NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat perlahan menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan yang mewah itu.

Cahaya pagi itu menerpa wajah Afrain yang masih tampak sedikit pucat.

Perlahan, kelopak matanya bergerak, dan Afrain membuka matanya untuk pertama kali sejak operasi besar semalam.

Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Lani.

Istrinya itu tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, duduk di kursi samping ranjangnya sambil menyandarkan kepala di tepi tempat tidur, dengan jemari yang masih setia menggenggam tangan Afrain.

Melihat wajah lelah istrinya, gumpalan rasa sayang yang begitu besar membuncah di dada Afrain.

Dengan suara yang sangat serak dan nyaris habis, ia menggerakkan jemarinya dan berbisik lirih.

"S-sayang..."

Suara lemah itu seketika membuat Lani tersentak.

Lani membuka matanya perlahan-lahan. Begitu kesadarannya terkumpul dan melihat sepasang mata elang suaminya kini telah terbuka dan menatapnya hangat, pertahanan batin Lani runtuh seketika.

"Mas..." panggil Lani dengan suara yang langsung bergetar.

Detik berikutnya, Lani menangis sesenggukan. Ia menyembunyikan wajahnya di atas tangan Afrain yang digenggamnya, membiarkan air matanya membanjiri kulit pria itu.

Rasa bersalah yang sejak semalam ia pendam akhirnya tumpah tak terbendung.

"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku. Gara-gara aku, Mas sampai harus terluka dan seperti ini. Kalau saja aku tidak turun ke basement sendirian, Mas tidak akan pernah celaka..." ucap Lani di sela-sela tangis penyesalannya yang begitu dalam.

Afrain tersenyum tipis saat mendengar perkataan dari istrinya.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggerakkan tangan kirinya untuk mengusap lembut puncak kepala Lani.

"Ssshh..." bisik Afrain menenangkan, menghentikan kalimat penyesalan Lani.

"Jangan menangis, Sayang. Ini bukan salahmu. Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu untuk melindungimu dari bahaya apa pun."

Afrain menjeda kalimatnya sejenak, tenggorokannya terasa sangat kering dan terbakar setelah berjam-jam tidak sadarkan diri.

"Dan, tolong ambilkan air..." tambah Afrain dengan dahi yang sedikit berkerut menahan haus.

Lani yang mendengarnya langsung mendongak, dengan cepat menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, dan bergerak sigap mengambilkan segelas air putih hangat dari meja di samping tempat tidur.

Tok... Tok...

Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan ruang perawatan, disusul dengan langkah kaki Mbok Mar yang melangkah masuk dengan senyum lega yang merekah.

Di kedua tangannya, kedatangan Mbok Mar membawa sarapan yang masih hangat dan beraroma segar dari rumah.

"Alhamdulillah, Den Afrain sudah sadar..." ucap Mbok Mar dengan mata berkaca-kaca, meletakkan rantang makanan di atas meja kecil.

Rasa syukur mendalam terpancar dari wajah wanita tua itu melihat majikannya telah melewati masa kritis.

"Iya, Mbok. Terima kasih banyak ya sudah repot-repot," jawab Afrain dengan suara yang masih agak lemah namun terdengar jauh lebih bertenaga setelah meminum air hangat yang diberikan Lani tadi.

Mbok Mar kemudian berbalik menatap Lani yang tampak masih lemas dengan lingkaran hitam di bawah matanya.

"Non Lani, sekarang gantian Non yang sarapan dulu ya. Jangan sampai ikut tumbang. Ini Mbok buatkan makanan kesukaan Non Lani."

Mbok Mar membuka nasi pecel hangat yang dibungkus daun pisang, lengkap dengan bumbu kacang yang gurih, sayuran segar, dan rempeyek renyah.

Aroma khas bumbu pecel seketika menguar memenuhi ruangan.

Namun, alih-alih merasa lapar, rahang Lani mendadak mengencang.

Lani menutup hidungnya dengan sebelah tangan, wajahnya seketika berubah menjadi sangat pucat.

Aroma pecel yang biasanya sangat ia sukai, entah mengapa pagi ini terasa begitu menyengat dan membuat ulu hatinya bergejolak hebat menahan mual.

"Non? Kenapa?" tanya Mbok Mar bingung.

Lani mencoba memaksakan diri untuk tersenyum.

"Nggak apa-apa, Mbok. Cuma sedikit pusing."

Lani melangkah pelan, berniat untuk duduk di kursi penunggu. Namun, baru saja dua langkah berjalan, pandangannya mendadak berputar hebat dan seluruh tenaganya lenyap seketika. Tubuhnya limbung.

Saat ia akan duduk, tiba-tiba ia jatuh pingsan tak sadarkan diri sebelum sempat meraih sandaran kursi.

"Sayang!!" seru Afrain histeris. Ia mencoba menegakkan tubuhnya di atas ranjang, namun luka tusuk di punggungnya berdenyut nyeri, menahannya untuk langsung melompat turun.

"Astaghfirullah, Non Lani!!" pekik Mbok Mar panik.

Dengan sigap, Mbok Mar langsung menangkap tubuh Lani yang lemas agar tidak terbentur lantai yang keras, lalu membaringkannya dengan hati-hati di sofa panjang ruangan.

Tanpa membuang waktu dalam kepanikannya, Mbok Mar memanggil dokter dan perawat dengan menekan tombol darurat di dinding kamar, memicu langkah kaki yang tergesa-gesa dari luar koridor untuk segera memeriksa kondisi sang istri CEO yang mendadak tumbang.

