Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Sang Detektif
Klinik privat di pinggiran Jakarta Selatan itu tak lagi sudi menampung kutukan. Setelah malam mengerikan di mana suara gamelan gaib membangunkan seisi paviliun pada jam tiga pagi, Aryo dipaksa membawa Maya keluar.
Tidak ada ambulans yang mau mengangkut mereka. Akhirnya, menggunakan mobil SUV sewaan dengan seluruh kaca jendela ditutup rapat dan tirai darurat terpasang, Aryo membawa istri mudanya itu ke sebuah rumah tua peninggalan orang tuanya di kawasan Jakarta Timur—sebuah tempat yang terisolasi, jauh dari tatapan tetangga maupun kilatan lampu polisi.
Di ruang tengah rumah tua yang berdebu itu, bau anyir bunga kantil telah mencapai titik puncaknya. Maya dibaringkan di atas sofa panjang. Kondisinya kini menyerupai mayat hidup; guratan berserat hitam layaknya pelepah bambu kering telah merayap hingga ke rahang dan pipinya, sementara tonjolan kaku di dadanya berdenyut konstan. Dug ... dug ... dug ... seirama dengan ketukan maut.
Aryo duduk di lantai, bersandar pada kaki meja dengan tatapan hancur. Ia telah kehilangan segalanya: istrinya sekarat, bisnis propertinya di Sudirman di ambang bangkrut setelah pondasi menara proyeknya amblas digulung akar gaib, dan dukun pertama yang disewanya mati mengenaskan dengan jantung tertembus serat tumbuhan.
Harapan Aryo telah mati, sampai pintu depan rumah tua itu diketuk tiga kali dengan ketukan yang santai, namun tegas.
Tok ... tok ... tok ....
Aryo menegakkan tubuhnya yang gemetar. Ia melangkah menuju pintu, membukanya dengan sisa-sisa keberanian yang tersisa.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria yang penampilannya sama sekali tidak menyerupai dukun, sorban, atau orang pintar yang pernah Aryo temui.
Pria itu mengenakan mantel panjang berwarna cokelat tua (trench coat) di atas kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka. Celana jin gelap dan sepatu bot kulitnya tampak sedikit kotor oleh sisa lumpur hujan Jakarta.
Usianya mungkin baru menginjak akhir tiga puluh tahun. Wajahnya tegas dengan rahang persegi, rambutnya sedikit berantakan, dan sepasang mata hitamnya yang tajam tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah yang dikepung oleh bau busuk sihir hitam tingkat tinggi.
Di tangan kanannya, pria itu memegang sebuah pemantik api kuningan tua yang berdentang pelan saat ia mainkan. Di tangan kirinya, ada sebuah tas jinjing berbahan kulit buaya yang tampak berat.
"Pak Aryo? Perkenalkan ... saya Danu," ucap pria itu. Suaranya berat, rendah, dan memiliki nada yang sangat skeptis sekaligus berwibawa. "Baskoro yang mengirim saya ke sini. Dia bilang Anda butuh seseorang yang bisa melihat masalah dari sudut pandang yang ... tidak diajarkan di sekolah hukum."
Danu adalah seorang penyelidik supranatural, atau yang lebih dikenal di kalangan terbatas Jakarta sebagai "Sang Detektif".
Ia bukan dukun yang merapalkan jampi-jampi demi uang, bukan pula pemburu hantu yang mencari sensasi. Danu adalah seorang investigator yang melacak kasus-kasus mistis menggunakan metode investigasi forensik gaib—mengejar rekam jejak kutukan layaknya seorang detektif mengejar pelaku pembunuhan berantai.
"Masuk ... silakan masuk, Mas Danu," lirih Aryo, suaranya parau, seolah-olah ia sedang menyambut malaikat penyelamatnya.
Danu melangkah melewati ambang pintu. Begitu kakinya menginjak lantai tegel rumah tua itu, ia langsung berhenti. Matanya menyipit. Ia tidak mengeluarkan keris atau air doa. Danu justru merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah alat digital kecil berujung perak—sebuah Electromagnetic Field (EMF) Meter yang biasa digunakan untuk mengukur gelombang elektromagnetik.
Tit ... tit ... tit .... Bzzzzzzz!
Alat di tangan Danu langsung berbunyi nyaring, lampu indikator merahnya menyala penuh tanpa putus, menandakan adanya distorsi energi yang sangat masif di dalam ruangan tersebut.
"Fluktuasi energinya di atas 500 miligauss," gumam Danu datar, memasukkan kembali alat itu ke dalam sakunya. Ia mengendus udara sekilas, lalu mengeluarkan sebatang rokok. "Bau bunga kantil hangus bercampur dengan getah pelepah bambu basah. Ini bukan kiriman dukun bayaran lokal Jakarta, Pak Aryo. Ini ilmu ikat garis darah. Jenis kutukan yang fondasinya dibangun di atas sumpah yang dilanggar."
Aryo terkejut. "Bagaimana Mas Danu bisa tau?"
Danu berjalan mendekati sofa tempat Maya terbaring. Ia berlutut di samping tubuh wanita muda itu, mengabaikan lenguhan gaib yang mendadak keluar dari tenggorokan Maya begitu sosok Danu mendekat.
Danu memakai sepasang sarung tangan lateks hitam dari dalam tas kulitnya. Dengan sangat hati-hati, ia memeriksa guratan serat hitam di pipi Maya, lalu menempelkan telinga kirinya beberapa senti di atas dada Maya yang membuncit kaku.
Dug ... dug ... dug ....
