin

Tin

Tepat di hadapan pintu gerbang, telah terdengar suara klakson mobil yang ia paham, itu adalah panggilan untuk dirinya. Aira mengernyitkan dahi menatap jam di dinding yang baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

"Woi lah? Kenapa jemputnya sepagi ini? Rumah sakitnya belum juga ada pergantian siff." Bibir Aira sedikit berkedut karena kesal.

"Dendam apa sih yang tersimpan pada Dokter Arnold? Ngebet banget nyari lawan ama tu orang?" Aira menjepitkan jepitan strawbery kesayangannya antara rambut dan cap perawat. Rambutnya telah tersanggul dengan rapi.

Dengan cepat, ia keluar dari jendela yang sudah dimodifikasi agar tetap bisa dibuka bila Nani dan Reta mengerjainya kembali. Tanpa permisi pada pemilik rumah, Aira berlari ke luar pintu pagar dan segera masuk ke dalam sedan itu.

"Dih, Om? Kenapa pagi banget jemputnya?" sungut gadis itu memasang sabuk pengaman, tanpa memasukkan dirinya terlebih dahulu.

Teddy melirik tingkah gadis itu dengan wajah heran. Ini adalah kali keduanya dan masih berlaku sama. Setelah sabuk terkunci, barulah Aira masuk dan duduk di balik sabuk itu.

"Dasar aneh!" desisnya.

Tanpa menjawab pertanyaan Aira, mobil langsung melaju, dengan semangat balas dendam.

Tak beberapa lama, kendaraan itu telah terparkir di lapangan parkir rumah sakit. Teddy telah bersandar pada mobilnya dengan leher memanjang, kepalanya berputar ke segala arah seolah mencari-cari sesuatu.

Di saat kepalanya berputar ke kanan, ternyata tatapa Arnold telah tepat berada di hadapannya.

"Hai ... Kangen ya?"

1
Evi Lusiana
ortu kocak laen bgt sm anakny
Evi Lusiana
kaku perutku thor gr² aira mo bls jasa pke brondolan sawit
SoVay: dikumpulin dulu smpai 2 karung y kak 🤣
total 1 replies
Evi Lusiana
aku suka karakter cewek tegas ky aira cm sayang aj knp gk milih kost sndri drpd hidup bareng tante jahat
Anbu Hasna
musuh jadi besan 🤣🤣
SoVay: halo kakak, mampir yuk cerita baru aku. udah 5 bab 🙈
total 4 replies
Evi Lusiana
kocak deh si aira,bs² ny lg sedih dia mint fto🤭
SoVay: namNya juga abegeh kak 😭😚
total 1 replies
Dewi kunti
sini ak ajarin om🤭🤭🤭🤭🤭
SoVay: wkwkwkw..punya bakat alami seorang pria kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewi kunti
tuch dokter kompor banget ya
Dewi kunti: berarti dikerjain author nya ini😤😤😤😤
total 2 replies
sryharty
eallaaaah modus,,ngomong aja kamu pengen cepet2 belah duren bujang om ted2
SoVay: wkwkwkw awas grasa grusu 🙈
total 1 replies
sryharty
si pak junet lg jadi nyamuk penngganggu neh🤭🤭
Dewi kunti
aduuuuuuhhhh si bapak kenapa gak pergi2 sich
SoVay: jadi nyamuk dulu 🤣
total 1 replies
mimief
hisss...si bapak tau aja yaa🤣🤣
ini demi masa depan kita bersama
modus si dikit,tapi kan biar dia mau pak 🤭
SoVay: modus dikit maunya banyak 🤣
total 1 replies
sryharty
makanya bap junet buruan di sah kan
biar bebas bisa pegang2 tangannya,,
siapa tau bisa pegang yg lain,,kan mantap
nanti pak junet cepet dapat cucu loh dari Aira..
SoVay: wkwkwkwk 😭😭😭 pegang apa tuh kak. sim salabin ja apa prok prok prok 🤣🤣
total 1 replies
mimief
Wkwkwk
ke gap camer
apa rasa tu🤭🤣🤣
SoVay: duh, berani2nya berduaan di tengah org ramai. paling nggak, tunggu rumah kosong dulu kan ya 🤣🤣
total 1 replies
mimief
sabar...sabar
tinggal dikit lagi aku padamu
sryharty
biarin Ra si bujang lapuk di gigitin nyamuk,,di gigit Wewe gombel pun gapapa ko,,aku ikhlas 🤭🤭
mimief
yah begitulah namanya jomblo udah karatan
sekali nya jatuh cinta lagi
begini ni🤭🤣
mimief: lah abis Meleng dikit ilang
trauma Thor 🤣🤣
total 2 replies
mimief
de ileee...yg mulai bisa nge gombal
mimief: iy..y🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
mimief
orng dirumah di tuan putriin kok
disini malah jadi begini
hajaar pak🤣🤣
mimief: mang... kepala aj ka
kelamaan jomblo begitu tu, jadinya karatan rasanya 🙄🤣🤣
total 2 replies
mimief
cepet pulih Thor..
saya yg tanggung jawab Bu
lahir bathin juga boleh 🤣🤣
dih,ngarep🤭
mimief
bingung dia ..om Jovannya🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!