NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Cinta Dan Mimpi Besar

Tiga hari telah berlalu sejak Tante Ratna menelepon menyampaikan kabar gembira mengenai kesuksesan novelku. Tiga hari yang terasa seperti sedang melayang di dalam mimpi indah—dipenuhi ucapan selamat yang mengalir dari teman-teman dekat, pesan-pesan hangat dari para pembaca yang bahkan belum pernah aku temui secara langsung, serta kebahagiaan yang meluap-luap hingga rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata apa pun.

Namun, di balik semua rasa senang dan rasa bangga itu, perlahan-lahan muncul pula perasaan gelisah yang menyelimuti hatiku. Sebuah pertemuan yang sangat penting sudah menanti di depan mata: pertemuan dengan seorang produser film. Selama ini aku hanya sibuk dengan dunia tulisan dan kata-kata, belum pernah sekalipun berhadapan langsung dengan orang-orang di industri perfilman. Aku tidak tahu bagaimana cara bersikap yang tepat, topik apa saja yang perlu dibicarakan, atau apa sebenarnya yang diharapkan dari diriku dalam kesempatan ini. Rasa tidak percaya diri perlahan mulai menyelinap masuk, membuat jantung berdebar lebih kencang setiap kali teringat pada rencana pertemuan itu.

Aku pun segera membuka laptop, lalu masuk ke dalam kotak pesan surel untuk membaca kembali surat yang dikirimkan oleh Tante Ratna beberapa hari yang lalu—surat yang memuat semua rincian dan informasi mengenai pertemuan tersebut.

“Kepada Mbak Tari,

Pertemuan dengan Bapak Handoko dari Studio Film Matahari dijadwalkan akan dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 5 Desember, pukul 10.00 WIB atau bertepatan dengan pukul 11.00 pagi waktu Melbourne. Beliau bermaksud untuk membahas secara mendalam mengenai rencana pengangkatan novel berjudul Sisa Rasa yang Terlarang ke dalam layar lebar. Saya akan hadir dan mendampingi Mbak selama proses pertemuan berlangsung.

Mohon persiapkan diri dan gagasan yang matang. Perlu diketahui bahwa Bapak Handoko adalah sosok yang sangat berpengalaman dan dihormati di dunia perfilman Tanah Air. Beliau telah berhasil memproduksi sejumlah film yang meraih kesuksesan dan mendapat sambutan hangat dari penonton. Nantinya, beliau kemungkinan akan menanyakan pandangan dan visi Mbak mengenai bagaimana cerita ini sebaiknya diangkat ke layar lebar agar tetap mempertahankan jiwa dari tulisan aslinya.

Saya sangat yakin Mbak mampu menghadapinya dengan baik. Semoga sukses dan tetap semangat!

Salam hangat,

Tante Ratna”

Aku membaca kalimat demi kalimat itu berulang kali, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun informasi yang terlewatkan. Semakin aku membacanya, semakin terasa detak jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.

Pertemuan dengan produser film ternyata benar-benar akan terjadi.

Rencana untuk mengubah karya tulisku menjadi sebuah film juga bukan sekadar angan-angan semata.

Ini adalah kesempatan yang sangat besar. Sangat besar dan terasa luar biasa bagi seseorang yang baru saja memulai perjalanan di dunia sastra sepertiku.

***

Pukul sembilan pagi.

Aku duduk kembali di meja kecil di samping jendela, ditemani secangkir teh bunga chamomile yang masih mengepulkan uap hangat. Udara pagi Melbourne terasa sejuk namun menyegarkan, dan cahaya matahari masuk dengan lembut menerangi ruangan.

Aku membuka kembali layar laptop, membuat lembar dokumen kosong, lalu mulai menuliskan berbagai hal yang perlu aku persiapkan agar nanti saat pertemuan tiba, aku tidak hanya diam dan bingung harus berkata apa. Perlahan-lahan, gagasan demi gagasan mulai tertuang ke dalam tulisan.

1. Visi dan Harapan untuk Adaptasi Film

- Cerita ini ditulis sebagai kisah cinta yang realistis dan dekat dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, aku berharap jika diangkat ke layar lebar, nuansa realistis itu tetap terjaga—tidak dibuat terlalu berlebihan, tidak dipenuhi adegan yang terlalu dramatis, serta menghindari pola-pola cerita yang sudah terlalu umum dan terasa klise.

- Karakter-karakter utama harus mampu terasa hidup dan nyata bagi penonton. Pemilihan aktor dan aktris yang memerankan tokoh utama wanita dan pria haruslah orang-orang yang mampu menampakkan emosi secara tulus, bukan sekadar berpura-pura merasakan apa yang sedang dialami oleh tokoh cerita.