"Detak jantungnya konstan di angka empat puluh ketukan per menit. Terlalu lambat untuk manusia, tapi pas untuk ritme pertumbuhan vegetatif tanaman gaib," analisis Danu secara dingin, seolah-olah ia sedang membedah sebuah kasus medis biasa.
Ia berdiri, melepas sarung tangannya, lalu menatap Aryo. "Ini Santet Pring Sedapur. Ilmu kuno dari tlatah Blambangan, ujung timur Jawa. Benar begitu?"
Aryo hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya kembali mengambang di pelupuk mata.
"Iya, Mas. Mantan istri saya ... Sekar. Keluarganya pemegang ilmu itu. Saya sudah ke Banyuwangi memohon padanya, tapi dia menolak. Dukun pertama yang saya sewa ... Abah Kamdi ... mati mengenaskan di depan mata saya kemarin malam."
Danu terkekeh kecil, sebuah tawa kering yang tidak bermaksud mengejek, melainkan meratapi kebodohan.
"Abah Kamdi itu dukun panggung, Pak Aryo. Dia biasa menangani guna-guna pelet atau kiriman tanah kuburan dari saingan bisnis. Dia tidak tahu bahwa melawan Pring Sedapur dengan doa-doa pengusir setan biasa itu sama saja dengan menyiram bensin ke atas api sumpah darah. Makanya dia mati dihantam balik oleh akar gaibnya."
Danu melangkah menuju sudut ruangan, menatap bayangan dirinya di sebuah cermin tua yang tergantung di dinding. Ia mengeluarkan pemantik kuningan miliknya, memantik apinya sejenak, lalu mendekatkannya ke permukaan kaca.
Api pemantik itu mendadak meliuk ke arah dalam kaca, seolah ada magnet tak kasat mata yang menarik panasnya masuk.
"Kutukannya sudah bermutasi. Medianya bukan lagi boneka di kolong kasur yang sudah Anda bakar itu," Danu membalikkan tubuhnya, menatap Aryo dengan tatapan mengunci. "Medianya sekarang adalah tubuh istri muda Anda sendiri, dan rezeki di perusahaan Anda. Target dari ilmu ini adalah kepunahan total. Selama garis keturunan Anda dari rahim wanita ini masih ada, akarnya akan terus mengunyah sampai tidak ada lagi yang tersisa."
"Lalu ... lalu apa yang harus saya lakukan, Mas Danu?!" Aryo bersujud di depan Danu, mencengkeram ujung mantel cokelat sang detektif dengan keputusasaan yang nyata. "Uang saya masih banyak! Saya bisa bayar Anda berapa pun! Tolong selamatkan Maya dan anak saya!"
Danu menatap Aryo yang bersujud di bawah kakinya dengan pandangan dingin, tanpa rasa iba sedikit pun.
Sebagai penyelidik, ia telah melihat terlalu banyak orang kaya yang mengira mereka bisa membeli hukum alam dan membuang kesetiaan dengan lembaran cek.
"Bangun, Pak Aryo. Uang Anda tidak berlaku di dimensi ini," kata Danu sambil menarik mantelnya perlahan dari cengkeraman Aryo. "Saya menerima kasus ini bukan karena uang Anda, tapi karena saya benci melihat sebuah kasus supranatural yang berjalan tanpa ada penyelesaian yang adil. Sumpah darah harus diselesaikan dengan tata cara adat, bukan dengan pengusiran paksa."
Danu berjalan kembali ke tas kulitnya, menutupnya dengan bunyi klik yang tegas.
"Malam ini, kita tidak akan melakukan ritual apa pun di rumah ini. Kekuatan Pring Sedapur sedang berada di puncaknya setelah memakan korban Abah Kamdi." Danu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah empat pagi.
"Saya sudah melacak pola serangan kutukan ini. Akarnya merayap mengikuti aliran tanah yang pernah Anda bawa dari Banyuwangi tiga belas tahun lalu untuk proyek pertama Anda," ujar Danu lagi.
Danu menatap ke arah jendela luar yang masih benderang oleh sisa kilatan petir Jakarta.
"Kita harus memotong akarnya langsung dari tempat di mana sumpah itu pertama kali diikat. Jakarta sudah tidak aman untuk Anda. Besok pagi, kita akan melakukan perjalanan kembali ke timur. Tapi kali ini, kita tidak akan menemui mantan istri Anda di rumahnya."
Aryo mendongak, bingung. "Lalu kita ke mana, Mas?"
"Kita akan pergi ke lereng selatan Gunung Salak terlebih dahulu," ucap Danu mengejutkan Aryo. "Ada seorang petapa tua di sana, mantan sekutu dari almarhum bapaknya Sekar, Ki Demang. Dialah satu-satunya orang yang tahu kelemahan dari anyaman serat Pring Sedapur. Jika kita berhasil mendapatkan jimat pemutusnya dari sana, baru kita kembali ke Banyuwangi untuk mengeksekusi babak akhir dari kasus ini."
Danu berjalan menuju pintu depan, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.
"Jaga istrimu malam ini, Pak Aryo. Jangan biarkan dia menatap cermin mana pun di dalam rumah ini. Karena jika bayangan wanita berkonde itu berhasil keluar sepenuhnya dari balik kaca ... sebelum besok pagi tiba, Anda hanya akan membawa pulang seonggok batang bambu mati berselimut kain kafan ke Jawa Timur."
Dengan kalimat penutup yang sedingin es tersebut, Danu melangkah keluar menembus sisa hujan malam Jakarta, meninggalkan Aryo dalam keheningan baru yang mencekam.
Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.
Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?
Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .