Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di lorong Gedung perkantoran yang hanya diterangi oleh lampu neon remang-remang menciptakan atmosfer pengap dan misteri. Setiap langkah yang diinjakkan di atas lantai, membuat dinding-dindingnya bergetar, seolah mereka menyimpan ribuan rahasia yang tidak boleh terucap ke permukaan dunia luar.
Lisa melangkah masuk melewati garis polisi kuning yang masih terpampang di depan pintu masuk utama, merasakan hawa dingin yang tidak wajar merayap perlahan dari bawah lantai hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Jam dua belas malam lagi?" Bisik Lisa, matanya menatap pintu lift yang terletak di ujung lorong paling dalam, bagian bawah pintunya sedikit penyok seolah pernah diterjang oleh sesuatu yang berat. Udara di sekitarnya terasa semakin statis dan penuh dengan muatan yang membuat rambut di lehernya berdiri tegak.
Ia sudah tidak tahu berapa kali harus menyelidiki kasus yang berkaitan dengan fenomena aneh pada tengah malam seperti ini, namun setiap kali rasanya seperti pertama kalinya—rasa takut yang sedikit menyelinap dicampur dengan rasa ingin tahu yang luar biasa akan kebenaran yang tersembunyi.
Di sisinya, Sam berjalan dengan langkah lebih tegas dan rahang tampak mengeras karena ketegangan yang luar biasa. Ia bisa merasakan getaran energi yang tidak stabil mengelilingi setiap sudut gedung ini.
"Kasusnya terlalu bersih. Setiap korban yang ditemukan di dalam lift ini tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan sama sekali, tidak ada jejak racun di dalam tubuh mereka, hanya laporan dari dokter bahwa jantung mereka berhenti tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Orang-orang di sekitar sini menyebutnya 'Hantu di Lift' yang membawa maut bagi siapa pun yang memasuki kabinnya pada tengah malam, tapi aku tidak mencium bau kematian yang alami di sini. Ada sesuatu yang disengaja di balik semua ini." Ujar Sam.
Mereka berhenti tepat di depan pintu lift nomor 04—lift yang menjadi pusat dari semua cerita mistis yang berkembang di sekitar gedung ini.
Papan nama yang tertulis di sebelah pintu sudah menguning akibat usia dan sedikit tergores, namun masih bisa dibaca jelas: LIFT 04 – KHUSUS UNTUK LANTAI 1 SAMPAI 20.
Saat jarum jam digital yang terpasang di atas pintu berkedip perlahan dan menunjukkan angka 00:00 tepat pada tengah malam, lampu neon yang menerangi lorong itu secara tiba-tiba meredup dengan cepat, mengeluarkan suara mendenging rendah yang menyakitkan telinga dan membuat seluruh lorong terasa seperti berada di dalam mesin besar yang sedang beroperasi.
Setelah beberapa saat, lampu kembali menyala dengan cahaya yang lebih redup dari biasanya, dan pintu lift mulai terbuka perlahan dengan suara gesekan logam yang parau dan kasar. Di dalamnya tampak kabin kosong yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung berbentuk bola dengan warna kuning temaram yang terus berkedip-kedip tidak teratur.
Tanpa ragu lagi, Lisa melangkah masuk ke dalam kotak logam sempit itu yang terasa jauh lebih kecil dari pada yang terlihat dari luar. Kakinya menyentuh lantai, dan segera setelah pintu lift tertutup rapat di belakangnya, suhu di dalam kabin tersebut anjlok secara drastis hingga hampir mencapai titik beku.
Udara yang sebelumnya sudah cukup dingin kini menjadi sangat sejuk, membuat Lisa bisa melihat uap napasnya sendiri keluar dari mulutnya seperti kabut tipis yang perlahan menghilang di udara. Kulitnya mulai merinding karena dingin yang menusuk, dan dia tidak bisa tidak merasa sedikit gelisah dengan suasana yang semakin tegang di dalam lift tersebut.
"Sam?" Dia bisa merasakan kehadiran Sam di sekitarnya, namun tidak bisa melihatnya dengan jelas karena kegelapan yang mulai menyelimuti kabin lift tersebut.