- Tempat kejadian juga menjadi bagian penting dalam cerita ini. Suasana kota Jakarta yang sibuk dan riuh, serta suasana kota Melbourne yang tenang dan berangin, harus digambarkan dengan seautentik mungkin. Kedua kota itu bukan sekadar latar tempat, melainkan seolah menjadi salah satu tokoh yang ikut memengaruhi perjalanan perasaan dan nasib para tokoh utama.

2. Pertanyaan yang Mungkin Diajukan dalam Diskusi

- Apa yang membuat cerita dalam novel ini memiliki keunikan dibandingkan dengan karya-karya bergenre roman lainnya yang sudah ada?

- Bagaimana pandangan saya mengenai proses perubahan dari tulisan menjadi gambar bergerak, dan bagian mana yang harus dijaga agar makna ceritanya tidak berubah?

- Apakah saya bersedia dan ingin ikut terlibat secara langsung dalam proses penulisan naskah film, atau lebih menyerahkannya sepenuhnya kepada tim yang sudah berpengalaman?

Setelah selesai menuliskan semua hal itu, aku membaca ulang catatanku dengan cermat. Ada beberapa kalimat yang aku perbaiki, ada juga poin-poin yang aku tambahkan agar lebih jelas, dan sebagian lagi aku hapus karena terasa kurang penting. Setelah beberapa kali penyesuaian, akhirnya aku merasa cukup puas.

“Sudah cukup. Ini sudah cukup untuk menjadi panduanku nanti,” gumamku pada diri sendiri sambil menarik napas panjang untuk menenangkan pikiran.

Aku pun menutup layar laptop, meregangkan otot-otot tangan dan punggung yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk, lalu berjalan menuju dapur untuk menyeduh secangkir teh baru yang masih hangat. Namun, sebelum aku sempat sampai di depan kompor, terdengar suara ketukan yang pelan namun jelas datang dari arah pintu masuk.

Tok… tok… tok…

Aku mengernyitkan dahi sedikit, merasa penasaran. Siapa yang datang mengunjungi di jam pagi begini? Biasanya Sarah selalu mengirim pesan lebih dulu sebelum berangkat ke apartemen, dan Mia dari kafe Brew & Bites pun tidak pernah mampir tanpa memberi kabar terlebih dahulu.

Dengan langkah hati-hati, aku berjalan mendekati pintu, lalu membukanya perlahan.

Namun, tidak ada siapa pun yang berdiri di depan sana. Lorong koridor terlihat kosong dan sunyi.

Namun, di atas lantai tepat di depan ambang pintu, tergeletak sebuah amplop berwarna putih polos. Tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat, dan tidak ada tulisan apa pun yang tertera di bagian luarnya. Aku membungkuk mengambil amplop itu, lalu menutup kembali pintu dan menguncinya rapat sebelum kembali duduk di ruang tengah.

Dengan hati-hati, aku membuka lipatan amplop itu, dan di dalamnya tergulung selembar kertas yang rapi. Saat aku membentangkannya, aku langsung mengenali tulisan tangan yang tertera di atas kertas itu—tulisan yang rapi, sedikit miring ke kanan, dan sangat aku kenal baik. Itu adalah tulisan tangan Aldo.

“Untuk Tari,

Aku tahu, mengirim surat tertulis seperti ini mungkin terasa agak kuno dan ketinggalan zaman di tengah kemajuan teknologi yang memudahkan kita mengirim pesan hanya dalam hitungan detik. Namun, aku ingin kamu tahu bahwa kadang-kadang, kata-kata yang ditulis secara langsung menggunakan tangan terasa lebih nyata, lebih hidup, dan membawa perasaan yang lebih mendalam dibandingkan sekadar huruf-huruf yang diketik dan muncul di layar gawai.

Saat ini aku sedang duduk di ruang tengah apartemenku di kawasan Tebet, Jakarta. Di luar jendela, hujan baru saja mulai turun dengan rintik-rintiknya. Saat mendengar suara air hujan yang jatuh membasahi atap dan jalanan, pikiranku langsung terbang menuju ke arahmu. Aku teringat pada malam-malam yang kita lalui bersama, saat kita duduk berdampingan di balkon apartemenmu di Melbourne, hanya menikmati suara hujan dan angin tanpa perlu banyak bicara pun terasa cukup menyenangkan.

Aku sangat merindukan momen-momen seperti itu, Tari. Merindukan saat-saat di mana kita hanya perlu diam bersama, dan saling mengerti tanpa perlu banyak kata.

