Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Tukar Nomor
Keira menatap pesan dari nomor tak dikenal itu sampai layar HP-nya meredup sendiri.
`Besok mau jelaskan soal tadi, atau mau aku lapor satpam? :)`
Kalimatnya sopan. Tanda senyumnya sopan. Ancaman satpamnya juga sopan.
Tetap saja Keira merasa seperti terdakwa yang baru menerima surat panggilan sidang.
Ia menyimpan nomor itu dengan nama sementara: `Xavier Jangan Dibuka`.
Lima detik kemudian, ia menghapusnya dan mengganti dengan `Xavier Sia`.
Terlalu dramatis, bahkan untuk ukuran hidupnya yang sekarang punya HP hantu.
Keesokan paginya, Keira berdiri di depan pintu unit seberang dengan kantong kertas kecil berisi kopi susu dan roti dari minimarket bawah apartemen. Ia sudah mengetuk sekali, mundur dua langkah, lalu maju lagi karena mundur terlalu jauh terlihat seperti mau kabur.
Pintu terbuka.
Xavier muncul dengan kaus putih polos dan celana training. Rambutnya masih agak berantakan, tetapi wajahnya tetap tampak seperti orang yang tidak pernah salah masuk rumah siapa pun.
Mochi menyelip dari belakang kakinya, duduk di ambang pintu, dan mengeong pada Keira.
Pengkhianat berbulu itu bahkan terlihat senang melihatnya.
"Pagi," kata Xavier.
"Pagi." Keira mengangkat kantong kertas. "Ini... sogokan damai."
"Untuk gue atau satpam?"
"Kalau lo menolak, untuk satpam."
Xavier menatap kantong itu, lalu mengambilnya. "Masuk?"
Keira langsung menggeleng. "Tidak. Aku masih trauma dengan kemampuan kakiku memilih unit."
Sesuatu yang mirip senyum lewat di wajah Xavier, sangat cepat sampai Keira hampir mengira ia berhalusinasi.
"Jadi?"
Keira meluruskan punggung. Ia sudah latihan di depan cermin. Versi terbaiknya dimulai dengan permintaan maaf dewasa, penjelasan logis, dan janji tidak mengulang.
Yang keluar adalah, "Kemarin itu kecelakaan beruntun."
Xavier bersandar pada kusen. "Kecelakaan beruntun?"
"Pertama, kartu cadangan ketukar. Kedua, aku pusing. Ketiga, kucing lo menyerang duluan."
Mochi mengeong keras.
Keira menunjuk kucing itu. "Saksi tidak objektif."
"Mochi tidak menyerang orang. Dia memilih korban."
"Berarti aku korban."
"Atau favorit."
Keira kehilangan kata-kata selama satu detik. Xavier mengatakannya datar, seolah tidak ada apa-apa, tapi telinganya terasa panas.
Ia cepat-cepat menunduk dan mengeluarkan kartu hitam yang kemarin sempat ia simpan di meja. "Aku benar-benar minta maaf. Ini kartu lo. Aku nggak lihat apa-apa yang aneh."
"Lo lihat lemari gue."
"Sedikit."
"Rak sepatu."
"Sekilas."
"Catatan di HP?"
Keira membeku.
Xavier menatapnya, alisnya naik. "Jadi benar ada."
"Itu catatan tidak penting."
"Tentang gue?"
"Tentang warna." Keira menarik napas. "Intinya, aku minta maaf. Aku nggak akan masuk unit lo lagi. Kalau ketemu paket lo, aku akan pura-pura buta. Kalau ketemu Mochi, aku akan hormat dari jauh."
Xavier diam beberapa detik. Keira mulai bersiap menerima ceramah, denda moral, atau minimal tatapan jijik.
Tapi ia hanya berkata, "Oke."
"Oke?"
"Gue nggak lapor satpam."
Keira hampir merosot lega. "Terima kasih."
"Tapi simpan nomor gue."
"Hah?"
Xavier mengangkat HP-nya. "Kalau suatu hari salah masuk lagi, setidaknya chat dulu sebelum berdiri di ruang tamu gue."
"Aku tidak berencana menjadikan itu kebiasaan."
"Bagus."
Mereka saling bertukar nomor dengan cara yang lebih resmi. Keira menghapus nama `Xavier Sia` lalu menyimpannya ulang tanpa merasa seperti sedang menyimpan barang bukti. Xavier mengetik namanya dengan tenang.
Keira tidak tahan untuk mengintip.
Di layar Xavier tertulis: `Keira Sebrang`.
"Seberang pakai e, bukan a," protesnya otomatis.
Xavier menatap layar. "Oh."
Ia menghapus, lalu mengetik lagi.
`Keira Seberang`
"Lebih bagus?"
"Lebih beradab."