"Dia di sini..." Sahut Sam dengan suara pelan namun jelas terdengar di tengah kesunyian yang mencekam.
Dari sudut paling dalam kabin lift yang terlindungi dari cahaya lampu yang berkedip, perlahan muncul sesosok pria tua dengan tubuh yang sedikit bungkuk dan mengenakan seragam teknisi yang sudah compang-camping dan penuh dengan noda kotoran serta minyak. Kulitnya tampak berwarna biru pucat seperti orang yang sudah lama tidak melihat matahari, dan matanya yang besar dan sedikit menonjol menatap Lisa dengan ekspresi keputusasaan dan penuh dengan kesedihan yang mendalam.
Arwah pria tua itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang atau melakukan sesuatu yang berbahaya; dia hanya berdiri diam dengan tangan yang samar terulur ke depan, menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit lift sambil terus meracau dengan suara yang tidak bisa dipahami oleh Lisa.
Namun bagi Sam, suara tersebut terdengar sebagai frekuensi statis yang sangat pedih dan menyakitkan telinga—suara yang membawa pesan yang ingin disampaikan namun tidak bisa diucapkan dengan kata-kata yang jelas.
Sam segera melayang mendekati arwah teknisi itu dengan langkah hati-hati, tubuhnya mulai berpendar dengan kilau keperakan yang menunjukkan bahwa dia sedang mencoba menyelaraskan energi dirinya dengan energi sang arwah. Ia ingin membuat sang arwah merasa aman dan tidak takut, sehingga akhirnya bisa menyampaikan pesan yang selama ini ingin dia sampaikan kepada orang yang bisa membantunya.
"Tenanglah. Kami tidak datang ke sini untuk menyakiti Anda atau mengganggu kedamaian Anda. Kami di sini untuk mendengarmu—untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Anda dan mengapa Anda masih terjebak di tempat ini."
Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam dan penuh dengan kesunyian yang mencekam, arwah teknisi itu akhirnya berhenti meracau dan mulai menunjukkan gerakan yang lebih tenang. Badannya yang tadinya sedikit menggigil karena emosi kini menjadi lebih stabil, dan matanya yang penuh dengan keputusasaan mulai menunjukkan sedikit kilatan harapan.
Sam berdiri diam menerima setiap getaran energi yang datang dari sang arwah, menterjemahkan setiap frekuensi statis menjadi pesan yang jelas dan bisa dipahami. Setelah merasa cukup dengan informasi yang diterimanya, Sam perlahan berpaling ke arah Lisa dengan wajah yang tampan kini terlihat sangat serius.
"Dia bukan pembunuhnya. Dia adalah teknisi yang bekerja di gedung ini dan tewas karena kecelakaan yang terjadi di dalam lift ini tepat satu tahun yang lalu. Ia terjebak di tempat ini bukan karena ingin menyebabkan masalah atau membunuh orang-orang yang memasuki lift ini—melainkan karena dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat pada malam kecelakaan itu terjadi. Dia mencoba memberitahu orang-orang di sekitarnya tentang apa yang dia lihat, tapi tidak ada yang mau mempercayainya. Bahkan saat kecelakaan itu terjadi, orang-orang menganggapnya hanya sebagai akibat dari kerusakan mekanis yang biasa saja."
"Apa maksudmu dengan sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat?" Tanya Lisa dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Dia bilang, ini bukan hantu yang menyebabkan kematian orang-orang di dalam lift ini." Sam menjelaskan, matanya menunjuk ke arah panel kontrol yang terletak di sisi dinding lift dan ke arah sela-sela kabel yang terlihat di bawah plafon kabin.
"Ini adalah sabotase yang disengaja. Ada perangkat mekanis kecil yang dipasang secara diam-diam di dalam sistem lift—perangkat yang dirancang untuk memutus aliran udara yang masuk ke dalam kabin dan menciptakan gelombang infrasonik dengan frekuensi rendah setiap kali lift mencapai lantai tertentu pada jam tertentu. Frekuensi yang dihasilkan oleh perangkat itu cukup kuat untuk memicu henti jantung pada orang yang memiliki kondisi fisik lemah atau mereka yang secara sengaja dijadikan target oleh pelaku."