Namun di samping rasa rindu itu, ada pula rasa bangga yang terus tumbuh di hatiku. Aku bangga melihatmu terus berkembang, menjadi penulis yang semakin hebat dan dihargai. Aku bangga melihatmu berani melangkah mengejar mimpi yang dulu hanya kamu ceritakan dengan penuh harap kepadaku. Dan yang paling membanggakan, aku merasa beruntung bisa menjadi bagian dari perjalananmu, meski saat ini kita harus terpisah oleh jarak yang jauh.

Aku belum bisa memastikan kapan kita bisa bertemu lagi secara langsung, memelukmu dan berbicara tatap muka kembali. Namun satu hal yang pasti, aku akan terus menunggumu. Menunggumu di sini, di kota Jakarta, di sudut kafe Senjakala yang sering kita kunjungi, atau di dalam apartemenku yang mungkin masih terasa berantakan seperti biasanya.

Aku menyayangimu, Tari. Sejauh perjalanan ke bintang dan kembali lagi ke bumi.

Dari Aldo”

Setelah selesai membaca setiap baris kalimat itu, air mataku pun tumpah membasahi pipi.

Bukan tangis yang meledak atau terisak-isak karena rasa sedih seperti yang sering terjadi saat baru ditinggalkannya dulu. Bukan pula tangis yang menyakitkan. Ini adalah tangis yang muncul dari tempat paling dalam di hatiku—campuran rasa bahagia yang meluap, rasa terharu yang tak terkira, dan rasa rindu yang sudah tertahan lama namun terasa semakin ringan karena kata-katanya.

Aku membaca surat itu berulang kali, mengusap air mata yang terus mengalir tanpa henti, dan tersenyum lebar di sela-sela isak tangisku.

“Aldo… kamu benar-benar selalu tahu cara membuat hatiku merasa tenang dan hangat,” bisikku pelan sambil memegang kertas itu dengan lembut.

Aku menggenggam surat itu erat di telapak tangan, lalu meletakkannya di atas meja kerja, tepat di samping laptopku. Nanti aku akan menyimpannya dengan baik dan membingkainya agar selalu bisa terlihat. Namun untuk saat ini, aku hanya ingin terus menikmati kehangatan dari setiap kalimat yang ditulisnya.

***

Pukul sepuluh pagi.

Aku segera menghubungi Aldo lewat sambungan telepon, ingin mendengar suaranya langsung sesegera mungkin. Begitu panggilan tersambung dan suaranya terdengar di seberang sana, aku langsung menyampaikan kabar itu.

“Aldo… aku baru saja menerima surat yang kamu kirimkan.”

“Aku tahu. Aku mengirimkannya kemarin sore, jadi waktunya memang tepat sampai di sana hari ini,” jawabnya dengan nada tenang dan lembut.

“Aldo… rasanya sulit sekali menemukan kata-kata yang pas untuk menjelaskan apa yang aku rasakan saat membacanya.”

“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun, Tari. Cukup baca saja kata-katanya dan rasakan maknanya, itu sudah lebih dari cukup bagiku.”

“Aku sudah membacanya berkali-kali. Setiap kali membacanya, rasanya seperti kamu sedang duduk di sampingku dan berbicara langsung.”

“Lalu… apakah kamu menyukainya?” tanyanya dengan nada sedikit penasaran.

Aku tertawa pelan sambil masih menyeka sisa air mata yang ada di sudut mataku. “Menyukainya? Aldo, aku malah menangis membacanya. Aku tidak bisa berhenti meneteskan air mata karena terharu.”

“Kalau begitu, setidaknya kamu harus tahu satu hal: kamu terlihat sangat cantik bahkan saat sedang menangis sekalipun,” ucapnya dengan nada bercanda namun tetap terdengar tulus.

“Kamu ini bisa saja bicara begitu. Padahal kamu tidak bisa melihat wajahku sekarang,” balasku sambil tersenyum.

“Aku memang tidak bisa melihatmu lewat layar atau dari jauh, tapi aku bisa membayangkannya dengan jelas di dalam pikiranku. Dan aku tetap ingin mengatakannya, karena itu adalah kenyataannya,” jawabnya tegas namun lembut.

“Aldo… aku sangat menyayangimu. Lebih dari apa pun yang bisa aku tuliskan atau ucapkan.”

“Aku pun menyayangimu, Tari. Sejauh perjalanan ke bintang dan kembali lagi ke bumi.”

***

Pukul tiga sore.