Mochi menggesek kaki Keira sebelum ia pergi. Keira membungkuk sedikit, mengusap kepalanya sekali. Xavier melihat gerakan itu tanpa komentar.
Saat Keira kembali ke unitnya, tubuhnya terasa ringan untuk pertama kali setelah beberapa hari. Bukan karena masalahnya selesai. Masalahnya justru bertambah aneh. Tapi Xavier tidak marah. Ia tidak mempermalukannya. Ia bahkan membiarkan nomor mereka tersimpan.
Dan sistem di laci nakasnya bergetar seperti ikut bertepuk tangan.
***
Selama tiga hari berikutnya, Keira menjalani hidup dengan status WhatsApp paling sok dingin yang pernah ia pakai.
`Tidak menerima drama.`
Celine langsung protes.
`Kei, sejak kapan lo jadi anak Hukum dingin?`
`Sejak hidup menuntut gue misterius.`
`Lo misterius cuma kalau ngilang pas bayar patungan.`
Keira mengirim stiker marah, lalu kembali membuka Instagram.
Akun Xavier ternyata mudah ditemukan: `@xav.offline`. Tidak banyak unggahan. Foto pemandangan kampus, kopi hitam, buku hukum, Mochi tidur di atas laptop, dan beberapa foto outfit yang seharusnya membosankan tapi terlihat mahal karena dipakai orang yang tepat.
Keira membuat folder rahasia di galeri HP.
Nama foldernya: `Referensi DKV`.
Isi foldernya: jaket Xavier, sepatu Xavier, hoodie Xavier, kombinasi warna Xavier.
"Ini bukan stalking," bisiknya sambil menyimpan foto sneakers putih. "Ini observasi visual."
Nokia tua itu tidak berkomentar, tetapi hitungan harinya bergerak.
`Hari 2/3.`
`Hari 3/3.`
Pada malam ketiga, tepat pukul dua belas, layar Nokia menyala sendiri. Keira yang sedang duduk di meja gambar langsung menegakkan badan.
`Misi 1 selesai.`
`Poin Kehidupan +3 hari.`
Keira membaca pesan itu sekali. Dua kali.
Tiga hari.
Angkanya kecil, hampir konyol jika dibandingkan vonis dokter. Tapi di dalam dada Keira, sesuatu yang semula beku mulai retak.
Tiga hari berarti sistem ini bekerja.
Tiga hari berarti ia tidak sedang gila.
Tiga hari berarti mungkin, kalau ia terus berhasil, ia bisa mengumpulkan waktu lebih banyak. Cukup untuk menyelesaikan semester. Cukup untuk bicara baik-baik dengan Angela. Cukup untuk tidak mati sebagai gadis dua puluh tahun yang file webtoon-nya masih bernama `final_fix_beneran_final.psd`.
Keira menutup mulut. Tawanya keluar pelan, basah, hampir berubah menjadi tangis.
"Oke," bisiknya. "Oke. Gue ikut main."
Nokia bergetar lagi.
`Misi 2: Kenakan outfit yang sama dengan target selama 7 hari berturut-turut.`
Keira berhenti bernapas.
Di bawahnya muncul keterangan tambahan.
`Kesamaan minimal: kategori pakaian utama, warna dominan, dan alas kaki.`
Keira menatap layar sampai matanya perih.
"Tujuh hari?"
Tidak ada jawaban.
"Berturut-turut?"
Masih tidak ada jawaban.
"Lo kira gue punya gudang cowok ganteng di lemari?"
Nokia tetap diam, menyebalkan dalam ketenangannya.
Keira membuka folder `Referensi DKV` dengan tangan gemetar. Hoodie, jaket, sneakers, kaus polos, celana gelap. Ia mulai mencari brand yang pernah ia lihat di label paket Xavier. Harganya membuat ia ingin mengajukan cuti dari realita.
"Satu jaket segini? Ini kain atau ikut dapat akta tanah?"
Ia mencari versi serupa di marketplace, membandingkan warna, membaca review, dan mengabaikan rasa bersalah karena saldo rekeningnya menjerit. Sistem meminta sama, bukan asli. Keira masih punya harga diri, tapi harga diri itu bisa memakai barang diskon.
Setelah hampir dua jam, ia berhasil membeli satu outer hitam-putih yang paling mirip dengan jaket Xavier, satu polo putih, celana gelap yang sudah ia punya, dan sneakers putih yang bentuknya cukup mendekati.
Notifikasi marketplace muncul.
`Pesanan akan tiba besok.`
Keira bersandar di kursi. Di luar jendela, lampu unit seberang masih menyala.
Ia menatap Nokia, lalu menatap pintu apartemennya.
Besok, kalau Xavier memakai sesuatu yang berbeda, ia tamat.
Keira menarik napas panjang.
"Tugas," katanya pelan, seolah mengikat dirinya sendiri. "Dimulai."