Dengan sigap, beberapa perawat yang baru saja masuk langsung mengangkat dan menaruh tubuh Lani di ranjang sebelah yang kosong di dalam ruang perawatan VIP tersebut.

Dokter dengan tenang mulai memeriksa keadaan Lani, mengecek denyut nadi, menyenter pupil matanya, dan memeriksa tekanan darahnya menggunakan tensimeter.

Di ranjangnya sendiri, Afrain menatap wajah istrinya yang pucat dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi rasa cemas yang amat sangat.

Ia takut trauma kejadian kemarin di gudang tua berakibat buruk pada kesehatan psikis dan fisik wanita yang sangat dicintainya itu.

"Bagaimana, Dok? Apa dia kelelahan karena menjaga saya semalaman?" tanya Afrain bertubi-tubi, suaranya sarat akan kekhawatiran yang mendalam.

Dokter itu selesai melepaskan stetoskopnya, lalu berbalik menatap Afrain.

Alih-alih menunjukkan wajah tegang, dokter tersebut justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan kabar bahagia.

"Selamat, Pak. Istri Anda tidak hanya kelelahan biasa. Beliau saat ini sedang hamil," ucap Dokter itu dengan nada penuh sukacita. "

"Usia kandungannya baru memasuki minggu-minggu awal, itulah mengapa tubuhnya sangat sensitif terhadap aroma menyengat dan mudah lemas akibat tekanan emosional yang besar."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut dokter, Afrain seketika terpaku.

Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi di telinganya.

Kalimat "beliau sedang hamil" terus bergema di kepalanya, membawa gelombang kebahagiaan yang begitu dahsyat hingga matanya berkaca-kaca.

Setelah badai besar yang baru saja mereka lewati, Tuhan mengirimkan malaikat kecil sebagai pelipur lara dan awal yang baru bagi kehidupan pernikahan mereka.

Dokter dengan cekatan memasang selang infus ke pergelangan tangan Lani untuk menyalurkan nutrisi dan cairan yang sempat hilang akibat kelelahan.

Setelah memastikan semuanya aman, ia menoleh ke arah perawat di sampingnya.

"Tolong siapkan menu makanan khusus untuk ibu hamil yang tinggi zat besi dan asam folat ya," perintah dokter sebelum akhirnya berpamitan keluar untuk memberikan privasi bagi pasangan tersebut.

Tak berselang lama, Lani melenguh lirih. Ia membuka matanya perlahan, mengedipkan kelopak matanya yang terasa berat untuk menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.

Pandangannya perlahan turun, dan ia terkejut saat melihat tangan kanannya yang kini telah terpasang selang infus.

"Mas, aku kenapa? Kenapa aku diinfus?" tanya Lani dengan suara lemah, menatap ke arah ranjang di sebelahnya dengan raut bingung dan cemas.

Di ranjang samping, Afrain menatap istrinya dengan binar mata yang begitu hangat.

Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kebahagiaan mendalam terukir di bibirnya.

Ia mengulurkan tangannya, mengisyaratkan agar Lani mendekat atau menggenggam jemarinya.

"Selamat, Sayang. Ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimmu," ucap Afrain dengan nada suara yang sangat lembut, bergetar menahan haru.

"M-mas..." Lani tertegun, napasnya seolah berhenti berdetak sedetik.

Jantungnya bergemuruh hebat, antara percaya dan tidak percaya.

"Mas nggak bercanda, kan? Mas nggak lagi menghibur aku, kan?"

"Nggak, Sayang. Mas sama sekali nggak bercanda. Dokter baru saja memeriksamu. Kamu sedang mengandung anak kita," jawab Afrain mantap, sepasang matanya yang biasa dingin kini berkaca-kaca penuh ketulusan.

Mendengar penegasan dari suaminya, Lani seketika menangis terisak.

Air matanya mengalir deras membasahi pipi, membongkar paksa sebuah kotak trauma masa lalu yang selama ini mengunci rapat hatinya.

Ingatannya berputar pada masa-masa kelam bersama mantan suaminya.

Dulu, Alex menceraikannya dengan begitu kejam hanya karena Lani dituduh mandul dan tidak bisa memberikan keturunan.

Tuduhan tidak berdasar itu pula yang dijadikan alasan oleh Alex untuk berselingkuh di belakangnya dengan Mira—sahabat yang paling Lani percayai—hingga akhirnya Alex menjatuhkan talak dan mendepaknya dengan penuh hinaan.

Rasa sakit, dicap cacat sebagai wanita, dan pengkhianatan itu selalu membayangi benak Lani, membuatnya sering merasa tidak berharga.

Namun hari ini, di atas ranjang rumah sakit ini, air mata Lani adalah air mata pembebasan.

Janin yang ada di rahimnya seolah menjadi bukti nyata yang meruntuhkan semua tuduhan keji masa lalu itu.

Tuhan tidak hanya menyelamatkannya dari maut di gudang tua semalam, tetapi juga mengangkat derajatnya dan menjawab segala doa serta rasa sakitnya selama ini melalui kehadiran buah cintanya bersama Afrain.

1
merry yuliana
makasih ceritanya kak 💪💪💪😍🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
yulia nisma
masih nyimak thor kayaknya ceritanya bagus 👍😍
Ame Joh
aku mampir thor, sepertinya seru.
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
cwek nya menye oon😒
falea sezi
🤣🤣 mampuss buang istri baik dpet istri boross bodoh
Dew666
😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!