Belum lama aku menyelesaikan percakapan dengan Aldo, terdengar suara ketukan lagi di pintu. Kali ini, begitu aku membukanya, sudah terlihat wajah Sarah yang tersenyum lebar berdiri di depan sana sambil membawa dua buah gelas minuman di tangannya.

“Aku membawakan kopi panas untuk diriku sendiri, dan secangkir teh chamomile untukmu—seperti biasa,” ucapnya sambil melangkah masuk tanpa perlu dipersilakan terlebih dahulu, persis seperti kebiasaannya selama ini.

“Sarah, kamu tahu kan kalau aku sedang sibuk mempersiapkan banyak hal untuk pertemuan penting nanti?” tanyaku sambil tersenyum melihat tingkahnya yang santai.

“Sibuk apa lagi kalau bukan memikirkan pertemuan dengan produser film itu?” jawabnya santai sambil duduk bersila di lantai ruang tengah, lalu mulai menyesap kopinya dengan nikmat. “Sudah pasti kamu merasa gugup, bukan?”

“Gugup sekali, Sarah. Rasanya jantungku berdebar kencang hanya membayangkannya saja. Aku takut tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, atau justru bicara tidak pada tempatnya,” jawabku jujur, mengakui kekhawatiran yang selama ini menyelimuti pikiranku.

Sarah menoleh ke arahku, lalu tersenyum menenangkan. “Kamu tidak perlu berbicara terlalu banyak atau terlalu sempurna. Cukup sampaikan apa yang ada di hatimu dan apa yang sebenarnya kamu inginkan untuk cerita ini. Ingat, orang-orang yang akan kamu temui itu hanyalah manusia biasa seperti kita. Mereka juga memiliki mimpi, rasa takut, dan keraguan dalam hidupnya.”

“Kamu yakin begitu? Rasanya mereka adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dan memiliki standar yang tinggi,” tanyaku masih belum sepenuhnya tenang.

“Aku sangat yakin. Dulu saat aku menjalani masa magang di salah satu studio film di Sydney, aku sempat bertemu dengan banyak orang yang disebut ‘petinggi’ di industri itu. Mereka sama saja seperti kita—hanya saja mereka memiliki lebih banyak kesempatan dan modal untuk mewujudkan ide-ide mereka. Jadi jangan merasa rendah diri atau takut berhadapan dengan mereka,” jelasnya dengan nada meyakinkan.

Aku pun tertawa mendengar penjelasannya yang sederhana namun masuk akal. “Kamu benar-benar selalu punya cara untuk membuatku merasa lebih tenang dan tersenyum kembali, Sarah.”

“Itu sudah menjadi tugas utamaku sebagai sahabat baikmu, kan? Jadi jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, ya. Lakukan saja sebisa mungkin dan percayalah pada kemampuanmu sendiri,” jawabnya sambil menepuk pundakku dengan lembut.

***

Pukul delapan malam.

Malam itu, suasana di luar terasa semakin hangat dan nyaman. Musim panas di Melbourne telah tiba sepenuhnya, membawa udara yang lembut dan langit yang cerah tanpa awan tebal. Aku berdiri di balkon apartemen, memandang ke arah cakrawala yang mulai gelap namun diterangi ribuan lampu dari gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang berkelap-kelip indah, seolah bintang-bintang di langit turun bersinar di atas permukaan bumi.

Di tanganku, aku masih memegang erat surat yang dikirimkan Aldo sore tadi. Aku membaca sekali lagi kalimat terakhir yang ditulisnya:

“Aku menyayangimu, Tari. Sejauh perjalanan ke bintang dan kembali lagi ke bumi.”

Aku mengangkat wajah menatap langit malam yang luas dan dipenuhi bintang-bintang yang bersinar terang, lalu tersenyum lebar dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan penuh keyakinan dibandingkan pagi harinya.

“Aku pun menyayangimu, Aldo. Sejauh perjalanan ke bintang dan kembali lagi ke bumi.”

Di tengah hembusan angin malam yang lembut, di dalam hatiku, kini ada ketenangan dan kekuatan baru yang tumbuh—berkat dukungan sahabat, semangat dari keluarga, dan kehangatan kata-kata dari orang yang paling aku cintai. Apapun yang akan terjadi dalam pertemuan mendatang, aku merasa sudah siap untuk menghadapinya.

1
Tamaa
/Toasted//Toasted/
Tamaa
Omoshiroi
Reverie_Vex: Makasih banyak! Senang banget kamu merasa ceritanya seru 🤗
Semoga tetap menyenangkan dibaca sampai bab-bab selanjutnya ya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!