"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Astra langsung kicep. Otaknya yang sempat korsleting dipaksa berputar demi menyelamatkan harga dirinya yang tersisa. Ia buru-buru menyeka air mata dengan ujung selimut, lalu memasang wajah melas.
"E-eh... enggak apa-apa, Yisla," cicit Astra, memaksakan senyum sok sedih. "Aku... cuma tiba-tiba kangen sama keluargaku."
Yisla melangkah mendekat, menatapnya dengan iba. "Keluarga? Memangnya... keluargamu sudah tidak ada ya, Julian?"
Mendengar itu, jiwa author dalam diri Astra mendadak bangkit. Urusan menyusun melodrama? Ini keahliannya!
"Aku sebatang kara dari kecil, Yisla. Aku cuma tinggal sama bibiku. Tapi... bibiku tega banget. Dia malah ngejual aku ke sindikat budak karena terlilit utang."
Yisla tertegun, namun sedetik kemudian dahinya berkerut heran.
"Tunggu deh... tapi bukannya tadi, kamu bilang kamu bingung dan nggak ingat asal-usulmu? Kok sekarang bisa tahu tentang bibimu?"
Skakmat.
Astra melongo di dalam gulungan selimut itu. Sialan! Dia lupa kalau plot karangannya bertabrakan! Otak author-nya mendadak langsung panik.
"Ah? I-itu..." Astra memutar bola matanya, lalu reflek memegang kepalanya sambil berakting seperti orang yang pening.
"Aduh... kepala aku tiba-tiba pusing banget, Yisla. Gak tahu kenapa... pas tadi kedinginan gara-gara mandi air es, ingatan itu... tiba-tiba aja muncul! Iya, aku baru aja ingat! Kalau dulu aku punya keluarga."
Yisla mengerjap, menatap transisi drama di depannya dengan dahi berkerut.
"Benarkah? Jadi ingatanmu mulai pulih?"
"I-iya, begitulah..."
Raut wajah Yisla seketika melunak, digantikan oleh rasa prihatin yang amat dalam. Gadis itu duduk di dekat Astra, lalu tersenyum sangat tulus hingga membuat suasana ruangan terasa hangat.
"Kisahmu sedih sekali, Julian... Tapi jangan nangis lagi, ya?" ujar Yisla. "Kalau kamu gak keberatan... mulai sekarang, kamu boleh kok menganggap aku sama Kak Vito sebagai keluargamu."
Deg.
Astra terpaku. Otak melankolisnya langsung mogok jalan dan berganti mode halu maksimal.
Dianggap keluarga? Berarti iparan sama Vito dong? Terus lama-lama plotnya berkembang, terus Yisla beneran jadi istri-ku di masa depan?! Wah, gak buruk juga genre romance ini—
Plak!
"Hei, Julian! Kamu gak apa-apa?" Yisla menepuk pundak Astra, membuyarkan khayalan tingkat tinggi pemuda itu. Gadis itu menatapnya dengan heran karena Julian malah senyum-senyum sendiri dengan tatapan kosong.
"Ayo cepat siap-siap, kita susul Kakak ke pasar!"
"A-ah? Iya! Ayo, berangkat!" seru Astra buru-buru, memotong fantasi liarnya sebelum makin kelihatan aneh di depan Yisla.
Ia melompat bangkit, melepas selimut, dan merapikan mantel wol pinjaman dari Vito. Setelah memastikan dirinya tidak tampak seperti mayat hidup lagi, mereka melangkah keluar menembus udara siang desa negeri utara yang untungnya tidak sekejam tadi malam.
Sepanjang perjalanan menuju pasar, Yisla benar-benar tidak bisa berhenti bicara. Gadis itu berjalan riang, sesekali dia akan menendang tumpukan salju di depannya.
"Kamu tahu gak, Julian? Sebenarnya aku senang banget ada kamu di keluarga kita," ujar Yisla manis, menoleh dengan mata berbinar. "Rumah sepi banget kalau Kak Vito pergi berburu. Tapi sekarang, sejak ada kamu, rasanya jadi lebih hidup tahu!"
Astra melangkah dengan canggung, ia bingung harus merespons apa. Lidahnya mendadak kelu karena merasa bersalah.
Gadis ini tulus banget... padahal dia gak tahu aja kalau identitas 'Julian' ini cuma bualan semata.
Wush. Suhu mendadak drop untuk kesekian kalinya.
Animus dan Anima kembali muncul, dan berjalan santai di sisi Astra. Animus kali ini diam tanpa rostingan, namun pena bulu ayam di jemarinya sudah bersiap di atas gulungan kertas kosong.
"Ayo dong, jangan diam aja, Sayangku!" goda Anima, ia menyenggol bahu Astra dengan centil.
"Tanggapi dong perkataan Yisla. Bikin dia merasa didengar, biar lama-lama dia makin suka dan nyimpen perasaan sama kamu. Ini kesempatan emas buat nambah genre romance!"
Astra melirik Yisla yang masih menatapnya penuh harap. Otaknya mendadak blank akibat tekanan dari Anima. Karena gugup setengah mati dituntut melakukan adegan romantis, mulut Astra malah melontarkan jawaban yang super ngelantur.
"Oh... iya. Aku juga suka... suka banget sama sup babi buatanmu. Baunya mirip bau ketek Reza pas abis main bola," ceplos Astra tanpa sadar.
Hening.
Seketika, Yisla langsung menghentikan langkahnya. Gadis itu bengong, menatap Astra dengan pandangan luar biasa aneh dan bingung. Reza siapa? Ketek siapa? Julian di matanya kini fiks berubah status menjadi cowok paling freak se-negeri utara.
Animus mendengus sangat keras, sembari memutar bola matanya dengan malas lalu menurunkan pena bulunya.
"Aku rasanya ingin sekali pensiun dini jadi hemisphere kirimu! Sialan, aku benar-benar tidak kuat," ketus Animus dingin.
Wush! Duo Hemisphere itu langsung menghilang tanpa dosa.
Astra merutuki mulut sialannya yang tidak bisa diajak kompromi. Namun, sebelum ia sempat meralat ucapannya yang memalukan itu—
Set!
Yisla tiba-tiba menarik lengan mantel Astra dengan cengkeraman yang sangat kuat, memaksa pemuda itu ikut berhenti menapak.
"Julian... tunggu," bisik Yisla, suaranya yang tadinya riang seketika berubah bergetar penuh ketakutan.
Astra mengernyit. "Yisla? Kenapa—"
"Sstt! Lihat ke arah gerbang pasar," potong Yisla panik.
Astra mengikuti arah pandangan Yisla. Di sana, di antara kerumunan warga desa, berdiri dua pria kekar bermantel bulu tebal yang sangat familiar. Salah satu dari mereka sedang mencengkeram kerah baju seorang pedagang sambil menyodorkan selembar kertas sketsa wajah, sementara pria satunya lagi celingukan menatap sekeliling dengan tatapan mata yang liar.
Jantung Astra rasanya seperti melompat ke tenggorokan. Sialan! Dua orang sindikat budak semalam! Mereka belum pergi dari desa ini?!