Lisa tertegun mendengar penjelasan itu. Ia tidak pernah menyangka bahwa cerita mistis tentang "Hantu di Lift" yang telah berkembang selama bertahun-tahun ternyata memiliki dasar yang sangat ilmiah dan disengaja.
"Jadi, pembunuhannya menggunakan fisika dan mekanika yang kompleks untuk melakukan kejahatannya, lalu menyamarkannya sebagai fenomena gaib agar tidak diketahui oleh pihak berwenang?" Lisa merasa jijik dengan cara yang digunakan oleh pelaku untuk menyembunyikan kejahatannya di balik rasa takut manusia terhadap hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
"Tepat sekali." Sam mengangguk, matanya kembali menatap arah sudut kabin di mana arwah teknisi itu berada—arwah yang kini mulai perlahan memudar karena sudah merasa lega setelah akhirnya bisa menyampaikan pesan yang selama ini terpendam dalam dirinya.
"Arwah ini hanya mencoba menghentikan lift agar tidak ada lagi orang yang mati karena sabotase itu. Ia mencoba menarik perhatian orang-orang yang memasuki lift dengan membuat diriinya terlihat dan menyebabkan sedikit kekacauan di dalam sistem lift. Namun sayangnya, kehadirannya malah membuat orang-orang semakin ketakutan, dan rasa takut yang luar biasa itu justru menjadi pemicu tambahan yang membuat jantung mereka berhenti karena pengaruh infrasonik yang sudah bekerja di dalam tubuh mereka. Dia ingin aku memberitahumu untuk memeriksa kabel baja yang berada di poros lift pada lantai dua belas. Dia mengatakan bahwa ada jejak sabotase manual yang sangat jelas di sana."
Lisa menatap pintu lift yang masih tertutup rapat di depannya, merasakan kemarahan dan penuh tekad menyelimuti setiap bagian hatinya. Ia tidak bisa menerima bahwa seseorang telah menggunakan mitos urban dan rasa takut alami manusia terhadap kematian serta hal-hal yang tidak diketahui untuk melakukan pembunuhan yang dianggap sempurna.
Ia berpikir tentang semua korban yang telah kehilangan nyawa karena kejahatan yang keji ini—korban yang dianggap hanya mati karena serangan jantung atau karena terkena kutukan hantu, padahal mereka adalah korban dari rencana pembunuhan yang sangat terstruktur dan cerdik.
"Terima kasih, Pak." Ujar Lisa dengan lirih dan tulus, berbicara pada kekosongan di sudut lift yang kini mulai terasa sedikit lebih hangat seiring dengan hilangnya kehadiran sang penunggu arwah teknisi.
Ia tahu bahwa sang arwah sudah bisa menemukan kedamaian yang selama ini dicarinya setelah akhirnya bisa menyampaikan pesan yang ingin dia sampaikan, dan itu membuat hatinya merasa sedikit lebih lega meskipun kemarahan terhadap pelaku masih sangat besar di dalam dirinya.
"Ayo kita ke lantai dua belas. Sepertinya 'hantu' yang sebenarnya di gedung ini masih punya alamat rumah yang nyata dan tidak tinggal di dalam lift seperti yang orang-orang kira. Kita perlu menemukan bukti yang kuat sebelum pelaku punya kesempatan untuk menghilangkannya atau melarikan diri."
Lisa mengangguk dengan setuju, kemudian menekan tombol lantai dua belas pada panel kontrol dengan tangan yang mantap dan tidak gemetar lagi. Ia bisa merasakan bagaimana darahnya mulai mengalir lebih cepat karena rasa ingin tahu dan tekad yang besar untuk mengungkap kejahatan yang telah dilakukan.
Ia tahu bahwa di balik kabel-kabel yang mungkin saja telah terpotong atau dimanipulasi tersebut, ada benang merah yang kuat yang mungkin saja akan membawanya kembali pada nama-nama besar yang sedang ia selidiki bersama Samuel Bahng—nama-nama yang mungkin saja memiliki hubungan erat dengan kematian Sam pada tahun 1987 di Hotel Emerald.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
apakah si SAM korban pembunuhan ?